Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.
Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.
Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.
Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merusak Kencan 35.
Semburat jingga di langit taman kota nyaris padam, digantikan suasana maghrib yang membawa hawa dingin.
Di bangku kayu bawah pohon kenari, detak jantung Livy sempat berhenti.
Wajah Rayhan hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.
Livy merasakan kehangatan napas aroma mint teman kecilnya.
Tepat ketika kelopak mata Livy perlahan turun—bersiap menerima ciuman pertama yang seharusnya menjadi penanda babak baru hidupnya—sebuah hantaman keras merusak segalanya.
DUG! DUG! DUG!
Suara bola basket yang memantul kasar di beton lapangan terbuka tepat di sebelah bangku mereka memecah kesunyian.
Logikanya langsung berputar. Siapa orang gila yang bermain basket sendirian di jam sakral seperti ini?
Livy membuka mata sekaligus menoleh.
Di sana, di bawah lampu merkuri taman yang baru menyala berkedip-kedip, ada Galang.
"Ah! Sial!" Galang tiba-tiba mengerang keras. Tubuh jangkungnya limbung. Ia ambruk di lapangan semen, memegangi pergelangan kaki kanannya dengan ekspresi kesakitan yang amat dramatis. "Agh... terkilir..."
Refleks tubuh Livy adalah bangkit. Selama dua tahun penuh, instingnya telah dilatih untuk menjadi orang pertama yang berlari setiap kali Galang terluka.
Ego cegil-nya yang dulu selalu ingin menjadi pahlawan bagi Galang mendadak bangkit dari kubur. Jiwanya ditarik paksa untuk menengok, memastikan apakah cowok yang dulu membuangnya itu baik-baik saja.
Namun, sebuah tangan yang kokoh dan hangat menahan pergelangan tangannya.
Rayhan tidak bergerak dari duduknya. Matanya yang biasanya teduh kini menatap lurus ke arah Galang di seberang sana.
Ada senyum sinis yang tipis, hampir tak kentara, di sudut bibir Rayhan.
"Jangan, Liv," bisik Rayhan, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Tetap di sini."
"Tapi Ray, dia sepertinya parah—"
"Dia bohong," potong Rayhan cepat, beralih menatap netra Livy, mengunci kesadaran gadis itu. "Kamu lihat posisi jatuhnya? Kalau pergelangan kaki kanannya yang terkilir saat lay-up, tumpuan berat badannya akan jatuh ke kiri untuk melindungi kaki yang sakit. Tapi dia sengaja menjatuhkan seluruh bebannya ke kanan supaya kelihatan lebih tragis di mata kamu. Itu taktik murahan, Liv."
Livy tertegun. Logikanya yang sempat kabur oleh kepanikan perlahan kembali jernih.
Benar. Rayhan adalah mantan kapten tim basket high school yang ada di jepang, dia tahu persis anatomi cedera lapangan.
Di tengah lapangan, Galang yang masih terduduk mulai gelisah. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Livy sempat ingin berdiri namun ditahan oleh Rayhan.
Dadanya bergemuruh panas. Skenario yang sudah ia susun rapi di otaknya—berpura-pura cedera, memancing rasa iba Livy, membuat gadis itu meninggalkan Rayhan, lalu membiarkan Livy mengobatinya seperti dulu, dan kini berantakan.
Melihat Livy yang tak kunjung mendekat, Galang memutuskan untuk menaikkan intensitas permainannya.
Ia mencoba berdiri, lalu sengaja mengenyakkan kembali tubuhnya ke tanah sambil meringis lebih keras. "Livy... b-bisa tolong ambilkan tas obat di motor saya? Saya gak bisa jalan."
Suara Galang terdengar serak, memohon. Suara yang dulu sangat langka didengar Livy ketika ia masih menjadi pihak yang mengemis perhatian.
Rayhan berdiri dari bangku taman. Ia melepaskan jaket jinsnya, menyampirkannya ke bahu Livy yang mulai kedinginan. "Tunggu di sini. Biar saya yang urus korban cedera fiktif ini."
Livy hanya bisa mengangguk kaku. Dadanya bergemuruh hebat, campuran antara sisa adrenalin momen romantis yang gagal, rasa kesal pada gangguan Galang, dan kepuasan aneh yang mulai merayap di hatinya.
'Gila' batin Livy. 'Taktik apa lagi ini?' Lanjut Livy seraya menatap Galang, sebelum gadis itu menoleh ke arah Rayhan.
Rayhan berjalan tenang menghampiri Galang. Langkah kakinya terdengar konstan di atas semen.
Begitu sampai di depan Galang yang masih memegangi kakinya, Rayhan berjongkok. Ia tidak menyentuh kaki Galang, melainkan langsung meraih bola basket yang menggelinding di dekat sana.
"Akting yang bagus, Lang," kata Rayhan setengah berbisik, hanya cukup didengar oleh mereka berdua. Wajah Rayhan luar biasa tenang, tipe ketenangan yang justru mengintimidasi. "Tapi jam maghrib di taman kota bukan waktu yang logis buat latihan dribbling. Apalagi di tempat yang dekat dengan hotel— tempat terakhir kali kamu hancurkan Livy dan bikin dia nangis semalaman."
Mata Galang menyipit tajam. Kedoknya dikuliti habis-habisan. Ia menegakkan tubuh, tidak lagi berlagak lemas. "Bukan urusan kamu. Livy peduli sama saya. Dia gak bakal tega liat saya kayak gini."
"Dulu sih iya, saya sudah mendengar semuanya dari Hanafi. Waktu kamu masih jadi pusat semestanya," Rayhan melempar bola basket di tangannya ke dada Galang dengan dorongan kuat yang memaksa Galang menangkapnya secara refleks—membuktikan bahwa refleks tubuh Galang sama sekali tidak terganggu oleh rasa sakit. "Tapi sekarang, kamu cuma pengganggu. Berdiri, Lang. Jangan bikin diri kamu kelihatan makin menyedihkan dengan cara manipulatif begini. Kamu kalah telak malam ini."
Galang mengepalkan tinjunya pada permukaan bola karet itu hingga jarinya memutih. Rasa bersalah, cemburu, dan harga diri yang terluka bercampur menjadi satu. Pria itu melihat ke arah bangku taman.
Livy berdiri di sana. Gadis itu tidak lagi menatapnya dengan pandangan penuh kekhawatiran yang biasa Galang terima.
Livy kembali menatapnya datar, dibalut jaket jins milik Rayhan, seolah-olah Galang hanyalah sebuah gangguan kecil di kencan mereka yang hampir sempurna.
Rayhan berbalik, meninggalkan Galang yang terpaku di tengah remang lapangan, dan berjalan kembali ke arah Livy dengan senyuman hangat yang kembali terpasang di wajahnya.
......................
...****************...
Tbc,