"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 10
Satu minggu berlalu. Hujan silih berganti membasahi halaman rumah yang kini terasa semakin sunyi. Sejak malam itu, Bi Titin kembali menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Kirana yang sedang duduk di atas ranjang bertanya kepada suaminya kabar Bi Titin.
"Sayang! Apa kamu tahu Bi Titin kemana? Baru dua hari, dia kembali. Sekarang sudah hampir seminggu, apakah Bi Titin benar-benar mau berhenti kerja di sini?" tanya Kirana.
Pikirannya masih terganggu dengan perkataan suaminya yang tidak sengaja ia dengar tempo hari.
Arga berjalan mendekati istrinya. Kedua sudut bibirnya naik keatas. Senyum licik tersungging dengan sangat jelas.
Arga duduk perlahan di sisi ranjang. Jemarinya menggenggam tangan dingin Kirana dengan lembut, sementara senyum tipis yang tidak pernah bisa dilihat istrinya kembali terukir di bibirnya.
"Kirana ... apa kamu khawatir sama Bi Titin?" tanya Arga dengan suara datar.
Kirana mengangguk, "Hmm ... iya, aku khawatir. Tidak biasanya Bi Titin seperti ini," jawab Kirana. wajahnya sedikit mengkerut tangannya gemetar pelan.
Tangan Arga meraih kedua pundak istrinya dengan lembut. Lalu ia menghadap kan tubuh mungil istrinya lurus di hadapannya.
"Sayang! Kamu tidak usah khawatir! Lagi pula Bi Titin sudah tua, sudah seharusnya ia berhenti bekerja. Nanti aku cari pembantu baru," ucapnya lirih, dan tenang.
"Tapi sayang! Aku sud—"
"Sayang! Tidak usah terlalu dipikirkan." potong Arga, jari tangannya menempel di bibir mungil istrinya, menghentikan perkataan yang belum selesai.
"Tapi ...," lirih Kirana pelan.
"Sst ... Sudah malam, sebaiknya kita tidur," ucap Arga.
Kirana! Percuma kamu menghawatirkan wanita tua itu! Karena kamu sendiri akan bernasib sama seperti wanita itu.
Arga tersenyum licik, wajahnya penuh dengan kemenangan.
* * *
Paginya.
Sinar matahari pagi menyinari seluruh ruangan kamar dari balik tirai jendela yang terbuka lebar.
Di depan cermin besar yang tidak lagi bisa ia lihat pantulannya, Kirana duduk diam di kursi meja rias. Jemarinya perlahan menyentuh permukaan kaca, seolah berusaha memastikan bahwa dirinya masih berada di sana. Di bantu oleh suaminya yang merias wajahnya. Kirana yang begitu percaya dengan suaminya tersenyum bahagia.
Ia sama sekali tidak menyangka semua perbuatan suaminya dari belakang. Wanita yang tidak bisa melihat itu sangat bahagia memiliki suami yang begitu perhatian dan penuh kasih sayang.
Namun ia tidak tahu semuanya adalah sandiwara. Seseorang laki-laki yang paling ia percaya tidak lebih dari sosok iblis yang menyamar sebagai malaikat.
Arga duduk disamping istrinya yang buta itu, "Sayang! Aku pergi sekarang. Nanti aku kembali lagi, jangan pergi kemana-mana, kalau ada sesuatu kamu bisa hubungi aku, atau minta bantuan anak buah ku, " ucapnya memberikan pesan.
"Hhmmm ... Iya' sayang." Kirana mengangguk pelan.
Arga tertawa kecil, di dalam hatinya ia begitu senang melihat wanita itu begitu percaya dengan dirinya.
"Aku pergi sekarang, ya." Arga mengelus-elus rambut istrinya, kemudian mengecup pipi kanan dan kiri, istrinya.
Kecupan itu begitu lembut hingga membuat pipi Kirana memerah malu. Ia tersenyum bahagia, sama sekali tidak menyadari bahwa bibir yang baru saja mengecupnya adalah bibir yang berkali-kali berbohong kepadanya.
"Dadah!" Arga melambaikan tangannya.
"Dadah, sayang!" seru Kirana senang. Tangannya juga melambai ke atas meskipun ia tidak bisa lagi melihat senyum hangat suaminya.
*
Di luar rumah, Arga memerintahkan anak buahnya untuk terus mengawasi Istrinya.
"Awasi dia! Jangan sampai lengah. Pastikan dia tidak masuk ke dalam ruangan dimana aku menyekap wanita tua itu." tegasnya kepada salah satu anak buahnya.
"Baik Tuan," jawab anak buahnya tegas.
Arga masuk ke dalam mobil tanpa menoleh lagi. Mesin menyala, lalu sedan hitam itu perlahan meninggalkan halaman rumah. Di kaca spion, senyum tipis kembali terukir di bibirnya, berangkat ke perusahaan.
*
Sementara itu di dalam rumah. Bi Titin di sekap di ruangan bawah tanah, lebih tepatnya sebuah gudang yang begitu gelap.
Pergelangan tangan Bi Titin diikat erat pada kursi kayu yang mulai lapuk. Udara lembap memenuhi ruangan sempit itu, bercampur bau tanah dan debu yang menusuk hidung.
Cahaya redup dari sebuah lampu tua berkedip-kedip di langit-langit. Mulutnya juga di sumpal dengan lakban sehingga ia tidak bisa mengeluarkan suara.
Bibir Bi Titin pecah-pecah karena kehausan. Rambutnya kusut menutupi sebagian wajah. Pergelangan tangannya memerah akibat tali yang terus menggesek kulitnya selama berhari-hari.
Saat itu tubuhnya begitu lemah, matanya begitu sayu dan bengkak. Beberapa hari ia tidak di beri makan ataupun minum. Tubuhnya benar-benar sudah tidak memiliki tenaga lagi.
'Ya Tuhan, tolong saya! Pak Arga benar-benar iblis. Bagaimana dengan Non Kirana? Dia sama sekali tidak tahu siapa laki-laki yang sedang berada di sampingnya sekarang.'
Bi Titin mencoba untuk bergerak dan melepaskan diri. Ia mencoba menggerakkan badannya dengan tenaga terakhir yang ia miliki.
'Saya harus keluar dari sini dan menyelamatkan Non Kirana dari Pak Arga! Dia harus tahu siapa Pak Arga sebenarnya.'
Bi Titin berusaha sekuat tenaga, ia sedikit menggerakkan bangku yang mengikat kuat dirinya.
Perlahan bangku itu sedikit bergerak, ia terus berusaha sambil mengeluarkan erangan minta tolong di dalam ruangan itu.
GUBRAK!
Bangku itu terjatuh, di ikuti tubuh Bi Titin yang juga menempel di lantai. Debu tipis beterbangan dari lantai semen yang retak. Rasa nyeri menjalar ke seluruh tubuh Bi Titin, tetapi ia justru melihat secercah harapan saat mendengar langkah kaki di luar.
Bi Titin berusaha membuat suara untuk menarik perhatian Kirana.
Krek ... Krek ... krek ...
Deritan kursi terdengar di balik pintu. Kebetulan Kirana sedang lewat di depan pintu itu.
SRET!
Kirana menghentikan langkahnya. Tongkat di tangannya ikut terdiam. Kepalanya sedikit dimiringkan, berusaha menangkap suara asing yang memecah keheningan rumah.
"Suara apa itu?" Alisnya mengernyit. Ia memiringkan kepalanya sekali lagi, semakin menangkap suara aneh yang sejak tadi mengusik pendengarannya. "Kenapa ribut sekali?"
Kirana yang sedikit penasaran, ia meraba-raba ruangan dengan tongkatnya. Berjalan menghampiri sumber suara itu.
"SIAPA DI DALAM SANA?" seru Kirana dengan suara keras.
"Apa di dalam ada orang?"
Di dalam ruangan. Bi Titin mendengar suara majikannya. Wajahnya langsung mendongak ke arah pintu.
'Non Kirana! Ini Bibi Non. Tolong Bibi!' batin Bi Titin.
Saat mendengar seruan majikannya, terlihat secercah harapan. walaupun ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tak ...
Tak ...
Tak ...
Tongkat kayu di tangannya mengetuk lantai perlahan. Setiap langkah diambil dengan hati-hati, sementara telinganya bekerja jauh lebih tajam daripada matanya.
Kirana berjalan semakin dekat dengan tongkat kayu yang memapah jalannya.
Namun saat itu suara yang tadinya terdengar sangat ribut itu tiba-tiba menghilang.
"Kenapa suara itu hilang? Aku yakin tadi aku mendengar suara! Suara itu terdengar seperti erangan orang!" lirihnya pelan bertanya di dalam hati.
Saat itu kondisi Bi Titin sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk bergerak atau membuat suara.
'Non Kirana, Bibi ada di dalam Non!' batinnya meminta bantuan.
Kirana tiba di depan pintu.
"Aku yakin tadi suaranya ada di sini," lirihnya pelan, dan rasa penasaran menggerogoti hatinya.
Saat itu tangan Kirana meraba-raba udara mencari letak gagang pintu.
Gppp!
Kirana menemukan letak gagang pintu. Ia perlahan memutar gagang pintu ke bawah.
Ngiikkk ...
Gagang pintu itu perlahan turun. Engsel tua berderit pelan, memecah keheningan yang menyelimuti lorong rumah. Jantung Kirana berdetak semakin cepat, sementara di balik pintu, Bi Titin menahan napas dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
Lalu ...
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,