Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.
Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Langkah kaki Yang Zhen terdengar sangat ringan dan nyaris tanpa suara saat ia menyusuri lorong kembali ke aula utama. Penguasaan elemen tanah yang baru saja ia dapatkan membuatnya bisa menyelaraskan resonansi tubuhnya dengan pijakan batu di bawahnya.
Su Lin yang berjalan di sebelahnya melirik dengan tatapan penuh selidik. Gadis itu bisa merasakan ada perubahan aura yang sangat drastis dari tubuh pemuda di sampingnya ini.
"Kau terlihat sangat senang setelah memeluk batu tua berdebu itu." komentar Su Lin memecah keheningan.
"Tentu saja aku senang, Cantik." balas Yang Zhen sambil tersenyum lebar. "Batu tua itu baru saja memberiku asuransi jiwa ekstra agar aku bisa melindungimu lebih lama."
Su Lin hanya mendengus pelan dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia sudah mulai terbiasa membangun tembok pertahanan mental untuk menghadapi godaan murahan dari Yang Zhen.
Wang Hao yang memanggul tas besar di belakang mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tidak mengerti bagaimana sahabatnya itu bisa bersikap sesantai ini setelah membunuh tiga orang pembunuh bayaran.
Mereka bertiga akhirnya tiba di persimpangan aula utama dan langsung berbelok menuju lorong tengah. Semakin dalam mereka berjalan, suara dentuman keras semakin jelas terdengar.
Brak! Brak! Brak!
Suara hantaman logam beradu dengan batu menggema memekakkan telinga dari ujung lorong tersebut. Yang Zhen menguap bosan mendengar suara berisik yang sangat tidak berirama itu.
Di ujung lorong, terdapat sebuah ruangan luas yang jalannya tertutup oleh pintu batu raksasa berlapis ukiran aneh. Chen Fei dan para prajurit elitnya sedang bergantian menebas pintu batu itu dengan senjata mereka.
Napas para prajurit militer itu terdengar sangat berat dan keringat membasahi seluruh tubuh mereka. Pintu batu itu sama sekali tidak tergores meski telah ditebas ratusan kali.
"Apakah kalian sedang mencoba menggali sumur baru di dalam reruntuhan ini?" sapa Yang Zhen dengan suara lantang yang sengaja dibuat menyebalkan.
Chen Fei menghentikan ayunan pedang besarnya dan menoleh ke arah Yang Zhen dengan napas tersengal. Wajah tuan muda militer itu terlihat sangat frustrasi dan kelelahan.
"Pintu sialan ini terbuat dari Batu Bintang Jatuh." keluh Chen Fei sambil menyeka keringat di dahinya. "Bahkan serangan sekuat tenaga dari kultivator Tingkat Delapan tidak akan bisa menghancurkannya."
"Tentu saja tidak bisa dihancurkan dengan otot kosong." ejek Yang Zhen sambil berjalan mendekati pintu batu tersebut. "Leluhurmu itu adalah seorang Jenderal Naga Hitam yang ahli strategi, bukan tukang jagal babi yang hanya mengandalkan kekuatan."
Kapten Liu yang sedang beristirahat di lantai menatap Yang Zhen dengan penuh harap. Ia sudah menyerah menggunakan kekerasan dan kini sepenuhnya percaya pada otak pemuda itu.
Yang Zhen berdiri di depan pintu raksasa itu dan mengamati ukiran yang ada di permukaannya. Terdapat sembilan kotak ubin yang bisa ditekan, masing-masing memiliki lambang binatang mitologi yang berbeda.
"Ini adalah formasi Kunci Sembilan Istana." ucap Yang Zhen setelah mengamatinya selama dua detik. "Sebuah teka-teki dasar yang bahkan anak balita di zamanku bisa memecahkannya."
"Kau tahu cara membukanya?!" tanya Chen Fei dengan mata berbinar penuh semangat.
"Tentu saja aku tahu." jawab Yang Zhen sambil melipat tangannya di dada. "Tapi aku merasa sedikit lelah setelah membersihkan beberapa tikus di lorong sebelah tadi."
Chen Fei langsung mengerti kode dari pemuda licik di depannya ini. Tidak ada hal gratis di dunia ini, apalagi jika berurusan dengan Yang Zhen.
"Katakan apa maumu, Yang Zhen." potong Chen Fei tanpa basa-basi. "Selama itu masuk akal, militer akan memenuhinya."
"Pintar sekali." Yang Zhen tersenyum rubah dengan sangat puas. "Aku hanya butuh pasukanmu untuk mengamankan Asosiasi Alkemis saat kita pulang ke kota nanti."
"Asosiasi Alkemis? Untuk apa militer ikut campur urusan wilayah netral itu?" tanya Chen Fei kebingungan.
"Karena ada seekor anjing pengkhianat bernama Lu Feng yang berniat meracuni Presiden Gu nanti." ungkap Yang Zhen membeberkan informasi dari interogasi berdarahnya.
"Keluarga Zhao lah yang berada di balik rencana kudeta itu." lanjut Yang Zhen dengan nada serius. "Jika mereka menguasai Asosiasi Alkemis, keseimbangan kekuasaan di kota ini akan hancur dan keluargamu juga akan terancam."
Chen Fei terdiam sejenak mencerna informasi tingkat tinggi tersebut. Jika apa yang dikatakan Yang Zhen benar, ini adalah masalah keamanan kota yang sangat fatal.
"Aku mengerti." ucap Chen Fei dengan nada tegas. "Militer akan mengepung Asosiasi Alkemis besok pagi dengan dalih latihan gabungan."
"Kesepakatan yang sangat menyenangkan." Yang Zhen menepuk tangannya sekali dan kembali berbalik menghadap pintu batu.
Ia melangkah maju dan mulai menekan ubin-ubin bermotif binatang itu dengan urutan yang sangat cepat. Tangannya bergerak menari seolah sudah menghafal pola tersebut seumur hidupnya.
Klik. Klik. Klik.
Suara mekanisme roda gigi kuno yang bergesekan terdengar dari balik dinding batu yang tebal. Formasi Sembilan Istana itu menyala memancarkan cahaya biru redup.
Grumur.
Pintu batu raksasa yang sedari tadi tak tergoyahkan itu perlahan bergeser membelah ke samping. Hawa dingin bercampur aura membunuh yang sangat pekat langsung menyembur keluar dari dalam ruangan.