Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: LANGKAH BERANI
Keesokan paginya, sebelum jam kuliah pertama dimulai, Bang Tua sudah menunggu di kantin kampus, tempat biasa dia bertemu Farel. Mahasiswanya itu datang dengan wajah kuyu, jelas semalaman tidak bisa tidur nyenyak, matanya sembab dan langkahnya gontai.
"Duduk dulu, Farel. Sarapan dulu, biar kepala kau lebih jernih mikirnya," kata Bang Tua sambil mendorong sepiring nasi goreng yang sudah dia pesankan lebih dulu, gestur kecil yang membuat Farel terharu meski tidak diucapkan secara langsung.
"Bapak nggak usah repot repot, Pak," kata Farel pelan, meski tangannya sudah mulai mengambil sendok, jelas perutnya juga sudah keroncongan setelah semalaman tidak nafsu makan sama sekali.
"Udahlah, makan aja dulu. Nanti kalau kau pingsan di kelas, yang repot bukan cuma kau, bapak juga kena ceramah panjang dari dosen lain soal kenapa mahasiswa bimbingan orang lain bisa pingsan gara gara bapak," canda Bang Tua, berhasil memancing senyum tipis pertama dari Farel pagi itu, meski masih terlihat lelah.
Setelah Farel mulai makan meski dengan gerakan pelan penuh beban pikiran, Bang Tua mulai menjelaskan rencananya. "Soal topik penelitian kau yang katanya udah pernah diteliti orang, bapak mau cek dulu langsung ke dosen pembimbingmu, siapa namanya?"
"Pak Denny, Pak," jawab Farel singkat.
Bang Tua mengangguk, mencatat nama itu dalam ingatannya, meski nama itu belum pernah benar benar dia kenal secara personal sebelumnya. "Oke, nanti bapak coba cari waktu ngobrol sama dia. Kau tenang aja dulu, fokus kuliah."
"Makasih, Pak," jawab Farel pelan, suaranya masih terdengar lelah tapi setidaknya ada sedikit harapan yang mulai terlihat di matanya, jauh berbeda dari kepanikan semalam yang membuatnya nyaris mengambil keputusan gegabah yang bisa saja menghancurkan masa depannya sendiri.
Selesai sarapan singkat itu, Bang Tua langsung menuju ruang dosen mencari informasi soal Pak Denny, dan setelah bertanya ke beberapa kolega, dia akhirnya menemukan orangnya sedang berada di ruang kerja bersama, sendirian, sedang memeriksa tumpukan berkas di mejanya. Bang Tua mengetuk pintu dan masuk dengan sikap sesantai mungkin, berusaha tidak terkesan datang untuk menginterogasi.
Sebelum benar benar mengetuk, dia sempat menarik napas dalam dalam di depan pintu, mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap tenang dan tidak terpancing emosi apa pun jawaban yang akan dia dapatkan, sebuah persiapan mental yang jarang sekali dia butuhkan untuk urusan sesederhana mengetuk pintu ruang dosen.
"Pak Denny, permisi, saya Sahat, kebetulan mahasiswa bimbingan saya, Riko, satu kelas sama mahasiswa bimbingan Bapak, Farel. Saya mau tanya sedikit soal topik penelitian Farel, katanya ada masalah soal kesamaan topik?" Bang Tua membuka percakapan dengan hati hati, memilih kata kata yang tidak terdengar menuduh, sambil tersenyum ramah supaya suasana tetap terasa santai, bukan seperti interogasi resmi.
Pak Denny, dosen muda yang terlihat masih kurang berpengalaman, tampak sedikit gugup mendengar pertanyaan itu. "Oh, iya, Pak Sahat. Jadi, kemarin saya dapat informasi dari, eh, dari pihak jurusan, katanya topik Farel itu overlap sama penelitian yang sedang dikerjakan dosen lain, jadi disarankan diganti."
Bang Tua menahan diri untuk tidak langsung terlihat curiga, mempertahankan wajah santainya meski dalam hati alarm kecil sudah mulai berbunyi kencang. "Overlap gimana maksudnya, Pak? Biasanya kan overlap topik itu ada laporan resminya dulu, baru ditindaklanjuti."
"Dosen lain siapa, Pak? Dan informasinya dari pihak jurusan yang mana?" tanya Bang Tua lagi, mencoba mengorek detail lebih jauh, curiga ada sesuatu yang janggal dari alasan yang terdengar terlalu general itu.
Pak Denny terlihat semakin gugup, matanya sesekali melirik ke arah pintu seolah khawatir ada yang mendengar, jari jarinya mengetuk ngetuk meja tanpa sadar, tanda kegugupan yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya di hadapan dosen senior yang bertanya dengan begitu detail. "Sebenarnya, saya juga kurang tau detailnya, Pak. Saya cuma dapat pesan dari Pak Yosia, katanya ada penelitian serupa yang sedang beliau kerjakan sendiri, jadi supaya nggak tumpang tindih, topik Farel disarankan diganti."
Bang Tua merasakan dadanya bergemuruh mendengar nama itu disebut lagi, tepat seperti dugaannya. "Pak Yosia langsung yang bilang ke Bapak?"
"Iya, Pak, langsung. Beliau kan cukup senior, jadi saya nggak enak buat nolak," jawab Pak Denny, terdengar jelas dia hanya korban tekanan hierarki, bukan pelaku yang benar benar berniat jahat.
Bang Tua mengangguk, mencoba menahan emosinya supaya tidak meluap di depan Pak Denny yang jelas jelas bukan pihak yang harus disalahkan. Dalam hati dia berkomentar tajam, "jadi ini toh permainannya, Pak Yosia pura pura punya penelitian serupa, padahal mungkin cuma modus buat gagalin Farel biar makin tertekan, licik kali, kalau ini difilmkan, judulnya pasti The Professor Who Cried Wolf, tapi versi kampus".
"Pak Denny, boleh saya minta tolong, jangan dulu suruh Farel ganti topik. Biar saya cek dulu ke bagian penelitian, apa benar ada penelitian serupa yang sedang berjalan. Kalau memang nggak ada bukti konkret, saya rasa Farel berhak lanjutkan topiknya," kata Bang Tua, nada suaranya tegas tapi tetap sopan.
Pak Denny terlihat lega mendengar tawaran itu, seolah dia sendiri sebenarnya tidak nyaman dengan situasi ini tapi tidak tahu harus berbuat apa. "Baik, Pak Sahat, saya tunggu kabarnya."
Keluar dari ruangan itu, Bang Tua langsung menuju bagian penelitian dan pengabdian masyarakat kampus, mencari data resmi soal penelitian penelitian yang sedang berjalan atas nama dosen dosen jurusan. Setelah memeriksa dengan teliti, dia tidak menemukan satu pun catatan resmi soal penelitian Dr. Yosia yang topiknya mirip dengan skripsi Farel.
Petugas yang membantunya mencari data itu bahkan sempat berkomentar heran, "aneh juga ya, Pak, biasanya kalau ada penelitian yang sedang jalan, pasti tercatat di sini, soalnya buat syarat pencairan dana juga". Bang Tua mengangguk, mencatat detail itu baik baik, semakin yakin dengan dugaannya.
Dalam hati dia bergumam penuh kemenangan kecil, "gotcha, ketauan juga akhirnya kebohongannya, kalau kata orang bule, caught red handed".
Dia keluar dari kantor bagian penelitian dengan langkah lebih ringan, meski dalam hati dia tahu betul, bukti ini baru langkah kecil dari perjuangan yang jauh lebih besar yang masih menantinya. Di perjalanan kembali ke ruang dosen, dia sempat berpapasan dengan salah satu staf bagian penelitian yang tadi membantunya mencari data, yang berbisik pelan, "Pak, hati hati ya kalau mau pakai data ini buat 'perang' sama orang atas, biasanya yang kalah itu yang di bawah kayak saya", sebuah peringatan yang membuat Bang Tua tersenyum getir sambil membalas, "tenang, Bu, bapak nggak akan sebut nama Ibu kok, anggap aja bapak dapat wangsit dari kucing kampus".