Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Pagi berikutnya, rumah sakit sudah dipenuhi aktivitas ketika Azmira keluar dari ruang pemeriksaan. Ia baru saja memasukkan beberapa berkas ke dalam map ketika suara seseorang terdengar dari belakang.
"Dokter Azmira!"
Azmira menoleh. Tania berjalan cepat menghampirinya sambil membawa dua berkas di tangan.
"Ada pasien yang dari tadi mencarimu."
"Pasien yang mana?"
"Yang ruang tiga."
Azmira mengernyit. "Kenapa nggak langsung diarahkan ke dokter lain?"
"Sudah. Katanya tetap mau menunggu kamu."
Tania kemudian memperhatikan seseorang yang baru saja memasuki lorong. Seketika senyum jahil muncul di wajahnya.
"Oh..."
Azmira mengikuti arah pandang Tania. Seorang lelaki berjalan mendekat dengan pakaian rapi. Langkahnya santai, tetapi beberapa orang di sekitar rumah sakit langsung menyapanya.
William.
Azmira menghela napas kecil. "Kenapa?"
Tania menyenggol lengannya. "Nggak kenapa-kenapa."
Azmira menatap curiga. "Kamu senyum begitu pasti ada apa-apa."
"Pak William datang."
"Aku lihat."
"Dan dia langsung ke sini."
Azmira menggeleng. "Tania..."
"Apa?"
"Jangan mulai."
Tania tertawa. "Aku belum ngomong apa-apa."
William sudah semakin dekat. "Selamat pagi."
"Pagi," jawab Azmira.
Tania justru tersenyum lebar. "Pagi, Pak William."
William mengangguk. "Tania."
Tatapan Tania berpindah dari William kepada Azmira. "Aku pergi dulu, ya."
Azmira langsung tahu. "Tania."
"Kenapa?"
"Kamu tadi bilang ada pasien."
"Oh, iya."
Tania menunjuk berkas di tangannya. "Pasiennya masih ada. Tapi sepertinya Dokter Azmira sekarang punya urusan yang lebih penting."
William menahan senyum, sementara Azmira mendelik ke arah rekan kerjanya itu.
"Tania!"
Tania langsung tertawa sambil berjalan pergi. William memperhatikan kepergian perempuan itu.
"Dia memang selalu begitu?"
"Sejak dulu."
"Berarti kamu sudah terbiasa."
Azmira mengangguk. "Sayangnya."
William kemudian menyerahkan sebuah kantong kepada Azmira. "Ini untuk kamu."
Azmira melihat isinya. "Makanan?"
"Kamu kemarin belum makan siang."
Azmira mengangkat wajah. "Kamu masih ingat?"
William tersenyum. "Aku ingat."
Azmira terdiam sesaat. William tidak pernah mengatakan sesuatu yang berlebihan. Ia juga tidak pernah memaksakan diri masuk ke kehidupan Azmira.
Tetapi perhatian kecil seperti itu selalu muncul. Dan entah kenapa, Azmira tidak pernah benar-benar merasa terganggu.
"Kamu sendiri sudah makan?"
"Sudah."
"Jangan bohong."
William terkekeh. "Aku sudah."
Dari ujung lorong, Tania diam-diam menoleh.
Begitu melihat William masih berdiri di samping Azmira, ia langsung tersenyum sendiri.
"Ya ampun," gumamnya.
Ia kemudian kembali berjalan sebelum ketahuan sedang mengintip. Sementara itu, tanpa Azmira ketahui, hidupnya perlahan mulai bersinggungan dengan masa lalu yang bahkan belum pernah ia kenal.
☘️☘️☘️☘️☘️
Di tempat lain, sebuah mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Dika turun perlahan. Tatapannya tertuju pada bangunan di hadapannya.
Ia tidak langsung melangkah. Rumah itu jauh berbeda dari bayangan yang selama ini tersimpan di kepalanya. Bahkan beberapa bagian dindingnya sudah terlihat tua.
Dika berjalan mendekat. Ia melihat seorang lelaki tua sedang menyapu halaman rumah di sebelahnya.
"Permisi."
Lelaki itu berhenti dan menoleh. "Ya?"
Dika menunjukkan alamat yang dibawanya. "Apakah Bapak mengenal keluarga yang pernah tinggal di rumah ini?"
Lelaki tua itu memperhatikan kertas tersebut.
"Rina?"
Dika mengangguk. "Wanita itu sudah lama pindah."
"Dipindahkan ke mana?"
Lelaki itu menggeleng. "Saya tidak tahu persis."
Dika terdiam. Namun lelaki tua itu tiba-tiba berkata, "Tapi anaknya saya kenal."
Dika langsung menatapnya. "Anaknya?"
"Iya. Azmira."
Nama itu membuat dada Dika terasa sesak. "Anda mengenalnya?"
"Tentu. Dulu anak itu sering berangkat sekolah dari sini, pakai sepeda mini dan selalu mencari kerjaan saat pulang sekolah.
Lelaki tua itu tersenyum kecil. "Ia anak yang didewasakan oleh keadaan hingga akhirnya kehidupan mereka perlahan membaik dan Azmira bisa kuliah kedokteran."
Wajah Dika mendadak kehilangan warna mendengar pernyataan itu, betapa egoisnya dia, hingga membiarkan darah dagingnya berjuang sendiri dalam kemiskinan sementara dirinya hidup nyaman.
Dika menundukkan wajahnya sebentar. Ada sesuatu yang terasa asing ketika mendengar orang lain membicarakan Azmira dengan kebanggaan.
"Bagaimana dengan ibunya?"
Lelaki tua itu terdiam sejenak. "Bu Rina orang yang kuat."
Dika mengangkat wajah. "Kenapa?"
"Dulu hidup mereka tidak mudah. Tapi Bu Rina tidak pernah mengeluh di depan orang."
Dika menggenggam kertas di tangannya.
Lelaki itu melanjutkan, "Yang saya ingat, setiap kali anaknya sakit atau ada keperluan sekolah, dia selalu berusaha sendiri."
Dika menelan kenyataan itu dalam diam.
Selama bertahun-tahun, ia bahkan tidak pernah bertanya bagaimana Rina membesarkan anak mereka.
Ia hanya pergi. Dan sekarang, orang asing justru mengetahui lebih banyak tentang kehidupan anaknya daripada dirinya.
"Apakah Bapak tahu ke mana mereka pindah?"
Lelaki itu berpikir. "Sepertinya ada saudara yang tinggal di daerah sebelah. Tapi saya tidak begitu yakin."
Dika mengangguk. "Terima kasih."
Ia kembali menuju mobil. Namun sebelum membuka pintu, Dika berhenti. Matanya kembali tertuju pada rumah sederhana itu.
Dua puluh lima tahun. Selama itu, seorang anak tumbuh tanpa dirinya. Dan sekarang Dika mulai merasakan bahwa mungkin bukan Rina yang meninggalkan kehidupannya. Mungkin justru dialah yang sejak awal memilih pergi.
Dika masuk ke mobil. Ponselnya kembali berdering. Ia melihat layar. Kepala bagian keuangan. Dika mengangkatnya.
"Ya?"
"Pak, kami menemukan satu transaksi lagi."
"Apa?"
"Transaksi ini cukup besar, Pak."
Dika mengernyit. "Atas nama siapa?"
Ada jeda di seberang. "Kami masih memeriksanya. Tapi dana tersebut masuk ke perusahaan yang memiliki hubungan dengan salah satu orang terdekat keluarga."
Dika terdiam lalu bertanya. "Siapa?"
"Data lengkapnya sedang kami kirimkan, Pak."
Panggilan berakhir. Beberapa detik kemudian, sebuah dokumen masuk ke ponselnya. Dika membukanya. Matanya berhenti pada satu nama.
Miranda.
Kali ini, Dika tidak bisa lagi menganggap semuanya sebagai kebetulan. Ia menatap layar cukup lama.
Sementara jauh dari sana, Miranda masih menjalani hari seperti biasa. Tanpa mengetahui bahwa satu demi satu jejak yang selama ini ia sembunyikan mulai ditemukan.
☘️☘️☘️☘️
Dan di rumah sakit, William masih berdiri di hadapan Azmira. Tidak satu pun dari mereka menyadari bahwa kehidupan mereka perlahan sedang bergerak menuju satu titik yang sama.
Sebuah titik yang akan mempertemukan masa lalu dan masa depan dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan.
Bersambung...
dika bakal menyesal seumur hidup 🤭
🤣🤣🤣🤣
itulah karma Dika...
sakit tak berdarah ketika tau kenyataan yang sebenarnya 😆😆😆