Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Untuk Ibu
Sabtu pagi, Doni sampai di rumah lebih awal dari biasanya, badannya masih pegal abis naik bus semalaman. Ibunya lagi nyapu halaman waktu Doni turun dari becak Pak Slamet.
"Lho, Doni? Kok nggak bilang-bilang pulang, Nak?" Ibunya buru-buru naruh sapu, langsung meluk Doni.
"Mau ngejutin, Bu. Ada yang mau Doni omongin."
Ibunya mengernyit, ngeliat raut muka Doni yang serius. "Omongin apa, Nak? Ada masalah?"
"Nggak, Bu. Bukan masalah. Tapi penting."
"Ya udah, masuk dulu, Ibu bikinin teh."
Mereka duduk di ruang tamu, dua gelas teh anget di meja, bapaknya kebetulan lagi ke sawah, jadi cuma berdua.
"Jadi, Nak, mau ngomongin apa?" tanya ibunya, duduk di kursi rotan tua, menatap Doni penuh perhatian.
Doni menghela napas panjang, udah nyiapin kalimat pembuka dari semalam di bus, tapi tetap aja susah keluar begitu momennya beneran dateng.
"Bu... Doni udah ketemu Kakek."
Ibunya membeku. Gelas teh yang tadi mau diangkat, berhenti di udara, tangannya sedikit gemetar.
"Kakek... yang mana, Nak?"
"Kakek dari pihak Ibu. Pak Wijaya."
Hening lama. Ibunya menaruh gelas tehnya pelan-pelan, matanya menerawang, kayak lagi berusaha nyerna kalimat yang baru aja didengar.
"Dari mana kamu tau soal dia, Nak? Ibu nggak pernah cerita detail."
"Doni nyari tau sendiri, Bu. Awalnya dari obrolan kita soal album foto lama, terus Doni lanjut nyari-nyari sendiri."
"Kenapa, Nak? Kenapa kamu nyari-nyari soal itu?"
Doni menatap ibunya, mencoba nemuin kata-kata yang paling jujur. "Karena Doni pengen tau, Bu. Kenapa Ibu selalu ngehindar tiap Doni nanya soal keluarga dari pihak Ibu."
Mata ibunya mulai berkaca-kaca. "Itu masa lalu yang berat, Nak. Ibu nggak mau kamu ikut kepikiran."
"Tapi itu bagian dari Doni juga, Bu. Doni berhak tau."
Ibunya diam lama, air mata mulai menetes pelan di pipinya. "Terus? Gimana... gimana keadaan dia sekarang?"
"Masih sehat, Bu. Masih tegas kayak yang Ibu ceritain. Tapi..." Doni berhenti sebentar, "...dia nyesel, Bu. Dia bilang langsung ke Doni."
"Nyesel?" Suara ibunya bergetar.
"Iya, Bu. Katanya dia takut Ibu susah waktu itu, makanya nolak. Tapi dia sadar caranya salah."
Ibunya menutup mulutnya dengan tangan, menahan isakan yang mulai nggak bisa ditahan lagi. Doni buru-buru pindah duduk ke sebelahnya, meluk ibunya pelan.
"Bu, maaf kalau ini bikin Ibu sedih—"
"Bukan sedih, Nak," potong ibunya, di sela isakan. "Ini... ini lega. Dua puluh tahun Ibu mikirin ini terus, nggak pernah brani nyari tau kabarnya sendiri."
Mereka diam beberapa saat, cuma suara isak pelan ibunya yang mengisi ruangan.
"Bu," kata Doni akhirnya, pelan, "Kakek bilang dia siap ketemu Ibu."
Ibunya mendongak, matanya penuh keterkejutan. "Serius, Nak?"
"Serius, Bu. Dia yang bilang langsung ke Doni lewat telepon."
"Kapan?"
"Terserah Ibu. Doni cuma disuruh yang atur."
Ibunya diam lama, menyeka air matanya pelan, pikirannya kelihatan berkecamuk. "Ibu... Ibu takut, Nak."
"Takut kenapa, Bu?"
"Takut ketemu lagi, terus semuanya jadi kayak dulu lagi. Takut dia masih marah, masih nyalahin Ibu."
"Nggak, Bu. Dia nggak keliatan marah waktu ketemu Doni. Dia malah nanya-nanya soal Ibu, tanya Ibu baik-baik aja apa nggak."
Ibunya menghela napas panjang, menatap ke luar jendela, ke arah sawah yang mulai menghijau.
"Bapak kamu tau soal ini?"
"Bapak tau Doni lagi cari tau soal keluarga Ibu. Tapi soal kakek udah nelepon, cuma Doni yang tau."
"Kita harus cerita ke Bapak kamu dulu, Nak. Ini keputusan besar, harus dipikirin bareng-bareng."
"Iya, Bu. Doni juga mikir gitu."
Sore itu, waktu bapaknya pulang dari sawah, mereka bertiga duduk bareng di ruang tamu yang sama. Doni ngulang cerita yang tadi pagi, kali ini lebih detail, sementara bapaknya dengerin sambil sesekali menggenggam tangan istrinya, memberi dukungan diam-diam.
"Jadi, gimana, Bu?" tanya bapaknya, setelah Doni selesai cerita. "Kamu mau ketemu?"
Ibunya menatap suaminya lama, lalu menatap Doni, lalu balik lagi ke suaminya. "Aku mau, Pak. Tapi aku nggak mau sendirian. Aku butuh kamu di sana."
"Pasti, Bu. Aku nggak akan biarin kamu hadapi ini sendirian."
Doni menatap kedua orang tuanya, dadanya penuh rasa haru ngeliat mereka saling menguatkan setelah bertahun-tahun cuma berdua menghadapi dunia tanpa dukungan keluarga besar.
"Jadi, gimana, Bu? Kapan waktunya?" tanya Doni.
Ibunya menghela napas panjang, menatap Doni dengan senyum tipis yang masih menyisakan air mata.
"Bulan depan, Nak. Ibu butuh waktu buat nyiapin hati dulu."
"Oke, Bu. Doni kabarin ke Kakek."
"Tunggu," ibunya menahan tangan Doni yang udah mau ngambil HP. "Ada satu syarat."
"Syarat apa, Bu?"
"Ketemunya di sini. Di rumah ini. Bukan di rumahnya, bukan di kantor besarnya."
Doni tersenyum, ngerti maksud ibunya. "Siap, Bu. Doni sampein."
Ibunya mengangguk, menatap ke arah pintu rumah sederhana mereka, kayak lagi membayangkan sosok yang selama ini cuma jadi bayang-bayang masa lalu, akan benar-benar berdiri di ambang pintu itu bulan depan.
"Setelah dua puluh tahun," gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri, "akhirnya."
Malam itu, sebelum tidur, Doni duduk di teras rumah bareng bapaknya, ditemani secangkir kopi item dan suara jangkrik dari sawah sekitar.
"Nak," kata bapaknya pelan, "makasih ya, udah berani nyari tau semua ini sendirian."
"Doni sempet takut, Pak. Takut malah bikin masalah baru buat Ibu."
"Ternyata malah sebaliknya. Kamu kasih Ibu kamu sesuatu yang udah lama dia tunggu, meski dia sendiri nggak pernah berani ngaku."
"Bapak nggak apa-apa kan, soal ini? Soal ketemu Kakek?"
Bapaknya menghela napas, menatap jauh ke arah sawah yang gelap. "Awalnya deg-degan, Nak. Tapi sekarang, Bapak cuma pengen lihat Ibu kamu bahagia. Kalau ketemu keluarganya lagi bisa bikin dia lega, Bapak dukung penuh."
"Bapak nggak dendam sama Kakek? Padahal dulu Bapak yang paling kena getahnya."
"Dendam itu berat, Nak. Bapak udah cape mikul itu bertahun-tahun. Sekarang udah waktunya lepas."
Doni menatap bapaknya, ngerasa kagum sama kebesaran hati yang selama ini nggak pernah dia sadari sepenuhnya.
"Bapak hebat," gumamnya pelan.
"Bukan hebat, Nak. Cuma capek benci lebih lama dari yang perlu."
Mereka diam sebentar, menikmati suara malam kampung yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota.
"Nanti gimana caranya Doni kabarin ke Kakek, Pak?"
"Telepon aja langsung, Nak. Bilang apa adanya, Ibu kamu setuju, tapi mau ketemu di sini, bulan depan."
"Siap, Pak."
Doni ngambil HP-nya, ngetik pesan singkat ke nomor kakeknya yang masih tersimpan sebagai "Nomor Tidak Dikenal" karena dia belum sempat kasih nama.
"Pak, Ibu setuju ketemu. Bulan depan, di rumah kami. Doni kabari detail tanggalnya nanti."
Balasan datang beberapa menit kemudian, singkat tapi penuh makna.
"Terima kasih, Nak. Saya akan datang, kapanpun waktunya."
Doni menatap layar HP-nya lama, tersenyum tipis, sebelum akhirnya nyimpen nomor itu dengan nama baru: "Kakek Wijaya."
"Udah dibales, Pak," katanya, nunjukin layar HP ke bapaknya.
Bapaknya tersenyum, menepuk pundak Doni pelan. "Bagus, Nak. Sekarang tinggal nunggu waktunya."
Malam itu, Doni tidur dengan perasaan lega yang belum pernah dia rasain sebelumnya bukan karena untung besar dari saham atau tender, tapi karena akhirnya, satu luka lama keluarganya mulai menuju penyembuhan.
Sebelum benar-benar merem, dia sempat kirim pesan singkat ke Sinta, ngabarin perkembangan hari itu.
"Sin, Ibu setuju. Bulan depan mereka ketemu, di rumah kami."
Balasan Sinta datang cepat, penuh emoji terharu.
"Don, ini bagus banget. Gue seneng banget buat lo sama keluarga lo. Istirahat ya, besok cerita detail lagi."
Doni tersenyum menatap layar itu, menaruh HP di samping bantal, lalu memejamkan mata, membiarkan rasa lega itu perlahan menariknya masuk ke tidur yang lebih nyenyak dari biasanya.
Di luar jendela kamar, suara jangkrik masih bersahutan, dan bulan malam itu terlihat lebih terang dari biasanya, seolah ikut merayakan satu babak panjang yang akhirnya, pelan-pelan, mulai menemukan jalan pulangnya.
Keesokan paginya, sebelum Doni balik ke kota, ibunya masih kelihatan sedikit gugup, tangannya sibuk beres-beres dapur meski sebenarnya nggak ada yang perlu dibereskan.
"Bu, kenapa dari tadi bersih-bersih terus?" tanya Doni, sambil masukin baju ke tas.
"Nggak tau, Nak. Rasanya nggak bisa diem aja. Kepikiran terus soal bulan depan."
"Santai aja, Bu. Masih ada waktu buat siap-siap."
Ibunya berhenti sebentar, menatap Doni lama. "Nak, makasih ya. Ibu tau ini pasti berat buat kamu juga, nyari-nyari sendirian, sampai nekat ke sana tanpa bilang siapa-siapa."
"Nggak berat, Bu. Justru Doni seneng bisa bantu."
"Kamu ini," ibunya tersenyum, mengusap kepala Doni kayak waktu dia masih kecil, "makin gede makin bikin Ibu bangga aja."
Doni tersenyum, meluk ibunya sebentar sebelum akhirnya berangkat ke terminal, ditemani bapaknya yang nganterin pakai motor.
Di terminal, sebelum naik bus, bapaknya sempat berpesan singkat. "Nak, jaga diri baik-baik di kota. Kalau ada kabar apa-apa soal Kakek, kabarin Bapak sama Ibu ya."
"Pasti, Pak."
Bus melaju meninggalkan terminal kecil itu, Doni menatap keluar jendela, pemandangan sawah dan bukit yang perlahan berganti jadi gedung-gedung kota, hatinya penuh dengan harapan buat bulan depan momen yang bakal jadi penyembuhan panjang dari luka yang udah bertahun-tahun dipendam keluarganya.
Jika kalian ada request nama kalian mau saya jadikan salah satu karakter tinggalin aja yaa di kolom komentar, jangan lupa follow dan support terimakasih all buat yg udah stay 😁🙏