Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETIKA RINDU BERTEMU DI DUNIA NYATA
Proses seleksi dimulai dua minggu kemudian. Wawancara. Esai. Tes Bahasa Inggris. Presentasi. Surat rekomendasi. Naya yang awalnya hanya merasa senang mulai menyadari bahwa kesempatan itu tidak akan datang dengan mudah. Ada tujuh siswa yang dinominasikan namun tidak termasuk Setra, sang juara kelas satu angkatan. Naya sempat menanyakan kepada teman sekelasnya itu. Jawabannya karena Amerika Serikat bukanlah tujuannya. Ia lebih tertarik dengan Inggris dan untuk program yang akan dikutinya hanya dua orang yang akan diberangkatkan.
Suatu sore setelah wawancara, Naya keluar dari ruangan dengan wajah pucat. Kimi langsung mendekat. “Gimana?”
Naya menjatuhkan tubuhnya ke kursi. “Aku ngomong Inggris kayak robot.”
“Lebay.”
“Aku lupa satu kata.”
“Satu kata enggak bikin kamu gagal.”
*“Aku bilang ‘the thing for cooking water’ *karena lupa kata kettle...”
Kimi tertawa keras. Naya menutup wajah karena malu dan frustasi. “Jangan ketawa.”
“Maaf.”
Namun Kimi masih tertawa. “Lucu.”
Naya mengeluarkan ponsel. Ada pesan dari Nara.
How did it go? (Bagaimana interviu nya?)
Naya membalas. I invented a new vocabulary. (Aku menambah satu kata baru di Bahasa Inggris)
Nara langsung menelepon. Begitu mendengar cerita tentang kettle, Nara tertawa lebih parah daripada Kimi.
“Kak Nara juga?”
“Maaf.”
“Aku malu.”
“Nay, mereka enggak menilai satu kata.”
“Tapi aku panik.”
“Normal. Aku pun dulu begitu.”
Naya menundukkan kepala matanya mulai berkaca-kaca. “Kalau aku enggak lolos gimana?”
Nara diam sebentar. Beberapa bulan lalu mungkin ia akan langsung berkata, kamu pasti lolos. Namun sekarang ia sudah mengenal Naya cukup baik untuk tahu bahwa kalimat itu bukan yang dibutuhkan.
“Kalau enggak lolos, ya sedih.”
Naya mengangkat wajah. “Terus?”
“Terus kamu pulang, makan enak, marah satu hari, mungkin dua hari.”
Naya tertawa kecil. “Habis itu?”
“Kamu lanjut hidup.” Nara tersenyum. “Kesempatan ini bagus. Tapi bukan satu-satunya jalan kamu.”
“Kalau aku enggak jadi ke sana, apakah Kak Nara kecewa?”
Nara jujur. “Kalau boleh jujur, iya.”
Naya diam. Nara melanjutkan.
“Tapi bukan sama kamu.”
Kalimat itu membuat Naya tersenyum.
***
Tiga minggu berikutnya terasa sangat lambat. Setiap kali guru masuk kelas membawa map, Naya merasa jantungnya berhenti. Setiap ada email sekolah, tangannya dingin. Hingga akhirnya, pada suatu Jumat siang, wali kelasnya muncul di pintu.
“Naya.” Seluruh kelas menoleh. “Ke ruang kepala sekolah sekarang.”
Kimi langsung menggenggam lengan Naya untuk menyalurkan seluruh dukungannya. “Semangat Naya”
Naya berdiri perlahan. Perjalanan menuju ruang kepala sekolah terasa jauh lebih panjang dibanding sebelumnya. Ketika masuk, dua siswa lain sudah berada di sana. Kepala sekolah berdiri. Ada beberapa amplop di meja.
“Naya.”
“Iya, Pak.”
“Kami sudah menerima hasil akhir.”
Naya menahan napas. Kepala sekolah mengambil satu surat. “Selamat.” Hanya satu kata. Namun dunia Naya seperti berhenti. “Kamu terpilih.”
Naya menatap kepala sekolah. “Serius, Pak?”
Semua guru di ruangan tertawa kecil. “Serius.”
Naya tidak tahu harus melakukan apa. Menangis? Tertawa? Ia hanya berdiri seperti seseorang yang baru saja lupa cara bereaksi. Kemudian kepala sekolah menambahkan,
“Penempatan sementaramu di Palo Alto.”
Naya membeku lagi. Palo Alto. Ia mengenal nama itu. Terlalu mengenalnya. Stanford berada di sana. Atau setidaknya sangat dekat.
“Palo Alto?” ulangnya pelan.
“Iya.”
Kali ini Naya benar-benar hampir tidak percaya. Orang pertama yang ia hubungi bukan Nara. Melainkan orang tuanya. Ia menelepon Mamanya.
“Ma...”
“Hmm?”
“Aku lolos...”
Hening. Lalu terdengar suara ibunya.
“Serius?”
“Iya.”
“Naya...”
Untuk pertama kalinya Naya menangis. Tidak banyak. Hanya beberapa air mata yang jatuh begitu saja. “Aku lolos, Ma...”
Mamanya ikut terdengar terharu. “Selamat.”
Naya kemudian menghubungi Papanya yang sedang bekerja di kantor. Jawabannya singkat. Namun nada suaranya terdengar bangga. “Bagus. Nanti kita bicara di rumah.”
Barulah setelah itu Naya membuka chat Nara. Ia tidak menelepon. Hanya mengirim satu pesan.
Palo Alto.
Di California, Nara sedang berada di kelas. Ponselnya bergetar. Ia melihat pesan. Palo Alto.
Awalnya ia tidak mengerti. Kemudian pikirannya menyambungkan semuanya. Nara menatap layar. Membaca lagi.
Palo Alto.
Ia mengetik.
JANGAN BERCANDA.
I’m not. (Mana ada)
KAMU LOLOS?
Iya.
Nara langsung berdiri. Dosen di depan kelas berhenti berbicara. Beberapa mahasiswa menoleh.
Nara membeku kemudian berkata, “Sorry.” Kemudian duduk kembali di kursinya. Sabrina yang duduk disebelahnya diam-diam membaca pesan yang ditulis Naya kepada Nara. Kemudian matanya membesar, “Your girlfriend?”
Nara mengangguk.
“She’s coming here.” (Dia akhirnya datang ke sini)
Sabrina tersenyum. “Finally.” (Akhirnya)
Nara menatap pesan Naya lagi. Untuk pertama kalinya, kata finally terasa begitu tepat.
***
Tiga bulan kemudian, Bandara Internasional San Francisco. Tampak Nara sudah tiba hampir satu jam terlalu awal. Ia berdiri di dekat area kedatangan. Tangannya masuk ke saku jaket. Kemudian keluar lagi. Masuk lagi. Ia sudah melihat papan kedatangan berkali-kali.
Penerbangan Naya sudah mendarat. Sekarang tinggal menunggu proses imigrasi dan bagasi.
Sabrina yang mengetahui rencana itu bahkan sempat mengirim pesan
Don’t faint. (Jangan pingsan dulu)
Nara pun membalas, Shut up! (Diam!)
Selain chat singkat dari Sabrina, masuk pula chat dari seseorang mantan musuh bebuyutannya di lapangan basket, Reksa.
Aku titipin adikku sementara ditempatmu. Ingat, kalau belum bisa bertanggung jawab penuh pada adikku satu-satunya, jangan berbuat aneh-aneh yang melanggar batas! Pastikan dia kembali masih dalam keadaan utuh setelah masa pertukaran pelajarnya selesai. Jika sampai terjadi apa-apa padanya, aku yang di Jepang ini bisa secepat kilat menghampiri ketempatmu.
Sialan! Batin Nara. Ia nggak segitunya kali tidak bertanggung jawab. Bagaimana dirinya bisa melakukan hal itu. Saat ini saja ia merasa gugup menunggu kedatangan Naya. Aneh. Ia sudah mengenal Naya lebih dari setahun. Sudah berkali-kali memegang tangannya dan memeluknya. Sudah pernah mengantar dan menjemput. Sudah menghabiskan begitu banyak waktu bersama. Namun sekarang ia merasa seperti akan bertemu dengannya untuk pertama kali. Pintu kedatangan terbuka. Beberapa penumpang keluar. Keluarga saling melambai. Orang-orang berpelukan. Nara berdiri sedikit lebih tegak.
Kemudian...Ia melihatnya.
Seorang gadis mengenakan jaket warna toska, membawa ransel warna senada namun lebih gelap, dan mendorong koper besar. Rambutnya sedikit berantakan setelah perjalanan panjang. Wajahnya terlihat lelah. Namun Nara langsung mengenalinya.
Naya.
Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap. Tidak ada layar. Tidak ada koneksi internet. Tidak ada perbedaan waktu. Tidak ada tanda sinyal. Naya berhenti mendorong koper. Matanya perlahan membesar.
“Kak Nara…”
Entah siapa yang bergerak lebih dulu. Mungkin Naya. Mungkin Nara. Namun beberapa detik kemudian jarak di antara mereka hilang. Naya berlari. Nara menyambutnya. Dan mereka berpelukan. Bukan seperti perpisahan mereka di bandara berbulan-bulan lalu. Pelukan itu jauh lebih erat. Jauh lebih lama. Naya menutup mata, begitu juga Nara. Seolah mereka melepaskan seluruh kerinduan yang selama ini menumpuk di dalam hati mereka. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, mereka tidak hanya berbagi suara dari speaker ponsel. Bukan wajah dari layar. Mereka benar-benar ada di hadapan mata. Hangat. Nyata. Dekat.
Nara tertawa kecil. “Kamu beneran di sini.”
“Iya.” Suara Naya terdengar dari bahunya.
“Beneran?”
Naya sedikit menjauh dan menatapnya.
“Mau aku pukul biar yakin?”
“Nah. Ini baru Naya.” Nara tertawa.
Mata Naya berkaca-kaca. “Kak Nara berubah.”
Nara mengangkat alis.
“Berubah gimana?”
“Lebih...” Naya memandangnya dari atas sampai bawah. Nara lebih tampan, maskulin, dan dewasa dibandingkan terakhir bertemu secara fisik di Bandara sebelum kepergian lelaki itu ke sini. Rupanya video call tidak menjamin bahwa orang tersebut sama tampilan fisiknya dengan sosok aslinya seperti saat ini. Tapi karena dirinya sedikit gengsi untuk mengakuinya sehingga menjawab sekenanya. “Amerika.”
“Apa maksudnya lebih Amerika?”
“Enggak tahu.”
“Kamu jadi ngomong aneh setelah penerbangan.”
“Jet lag.”
Nara mengambil koper Naya.
“Welcome to California.”
Naya melihat sekeliling. Kemudian melihat Nara. Senyumnya kembali muncul.
“Finally.”
***