Indonesia
NovelToon NovelToon
Satu Istri, Dua Pewaris

Satu Istri, Dua Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:759
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.

Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.

Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.

Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.

Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Tatapan Elang Bertemu Api Amarah

"Jika grafik profitabilitas divisi logistik tidak menyentuh angka 12% pada akhir kuartal ini, potong seluruh anggaran operasional mereka. Tanpa pengecualian."

Suara bariton Evan terdengar dingin dan tajam. Kalimat itu seketika memotong napas seisi ruang rapat utama di lantai 80 Wirasena Group.

Pria berusia 30 tahun itu duduk tegap. Jas hitam yang dikenakannya tampak melekat tanpa cela. Matanya yang setajam elang menyapu jajaran direksi Wirasena Group. Mereka semua kini hanya bisa menunduk, memilih menatap lantai marmer alih-alih beradu pandang dengan sang "robot korporat".

Seorang direktur senior memberanikan diri angkat bicara, suaranya bergetar jelas. "Tapi, Tuan Evan, kendala cuaca ekstrem di pelabuhan utama membuat arus barang tertahan. Kami butuh waktu untuk—"

"Saya membeli solusi, bukan mendengarkan alasan," potong Evan mutlak.

Ia mengetukkan pulpen mahalnya sekali di atas meja kaca. Bunyinya nyaring, berdentang kaku seperti palu hakim.

"Rapat selesai. Besok pagi, laporan strategi baru harus sudah ada di meja saya. Selamat siang."

Evan bangkit berdiri. Ia membalikkan badan dengan cepat, lalu melangkah keluar dari ruang rapat. Di belakangnya, Tama—asisten pribadi sekaligus tangan kanan setianya—langsung bergegas menyamakan langkah sembari memeluk tablet kerjanya erat-erat.

Saat mereka menyusuri lorong kaca melengkung yang seolah menembus awan menuju ruang kerja pribadi CEO, Tama berdehem pelan, memecah keheningan.

"Tuan Muda, mohon maaf mengganggu. Tadi sebelum rapat dimulai, Tuan Besar sempat menghubungi saya."

Langkah kaki Evan mendadak terhenti di depan pintu lift privat. Rahangnya mengeras seketika. Ia menoleh tajam ke arah asistennya.

"Kakek? Ada urusan apa lagi?"

Tama membungkuk sedikit sebagai tanda hormat sebelum menjawab. "Beliau menanyakan keputusan Tuan Muda mengenai titah seminggu lalu terkait pernikahan dengan Nona Aira. Tuan Besar menegaskan bahwa sisa waktu Anda tinggal tiga minggu lagi. Jika belum ada kepastian, surat pencopotan jabatan dan pembekuan hak akses biometrik Anda akan segera ditandatangani."

Evan mendengus kasar. Ia memutar bola matanya penuh kekesalan.

"Gila. Kakek benar-benar sudah tidak waras. Dia pikir pernikahan itu cuma seperti transaksi saham di bursa efek? Tidak masuk akal jika saya disuruh menikahi seorang montir yang sama sekali tidak membawa nilai strategis bagi perusahaan!"

Tama tersenyum tipis, berusaha mencairkan suasana dingin bosnya. "Tapi Tuan Muda, berdasarkan data latar belakang yang saya riset, Nona Aira adalah gadis yang sangat mandiri dan memiliki integritas tinggi. Siapa tahu kehadirannya justru dapat mengimbangi Tuan Muda yang terlalu kaku."

"Jangan bercanda, Tama," sahut Evan dingin. "Siapkan mobil saya nanti sore. Saya ingin melihat langsung wanita macam apa yang berhasil 'mencuci otak' Kakek hingga rela mengorbankan prinsip bisnisnya."

***

Di belahan kota yang berbeda, suasana penuh debu dan tawa kembali terasa di Veloctra Motors.

Saat waktu istirahat siang tiba, Aira duduk di atas tumpukan ban bekas di sudut bengkel yang teduh. Ia menikmati es teh manis dalam gelas plastik bersama Jaka dan Rian. Rambut panjangnya yang dikuncir kuda tampak sedikit berantakan setelah setengah hari membongkar mesin matik.

"Eh, Ra, lo dari tadi diem aja. Kesambet apaan lo?" ledek Jaka sambil mengunyah gorengan. "Biasanya kan lo yang paling berisik kalau denger knalpot bobokan lewat."

Aira mengembuskan napas panjang. Ia menatap gelas plastiknya dengan pandangan kosong.

"Jak, Yan... kalian masih inget kan sama kakek-kakek yang mobilnya mogok di depan bengkel kita seminggu lalu?"

"Ingetlah! Yang ngasih bonus cek gila-gilaan itu kan? Yang nawarin bantuan soal lahan ini?" tanya Rian penasaran, langsung menggeser duduknya mendekat.

Aira menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan Pak Beni sedang tidak berada di sekitar mereka. Suaranya mendadak pelan menjadi bisikan serius.

"Kemarin sore pas gue balik kerja ke kosan, gue dicegat di ujung gang. Mobil limosin hitam panjang tiba-tiba berhenti di depan gue. Dua pengawal kekar berjas hitam turun, terus membukakan pintu belakang."

Aira menarik napas dalam, mengingat ketegangannya kemarin. "Gue dipaksa masuk dengan sopan. Ternyata di dalam mobil super mewah itu, kakek-kakek kemarin udah duduk tenang sambil ngetuk tongkat emasnya."

"Hah?! Serius lo!" Jaka sampai tersedak gorengan. "Ngapain tuh orang kaya nyariin lu sampe ke gang kosan?"

"Dia datang bawa tawaran yang bikin otak gue hampir meledak," geleng Aira pelan. "Dia tau bengkel kita mau digusur korporat serakah bulan depan. Terus dia bilang, kalau gue mau menikah dengan cucu pertamanya, dia bakal beli seluruh lahan ini sekarang juga. Penggusuran dibatalkan, dan sertifikat tanahnya bakal dibalik nama atas nama gue."

"Buset! Demi apa lo, Ra?!" Rian langsung melompat berdiri, matanya membelalak. "Itu kakek beneran mau jodohin lo sama cucunya? Terus lahan bengkel jadi milik lo?!"

"Iya. Dan kalian tau siapa kakek itu sebenarnya? Dia itu Baskara Wirasena. Pemilik Wirasena Group! Konglomerasi paling elite di negara ini!"

"Hah?! Wirasena Group?!" Jaka dan Rian berteriak serempak.

Suara mereka yang terlalu kencang membuat beberapa burung di atap seng bengkel terbang berhamburan. Wajah kedua cowok itu seketika pucat pasi.

"Jadi... lo terima enggak perjodohan gila itu, Ra?" tanya Jaka dengan suara gemetar.

Aira menunduk. Ia meremas ujung wearpack-nya yang ternoda oli. Dadanya bergemuruh hebat, memikirkan nasib Pak Beni, Jaka, dan Rian. Uang tabungannya tidak akan pernah cukup menyelamatkan mereka jika dia memilih egois.

"Gue... gue akhirnya nerima," jawab Aira pelan namun tegas. "Gue terpaksa nerima demi menyelamatkan lahan bengkel ini. Gue nggak tega lihat kita semua luntang-lantung kehilangan mata pencaharian."

Jaka dan Rian terenyuh. Mata mereka seketika berkaca-kaca menatap pengorbanan sahabat mereka. Tapi, suasana haru itu mendadak pecah berkeping-keping.

Dari arah jalan raya, suara raungan mesin silinder besar menderu sangat garang dan angkuh, memekakkan telinga.

VROOOOOOMMMM!

Sebuah mobil sport mewah berwarna hitam metalik dengan desain aerodinamis yang sangat mahal melesat cepat dan berhenti mendadak di area berdebu bengkel. Bannya berdecit keras. Pintu mobil terbuka ke atas dengan gaya gunting yang mencolok.

Pria muda yang mengendarainya turun dengan gerakan dingin, menampilkan sosok tegap berkemeja hitam formal yang memancarkan aura intimidasi sedingin es.

Pria itu melangkah tegap, menatap lurus ke arah Aira dengan sorot mata meremehkan yang amat ketara.

"Jadi, kamu gadis montir matre yang sudah berani memanfaatkan Kakek saya untuk mengincar harta keluarga Wirasena?" tanya pria itu dengan suara rendah, dan penuh penghinaan.

Aira langsung berdiri tegap. Matanya menyipit tajam penuh kemarahan saat mendengar tuduhan tanpa dasar tersebut. Tangannya secara refleks meraih kunci inggris besar yang tergeletak di atas ban bekas di dekatnya, siap membela diri.

"Siapa lo? Dan jangan sembarangan nuduh!" balas Aira tajam, suaranya tidak kalah dingin. "Gue kerja keras dengan tangan gue sendiri, nggak perlu manfaatin siapa-siapa!"

Pria itu menatap gadis di depannya dari dekat. Dia mengharapkan ketakutan atau kegugupan, tapi yang dia temukan hanyalah api kemarahan yang menyala-nyala di mata Aira. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia merasa sedikit... tertarik pada tantangan ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!