Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Suara baling baling helikopter menderu keras membelah angin samudra yang sangat kencang.
Wusss wusss.
Gibran duduk bersandar di kursi kulit helikopter mewah tersebut sambil menatap hamparan laut biru di bawah sana.
Fisiknya sudah kembali bugar seratus persen setelah tertidur lelap semalaman penuh berkat perawatan dari Aurel.
Aurel duduk di sebelahnya dengan balutan gaun hitam elegan yang dirancang khusus untuk mobilitas tinggi.
Tiba-tiba, suara mekanis yang dingin berdengung sangat keras di dalam tengkorak kepala Gibran.
[Misi kelas SSS memoles Giok Ungu Bintang Jatuh telah selesai dengan sempurna.]
[Memulai proses evolusi. Sistem Mata Sakti Raja Giok naik ke Level 2.]
Sensasi sejuk yang luar biasa mengalir dari saraf mata Gibran menyebar ke seluruh pori pori kulitnya dalam hitungan detik.
Otot dan kulit Gibran terasa jauh lebih padat dan kebal terhadap perubahan suhu di sekitarnya.
[Fitur baru terbuka. Deteksi Struktur Titik Lemah Material dan Ketahanan Suhu Ekstrem Level 1 telah aktif.]
Gibran tersenyum sinis menyadari bahwa sistemnya seolah tahu persis apa yang akan ia hadapi di pulau kematian nanti.
"Kita akan segera mendarat Gibran, pulau pribadi milik Asosiasi Nasional itu sudah terlihat di depan sana," ucap Aurel membuyarkan lamunan Gibran.
Gibran menatap ke depan dan melihat sebuah pulau karang yang dikelilingi tembok beton raksasa layaknya benteng militer.
Helikopter perlahan turun dan mendarat mulus di atas helipad baja yang berada tepat di tengah pulau tersebut.
Brummm.
Begitu pintu helikopter terbuka, hawa panas yang sangat menyengat langsung menyapu wajah Gibran dan Aurel.
Puluhan pria berjas hitam dengan senjata laras panjang sudah berbaris rapi membentuk pagar betis menyambut kedatangan mereka.
Di ujung karpet merah, Tuan Besar Surya berdiri angkuh didampingi oleh Sembilan Naga yang memancarkan aura membunuh tingkat tinggi.
"Selamat datang di nerakamu sendiri pemuda desa, aku sangat mengapresiasi keberanianmu mengantarkan nyawa kemari," sapa Surya dengan tawa merendahkan.
Hahahaha.
Gibran melangkah turun dari helikopter sambil menggandeng tangan Aurel dengan sangat elegan.
Tap tap tap.
"Aku datang bukan untuk mengantarkan nyawa Tuan Surya, aku datang untuk mengambil sertifikat tanah pulau ini dari mayatmu nanti," balas Gibran dengan suara lantang dan telak.
Wajah Tuan Besar Surya langsung mengeras menahan amarah mendengar mulut berbisa dari pemuda udik tersebut.
Seorang pria berbadan besar penuh tato melangkah maju dari barisan Sembilan Naga dan menatap Gibran dengan tatapan meremehkan.
"Kau pasti Gibran, aku Master Tong dari Thailand, dan aku akan memastikan kau menangis darah di ronde pertama ini," ancam pria bertato itu sambil meretakkan buku jari tangannya.
Krak krak.
"Banyak bicara untuk ukuran seekor gajah sirkus, cepat tunjukkan di mana arena permainannya," tantang Gibran tanpa berkedip sedikit pun.
Surya tersenyum licik lalu memberikan isyarat tangan kepada anak buahnya untuk membuka gerbang baja di belakang mereka.
Srek brak.
Gerbang baja raksasa itu terbuka memperlihatkan sebuah arena gladiator modern yang lantainya digenangi oleh cairan merah menyala.
Hawa panas yang luar biasa mematikan langsung membuat udara di sekitar arena itu bergetar hebat.
"Ini adalah Kolam Lahar Maut, ronde pertama dari Turnamen Giok Kematian," jelas Surya dengan suara menggema ke seluruh pulau.
Bluk bluk bluk.
Cairan besi pijar bersuhu ratusan derajat celcius mendidih di dalam kolam raksasa tersebut menghasilkan uap panas yang menyesakkan dada.
Di tengah kolam lahar itu, terdapat puluhan pilar batu kecil yang di atasnya diletakkan berbagai macam bongkahan batu giok mentah.
"Tugas kalian adalah melompat ke atas pilar pilar itu dan mengambil satu batu giok dengan kualitas terbaik dalam waktu tiga menit."
"Jatuh ke dalam lahar berarti mati, dan jika kau gagal mengambil batu berkualitas tinggi, kepalamu akan dipenggal," ancam Surya menjelaskan aturan gila tersebut.
Aurel langsung mencengkeram lengan Gibran dengan wajah pucat pasi melihat arena bunuh diri di depan mata mereka.
"Gibran ini murni kegilaan, uap panas dari lahar itu bisa melepuhkan kulitmu bahkan sebelum kau melompat!" bisik Aurel panik.
Gibran hanya menepuk lembut punggung tangan Aurel untuk menenangkannya lalu melangkah maju mendekati bibir kolam lahar.
"Biarkan gajah sirkus bertato ini melompat lebih dulu Nona Aurel, aku ingin melihat atraksi monyetnya," ejek Gibran menunjuk Master Tong.
Master Tong mendengus kasar lalu melepas baju atasannya memperlihatkan otot punggungnya yang kekar.
Wush.
Master asal Thailand itu melompat jauh ke tengah kolam lahar dan mendarat di atas salah satu pilar batu dengan keseimbangan luar biasa.
Tap.
Namun wajah Master Tong langsung meringis kesakitan karena uap panas dari lahar di bawahnya mulai membakar kulit kakinya.
Ia buru-buru menyambar sebuah batu berwarna merah terang dari atas pilar dan langsung melompat kembali ke pinggir arena.
Bruk.
Master Tong berguling di lantai beton sambil mengusap kakinya yang melepuh merah terkena hawa panas ekstrem tersebut.
"Hahaha! Lihat ini bocah ingusan, aku mendapatkan Ruby Merah Darah bernilai lima miliar rupiah!" sombong Master Tong menahan rasa perih.
Tuan Besar Surya bertepuk tangan pelan memuji keberanian dan insting tajam dari naga sewaannya tersebut.
"Sekarang giliranmu Gibran, tunjukkan pada kami apakah kau punya nyali untuk sekadar berdiri di atas pilar itu," tantang Surya dengan senyum iblis.
Gibran tidak membuang waktu dan langsung melompat ringan ke atas pilar batu terdekat di atas kolam lahar yang mendidih.
Tap.
Semua orang menunggu Gibran berteriak kesakitan akibat uap panas yang memanggang kulit seperti yang dialami Master Tong.
Namun Gibran justru berdiri sangat santai dengan kedua tangan di dalam saku celana seolah ia sedang berdiri di atas es balok.
Fitur Ketahanan Suhu Ekstrem dari sistemnya bekerja sempurna menyerap semua radiasi panas di sekitar tubuhnya.
[Pemindaian area kolam lahar diaktifkan. Mendeteksi fluktuasi energi api tingkat dewa di pilar paling ujung.]
Gibran melompat dari satu pilar ke pilar lainnya dengan gerakan sangat anggun seperti seekor burung walet yang menari di atas air.
Tap tap tap.
Ia berhenti di pilar paling ujung dan menatap sebuah batu hitam gosong yang terlihat seperti arang sisa pembakaran sampah.
Batu arang itu sama sekali tidak menarik perhatian master mana pun karena bentuknya yang sangat buruk rupa.
"Hei orang bodoh, kau melompat sejauh itu hanya untuk mengambil batu arang sisa panggangan sate?" teriak Master Tong mengejek dari pinggir arena.
Hahahaha.
Ratusan elit mafia dan Sembilan Naga langsung tertawa terbahak-bahak melihat pilihan Gibran yang dianggap sangat konyol.
Gibran mengabaikan tawa sampah mereka dan langsung meninju batu gosong itu dengan kepalan tangan kanannya menggunakan fitur deteksi titik lemah.
Brak krek.
Kulit arang yang sangat keras itu langsung hancur berkeping-keping akibat pukulan presisi Gibran yang menghantam tepat di urat nadinya.
Begitu kulit hitam itu hancur, sebuah pendaran cahaya jingga kemerahan yang sangat menyilaukan meledak keluar dari tangan Gibran.
Sring.
Cahaya itu begitu terang dan hidup seolah Gibran baru saja menangkap matahari kecil dan menggenggamnya di telapak tangannya.
"I-itu Giok Api Neraka! Giok legendaris yang hanya bisa terbentuk di dalam gunung berapi aktif!" teriak seorang naga asal Tiongkok dengan wajah pucat.
"Nilainya murni menembus dua ratus miliar rupiah! Bagaimana mungkin anak itu tahu isi batu gosong tersebut!" sahut master lainnya menahan napas ketidakpercayaan.
Tawa Master Tong seketika berhenti total seolah lehernya baru saja dicekik oleh tangan tak kasat mata.
Wajah Tuan Besar Surya menegang kaku melihat Gibran melompat kembali ke pinggir arena dengan membawa giok mustahil tersebut.
Gibran berjalan santai menghampiri Master Tong yang masih duduk di lantai dengan kaki melepuh.
Ia melemparkan Ruby Merah lima miliar milik Master Tong itu ke dalam kolam lahar hingga lenyap tak bersisa.
Blup.
"Asbak rokokmu itu tidak pantas berada di satu ruangan dengan Giok Api Nerakaku Tuan Bertato."
"Kau resmi gugur di ronde pertama, potong kepalanya sekarang atau aku yang akan melakukannya," ucap Gibran dengan nada suara yang membekukan darah seluruh orang di ruangan tersebut.