Indonesia
NovelToon NovelToon
Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Khumairah

"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."

"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."

Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.

Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.

Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.

Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.

Namun Diandra sudah terlanjur terluka.

Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlambat Menyadari

Benar juga ucapan suaminya. Dari tiga perusahaan yang memanggilnya untuk wawancara setelah lolos seleksi administrasi, tidak satu pun yang bersedia menerimanya.

Padahal, Diandra tahu betul kemampuan dan pengalaman kerjanya jauh lebih baik daripada sebagian besar pelamar lainnya. Namun, setiap kali sampai pada tahap akhir, selalu ada alasan untuk menolaknya.

Diandra tidak bodoh.

Ia yakin Bastian berada di balik semua penolakan itu.

Mungkin suaminya sudah menghubungi para pimpinan perusahaan tersebut dan meminta mereka tidak mempekerjakannya.

Dengan langkah berat, Diandra akhirnya berhenti di pinggir jalan. Ia duduk di bangku sederhana sambil memangku map berisi berkas lamaran kerja. Pandangannya kosong ketika menikmati semangkuk es dawet yang baru saja dibelinya.

"Baru selesai cari kerja, Neng?" tanya seorang bapak penjual dawet dengan ramah.

Diandra tersenyum tipis.

"Iya, Pak. Tapi belum berhasil. Tiga tempat yang saya datangi semuanya menolak."

Bapak itu mengangguk pelan.

"Jangan patah semangat, Neng. Mungkin memang belum rezekinya. Rezeki itu nggak akan tertukar. Kalau memang milik Neng, pasti akan datang."

Diandra terdiam sesaat.

"Iya, Pak. Terima kasih doanya."

Ia kemudian menyeruput es dawetnya.

"Ngomong-ngomong, dawetnya enak banget."

Si bapak langsung tersenyum bangga.

"Terima kasih, Neng. Ini buatan istri saya. Saya mah cuma bagian jualannya."

Ia menunjuk seorang perempuan yang berjalan mendekat sambil menggendong seorang anak kecil.

"Itu istri saya."

Diandra ikut menoleh. Perempuan itu tersenyum ramah kepadanya.

"Ini bekalnya, Pak."

Sebuah bungkusan plastik putih diserahkan kepada sang suami.

"Wah, terima kasih, Bu. Belum saya buka saja saya sudah yakin masakan Ibu paling enak."

Istrinya tertawa kecil.

"Bapak bisa saja."

Diandra tersenyum melihat keduanya.

Sederhana.

Tidak ada kemewahan. Tidak ada pakaian mahal. Tidak ada rumah besar yang bisa mereka banggakan.

Namun, ada sesuatu yang membuat Diandra iri.

Kehangatan.

Tatapan penuh kasih.

Dan pujian sederhana dari seorang suami kepada istrinya.

Diandra menundukkan wajah.

Selama menjadi istri Bastian, ia bahkan hampir tidak pernah mendengar suaminya mengatakan bahwa dirinya cantik, hebat, atau berharga.

Bastian selalu menganggap semua yang dilakukan Diandra sebagai kewajiban.

Tidak pernah sebagai sesuatu yang layak dihargai.

"Kalau begitu Ibu pulang dulu, ya, Pak."

"Ibu pulang saja. Bawa adik pulang."

Bapak itu mengusap kepala putri kecilnya yang tertawa riang.

Namun, sang istri justru menggeleng.

"Nggak. Ibu temani Bapak jualan."

"Capek nanti."

"Nggak apa-apa. Kita jualan sama-sama."

Akhirnya keduanya kembali duduk berdampingan. Sesekali mereka bercanda, tertawa, dan saling membantu melayani pembeli.

Diandra hanya mampu memandangi mereka dari kejauhan.

Dadanya terasa sesak.

Ia tiba-tiba membayangkan bagaimana rasanya jika dirinya memiliki suami yang memperlakukannya seperti perempuan itu diperlakukan suaminya.

Dihargai.

Didengarkan.

Diperhatikan.

Dicintai tanpa harus memohon.

Tanpa sadar, setetes air mata jatuh membasahi pipinya.

Diandra buru-buru mengusapnya.

"Kenapa aku menangisi sesuatu yang bahkan belum pernah kumiliki?"

Ia tersenyum getir.

Selama ini ia terlalu sibuk mempertahankan pernikahannya sampai lupa bahwa dirinya juga pantas mendapatkan kebahagiaan.

Dan untuk pertama kalinya, Diandra mulai bertanya kepada dirinya sendiri—

Sampai kapan ia harus bertahan menjadi istri yang terus-menerus disia-siakan Bastian?

Pernikahan sederhana.

Diam-diam, itulah kehidupan yang selama ini Diandra dambakan.

Ia tidak membutuhkan rumah megah, mobil mewah, atau kehidupan yang terlihat sempurna di mata orang lain. Diandra hanya ingin memiliki pasangan yang bisa menghargainya, menggenggam tangannya ketika keadaan sulit, dan membuat rumah terasa seperti tempat untuk pulang.

Banyak orang berkata, lebih baik menangis di dalam mobil mewah daripada bahagia hanya dengan makan seadanya.

Namun bagi Diandra, kalimat itu tidak selalu benar.

Sebab kemewahan tidak mampu membeli ketenangan hati.

Ia bahkan rela hidup sederhana, makan nasi dengan lauk seadanya, asalkan tidak harus terus-menerus merasakan sakit hati di rumah yang begitu besar.

Diandra mengembuskan napas panjang. Matanya kembali terasa panas.

Ia sudah terlalu lelah.

"Diandra?"

Suara seseorang membuatnya tersentak.

Diandra segera mengusap sudut matanya sebelum menoleh.

Sesaat ia terdiam.

Laki-laki yang berdiri di hadapannya mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang sedikit digulung. Wajahnya jauh lebih dewasa dibandingkan terakhir kali mereka bertemu, tetapi senyum jahil itu masih sama.

"Sean?"

Laki-laki itu tersenyum lebar.

"Masih ingat juga ternyata."

Diandra menatapnya beberapa detik sebelum tertawa kecil.

"Ya ampun, kamu benar-benar Sean? Aku hampir nggak mengenalimu."

Sean mengangkat dagunya dengan percaya diri.

"Mustahil nggak kenal. Memangnya ada Sean lain yang seganteng aku?"

Diandra langsung tertawa.

"Setahun nggak ketemu, ternyata tingkat percaya dirimu makin parah."

"Jangan salah. Aku justru makin keren."

"Yang ada makin tengil."

Sean terkekeh.

"Kalau aku tengil, berarti kamu kangen, dong?"

Diandra mendengus.

"Kangen."

Senyum Sean semakin lebar.

"Nah, akhirnya jujur juga."

"Kangen pengin menjitak kepalamu."

Sean langsung tertawa.

"Nah, itu baru Diandra yang aku kenal. Setahun nggak ketemu, sifat galaknya ternyata masih sama."

"Galak cuma sama kamu."

"Berarti aku spesial?"

"Spesial bikin emosi."

Keduanya tertawa.

Untuk pertama kalinya hari itu, Diandra merasa dadanya sedikit lebih ringan.

Sean memperhatikan wajah Diandra yang masih menyisakan bekas air mata. Senyumnya perlahan menghilang.

"Kamu habis nangis?"

Diandra spontan mengalihkan pandangan.

"Nggak."

"Diandra."

"Aku cuma kelilipan."

Sean tidak langsung percaya, tetapi ia juga tidak memaksa.

"Ya sudah. Kalau belum mau cerita, nggak apa-apa."

Sean kemudian mengambil dompetnya dan membayar es dawet yang tadi diminum Diandra.

"Eh, kamu bayar apa?"

"Minuman kamu."

"Nggak perlu."

"Anggap saja traktiran karena kita baru ketemu lagi setelah setahun."

Tanpa menunggu bantahan, Sean berdiri.

"Ayo."

"Mau ke mana?"

"Ke kafe."

Diandra mengernyit.

"Ngapain?"

"Aku mau ngobrol. Banyak yang harus kita ceritakan setelah setahun nggak ketemu. Masa ngobrol di pinggir jalan?"

Diandra sempat ragu, tetapi akhirnya mengikuti Sean menuju sebuah kafe tidak jauh dari tempat mereka berada.

Mereka memilih meja di sudut yang cukup tenang.

Sean duduk di hadapannya sambil menatap Diandra dengan tatapan penuh perhatian.

"Jadi," katanya pelan, "sebenarnya apa yang terjadi sama kamu?"

Diandra terdiam.

Pertanyaan sederhana itu justru membuat pertahanannya kembali goyah.

Selama ini tidak ada yang benar-benar bertanya bagaimana keadaan hatinya.

Tidak ada yang peduli apakah dirinya baik-baik saja.

Dan sekarang, seseorang dari masa lalunya tiba-tiba muncul dan menanyakan hal yang selama ini ingin sekali ia dengar.

Diandra menunduk.

"Mungkin... aku cuma sedang berusaha bertahan."

Sean tidak menyela.

Ia membiarkan Diandra memiliki waktu untuk mengumpulkan keberaniannya.

Tanpa Diandra sadari, pertemuan sederhana itu akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.

Sean adalah putra kedua Abian Bagaskara, sekaligus adik tiri Serly Bagaskara.

Dan setelah bertahun-tahun tidak bertemu, Sean sama sekali tidak menyangka akan menemukan Diandra dalam keadaan seperti ini.

Sean masih terlihat santai, tetapi kali ini tatapannya jauh lebih serius.

Usianya dua puluh empat tahun, hanya terpaut setahun dari Diandra. Meski begitu, sejak dulu Sean selalu memperlakukan Diandra seperti kakaknya sendiri.

Setelah lulus SMA, Sean sempat kuliah di Jakarta selama setahun. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke luar negeri sekaligus menjalani program magang di sebuah perusahaan multinasional. Selama berada di sana, waktunya hampir sepenuhnya dihabiskan untuk kuliah dan bekerja.

Kini ia kembali ke Indonesia karena mendapat permintaan dari ayahnya untuk membantu mengurus perusahaan keluarga.

Sean menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil tersenyum.

"Jadi kamu pulang karena diminta Papa buat bantu perusahaan?"

Sean mengangguk.

"Iya. Katanya sudah waktunya aku belajar turun tangan langsung."

Diandra mengangkat alis.

"Wah, calon CEO muda, nih."

Sean langsung tersenyum percaya diri sambil merapikan rambutnya.

"Jangan bilang calon. Aku memang sudah disiapkan."

"Percaya diri banget."

"Harus. Kalau aku nggak percaya diri, siapa yang mau percaya sama aku?"

Diandra tertawa kecil.

Tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan datang. Tanpa banyak bicara, Diandra langsung menyantap makanannya.

Sean sampai memperhatikannya dengan geli.

"Kamu sebenarnya lapar atau memang doyan makan?"

Diandra tertawa sambil menutup mulutnya.

"Lapar banget. Dari tadi belum makan."

"Separah itu?"

"Mungkin karena habis ditolak tiga perusahaan."

Gerakan tangan Sean terhenti.

"Ditolak?"

Diandra mengangguk.

"Tadi aku wawancara kerja. Tiga perusahaan, semuanya gagal."

Sean menatapnya tidak percaya.

"Kerja?"

"Iya."

"Kamu serius?"

Diandra mengangguk santai.

Sean masih tampak bingung.

"Maaf, aku cuma kaget. Kamu kan istrinya Bastian. Bukannya kehidupan kalian sudah sangat berkecukupan?"

"Aku tahu."

Diandra meletakkan sendoknya sebentar.

"Aku juga tahu Bastian punya semuanya. Tapi aku nggak mau hidup bergantung kepadanya."

Sean memperhatikan wajah Diandra.

"Kenapa?"

Diandra menarik napas.

"Karena kalau suatu hari pernikahanku berakhir, aku nggak mau mengambil harta Bastian."

Sean langsung tersedak minumannya.

"Batuk!"

Ia buru-buru mengambil tisu.

"Tunggu. Kamu tadi bilang apa?"

Diandra menatapnya bingung.

"Aku bilang kalau aku bercerai, aku nggak mau mengambil harta Bastian."

Sean menatapnya beberapa saat.

"Bercerai?"

Diandra mengangguk pelan.

"Kamu dan Bastian mau cerai?"

Nada suara Sean berubah serius.

Selama ini ia tidak pernah mendengar kabar bahwa pernikahan Diandra sedang berada di ujung tanduk. Dari luar, rumah tangga Diandra dan Bastian terlihat baik-baik saja.

Namun, ucapan Diandra membuat Sean sadar bahwa mungkin selama ini ia hanya melihat permukaan.

Tiba-tiba Sean teringat sesuatu.

Beberapa waktu lalu, ayahnya sempat mengatakan bahwa Serly sudah kembali ke Indonesia setelah tinggal di Paris.

Dulu Serly pernah meninggalkan keluarga dan pergi ke Paris bersama pria yang menjadi kekasihnya. Setelah kurang lebih enam bulan, perempuan itu akhirnya kembali.

Sean menatap Diandra dengan hati-hati.

"Jangan bilang Serly..."

Diandra tersenyum tipis.

"Maaf kalau pembicaraan ini membuat kamu nggak nyaman. Tapi memang iya. Kakakmu adalah salah satu alasan kenapa pernikahanku dengan Bastian retak."

Sean terdiam.

"Aku benar-benar nggak tahu."

Ia menggeleng pelan.

"Selama di luar negeri, aku cuma fokus kuliah dan magang. Aku hampir nggak mengikuti kabar keluarga."

"Nggak apa-apa. Santai saja."

Diandra kembali mengambil sendoknya, seolah pembicaraan itu bukan sesuatu yang menyakitkan.

Namun Sean bisa melihatnya.

Senyum Diandra memang masih ada, tetapi sorot matanya menyimpan luka yang jauh lebih dalam.

"Mungkin aku dan Bastian memang bukan pasangan yang ditakdirkan untuk bersama," ucap Diandra lirih.

Ia menunduk, memainkan ujung sendoknya.

"Mungkin sejak awal, hati Bastian memang masih tertinggal pada mantan istrinya."

Sean tidak langsung menjawab.

Untuk pertama kalinya, ia melihat Diandra bukan sebagai perempuan kuat yang selalu mampu menghadapi semuanya.

Melainkan sebagai seorang wanita yang sedang berusaha mengumpulkan kembali kepingan hatinya yang telah lama hancur.

Dan entah kenapa, melihat Diandra seperti itu membuat Sean merasa ingin melakukan sesuatu.

Setidaknya, memastikan perempuan yang selama ini selalu terlihat kuat itu tidak harus menghadapi semuanya seorang diri.

Sean terus memikirkan ucapan Diandra.

Ia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya dilakukan Serly hingga perempuan sesabar Diandra akhirnya memilih menyerah pada pernikahannya.

Selama mengenal Diandra, Sean selalu melihatnya sebagai sosok yang kuat. Perempuan yang mampu menahan banyak hal tanpa banyak mengeluh.

Sean pertama kali mengenal Diandra melalui Bastian, sekitar lima tahun lalu, ketika dirinya baru saja lulus SMA.

Saat itu, Sean sering belajar tentang bisnis dari Bastian. Kakak iparnya itu cukup terbuka dalam membagikan ilmu. Hanya saja, Bastian memang terkenal tajam ketika memberikan kritik.

Suatu hari, Bastian meminta Diandra membantu Sean memahami beberapa hal yang belum ia mengerti.

Sejak saat itulah hubungan Sean dan Diandra menjadi semakin dekat.

Di mata Sean, Diandra selalu istimewa.

Bahkan ketika itu, Sean sempat menyimpan perasaan kepadanya. Ia pernah membayangkan Diandra menjadi perempuan yang suatu hari akan mendampinginya.

Namun, semuanya terlambat.

Bastian lebih dulu menikahi Diandra karena ingin memberikan sosok ibu bagi kedua anak-anaknya.

Sean akhirnya hanya bisa mengubur perasaannya.

Namun, setelah lima tahun berlalu, perasaan itu ternyata tidak benar-benar hilang.

"Kamu benar-benar serius mau bercerai dari Bastian?"

Suara Sean membuat Diandra berhenti makan.

"Serius banget?"

Diandra tidak langsung menjawab.

Sean justru semakin yakin dari diamnya.

Sepertinya Diandra sebenarnya masih ingin mempertahankan rumah tangganya. Hanya saja, kehadiran orang ketiga yang begitu dekat dengan Bastian membuatnya kehabisan tenaga.

Dan yang lebih menyakitkan, perempuan itu adalah mantan istrinya sendiri.

Sean mengembuskan napas pelan.

"Kalau kamu memang masih sayang, kenapa nggak mencoba sekali lagi?"

Diandra langsung menggeleng.

"Jangan ngomongin Bastian dulu. Kepalaku pusing."

Ia kembali menyendok makanannya.

Sean akhirnya mengangkat kedua tangan menyerah.

"Iya, iya. Makan saja yang banyak."

Ia kemudian tersenyum jahil.

"Kalau perlu, aku belikan satu restoran sekalian."

Diandra mendengus.

"Gaya banget. Memangnya kamu sudah jadi miliarder?"

"Belum."

Sean menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.

"Tapi calon miliarder."

Diandra tertawa kecil.

"Percaya diri sekali."

"Harus."

Diandra kembali menikmati makanannya, sementara Sean diam-diam memperhatikannya.

Sudah lima tahun.

Lima tahun sejak terakhir kali ia menyadari bahwa perasaannya kepada Diandra belum pernah benar-benar pergi.

Bahkan ketika tadi melihat Diandra duduk sendirian di pinggir jalan, dengan wajah lelah dan mata sembap, jantung Sean kembali berdetak tidak beraturan.

Perasaan yang selama ini ia pikir sudah terkubur ternyata masih ada.

Masih sama.

Mungkin bahkan lebih kuat.

Jika Diandra benar-benar mengakhiri pernikahannya dengan Bastian, Sean tahu apa yang ingin dilakukannya.

Untuk kali pertama dalam hidupnya, ia tidak ingin kembali terlambat.

Kalau Diandra membuka kesempatan untuk pria lain, Sean ingin menjadi orang pertama yang berdiri di hadapannya.

Dalam hati, Sean bahkan mencibir Bastian.

Bagaimana bisa pria itu melepaskan perempuan seperti Diandra demi seseorang dari masa lalu?

Namun Sean sadar, perempuan yang menjadi sumber masalah itu adalah Serly—kakak tirinya sendiri.

Hubungan Sean dan Serly memang tidak pernah terlalu dekat.

Mereka masih satu keluarga, tetapi Sean tidak pernah merasa benar-benar nyaman berada di dekatnya.

Serly memiliki sifat yang kadang membuat Sean sulit memahami jalan pikirannya.

Namun kali ini, Sean tidak ingin ikut campur terlalu jauh.

Ia hanya tahu satu hal.

Jika Bastian benar-benar melepaskan Diandra, Sean tidak akan membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja.

Lima tahun telah ia habiskan untuk memendam perasaan.

Dan mungkin sekarang adalah waktunya untuk berhenti bersembunyi.

Sean dan Serly sebenarnya bukan saudara kandung.

Serly merupakan anak kandung Aretha dari pernikahan pertamanya. Setelah suami pertamanya meninggal dunia, Aretha kemudian menikah dengan Abian. Dari pernikahan itulah Sean lahir.

Hubungan mereka sebagai saudara tiri tidak pernah benar-benar dekat.

Setelah makan siang, Sean dan Diandra masih duduk santai menikmati es krim.

"Jadi, setelah ini kamu mau melamar kerja ke mana lagi?" tanya Sean.

Diandra mengangkat bahu.

"Belum tahu. Mungkin aku cari perusahaan lain."

Sean langsung tersenyum.

"Kalau begitu, kerja sama aku saja."

Diandra menatapnya heran.

"Sebagai apa?"

"Jadi sekretaris pribadiku."

"Serius?"

Diandra tertawa.

"Memangnya kamu sudah resmi jadi CEO?"

"Belum."

Sean bersandar santai.

"Tapi cepat atau lambat Papa pasti menyerahkan posisi itu kepadaku. Untuk sekarang aku masih belajar mengurus perusahaan. Makanya aku butuh orang yang benar-benar berpengalaman."

Ia menunjuk Diandra.

"Dan siapa yang lebih cocok daripada kamu?"

"Dih, sekarang panggilnya Mbak karena ada maunya."

Sean terkekeh.

"Jadi mau, Mbak?"

"Nggak tahu."

"Ayolah."

Sean memasang wajah memelas.

"Aku kasih gaji besar."

Diandra menaikkan alis.

"Sebesar apa?"

Sean berpikir sejenak, kemudian menjawab dengan santai,

"Sebanyak buih di lautan."

Diandra langsung tertawa.

"Apaan sih kamu!"

Sean ikut tertawa.

Percakapan sederhana itu membuat Diandra untuk beberapa saat melupakan semua masalahnya.

Ia bahkan merasa enggan mengakhiri waktu bersama Sean.

Sebab ketika bersama pria itu, Diandra bisa tertawa tanpa merasa harus berpura-pura.

Sayangnya, kebahagiaan kecil itu harus berakhir.

 

Sean sebenarnya ingin mengantar Diandra pulang, tetapi sebuah urusan mendadak membuatnya harus pergi lebih dulu.

Akhirnya Diandra memilih pulang menggunakan ojek.

Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore ketika ia tiba di rumah.

Anak-anak belum pulang karena sekolah mereka menerapkan sistem full day.

Diandra baru saja duduk ketika sekitar pukul empat sore terdengar suara kendaraan memasuki halaman.

Tidak lama kemudian, Serly dan kedua anak itu masuk ke rumah.

Diandra berjalan menuju ruang tengah.

Namun langkahnya mendadak terhenti.

Pemandangan di hadapannya membuat tubuhnya kaku.

Serly sedang berada sangat dekat dengan Bastian.

Begitu menyadari kedatangan Diandra, Serly segera beranjak dari sisi suaminya.

"Eh, Diandra."

Serly tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.

"Maaf kalau kamu salah paham."

Diandra menatapnya tanpa ekspresi.

Ia sudah terlalu lelah untuk bertanya.

Terlalu lelah untuk marah.

Terlalu lelah untuk memperebutkan sesuatu yang sejak awal tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.

Serly justru diam-diam menikmati ekspresi Diandra.

Ia ingin tahu sampai kapan perempuan itu mampu bertahan.

Sebab menurutnya, jika Diandra terus berada dalam situasi seperti ini, cepat atau lambat perempuan itu pasti akan menyerah.

Diandra menarik napas panjang.

"Tenang saja."

Ia tersenyum tipis.

"Anggap saja aku nggak melihat apa-apa."

Serly terkekeh kecil.

Bahkan suasana di antara mereka terasa semakin menyakitkan.

Diandra berbalik hendak pergi.

Namun suara Bastian menghentikan langkahnya.

"Seperti ini yang kamu mau?"

Diandra terdiam.

Bastian berdiri.

"Kalau kamu ingin melihatnya, lihat baik-baik."

Diandra tidak ingin berbalik.

Namun entah kenapa, rasa penasaran membuatnya akhirnya menoleh.

Dan saat itulah jantungnya seolah diremas.

Bastian mencium Serly.

Diandra berdiri membeku.

Ada marah.

Ada sakit hati.

Ada rasa jijik dan kecewa yang bercampur menjadi satu.

Namun kali ini, tidak ada air mata.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada adegan histeris.

Diandra hanya berdiri diam selama beberapa detik.

Kemudian ia merogoh ponsel dari dalam tas.

Satu foto.

Lalu satu lagi.

Ia memastikan semuanya tersimpan dengan baik.

Bastian langsung menatapnya.

Mungkin ia mengira Diandra akan mengamuk.

Mungkin ia berharap istrinya menunjukkan rasa cemburu.

Namun Diandra hanya tersenyum tipis.

"Terima kasih."

Bastian mengernyit.

"Untuk apa?"

Diandra mengangkat ponselnya.

"Sudah memberikan bukti yang selama ini aku butuhkan."

Senyumnya semakin dingin.

"Foto ini akan menjadi bukti untuk proses perceraian kita nanti, Mas."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Diandra berbalik dan berjalan pergi.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada permohonan.

Tidak ada keinginan untuk mempertahankan Bastian.

Hatinya sudah terlalu lama terluka hingga rasa sakit itu perlahan berubah menjadi mati rasa.

Dan kali ini, Diandra benar-benar memilih dirinya sendiri.

"Lanjutkan saja. Kalau mau berduaan, pindah kamar. Biar lebih nyaman."

Diandra berdecih pelan, lalu berbalik dan menaiki tangga tanpa menunggu jawaban.

"DIANDRA!"

Suara Bastian menggema memenuhi ruangan.

Ia benar-benar tersulut emosi.

Niat awalnya hanya ingin membuat Diandra cemburu, tetapi justru sikap tenang istrinya yang membuat darahnya mendidih.

Bastian bangkit dengan tergesa-gesa untuk mengejar Diandra. Gerakan mendadak itu membuat Serly yang masih berada di dekatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai.

Bruk!

"Aduh!"

Serly meringis sambil memegangi tubuhnya.

"Serly!"

Bastian segera membantunya berdiri.

"Sakit, Mas."

"Maaf. Aku nggak sengaja."

Serly mengusap bagian tubuhnya yang terasa nyeri. Kali ini ia memang tidak berpura-pura. Benturan tadi cukup keras.

Namun, yang membuatnya lebih heran adalah reaksi Bastian.

Selama ini Bastian selalu bersikap tenang menghadapi tingkah Diandra. Lalu mengapa sekarang emosinya begitu mudah terpancing?

Serly menatap ke arah tangga.

"Sudahlah, Mas. Jangan pedulikan Diandra."

Tangannya sempat menyentuh lengan Bastian, tetapi pria itu segera melepaskannya.

"Dia sendiri yang menyuruh kita pergi ke kamar."

Bastian menatap Serly dengan dingin.

"Lebih baik kamu pulang."

Serly terdiam.

"Aku mau bicara dengan Diandra."

"Bicara apa?"

"Itu urusan rumah tanggaku."

Nada suara Bastian tegas.

"Kamu nggak perlu tahu."

Serly ingin membantah. Ia ingin tetap berada di sana dan memastikan Bastian tidak kembali luluh kepada istrinya.

Namun, ia menahan diri.

Jika terlalu memaksa, Bastian bisa melihat sisi lain dirinya.

Serly harus tetap memainkan perannya sebagai perempuan yang mendukung pernikahan Bastian.

Untuk sementara, mengalah bukan berarti kalah.

Yang penting, ia yakin Bastian pada akhirnya akan kembali kepadanya.

"Baiklah, kalau begitu aku pulang."

Serly tersenyum lembut.

"Maaf soal tadi. Aku benar-benar nggak sengaja."

Bastian mengangguk.

"Aku juga minta maaf soal ciuman tadi."

Serly menatapnya.

"Aku tahu. Kamu melakukannya supaya Diandra cemburu, kan?"

Bastian tidak menyangkal.

Serly tersenyum kecil.

"Kalau begitu aku pulang dulu. Semoga Diandra nggak marah lagi."

"Aku nggak bisa mengantarmu."

"Nggak apa-apa."

Serly tersenyum santai.

"Anggap saja seperti dulu. Sekarang hubungan kita kan sudah seperti kakak dan adik."

Bastian mengangguk.

"Hati-hati."

"Iya."

Sebelum pergi, Serly sempat memeluk Bastian singkat, kemudian melangkah keluar.

Tak lama kemudian, suara mobilnya menghilang dari halaman.

Bastian berdiri beberapa saat sebelum akhirnya naik ke lantai atas.

 

Pintu kamar terbuka.

Diandra sedang duduk di depan meja rias. Ia sudah mengganti pakaiannya dan perlahan membersihkan sisa riasan di wajah.

Bastian masuk tanpa mengetuk.

"Mana ponselmu?"

Diandra menunjuk tasnya tanpa menoleh.

"Di situ."

Bastian mengambil ponsel tersebut.

Diandra tetap tenang.

"Mau menghapus foto kamu dan mantan istrimu?"

Ia tersenyum tipis melalui pantulan cermin.

"Hapus saja."

Bastian menatapnya.

Diandra melanjutkan membersihkan wajahnya.

"Nggak sulit mengumpulkan bukti tentang kalian. Kalian hampir setiap hari terlihat bersama."

Bastian membuka galeri ponsel Diandra dan menemukan foto yang baru saja diambilnya.

Ia langsung menghapus foto tersebut.

Namun Diandra sama sekali tidak bereaksi.

Justru ketenangan itu membuat Bastian semakin tidak nyaman.

"Aku sudah menghapusnya."

Diandra mengangguk.

"Bagus."

Bastian mengerutkan kening.

"Kamu nggak marah?"

Diandra akhirnya menatapnya melalui cermin.

"Untuk apa?"

Jawaban sederhana itu membuat Bastian terdiam.

Sebab untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari bahwa Diandra mungkin benar-benar sudah berhenti peduli.

"Kenapa nggak lanjut saja di kamar? Kenapa malah menyuruh Serly pulang?"

Diandra bertanya tanpa sedikit pun menoleh kepada Bastian yang berdiri di belakangnya.

Bastian mengernyit.

"Istri macam apa kamu? Malah menyuruh suamimu pergi bersama perempuan lain."

Diandra tertawa hambar.

"Lho, bukannya selama ini kamu memang dekat dengan Serly di belakangku?"

"Jaga ucapanmu, Diandra. Aku nggak pernah melakukan apa yang kamu tuduhkan."

"Oh, ya?"

Diandra akhirnya berdiri dan menatap suaminya. Perbedaan tinggi badan membuatnya harus sedikit mendongak.

"Jadi selama ini kamu mau bilang hubunganmu dengan Serly nggak pernah lebih dari sekadar kedekatan?"

"Aku nggak pernah berhubungan intim dengan Serly."

"Selama dua tahun?"

Bastian menghela napas.

"Kenapa kamu begitu yakin aku melakukan itu?"

Diandra tersenyum getir.

"Karena sebelum menikah denganku, aku tahu seperti apa kehidupanmu."

Bastian terdiam.

"Dulu saat aku masih bekerja sebagai sekretarismu, aku sering melihat perempuan keluar masuk ruanganmu. Aku juga tahu kamu bukan pria yang menjaga jarak dari perempuan."

"Itu masa lalu."

"Dan setelah menikah?"

Bastian menatapnya tajam.

"Aku memang pernah melakukan kesalahan sebelum menikah. Tapi setelah menjadi suamimu, aku tidak pernah tidur dengan perempuan lain."

Diandra tertawa kecil.

"Lucu. Jadi sekarang aku harus percaya begitu saja?"

"Aku nggak punya alasan untuk berbohong."

"Kalau begitu, bagus."

Diandra mengangkat bahu.

"Aku juga sudah nggak peduli."

Bastian menatapnya.

"Serius?"

"Mau kamu punya hubungan dengan Serly atau perempuan lain, terserah."

Diandra mengambil tasnya.

"Toh, sebentar lagi kita akan bercerai."

Ia berbalik hendak pergi.

Namun, baru beberapa langkah, tangan Bastian tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.

"Mas!"

Diandra terkejut ketika Bastian menahannya agar kembali menghadap kepadanya.

"Jangan pergi."

"Lepaskan."

Bastian mengabaikan permintaannya. Ia mengangkat tubuh Diandra dan mendudukkannya di atas meja lemari yang cukup tinggi.

"Mas, kamu ngapain?"

Diandra menatapnya kesal.

"Turunkan aku."

Bastian justru menggeser kursi yang berada di bawahnya menjauh dari jangkauan Diandra.

Diandra langsung melotot.

"Kamu benar-benar menyebalkan!"

Bastian berdiri dengan tangan terlipat di dada.

"Kalau mau turun, tinggal lompat."

Diandra melirik ke bawah.

Ia memang bisa saja melompat, tetapi jaraknya cukup tinggi. Kalau sampai salah mendarat, kakinya bisa cedera.

Dan besok ia masih harus menghadiri wawancara kerja.

"Aku benci kamu, tahu!"

Bastian malah tertawa melihat Diandra yang terus mengomel.

"Sudah selesai marahnya?"

"Balikin kursinya!"

"Nanti."

"Bastian!"

Diandra menarik napas kesal.

Untuk pertama kalinya hari itu, emosinya benar-benar terpancing.

Namun, di balik kemarahannya, ada satu hal yang semakin jelas di dalam hati Diandra.

Ia tidak boleh membiarkan Bastian terus mengendalikan hidupnya.

Besok ia akan kembali mencari pekerjaan.

Dan kali ini, ia akan berusaha lebih keras.

Apa pun yang terjadi dalam rumah tangganya, Diandra ingin memiliki kehidupan yang bisa ia bangun dengan tangannya sendiri.

"Mas, balikin kursinya."

Bastian mengembuskan napas panjang. Ekspresinya yang semula jahil perlahan berubah serius.

"Oke. Aku turunkan kamu."

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada menggoda,

"Tapi setelah itu kita bicara soal hubungan kita."

Diandra langsung mendengus.

"Sejak kapan kamu jadi suka menggodaku seperti ini?"

Bastian menatapnya.

"Kenapa sekarang kamu justru menjauh setiap kali aku mencoba mendekat?"

Diandra terdiam sesaat.

"Ke mana saja kamu selama dua tahun ini, Mas?"

Bastian mengernyit.

"Selama dua tahun itu, kapan kamu pernah benar-benar memintaku mendekat? Kamu selalu terlihat sibuk dengan anak-anak dan pekerjaan rumah."

Diandra langsung menatap tajam.

"Jangan membalikkan keadaan."

"Aku nggak membalikkan apa pun."

"Aku mengurus semua kebutuhanmu. Aku menyiapkan keperluan kantor, sarapan, bahkan beberapa kali membantumu menyelesaikan urusan pekerjaan."

Bastian mengangguk.

"Aku tahu. Dan aku berterima kasih."

Ia menatap Diandra lebih dalam.

"Aku juga berterima kasih karena kamu sudah merawat anak-anak dengan baik."

"Lalu?"

"Yang aku maksud adalah kamu tidak pernah menunjukkan kalau kamu menginginkanku sebagai seorang suami."

Diandra terdiam.

Kemudian ia tertawa getir.

"Aku sudah pernah mencoba."

"Kapan?"

"Sering."

Bastian tampak kebingungan.

Diandra menghela napas.

"Aku pernah sengaja memakai pakaian yang menurutku bisa membuatmu memperhatikanku. Tapi kamu malah menyuruhku menggantinya karena takut aku kedinginan."

Bastian mulai teringat sesuatu.

"Aku juga pernah sengaja meninggalkan handuk supaya kamu datang mencariku."

Diandra memalingkan wajah.

"Aku berharap kamu sedikit lebih peka. Tapi kamu justru menyerahkan handuknya dan pergi."

Bastian terdiam.

"Jadi selama ini itu..."

"Iya. Aku sedang berusaha menarik perhatianmu."

Diandra menelan ludah.

"Tapi setiap kali kamu bersikap cuek, aku semakin merasa tidak menarik di matamu."

Suaranya melemah.

"Akhirnya aku berhenti mencoba. Aku nggak mau terus merasa ditolak oleh suamiku sendiri."

Wajah Bastian berubah.

Ia baru menyadari bahwa banyak hal yang selama ini dianggapnya sepele ternyata memiliki arti besar bagi Diandra.

"Oh..."

Bastian mengusap tengkuknya.

"Jadi itu maksudmu selama ini."

Diandra menatapnya kesal.

"Iya. Makanya sekarang aku nggak akan pakai kode lagi."

Bastian mengangguk pelan dan mengangkat Diandra ke atas lemari.

"Kalau begitu, ngomong langsung."

"Baik."

Diandra menarik napas.

"Kalau begitu aku ngomong langsung sekarang."

Ia menunjuk ke arah kursi yang berada cukup jauh darinya.

"Aku nggak mau melakukan apa pun denganmu. Jadi, tolong turunkan aku dari sini, calon mantan suami."

Bastian langsung terdiam.

"Calon mantan suami?"

"Iya."

Diandra menatapnya mantap.

"Karena setelah semua yang terjadi, aku tetap akan mengakhiri pernikahan ini."

Rahang Bastian mengeras.

"Kalau begitu turun sendiri kalau bisa!"

"Mas Bastian!"

Bastian mengangkat kedua tangannya dengan kesal.

"Aku nggak mau dengar!"

Ia kemudian berbalik menuju pintu.

"Aku mau jemput anak-anak."

"Mas! Mas Bastian!"

Bastian tetap berjalan keluar tanpa menoleh.

Diandra hanya bisa menatap punggungnya dengan kesal.

"Benar-benar pria menyebalkan!"

Namun, setelah pintu tertutup, senyum getir muncul di wajahnya.

Apa pun yang Bastian lakukan setelah ini, Diandra sudah mengambil keputusan.

Ia tidak akan kembali menjadi perempuan yang terus menunggu untuk dihargai.

Kini ia akan berjuang untuk dirinya sendiri.

1
sunaryati jarum
Sherly yang bukan anak Abian,tapi anak Artha dari pria lain
sunaryati jarum
Tak sabar menunggu terjawabnya banyak teka- teki
sunaryati jarum
Mana upnya Thoor
sunaryati jarum
Padahal itu hanya untuk membuktikan, tidak benar ingin membunuhnya
sunaryati jarum
Itu karena salahmu membiarkan Sherly meracuni pikiran Azura.Amibat leluasa masuk rumahmu.Ksmu itu goblok jika benar sakit kanker kamu pernah lihat rekam medisnya atau tanya dokternya? Yang benar itu kantongnya kering karey selingkuhannya tidak royal lagi.
sunaryati jarum
Kamu suami dan lelaki tidak tegas dan mudah dimanipulasi akting wanita tidak tahu malu,Sherly.Kamu juga tidak punya hati dan tidak tahu malu Bastian,masih memberikan perhatian pada mantanmu.Jika tahu tujuannya kamu bakalan menyesal
sunaryati jarum
Baru mampir
Ariany Sudjana
ini Bastian yang bodoh, mengabaikan Diandra demi pelacur murahan seperti Serly 🤣🤣😂😂 dan bodohnya Bastian percaya semua omongan si pelacur murahan itu. dan bodohnya Azura percaya sekali kalau si pelacur murahan itu sayang sama dia dan membenci Azzam. katanya ibu kandungnya, dan mereka kembar, tapi kenapa Serly membenci Azzam ?
Ariany Sudjana
kamu suami yang bodoh, sudah punya istri seperti Diandra, lebih memilih memperhatikan si pelacur murahan, yang hanya bisa playing victim 🤣🤣😂😂
Protocetus
mampir ya ke novelku Remontada
Eneng Farida
mending cerai aja biar kmu bastian menyesal biar diandra punya suami baru yg akan membahagiakan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!