Indonesia
NovelToon NovelToon
Lilin Terakhir EMEI

Lilin Terakhir EMEI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.

Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.

Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"

Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.

Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....

Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26. Gerobak Kayu dan Surat Tanpa Beras

..."Ketika istana tidak memberi kami beras, mereka memberi kami kapak, dan kami mengubah kapak itu menjadi perahu, karena orang lapar yang diberi alat akan menjadi orang yang tidak pernah lapar lagi."...

Hari ke 33 di Desa Majia dimulai bukan dengan suara palu atau suara anak-anak yang berlari membawa genting, melainkan dengan suara roda gerobak yang berderit pelan dari kejauhan, suara yang terdengar seperti orang tua mengeluh setiap kali melewati batu, dan suara itu membuat seluruh desa berhenti bekerja dan menoleh ke arah jalan utama karena sudah tiga hari tidak ada kiriman apa pun sejak Jing yue pulang dari kota membawa obat dan sejak demam lumpur mulai turun satu per satu. Yang datang bukanlah kuda istana dengan bendera kuning seperti biasanya, melainkan empat gerobak kayu besar yang ditarik oleh kerbau kurus milik pemerintah kabupaten, dan di atas gerobak itu tidak ada karung beras, tidak ada peti obat, tidak ada selimut, yang ada hanyalah tumpukan papan, tali ijuk, paku, palu, kapak, dan beberapa gulungan kulit pohon yang dilipat rapi seperti akan dipakai untuk membuat sesuatu.

Di depan gerobak berjalan seorang utusan muda dengan jubah resmi yang basah di ujungnya, dan ketika dia berhenti di tengah lapangan dia tidak memberi hormat seperti biasanya, dia hanya mengeluarkan gulungan kertas dengan segel naga kecil dan membacanya dengan suara yang datar seakan dia sendiri tidak mengerti apa yang dia baca.

"Atas perintah istana," katanya, "bantuan pangan untuk wilayah Sungai Min dihentikan sementara karena gudang pusat harus diprioritaskan untuk wilayah utara yang mengalami kekeringan, dan sebagai gantinya Sekte Emei diperintahkan untuk melatih seluruh warga lima desa membuat perahu sederhana dari bambu dan kayu, agar jika banjir ketiga datang maka orang dapat menyelamatkan diri sendiri tanpa menunggu perahu dari pemerintah."

Kalimat itu jatuh ke tanah seperti batu, membuat semua orang terdiam, karena mereka baru saja selesai membersihkan lumpur, baru saja anak-anak mulai sembuh dari demam, dan baru saja mereka berharap bahwa yang akan datang berikutnya adalah beras untuk mengisi perut yang sudah dua minggu makan bubur encer.

Paman Chen maju dengan wajah merah dan bertanya apakah istana salah tulis, apakah mungkin ada kekeliruan, karena bagaimana mungkin orang bisa makan papan dan tali, dan bagaimana mungkin mereka bisa membuat perahu kalau mereka bahkan tidak punya cukup makan untuk tenaga.

Utusan itu menggeleng dan berkata bahwa dia hanya pembawa surat, dan setelah menyerahkan gulungan itu kepada Jing yue dia langsung berbalik dan pergi tanpa menunggu jawaban, meninggalkan empat gerobak, tiga karung paku, dan keheningan yang lebih berat daripada hujan.

Jing yue membuka gulungan itu di depan semua orang, dan tangannya tidak bergetar, tapi matanya membaca kalimat yang sama tiga kali seakan berharap ada kata "beras" yang terselip di antara baris, namun yang ada hanyalah perintah, tanggal, dan cap.

Tetua Kedua membanting tongkatnya ke tanah dan berkata bahwa ini penghinaan, bahwa istana memperlakukan mereka seperti buruh bukan seperti korban, dan Tetua Ketiga duduk di atas batu sambil menutup wajah karena dia tahu bahwa melatih orang membuat perahu butuh waktu, butuh tenaga, dan butuh makanan untuk tenaga itu.

Anak-anak yang tadinya berlari ke arah gerobak dengan harapan ada gula atau buah kini mundur pelan, dan ibu-ibu yang sedang menanak nasi di dapur umum menatap periuk yang isinya hanya cukup untuk malam ini dan besok pagi.

Malam itu tidak ada api unggun, tidak ada nyanyian, yang ada hanya rapat di balai desa dengan lampu minyak yang hampir padam, dan di tengah rapat itu Jing yue berdiri dan berkata bahwa dia marah, dia sangat marah, tapi marah tidak akan membuat papan itu menjadi beras, dan marah juga tidak akan membuat banjir ketiga tidak datang.

Dia lalu berkata bahwa mereka punya dua pilihan, pilihan pertama adalah duduk dan menunggu mati karena lapar sambil mengutuk istana, dan pilihan kedua adalah mengambil papan itu, mengambil kapak itu, dan mengubah perintah yang kejam ini menjadi sesuatu yang bisa menyelamatkan nyawa.

"Kalau mereka tidak memberi kita makanan," katanya dengan suara pelan tapi jelas, "maka kita buat alat agar kita tidak mati ketika air datang lagi, dan kalau kita bisa membuat perahu maka kita juga bisa membuat jaring, membuat rakit untuk mengangkut makanan, dan membuat jalan di atas air ketika jalan di darat hilang."

Keputusan itu tidak disukai semua orang, tapi tidak ada yang menolak, karena mereka tahu bahwa Jing yue benar, dan karena mereka sudah terlalu sering melihatnya memilih jalan yang paling sulit dan tetap berhasil.

Keesokan harinya, lapangan yang biasanya dipakai untuk membangun rumah panggung diubah menjadi tempat kerja kayu, dan Jing yue membagi warga menjadi tiga kelompok, kelompok pertama dipimpin oleh Tetua Pertama untuk memilih bambu terbaik di hutan dan menebangnya, kelompok kedua dipimpin oleh Lei Feng untuk mengajari cara mengikat dan membuat rangka, dan kelompok ketiga dipimpin oleh Bai Ling untuk memasak dengan sisa beras yang ada agar semua orang tetap punya tenaga meskipun porsinya dikurangi setengah.

Hari pertama sangat sulit, karena banyak orang yang tidak pernah memegang kapak, tangan mereka melepuh, paku sering bengkok, dan beberapa rakit pertama yang mereka buat ambruk ke sungai ketika diuji karena ikatannya terlalu lemah.

Anak-anak menangis karena lapar, beberapa orang tua mengomel bahwa lebih baik diberi beras daripada diberi kerja, dan bahkan Lei Feng yang biasanya keras kepala berkata pelan kepada Jing yue di malam hari bahwa dia tidak tahu apakah ini keputusan yang benar.

Jing yue tidak menjawab dengan kata, dia hanya mengambil sepotong bambu, duduk di tepi sungai, dan mulai mengikat sendiri dengan cara yang diajarkan Nenek Gui dulu ketika membuat rakit di Gunung Emei, dan dia bekerja sampai tengah malam sampai jadi satu rakit kecil yang bisa menampung dua orang.

Keesokan paginya, dia menunjukkan rakit itu kepada semua orang, menaikinya bersama dua anak, dan mendayung menyeberangi sungai yang arusnya masih tenang, dan ketika dia kembali ke tepi dia berkata bahwa kalau dia bisa maka mereka juga bisa, dan kalau rakit ini bisa membawa anak maka rakit yang lebih besar bisa membawa keluarga.

Kata-kata itu sederhana, tapi entah kenapa membuat orang mulai mencoba lagi, dan hari demi hari, dari yang awalnya hanya ada kegagalan, mulai muncul rakit yang bisa mengapung, perahu kecil yang bisa didayung, dan jaring yang diikat dari tali ijuk untuk menangkap ikan.

Di hari kelima, seorang pemuda yang dulu perampok di jalan berhasil membuat perahu yang cukup kuat untuk membawa lima orang, dan dia menamainya "Perahu Emei" sambil tertawa, dan tawa itu adalah tawa pertama di desa sejak surat itu datang.

Di hari ketujuh, persediaan beras benar-benar habis, dan dapur umum hanya bisa menyajikan sup dari sayur liar dan ikan kecil yang ditangkap dengan jaring baru, tapi anehnya tidak ada yang protes, karena setiap orang sibuk bekerja dan karena mereka merasa bahwa tangan mereka kini memegang sesuatu yang berguna.

Jing yue sendiri kurus, wajahnya cekung, tapi matanya tidak pernah padam, dia berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain, memperbaiki ikatan, mengajari cara memilih bambu yang tidak retak, dan setiap malam dia menulis di bukunya bahwa hari ini mereka berhasil membuat tiga perahu, bahwa hari ini tidak ada yang pingsan, bahwa hari ini ada anak yang berhasil menangkap ikan pertama dengan jaring.

Di hari kesepuluh, datang lagi utusan dari kabupaten, bukan untuk memberi, tapi untuk memeriksa, dan ketika dia melihat barisan perahu dan rakit yang terparkir di tepi sungai, dia terkejut dan bertanya siapa yang mengajari, dan warga serempak menunjuk ke arah Jing yue yang sedang duduk di atas rakit sambil memperbaiki dayung.

Utusan itu pulang membawa laporan, dan tiga hari kemudian datang surat lagi, kali ini isinya adalah seratus karung beras sebagai "penghargaan atas inisiatif Emei", dan ketika karung itu dibongkar di lapangan, tidak ada sorak, yang ada hanya kelegaan yang panjang dan beberapa orang yang menangis sambil memeluk karung seperti memeluk anak.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua minggu, api unggun dinyalakan lagi, nasi dimasak sampai pulen, dan Paman Chen berkata bahwa ini bukan karena istana baik hati, tapi karena mereka membuktikan bahwa mereka bisa hidup tanpa menunggu belas kasihan.

Jing yue duduk di dekat api, makan dengan lahap tapi pelan, dan ketika seorang anak bertanya apakah mereka akan terus membuat perahu, dia mengangguk dan berkata bahwa mereka akan membuat seratus, karena dia tidak tahu kapan banjir ketiga datang, tapi dia tahu bahwa ketika datang mereka tidak akan lari, mereka akan mendayung.

Sebelum tidur, dia menulis di bukunya bahwa hari ini dia belajar bahwa perintah yang paling kejam kadang bisa menjadi hadiah yang paling berguna, karena surat tanpa beras memaksa mereka belajar berenang, belajar mengikat, belajar menangkap ikan, dan belajar bahwa tangan mereka sendiri adalah gudang yang paling aman.

Dia juga menulis bahwa dia rindu rumah, rindu makan kenyang, tapi dia juga menulis bahwa dia bangga, bangga karena murid-murid Emei tidak menjadi peminta, tapi menjadi pembuat.

Di luar tenda, suara palu masih terdengar sampai larut, bukan karena ada yang memaksa, tapi karena ada orang yang tidak bisa tidur kalau tahu bahwa besok perahu mereka akan jadi satu lagi.

Jing yue menutup bukunya, menatap langit yang penuh bintang, dan berbisik bahwa banjir ketiga boleh datang kapan saja, karena sekarang mereka punya kayu, punya tali, punya tangan, dan punya cara untuk tidak tenggelam.

Dan di dalam hati dia berjanji bahwa setelah ini, apapun surat yang datang dari istana, dia akan membacanya sampai habis, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang bisa dipakai untuk menjaga orang tetap hidup.

1
Oppojaya
👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
ditunggu karya selanjutnya
Oppojaya
🤗
Pena Quality
👍
Oppojaya
Keren... ditunggu lagi lanjutan episode berikutnya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!