Indonesia
NovelToon NovelToon
Batas Obsesi Cegil

Batas Obsesi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Teen School/College / Romantis
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.

Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.

Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.

Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kotak Bekal Yang Terabaikan 17.

Matahari bersinar cerah menembus celah gorden. Livy terbangun bukan karena suara alarm, melainkan karena sebuah aroma yang sangat asing di rumah ini selama setahun terakhir.

Bukan aroma nasi goreng mentega buatan Bi Sumi yang agak gosong. Ini adalah aroma panggangan roti yang manis, berpadu dengan wangi bumbu bolognese segar dan tumisan bawang bombay yang gurih.

Livy bergegas turun dengan seragam putih abu-abunya yang belum rapi benar.

Di dapur, pemandangan itu menghentikan langkahnya. Mama, dengan rambut yang dicepol asal dan apron linen merah muda, sedang sibuk membalik pancake di atas teflon. Di meja makan, sudah tersaji spaghetti bolognese, potongan buah segar, dan segelas susu cokelat hangat.

Bi Sumi berdiri di sudut dekat tempat cuci piring, tersenyum canggung sambil memegang lap tangan. Tugasnya pagi ini sepenuhnya direbut.

"Pagi, Sayang! Ayo duduk, Mama buatkan menu sarapan kesukaan kamu waktu SMP dulu," sapa Mama dengan wajah berbinar begitu menyadari kehadiran Livy.

Livy berjalan mendekat, menatap meja makan dengan pandangan tak percaya.

Setahun ini, sarapannya adalah apa pun yang sempat dibuat Bi Sumi sebelum wanita tua itu membersihkan rumah. Seringkali hanya roti tawar dengan selai instan. Kini, meja ini penuh dengan warna dan kehangatan yang luar biasa.

Livy duduk, menyendok sedikit spaghetti ke piringnya. Mama memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan mata berbinar penuh antisipasi.

Livy menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya. Rasa asam manis tomat yang pas, daging giling yang lembut, dan kematangan pasta yang sempurna. Itu memang rasa masakan Mama. Rasa yang dulu selalu dia rindukan setengah mati.

"Gimana? Masih sama kan rasanya? Mama sengaja bangun jam lima subuh supaya bisa masak ini buat kamu," kata Mama, terdengar sangat bangga dan penuh kasih sayang.

Namun, saat kunyahan itu melewati tenggorokan Livy, dadanya justru terasa menyempit. Air mata mendadak menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya mengabur. Rasa makanan ini terlalu enak, terlalu sempurna, hingga terasa menyakitkan.

"Livy? Kok malah nangis? Nggak enak ya?" wajah Mama langsung berubah cemas. Dia meletakkan sodetnya dan mendekati Livy.

Livy cepat-cepat menghapus air matanya dengan tisu, mencoba tersenyum meski bibirnya bergetar. "Enak, Ma. Enak banget. Livy cuma... kaget aja. Sudah lama banget nggak makan masakan Mama."

Mama tertegun. Ekspresi bersalah yang sangat dalam melintas di wajah cantiknya. Mama berlutut di samping kursi Livy, menggenggam tangan anaknya yang terasa dingin.

"Maafkan Mama ya, Sayang. Mama tahu Mama egois meninggalkan kamu sendirian di sini. Mama janji, kali ini Mama bakal nebus semua waktu yang hilang."

Livy menatap tangan Mama yang menggenggamnya.

Di satu sisi, dia ingin egois, ingin marah, dan berteriak melepaskan semua gundah gulana yang dia pendam.

Namun di sisi lain, melihat binar ketulusan di mata ibunya, benteng pertahanan Livy perlahan runtuh. Dia tahu proses ini tidak akan mudah. Masakan pagi ini memang lezat, tapi luka hati itu tidak bisa sembuh hanya dengan sepiring spaghetti.

"Makasih ya, Ma," bisik Livy akhirnya, membiarkan kehangatan makanan itu mulai mencairkan gunung es di hatinya, perlahan-lahan.

Sepuluh menit berselang, Livy menyudahi sarapan nya dan bersiap ingin pergi ke sekolah, mama Anggita memberi kotak bekal kepada Livy.

Kotak bekal yang biasa Livy pakai untuk memberinya kepada Galang. Di hari ini mama memberinya pada Livy, yang jelas isinya juga itu untuk dimakan oleh Livy sendiri.

Livy tiba disekolah. Gadis itu melangkah anggun ketika sudah berada di dalam koridor. Sama sekali tidak peduli jika matanya bertemu siswa yang sangat ia kenal.

Galang berdiri di dekat mading, sengaja memegang botol minumnya dengan gaya kasual yang biasa ia gunakan untuk memikat perempuan.

Mata elang cowok itu menangkap siluet Livy yang berjalan mendekat dari arah tangga.

Galang tahu pengaruhnya pada Livy. Ia sengaja memundurkan langkahnya dua senti, memosisikan tubuhnya tepat di jalur berjalan Livy.

Sebuah senyum tipis, agak meremehkan namun penuh percaya diri, mulai terukir di sudut bibir Galang.

Kali ini Galang bersiap untuk mendengar sapaan heboh atau Livy yang akan memberikan kotak bekal yang dipegang untuknya pribadi.

Jarak mereka mengikis.

Tiga langkah.

Dua langkah.

Livy terus berjalan. Tatapannya lurus ke depan, tertuju pada pintu kelas Dua belas C yang terbuka. Kotak bekal yang ia pegang tak sepenuh nya diberikan oleh Galang.

Sepasang matanya yang biasa menyala penuh obsesi kini tampak seperti danau vulkanik yang mati kelam, dingin, dan datar.

Galang sengaja berdeham, sedikit memiringkan bahunya agar hampir bersentuhan dengan lengan Livy. "Kotak bekal itu untuk saya kan, saya tuh tau, jangan pura-pura cuek sampai blokir wa saya—

Wusss.

Livy melewatinya begitu saja. Tanpa perlambatan langkah. Tanpa kerlingan mata. Bahkan helai rambut Livy yang tertiup angin koridor hanya menyapu udara kosong di depan dada Galang.

Bagi Livy, Galang tidak lagi berwujud. Cowok itu tidak lebih dari sekadar tiang koridor atau tumpukan kursi rusak di gudang.

Kehadiran Galang telah terhapus dari radar eksistensinya. Rasa sakit yang teramat sangat telah menempa obsesi gilanya menjadi sebuah ketidakpedulian yang mutlak.

Galang kini mematung. Senyum meremehkan di wajahnya runtuh, digantikan oleh kerutan samar di dahi. Ia menoleh, menatap punggung Livy yang terus menjauh tanpa sekalipun berbalik.

Semakin ada rasa aneh yang mendadak mencubit dada Galang—sesuatu yang terasa seperti kehilangan, namun ego besarnya menolak untuk mengakui bahwa si "cewek gila" itu benar-benar telah pergi.

Di ujung koridor, Livy menarik napas dalam-dalam. Dadanya tidak lagi sesak. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, udara yang ia hirup terasa begitu bersih.

......................

...****************...

Tbc,

1
Friska Zega
👌
penggemar_Uangkecil?!
👍
aku
kapol
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Akai
semangat kak membuat novel /Smile/👍
kucing kawai
lebih baik dengan kata "aku kamu kalo gk pakai lo gue" aja lebih keren thor
kucing kawai: siap thor, semangat terus ya thor 🫶
total 3 replies
kucing kawai
sedikit saran ya thor jangan pakai bahasa saya terlalu formal thor, baguss karya mu thor
kucing kawai: semangat ya author 🫶
total 2 replies
Queen Aisyah
astaga galang..🤣
Queen Aisyah
good
aku
diskon brp jd nya Lang?? 🤣🤣
Hesty
semnget💪💪💪
Hesty
bgus
Hesty
semanget💪
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!