Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Cahaya matahari pagi perlahan menyelinap melalui celah tirai jendela kamar, menerangi ruangan yang masih terasa begitu tenang. Udara sejuk dari pendingin ruangan membuat suasana kamar semakin nyaman, sementara dua insan yang baru saja mengikat janji pernikahan itu masih terlelap di atas ranjang yang sama.
Serina yang tidur menghadap ke arah Jovan, perlahan menggerakkan tubuhnya. Dalam keadaan setengah sadar, wanita itu merasakan sesuatu yang begitu empuk menyangga kepalanya. Bukan hanya itu, salah satu tangannya juga tanpa sadar meremas sesuatu yang terasa kenyal dan hangat.
Senyum tipis pun terukir di bibir Serina.
"Nyaman sekali..." gumamnya lirih, masih terjebak dalam alam mimpi.
Ia bahkan semakin mendekat, menggeser tubuhnya hingga salah satu lengannya melingkar erat di sekitar tubuh Jovan. Kepalanya bersandar di dada pria itu, sementara tangannya mencengkeram kaus tidur yang dikenakan sang suami. Tanpa disadari, Serina kini memeluk Jovan layaknya sebuah guling kesayangan.
Di sisi lain, Jovan yang sebenarnya sudah terbangun sejak beberapa menit lalu, hanya bisa membeku.
Matanya membulat ketika merasakan Serina semakin merapatkan tubuhnya. Napasnya seketika tertahan, lalu ia mengembuskannya perlahan, berusaha mengendalikan debaran jantung yang mendadak berdetak begitu kencang.
"Ya Tuhan..." bisiknya nyaris tanpa suara.
Jovan menunduk sedikit, memandangi wajah Serina yang masih terlelap dengan begitu damai. Beberapa helai rambut wanita itu jatuh menutupi pipinya. Jarak wajah mereka begitu dekat hingga Jovan dapat merasakan embusan napas hangat Serina yang teratur.
Pria itu kembali menahan napas ketika tangan Serina bergerak dan tanpa sengaja mencengkeram bagian kaus di dadanya.
"Serina..." panggilnya pelan.
Namun, wanita itu sama sekali tidak menyahut. Ia justru semakin nyaman menyandarkan kepalanya di dada Jovan, seolah-olah tempat itu memang menjadi bantal paling nyaman baginya.
Jovan menelan ludah. Ada sensasi aneh yang menjalar di dalam dirinya. Perasaan gugup, bahagia, sekaligus canggung bercampur menjadi satu. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan untuk sekadar mengangkat tangannya dan membalas pelukan Serina pun, Jovan masih ragu.
Bagaimanapun, ia tidak ingin membuat wanita itu merasa tidak nyaman ketika terbangun nanti.
Selama ini, Jovan Narendra dikenal sebagai pria yang begitu percaya diri. Ia terbiasa menghadapi kecepatan tinggi di lintasan balap, mengambil keputusan dalam hitungan detik, bahkan menghadapi berbagai tekanan yang mungkin membuat orang lain kehilangan keberanian. Namun, pagi itu, menghadapi seorang wanita yang sedang tidur sambil memeluknya justru membuatnya kehilangan seluruh ketenangan.
Sungguh ironis.
Di lintasan balap, Jovan tidak pernah gentar menghadapi tikungan tajam dengan kecepatan tinggi. Akan tetapi, saat ini, ia bahkan takut bergerak sedikit saja karena khawatir membangunkan Serina.
Sebenarnya, Jovan bukanlah pria yang tidak pernah mengenal wanita. Sebelum bertemu Serina, beberapa kali ia pernah menjalin hubungan dengan perempuan. Namun, semua hubungan itu tidak pernah benar-benar ia anggap serius. Baginya, pacaran hanyalah bagian kecil dari kehidupan yang tidak perlu terlalu dipikirkan.
Ia memang pernah menggenggam tangan seorang wanita, mengantarnya makan malam, atau menghadiri acara bersama kekasihnya. Akan tetapi, selalu ada batas yang ia tetapkan sendiri. Tidak pernah ada keinginan untuk membangun hubungan yang lebih dalam, apalagi memikirkan masa depan bersama.
Sebagian besar waktunya hanya dihabiskan untuk dunia otomotif, mobil-mobil sport, mesin, serta balapan yang begitu dicintainya. Ia bahkan sering kali bersikap cuek kepada perempuan yang pernah dekat dengannya. Tidak jarang, ia menganggap hubungan tersebut sekadar pelengkap kehidupan seorang pembalap terkenal.
Namun, semuanya berubah setelah ia bertemu Serina Nirmala.
Wanita itu datang ke dalam hidupnya melalui sebuah peristiwa tragis yang tidak pernah diinginkan siapa pun. Kecelakaan yang merenggut nyawa Riki telah meninggalkan luka mendalam bagi Serina dan Farel. Jovan sendiri harus menanggung penyesalan yang begitu besar, meskipun ia juga merupakan korban dari kejahatan orang-orang yang ingin menghancurkan kariernya.
Awalnya, Jovan hanya ingin memastikan Serina dan Farel baik-baik saja. Ia merasa bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi dan ingin melakukan sesuatu untuk meringankan beban mereka.
Namun, seiring berjalannya waktu, perasaan itu perlahan berubah.
Ia mulai merindukan suara Serina, ingin mengetahui bagaimana wanita itu menjalani harinya, bahkan merasa ada sesuatu yang hilang ketika terlalu lama tidak bertemu dengannya. Ia juga selalu mencari alasan untuk mengunjungi rumah kontrakan Serina, meskipun terkadang hanya untuk mengantarkan makanan kesukaan Farel atau sekadar memastikan keduanya dalam keadaan baik.
Tanpa disadarinya, Serina telah menjadi seseorang yang begitu penting dalam hidupnya.
Dan pagi ini, untuk pertama kalinya, Jovan merasakan kedekatan yang begitu intim dengan seorang wanita yang benar-benar ingin ia jaga dan cintai.
Bukan karena penampilan, bukan pula karena status atau ketenaran. Ia menginginkan Serina karena wanita itu telah membuatnya memahami arti sebuah kerinduan, ketulusan, dan keinginan untuk pulang kepada seseorang.
Jovan mengalihkan pandangannya ke wajah Serina. Senyum lembut muncul di bibirnya.
"Jadi, begini rasanya punya seseorang yang selalu ingin kita temui, ya?" bisiknya pelan. "Bahkan baru semalam tidur bersama, sekarang aku sudah merasa tidak ingin jauh darimu."
Ia terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang.
"Serina, kamu benar-benar berbeda dari semua wanita yang pernah hadir dalam hidupku."
Jovan mengangkat tangannya perlahan, tetapi kembali menghentikan gerakannya sebelum menyentuh rambut Serina. Ia teringat jelas janji yang telah diucapkannya kepada wanita itu. Ia tidak akan menyentuh Serina tanpa izin, apalagi memaksanya menjalani hubungan suami istri sebelum benar-benar siap.
Karena itu, meskipun hatinya begitu ingin membalas pelukan tersebut, Jovan memilih tetap diam dan membiarkan Serina tidur dengan nyaman.
Beberapa saat kemudian, Serina mulai menggeliat kecil. Dahinya berkerut, kemudian matanya perlahan terbuka. Ia masih belum sepenuhnya sadar ketika mendapati wajah seorang pria berada begitu dekat dengannya.
Serina berkedip beberapa kali.
Lalu, pandangannya turun dan menyadari bahwa dirinya sedang memeluk Jovan dengan begitu erat. Kepalanya bersandar di dada pria itu, sementara salah satu tangannya masih mencengkeram kaus tidur sang suami.
Seketika, kedua mata Serina membelalak.
"Astaga!"
Ia langsung menarik tangannya dan berusaha menjauh, tetapi gerakannya justru membuat selimut yang menutupi tubuh mereka sedikit tersingkap.
"Maaf! Aku... aku tidak sengaja!" ucap Serina terbata-bata. Wajahnya seketika memerah karena malu.
Jovan yang sejak tadi menahan senyum akhirnya terkekeh pelan.
"Tidak apa-apa. Kamu tidur nyenyak sekali tadi."
Serina buru-buru duduk sambil merapikan rambutnya yang berantakan. Ia bahkan tidak berani menatap wajah suaminya terlalu lama.
"Aku tidak tahu bagaimana bisa berpindah ke sana," katanya gugup. "Bukankah semalam kita tidur berjauhan?"
"Iya, memang." Jovan mengangguk santai, berusaha menyembunyikan debaran jantungnya. "Mungkin kamu merasa kedinginan, lalu mencari sesuatu yang bisa dipeluk."
Serina menoleh dengan wajah semakin merah.
"Jadi, kamu membiarkanku memelukmu sepanjang malam?"
"Memangnya aku harus bagaimana?" Jovan mengangkat kedua bahunya. "Membangunkanmu hanya untuk mengatakan bahwa kamu sedang memelukku?"
Serina terdiam. Ia menundukkan wajah, merasa begitu malu dengan tingkahnya sendiri.
"Maaf, Jovan. Aku benar-benar tidak bermaksud..."
"Serina." Jovan memotong ucapannya dengan suara lembut. "Kamu tidak perlu meminta maaf untuk hal seperti itu. Kamu hanya tidur. Lagi pula, aku tidak merasa terganggu."
Wanita itu mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya bertemu dengan mata Jovan yang kini memandangnya penuh kelembutan.
"Benarkah?"
"Tentu saja." Jovan tersenyum kecil. "Aku malah senang kamu bisa tidur dengan nyaman."
Serina menghela napas lega, meskipun rasa malu masih jelas terpancar dari wajahnya.
"Kalau begitu, aku mau ke kamar mandi dulu."
"Silakan, Nyonya Narendra."
Serina sontak menoleh. "Jangan memanggilku seperti itu!"
Jovan tertawa kecil. "Kenapa? Bukankah sekarang kamu memang istriku?"
"Jovan!"
"Iya, iya. Aku tidak akan menggodamu lagi."
Serina segera turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Namun, sebelum menutup pintu, ia sempat melirik Jovan yang masih duduk di atas ranjang dengan senyum yang tidak kunjung hilang.
Sementara itu, Jovan menjatuhkan tubuhnya kembali ke bantal. Ia menatap langit-langit kamar sambil mengusap wajahnya sendiri.
"Astaga, Jovan Narendra. Baru dipeluk saja sudah seperti orang kehilangan akal," gumamnya sembari tertawa pelan.
Akan tetapi, jauh di dalam hatinya, ia berharap suatu hari nanti Serina akan memeluknya bukan karena tertidur atau tanpa sengaja, melainkan karena wanita itu memang ingin berada di dekatnya.
Ia tidak tahu kapan hari itu akan tiba. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Jovan tidak keberatan menunggu.
Sebab, kali ini, ia tidak sedang mengejar garis finis di lintasan balap.
Ia sedang belajar memenangkan kepercayaan dan hati seorang wanita yang sangat dicintainya, tanpa harus membuatnya melupakan luka masa lalu.
Bersambung....