Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Perintah Aneh
Nayla melangkah mendekati pintu utama gedung Nebula yang kini terlihat hening dan sebagian besar lampunya sudah padam. Langit malam telah sepenuhnya menutupi kota, dan saat jemarinya menyentuh permukaan kaca yang dingin itu, kesadarannya tiba‑tiba terbangun sepenuhnya, kantor sudah tutup lama sekali.
Tidak ada suara langkah kaki karyawan, tidak ada hiruk‑pikuk aktivitas siang hari, hanya kesunyian yang tebal dan penjaga keamanan yang menatapnya dari jauh dengan rasa ingin tahu. Hatinya mencelos. Dia begitu terburu‑buru hingga lupa waktu, tentu saja Tristan tidak mungkin masih berdiri di balik meja kerjanya saat jam sudah demikian larut. Dia pasti sedang berada di rumah, mungkin sedang beristirahat bersama keluarganya.
Dengan tangan yang gemetar karena dingin dan ketegangan, Nayla menarik ponsel dari saku tasnya. Jantungnya berdegup kencang saat menelusuri daftar kontak yang baru saja dia simpan kemarin sore, nomor pribadi pimpinannya. Dia ragu sejenak, menatap layar yang berkilau redup di kegelapan lorong, lalu menyadari bahwa di balik pintu itu, nyawa ibunya sedang tergantung waktu. Tanpa pilihan lain, dia menekan tombol panggil.
Bunyi nada sambung terasa berlangsung selamanya di telinganya. Dia hampir menyerah dan berniat menutup telepon ketika suara berat dan sedikit terkejut terdengar dari seberang.
“Halo?” suaranya terdengar tegas namun terasa jauh, seolah baru saja terganggu dari keheningan yang dalam.
“Pak Tristan… ini saya, Nayla.” Suaranya pecah pelan. “Maaf sekali menelepon di jam yang tidak pantas begini. Saya sedang di kantor. Saya tahu sudah malam, tapi…”
Ada jeda singkat di sana. “Nayla? Kenapa kamu masih di sekitaran kantor?”
“Saya… saya ada hal mendesak sekali, Pak. Benar‑benar penting. Saya tidak tahu lagi harus meminta bantuan ke mana selain ke Bapak.” Air mata kembali menetes tanpa terasa. “Bolehkah saya bicara sebentar? Kalau Bapak berkenan, saya ada di depan gedung sekarang.”
Tristan terdiam lagi, namun kali ini lebih lama. Di sisi lain, pikiran lelaki itu melayang, teringat kembali wajah gadis itu, bayangan lekuk tubuhnya di balik pantulan kaca, serta kekosongan dan ketidakpedulian yang menyambutnya di rumah sendiri. Rasa heran bercampur dengan sesuatu yang lain, secercah peluang yang menyelinap di tengah hasrat yang belum terpuaskan.
“Tetaplah di sana,” perintahnya akhirnya tanpa banyak tanya. “Masuklah ke dalam dan tunggu di ruanganku. Bilang pada penjaga keamanan atas perintahku. Aku akan segera menyusul.”
Panggilan terputus. Nayla menghela napas lega meski perasaannya tetap berkecamuk antara harapan dan rasa bersalah. Dia diizinkan masuk, dan segera menaiki lift menuju lantai teratas, tempat kekuasaan dan kesunyian berkuasa sepenuhnya malam itu.
Kurang dari setengah jam kemudian, pintu kantor itu terbuka. Tristan melangkah masuk dengan pakaian yang sedikit santai namun tetap memancarkan wibawa yang menakutkan. Tatapannya tajam, menelusuri sosok Nayla yang berdiri gelisah di tengah ruangan luas itu. Dia menutup pintu rapat‑rapat, mengunci suara dunia luar hingga hilang sama sekali.
“Kamu datang dengan wajah yang penuh beban,” ujarnya datar sambil berdiri di dekat meja kerjanya, tidak duduk. “Sekarang jelaskan. Apa yang begitu mendesak hingga mengganggu waktu istirahatku?”
Nayla menunduk, meremas ujung jarinya dengan kuat. Cerita itu mengalir deras dari bibirnya, mulai dari ibunya yang jatuh sakit mendadak, muntah darah, hingga keharusan operasi yang biayanya mencapai angka puluhan juta rupiah. Dia bicara dengan jujur dan terbuka, tanpa menyembunyikan betapa miskin dan terjepitnya keadaannya saat ini.
“Saya baru bekerja satu hari, Pak… saya tahu permintaan ini keterlaluan. Tapi saya berjanji akan melunaskannya, bekerja sekuat tenaga, memotong gaji saya setiap bulan… tolong, pinjamkan saya uang itu demi nyawa Ibu saya.”
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan setelah dia selesai bicara. Tristan diam saja, matanya menyipit menatap gadis itu yang tampak rapuh namun penuh ketulusan. Di benaknya yang sejak tadi dipenuhi badai gairah dan kekecewaan terhadap rumah tangganya, tiba‑tiba muncul benih pikiran yang gelap dan licik. Dia melihat celah sempurna, ketergantungan mutlak, keputusasaan murni yang kini menempatkan gadis itu di telapak tangannya sepenuhnya. Uang itu bukan masalah baginya, jauh sekali. Namun kesempatan ini terasa terlalu manis untuk dilewatkan begitu saja.
Tristan melangkah mendekat perlahan, menurunkan nada bicaranya hingga terdengar seperti bisikan yang berat.
“Nayla… uang sebanyak itu bukan sekadar pinjaman biasa. Jika aku mengeluarkannya malam ini juga, itu berarti kamu berutang lebih dari sekadar uang kepadaku.”
“Saya siap melakukan apa saja, Pak,” jawabnya tegas meski ketakutan membayangi matanya.
Tristan tersenyum tipis, bukan kehangatan, melainkan senyum kemenangan yang tersembunyi.
“Baiklah. Aku akan menolongmu. Aku akan membayar seluruh biaya rumah sakit dan operasi ibumu. Tapi ada satu syarat.”
“Syarat apa saja akan saya terima.”
“Mulai detik ini,” suaranya menegang dan matanya menembus ke dalam jiwanya, “kamu menjadi milikku sepenuhnya dalam pekerjaan ini dan di hadapanku. Kamu akan selalu melakukan apa yang aku perintahkan. Tidak ada pertanyaan, tidak ada penolakan, bahkan jika perintah itu terdengar aneh, tidak masuk akal, atau memalukan. Kamu tidak boleh membantah sepatah kata pun.”
Nayla terpaku di tempatnya. Kata‑kata itu terasa aneh dan mengerikan. Dia menelan ludah dengan susah payah.
“Perintah yang… bagaimana maksudnya yang aneh itu, Pak?”
Tristan tidak menjelaskan lebih lanjut dengan kata‑kata. Dia membiarkan keheningan menekan batin gadis itu sampai dia merasakan kekuasaan penuh yang dipegang oleh lelaki di hadapannya itu. Tatapannya berubah menjadi liar namun terkendali, menelusuri setiap lekuk tubuh yang kemarin sempat membuatnya gila di balik pantulan kaca. Tanpa berkedip, dia mengucapkan perintah itu dengan dingin dan lugas.
“Lepaskanlah seluruh pakaianmu itu!”
Darah seketika berhenti mengalir di pembuluh darah Nayla. Matanya terbelalak kaget, mulutnya terbuka sedikit karena terkejut yang luar biasa. Dia mundur selangkah, melindungi tubuhnya sendiri dengan kedua lengan.
“Pak… a-apa…?”
“Kamu bertanya bagaimana perintahku,” potong Tristan dingin dan tak tergoyahkan. “Itulah ujian pertamamu. Tunjukkan bahwa kamu benar‑benar menyerahkan kepatuhanmu demi ibumu yang sedang berjuang hidup dan mati di sana.”
Hening kembali menguasai ruangan itu, namun kini terasa lebih berat dan terancam. Di benak Nayla bermekaran perang batin yang menyakitkan. Rasa malu, kehormatan dirinya yang dijaga sekuat tenaga, berhadapan langsung dengan bayangan wajah pucat ibunya di ranjang rumah sakit, nyawa orang yang paling dicintainya itu bergelantungan di ujung benang. Tidak ada jalan lain. Tidak ada orang lain yang bisa menyelamatkannya selain lelaki yang kini berdiri memandangnya dengan tatapan penuh keinginan tak terbendung itu.
Pikirannya kembali melayang ke Rianti dan Zaki yang menunggu penuh ketakutan di lorong rumah sakit. Dia adalah satu‑satunya harapan mereka. Jika dia menolak sekarang, pintu itu tertutup dan mungkin ibunya akan pergi selamanya.
Dengan tangan yang gemetar hebat seolah tersentak arus listrik, napas yang terputus‑putus dan wajah yang sudah memerah menahan tangis serta kehinaan, Nayla mengangguk pelan. Dia membuang pandangan ke arah lantai yang mengkilap itu. Air matanya jatuh berderas tanpa mampu ditahan lagi.
Perlahan namun pasti, di bawah tatapan mata yang mengawasi setiap gerakannya dengan lapar dan tak teralihkan, Nayla mulai melanggar batas terakhir kesopanannya. Jari‑jarinya yang dingin menyentuh kancing paling atas, lalu satu per satu dia melepaskannya. Dia merasakan betapa dinginnya udara ruangan itu saat kain pelindung tubuhnya perlahan terlepas, tergelincir turun hingga menyentuh lantai.
Nayla terus melakukannya, menanggalkan setiap lapisan busana, sampai akhirnya dia berdiri sepenuhnya telanjang, terbuka, dan rentan di tengah cahaya lampu kantor yang terang benderang itu. Tidak ada tempat untuk bersembunyi sekarang. Dia berdiri gemetar bagaikan kelopak bunga yang rapuh diterpa badai, menyadari bahwa sejak saat itu, dia bukan lagi milik dirinya sendiri.
Tristan berdiri diam sesaat, terpesona melihat pemandangan yang akhirnya terbuka utuh di hadapannya, pemenuhan dari bayang‑bayang yang menghantui kepalanya seharian penuh. Hatinya berteriak penuh kemenangan, karena dia tahu sepenuhnya, dia telah menguasai tubuh dan nasib gadis itu sepenuhnya malam ini.