Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35.
Di teras depan, di sinilah Ibnu dan Georgina berada setelah menyepakati mahar yang akan di berikan Ibnu nantinya. Georgina meminta izin kepada para orang tua untuk mengobrol berdua dengan Ibnu, sedangkan di dalam sana obrolan para orang tua masih terus berlanjut untuk menentukan hari pernikahan.
Georgina bingung dengan sikap Ibnu serta kedua orang tuanya. Bagaimana tidak, Daddy-nya hanya meminta lima puluh gram emas antam serta satu set perhiasan emas sebagai mahar, namun Ibnu dan kedua orang tuanya justru menambahkan uang tunai sebesar lima ratus juta, satu unit rumah mewah yang letaknya masih berada di area perumahan yang sama dengan rumah orang tua Georgina, serta satu unit mobil mewah.
"Apa maharnya tidak kebanyakan?." Untuk setahun usia pernikahan, menurut Georgina mahar dari Ibnu terlalu besar. Sebenarnya Georgina tidak mengharuskan usia pernikahan mereka hanya berlangsung selama setahun, namun apabila setelah setahun kemudian pihak Ibnu ingin menyudahi pernikahan mereka, maka sesuai dengan ucapannya tempo hari, Georgina tidak akan mempersulit jalan Ibnu.
"Aku tidak ingin merendahkan calon ibu dari anakku."
"Tapi aku kan tidak benar-benar hamil." Georgina menoleh ke samping, di mana saat ini Ibnu tengah duduk berdampingan dengannya, hanya meja bundar berukuran sedang sebagai pembatas.
"Hari ini mungkin kehamilan kamu hanya sebuah sandiwara, boleh jadi setelah kita menikah nanti kamu akan benar-benar hamil, mana tahu kan."
Georgina menelan ludah mendengar jawaban Ibnu. Sepertinya pernikahan yang akan ia jalani nanti bukanlah sebuah pernikahan ala cerita novel yang tak mengenal sentuhan, sekalipun pernikahan tidak didasari cinta. Georgina tidak protes, lagipula sejak awal ia sendiri yang menawarkan diri untuk memberikan seorang anak asalkan pria itu bersedia menikah dengannya.
Di tempat yang berbeda, Leon dan Reka pun sedang membahas hal yang tak jauh berbeda dengan Ibnu dan Georgina.
"Besok kamu tidak perlu berangkat kerja!."
"Kenapa bisa begitu, mas?."
"Mas ingin mengajakmu mengurus kelengkapan berkas pernikahan kita."
"Apa ini tidak terlalu cepat, mas?."
Leon menghela napas panjang.
"Lebih baik cepat daripada kamu mengandung adiknya baby Richard sebelum kita resmi menikah lagi." Sebagai pria normal tentunya ujian berat bagi Leon berada dibawah satu atap dengan wanita yang dicintainya, terlebih beberapa kali ia secara tidak sengaja melihat Reka hanya menggunakan selembar handuk untuk menutupi tubuh po-losnya. Semua itu terjadi pada saat Reka sedang mandi dan baby Richard tiba-tiba menangis dan mencari keberadaan mommy-nya. Dengan terburu-buru Reka berlari keluar kamar mandi saking cemasnya mendengar buah hatinya menangis, tanpa peduli dengan keberadaan Leon di kamar bersama baby Richard.
Reka menelan ludah mendengar jawaban Leon.
"Kalau memang itu keputusan mas, aku ikut bagaimana baiknya saja." Balas Reka pada akhirnya.
Leon pun mengangguk singkat.
Reka merebahkan tubuhnya di samping baby Richard. Mungkin karena seharian ini pekerjaannya cukup menyita waktu dan tenaga, tak butuh waktu lama bagi Reka untuk masuk ke alam bawah sadarnya. Kini hembusan napas wanita itu mulai terdengar teratur, dan itu tak luput dari perhatian Leon yang kini tengah duduk di sofa.
Leon beranjak dari sofa, mendekat ke ranjang. Pria itu menatap wajah teduh dua orang yang begitu disayanginya.
"Mas janji akan menjaga kalian dengan sepenuh hati, dan tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian." Batin Leon. Dengan gerakan pelan agar tak sampai mengusik tidur Reka dan putranya, Leon mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang, menepis anak rambut yang menutupi wajah cantik Reka.
"Mas tidak pernah membayangkan akan secinta ini padamu, Rekaila Amanda." Gumam Leon dengan nada lirih. Pria itu kembali teringat di saat dulu ia mengajak Reka menikah karena alasan tak ingin terlihat menyedihkan di mata keluarganya, usai sang kakak, Lexi, resmi menikah dengan mantan tunangannya. Hubungan yang di awali dengan aliansi tersebut berakhir dengan cinta, namun pada akhirnya benar-benar diakhiri oleh perpisahan. Kini Ia memiliki kesempatan untuk kembali pada wanita yang sangat dicintainya. Leon berjanji pada diri sendiri untuk tidak pernah lagi melepaskan Reka, apapun alasannya. Tak peduli Reka tidak akan pernah membalas cintanya, Leon tetap tidak akan pernah melepaskan wanita itu sampai kapanpun, terlebih kini ada baby Richard diantara mereka.
Menyadari Reka menggeliat dalam tidurnya, Leon lantas bangkit dari duduknya dan segera kembali ke sofa.
Leon duduk bersandar dengan menyilangkan kedua kakinya, sementara kedua tangannya direntangkan pada bahu sofa. Leon tiba-tiba kepikiran tentang hubungan Reka dengan keluarga tuan hafidz. Jika kebenarannya Reka bukanlah anak kandung di keluarga tersebut, lalu siapa dan di mana sebenarnya orang tua kandung Reka berada? Pertanyaan itu terbesit di benak dan pikiran Leon.
Leon meraih ponselnya dari atas nakas kemudian melakukan panggilan telepon pada nomor kontak asisten Kiran.
Hanya dengan dua kali deringan, panggilan telepon Leon langsung tersambung.
"Selamat malam, tuan."
"Malam."
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?."
"Aku ingin kamu mencari informasi tentang panti asuhan tempat tuan Hafidz mengadopsi Reka dulu!."
"Baik, tuan."
Setelahnya, Leon pun memutuskan sambungan telepon dan kembali meletakkan ponselnya ke atas nakas. Pandangannya kembali terfokus pada Reka yang nampak lelap dalam tidurnya.
"Mas tidak janji bisa membantu menemukan keberadaan orang tua kandung kamu, tapi mas akan berusaha semampu mas, sayang." Gumam Leon.
Keesokan paginya Leon dan Asisten Kiran mengunjungi sebuah panti asuhan yang terletak di pinggiran ibu kota. Kondisi panti asuhan tersebut terbilang cukup memprihatinkan, terbukti dari struktur bangunannya yang sudah terlihat tua dan chatnya pun sudah terlihat usang.
"Apa kamu yakin tuan Hafidz mengadopsi Reka dari panti asuhan ini?." Leon yang masih berada di dalam mobil nampak menuding dengan dagu ke arah bangunan di hadapannya saat ini.
"Untuk itu saya belum sepenuhnya yakin, tuan. Tapi informasi ini saya dapatkan dari bi Inah." Asisten Kiran menatap Leon melalui pantulan kaca di depannya.
Leon mengangguk paham. Informasi dari bi Inah, bisa jadi itu benar karena wanita itu pastinya mengetahui semuanya.
Leon lantas turun dari mobil tanpa menunggu asisten Kiran membukakan pintu untuknya. Asisten Kiran langsung ikut turun dari mobil. Pria itu berjalan mendahului tuannya guna menemui pengelola panti.
"Selamat pagi, tuan. Ada yang bisa kami bantu?." Sapa seorang wanita paruh baya yang menyambut di depan pintu panti.
"Selamat pagi. Kenalkan, saya Kiran dan ini bos saya, tuan Leonardo Fernandez." Asisten Kiran memperkenalkan diri tanpa menutupi jati diri mereka yang sebenarnya.
Wanita itu mengangguk, walaupun dari sorot matanya nampak bertanya-tanya akan tujuan seorang Leonardo Fernandez sampai mendatangi panti mereka. Walaupun belum pernah bertemu langsung sebelumnya, namun ibu pengelola panti sering melihat sosok Leon di acara TV.
Menyadari itu, Asisten Kiran lantas berkata. "Ibu tidak perlu takut, kami hanya ingin menanyakan beberapa hal pada ibu."
Wanita paruh baya tersebut kembali mengangguk kemudian mempersilahkan Leon dan asisten Kiran untuk masuk ke dalam.
Di sebuah ruangan yang diperuntukkan khusus bagi tamu, di sinilah Leon dan asisten Kiran diajak serta oleh ibu pengelola panti. Duduk berhadapan, hanya ada sebuah meja yang menjadi perantara.
"Apa ibu mengenal tuan Hafidz dan nyonya Ika? Keduanya merupakan pasangan suami-istri yang dua puluh tiga tahun lalu mengadopsi seorang anak perempuan dari panti asuhan ini."
Dua puluh tiga tahun tentunya bukan waktu yang sebentar sehingga wanita itu dapat mengingatnya dengan mudah, terlebih sudah banyak pasangan suami-istri yang mengadopsi anak di panti asuhan yang telah dikelolanya selama tiga puluh tahun tersebut.
nexttt, semangaatt thoorr
next, semangaaatt thoorr
semangaatt thor
lanjut dong thor up terbarunya