Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.
Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23. Rahasia Klan Tang
Musim semi di Chang'an seharusnya menjadi musim yang paling indah, karena bunga plum di taman istana mekar penuh dan angin membawa aroma manis yang membuat para penyair menulis puisi dan para bangsawan mengadakan pesta, tetapi bagi Tang Hyun, musim itu terasa seperti pisau yang disembunyikan di balik sutra, karena tiga hari setelah jamuan kemenangan di Puncak Es Abadi, desas-desus aneh mulai muncul di pasar, di kedai teh, dan bahkan di dalam istana, desas-desus yang tidak berbicara tentang perang atau monster, melainkan tentang masa lalu Klan Tang, tentang seratus tahun lalu ketika Klan Tang pertama kali muncul di Jianghu, dan tentang sebuah malam berdarah di desa perbatasan yang dikatakan sebagai awal dari semua kekayaan dan kekuasaan Klan Tang, sebuah cerita yang selama ini dikubur oleh para Tetua dan yang sekarang digali kembali oleh tangan-tangan yang tidak dikenal dengan tujuan yang jelas, menghancurkan hubungan antara Tang Hyun dan Putri Mahkota sebelum janji di bawah pohon bunga plum itu sempat menjadi kenyataan.
Surat pertama yang membawa berita buruk datang dari Tang So-yeon, bukan dengan burung, melainkan dengan kurir yang berlari tiga hari tiga malam, dan di dalamnya hanya ada satu kalimat yang membuat darah Tang Hyun menjadi dingin, "Ada yang membuka arsip terlarang Klan. Mereka menemukan 'Catatan Darah Desa Ling'."
Tang Hyun langsung berangkat ke ibu kota tanpa menunggu persetujuan Tetua, karena dia tahu bahwa jika dia terlambat satu hari saja, maka rumor itu akan sampai ke telinga Kaisar dan Putri Mahkota dalam versi yang paling kejam, dan ketika dia tiba di Chang'an, kota itu sudah berubah, bendera Klan Tang yang dulu disambut dengan bunga sekarang ditatap dengan curiga, dan para pedagang yang dulu menjual obat Klan sekarang menutup toko lebih awal karena takut dituduh sebagai kaki tangan pembunuh.
Di istana, suasana lebih buruk, karena Putri Mahkota Li Xinyue dipanggil ke aula utama oleh Kaisar dan oleh Dewan Menteri setiap hari untuk "menjelaskan hubungannya dengan Klan Tang", dan meskipun Putri tidak mengatakan apa-apa yang bisa digunakan melawan Tang Hyun, tekanan di wajahnya semakin jelas setiap kali Tang Hyun melihatnya dari kejauhan, sebuah tatapan lelah yang mengatakan bahwa dia sedang bertarung dalam perang yang tidak bisa dimenangkan dengan racun atau pedang.
"Kau harus pergi," kata Putri Mahkota ketika mereka akhirnya bisa bertemu diam-diam di Paviliun Bunga Plum pada malam ketiga setelah Tang Hyun tiba, "untuk sementara. Sampai aku membersihkan ini."
"Tidak," jawab Tang Hyun, "jika aku pergi sekarang, maka aku terlihat bersalah. Dan jika aku bersalah, maka Klan akan hancur."
"Maka katakan padaku yang sebenarnya," kata Putri dengan suara bergetar, "apa yang ada di 'Catatan Darah Desa Ling'?"
Tang Hyun terdiam lama, karena selama dua puluh tahun hidupnya tidak ada seorang pun yang berani bertanya itu padanya, bahkan Tang So-yeon, bahkan Tetua Ketiga, karena itu adalah rahasia yang dijaga dengan darah, rahasia yang menjadi fondasi Klan Tang dan juga kutukan terbesar mereka.
"Seratus tahun lalu," kata Tang Hyun akhirnya, "Klan Tang belum bernama Klan Tang. Kami hanya sekelompok pengungsi, orang yang diusir dari sekte lain karena kami menggunakan racun. Kami lapar, kami sakit, dan kami diburu. Dan suatu malam, kami menemukan Desa Ling, desa kecil di perbatasan yang menyimpan persediaan makanan untuk satu musim dingin."
"Dan?" tanya Putri pelan.
"Dan Tetua pertama kami membuat keputusan," lanjut Tang Hyun dengan suara serak, "dia meracuni sumur desa di malam hari, membunuh semua orang di dalamnya, laki-laki, perempuan, anak-anak, agar kami bisa bertahan hidup dan agar tidak ada saksi yang bisa melaporkan kami ke sekte ortodoks."
Putri Mahkota menutup matanya, "Berapa banyak?"
"Tiga ratus empat puluh dua orang," jawab Tang Hyun, "dan setelah itu, kami mengambil semua yang ada di desa, kami membangun Klan dari darah itu, dan kami bersumpah untuk tidak pernah membicarakannya lagi."
Keheningan, hanya suara angin yang menggoyangkan kelopak bunga plum.
"Kenapa kau memberitahuku ini?" tanya Putri.
"Karena aku tidak ingin kau mendengarnya dari orang lain," jawab Tang Hyun, "dan karena aku tidak ingin berbohong padamu."
Putri Mahkota membuka matanya, dan di dalamnya tidak ada jijik, tidak ada takut, hanya ada sakit, "Tang Hyun... kau tahu apa artinya ini? Jika ini keluar, maka Klan Tang akan disebut pembantai. Dan aku, yang melindungimu, akan disebut pelindung iblis."
"Aku tahu," jawab Tang Hyun, "itulah kenapa aku siap mati jika perlu."
"Tidak," kata Putri tiba-tiba sambil menggenggam tangan Tang Hyun, "aku tidak akan membiarkanmu mati. Bukan untuk dosa yang kau sendiri tidak lakukan."
Malam itu mereka tidak membuat janji baru, mereka hanya duduk, karena keduanya tahu bahwa badai sudah datang dan tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Keesokan paginya, petisi masuk ke istana, ditandatangani oleh dua belas kepala sekte ortodoks, yang menuntut agar Klan Tang dibubarkan, asetnya disita, dan Tang Hyun dieksekusi sebagai "keturunan pembantai", dan di belakang petisi itu ada nama Menteri Zhao Wei yang meskipun sudah dipenjara, orang-orangnya masih bekerja dari balik jeruji dengan membayar emas dan menyebarkan bukti palsu.
Sidang besar diadakan di aula utama, dan Tang Hyun dipanggil untuk membela diri di depan Kaisar, di depan seratus pejabat, dan di depan seluruh Jianghu yang diwakili oleh utusan sekte, dan ketika dia masuk, dia tidak membawa senjata, tidak membawa pembela, hanya membawa satu gulungan tua yang sudah menguning, gulungan yang dia ambil dari ruang rahasia Klan sebelum berangkat.
"Apa itu?" tanya Kaisar.
"Ini," kata Tang Hyun dengan suara yang terdengar sampai ke sudut aula, "adalah 'Catatan Darah Desa Ling' yang asli."
Semua terdiam, karena tidak ada yang menyangka dia akan mengakuinya secara langsung.
"Di dalamnya tertulis semua nama orang yang mati malam itu," lanjut Tang Hyun, "dan juga tertulis permintaan maaf dari Tetua pertama, yang mengatakan bahwa dia melakukan itu karena putus asa, dan bahwa dia berharap keturunannya suatu hari bisa menebus dosa itu."
"Kau pikir permintaan maaf bisa menghapus pembantaian?" teriak seorang kepala sekte.
"Tidak," jawab Tang Hyun, "tapi melarikan diri juga tidak. Selama seratus tahun, Klan Tang menggunakan keuntungan dari darah itu untuk membangun rumah sakit, untuk memberi obat gratis kepada desa miskin, untuk melindungi perbatasan. Kami tidak bisa mengembalikan nyawa, tapi kami bisa memastikan tidak ada lagi desa yang mati kelaparan karena kami."
"Kata-kata kosong," kata Menteri lain, "kau hanya ingin menyelamatkan lehermu."
"Mungkin," kata Tang Hyun, "tapi tanyakan pada rakyat di Sichuan, tanyakan pada desa yang aku lindungi di Puncak Es Abadi, apakah mereka lebih suka mati di tangan monster, atau hidup di bawah perlindungan 'pembantai'."
Aula menjadi hening, karena tidak ada yang bisa membantah itu, karena semua orang tahu bahwa setahun terakhir Klan Tang telah menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada sekte mana pun.
Lalu Putri Mahkota berdiri, dan seluruh aula menunduk, "Yang Mulia Kaisar," katanya, "Klan Tang memang punya masa lalu yang gelap. Tapi bukankah setiap keluarga besar, setiap sekte, bahkan istana ini, juga punya darah di tangannya? Perbedaannya adalah, Klan Tang mengakuinya. Dan mereka mencoba menebusnya."
"Putri," kata Kaisar dengan suara berat, "kau membela mereka?"
"Aku membela keadilan," jawab Putri, "dan aku membela orang yang telah melindungi rakyat Yang Mulia ketika tidak ada orang lain yang mau."
Kaisar menatap Tang Hyun lama, lalu dia menghela napas, "Tang Hyun, apa kau menyesal?"
Tang Hyun berlutut, "Aku menyesal setiap hari. Tapi aku tidak akan lari dari itu. Jika Yang Mulia ingin kepalaku, ambillah. Tapi jangan hukum seluruh Klan untuk dosa yang dilakukan seratus tahun lalu oleh orang yang bahkan tidak aku kenal."
Kaisar terdiam selama satu menit yang terasa seperti satu tahun, lalu dia berkata, "Klan Tang tidak akan dibubarkan. Tapi sebagai hukuman, kalian harus membangun seratus kuil peringatan di seluruh negeri, merawat keturunan Desa Ling yang masih hidup, dan menyerahkan setengah dari keuntungan Klan selama sepuluh tahun untuk membantu rakyat miskin."
"Baik yang mulia," jawab Tang Hyun, "dan terima kasih, Yang Mulia."
Keputusan itu membuat separuh aula marah dan separuh lagi lega, dan ketika sidang selesai, Tang Hyun keluar dengan tubuh lelah tetapi kepala tegak, karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak bersembunyi.
Malam itu, di Paviliun Bunga Plum, Putri Mahkota menunggunya.
"Kau gila," kata Putri begitu melihat Tang Hyun, "mengakui itu di depan semua orang?"
"Aku lelah berbohong," jawab Tang Hyun, "dan aku lelah membuatmu berbohong untukku."
Putri Mahkota berjalan mendekat dan memeluknya, pelukan pertama yang mereka lakukan di depan umum, meskipun tidak ada orang, "Bodoh. Kau pikir aku peduli dengan masa lalumu? Aku peduli dengan orang yang kau jadi sekarang."
Tang Hyun memeluk balik, "Xinyue..."
"Jangan bicara," kata Putri, "biarkan aku seperti ini sebentar."
Mereka berdiri seperti itu sampai bulan naik, dan untuk pertama kalinya, Tang Hyun merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, masa lalu tidak akan menghancurkan masa depan mereka.
Tapi kedamaian itu tidak berlangsung lama, karena dua hari kemudian, utusan datang dari Klan Tang, membawa berita bahwa makam di Desa Ling, makam massal tempat tiga ratus empat puluh dua orang dikubur, telah digali oleh orang tidak dikenal, dan tulang-tulang mereka disebar di jalanan, dengan tulisan "Ini adalah warisan Klan Tang" ditulis dengan darah di tembok desa.
Itu adalah provokasi, dan tujuannya jelas, membuat rakyat marah dan membuat Kaisar menarik kembali keputusannya.
Tang Hyun langsung kembali ke Sichuan bersama Tang So-yeon dan seratus orang, dan ketika mereka tiba di Desa Ling, pemandangan di sana membuat bahkan prajurit yang sudah terbiasa dengan kematian muntah, karena tulang berserakan, anak-anak menangis, dan orang-orang menatap mereka dengan kebencian.
"Kita akan membersihkan ini," kata Tang Hyun kepada kepala desa, "kita akan membangun kembali makam, dan kita akan merawat kalian sampai akhir hayat."
"Kami tidak butuh uangmu," kata kepala desa dengan mata merah, "kami butuh keadilan."
"Maka kalian akan mendapatkannya," jawab Tang Hyun, "karena aku bersumpah, orang yang melakukan ini akan membayar."
Penyelidikan dimulai, dan dalam waktu seminggu, Tang Hyun menemukan pelakunya, bukan Sekte Iblis, melainkan sisa-sisa anak buah Menteri Zhao Wei yang bekerja sama dengan seorang biksu dari sekte ortodoks yang membenci Klan Tang, dan mereka ditangkap dan diserahkan ke pengadilan.
Tapi kerusakan sudah terjadi, dan reputasi Klan Tang kembali jatuh, meskipun tidak separah sebelumnya, karena kali ini rakyat melihat sendiri bagaimana Tang Hyun berlutut di depan makam dan meminta maaf atas nama leluhurnya, sebuah tindakan yang belum pernah dilakukan kepala sekte mana pun.
Berita itu sampai ke istana, dan Putri Mahkota membaca laporan itu sambil menangis, bukan karena sedih, melainkan karena bangga, karena pria yang dia cintai memilih untuk menanggung rasa malu demi orang lain.
Sebulan kemudian, seratus kuil peringatan selesai dibangun, dan Tang Hyun secara pribadi pergi ke setiap desa untuk meletakkan batu pertama, dan di setiap tempat dia mengatakan hal yang sama, "Ini untuk mengingat. Agar kita tidak mengulang."
Tindakan itu perlahan mengubah opini publik, dan dalam waktu tiga bulan, desas-desus berhenti, karena orang lebih sibuk membicarakan bagaimana Klan Tang membangun jembatan dan sekolah daripada membicarakan dosa seratus tahun lalu.
Di musim gugur, ketika daun mulai menguning, Tang Hyun kembali ke Chang'an untuk laporan akhir, dan di malam terakhir sebelum dia pergi, Putri Mahkota mengajaknya ke Paviliun Bunga Plum untuk terakhir kalinya sebelum musim dingin.
"Jadi," kata Putri, "sudah selesai?"
"Belum," jawab Tang Hyun, "akan selalu ada orang yang mengungkit masa lalu. Tapi sekarang aku tahu cara menghadapinya."
"Bagaimana?"
"Dengan tidak lari," jawab Tang Hyun, "dan dengan memiliki seseorang yang percaya padaku."
Putri Mahkota tersenyum, "Aku akan selalu percaya padamu."
"Kau tahu," kata Tang Hyun, "ketika aku masih kecil, aku pikir menjadi kuat berarti tidak punya kelemahan. Sekarang aku tahu, menjadi kuat berarti punya sesuatu yang ingin kau lindungi, meskipun itu bisa menyakitimu."
"Dan apa yang ingin kau lindungi?" tanya Putri.
Tang Hyun menatap mata Putri, "Kau. Klan. Dan janji kita."
Putri Mahkota menunduk, pipinya memerah, "Bodoh."
Mereka tertawa kecil, dan untuk pertama kalinya sejak lama, tidak ada politik, tidak ada perang, hanya dua orang di bawah pohon bunga plum, minum teh dan berbicara tentang hal-hal kecil, tentang buku, tentang makanan, dan tentang hari ketika mereka akhirnya bisa hidup tanpa harus takut.
Sebelum pergi, Tang Hyun memberikan Putri sebuah kotak kecil, "Ini apa?" tanya Putri.
"Biji bunga plum," jawab Tang Hyun, "dari Sichuan. Tanamlah di taman istana. Agar setiap musim semi, kau ingat bahwa aku juga menanam sesuatu untukmu."
Putri Mahkota menggenggam kotak itu erat, "Aku akan menanamnya."
Tang Hyun pergi keesokan paginya, dan di gerbang kota, Putri Mahkota tidak mengantar, karena itu terlalu mencolok, tetapi dia berdiri di menara tertinggi istana dan melambaikan tangan ketika kereta Tang Hyun menghilang di kejauhan.
Perjalanan pulang tenang, tanpa serangan, tanpa konspirasi, dan ketika Tang Hyun tiba di Klan, dia langsung memerintahkan pembangunan perpustakaan baru, tempat semua catatan Klan, termasuk 'Catatan Darah Desa Ling', akan disimpan dan bisa dibaca oleh siapa saja, karena dia percaya bahwa rahasia hanya akan menjadi racun jika disembunyikan.
Malam itu, dia menulis surat untuk Putri, "Xinyue, makam sudah dibangun kembali. Biji yang kau tanam, tolong jaga baik-baik. Dan tunggu aku. Musim semi depan, aku akan kembali."
Dia mengirim surat itu dan menatap ke arah utara, ke arah ibu kota, dan di dalam hatinya dia tahu bahwa rahasia Klan Tang tidak lagi menjadi rantai, melainkan menjadi batu pijakan, karena dari rasa malu itu lahir tanggung jawab, dan dari tanggung jawab itu lahir kepercayaan.
Dan di istana, Putri Mahkota menanam biji bunga plum di taman belakang, dan setiap hari dia menyiraminya, karena dia percaya bahwa seperti biji itu, cinta mereka juga akan tumbuh, perlahan, tetapi pasti, menjadi sesuatu yang tidak bisa ditebang oleh siapa pun.
Di kejauhan, angin membawa kelopak bunga plum terakhir musim ini, dan Tang Hyun berbisik, "Terima kasih, karena masih percaya padaku."