Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Di balik pintu kamarnya, Alea menyandarkan punggungnya sambil mengembuskan napas panjang. Udara di dalam kamar tidur itu terasa sejuk, membawa aroma khas linen bersih dan lavender yang menenangkan.
Namun, fokus utama Alea malam ini bukanlah kasur berukuran king-size yang tampak empuk bagai gumpalan awan di tengah ruangan, melainkan pintu kaca buram di sebelah kiri yang iya yakini sebagai pintu kamar mandi.
Begitu ia mendorong pintu kaca tersebut, Alea kembali dibuat melongo.
Kamar mandi itu jauh lebih besar dari keseluruhan kontrakannya yang lama. Dindingnya dilapisi marmer hitam pekat dengan guratan emas, sementara di tengah ruangan bertengger sebuah bathtub porselen putih yang terlihat menyerupai kapal pesiar mini.
Namun, ujian sesungguhnya bagi sang rasionalis kelas pekerja ini baru saja dimulai.
"Oke, mari kita liat..." gumam Alea sambil berkacak pinggang di depan panel digital yang menempel di dinding atas bathtub. Ada layar sentuh kecil dengan berbagai ikon yang sama sekali tidak ramah untuk rakyat jelata sepertinya.
"Nih tombol air hangat, apa tombol peluncur rudal nuklir, jir? Buset dah, mau mandi aja harus pakai sistem operasi segala ya?!"
Setelah memencet layar secara acak yang sempat memicu semburan air dingin dari shower atas dan membuat penutup smart-toilet terbuka otomatis dengan suara robotik yang membuat Alea nyaris menjerit, ia akhirnya berhasil menyalakan aliran air hangat.
Asap tipis perlahan mengepul. Alea langsung melucuti pakaiannya dan perlahan masuk ke dalam air.
"Ahhh, ternyata gini ya, rasanya mandi sauna..." desahnya panjang, memejamkan mata saat air bersuhu presisi itu memeluk otot-ototnya yang kaku.
Selama hidupnya, kemewahan tertinggi yang pernah ia rasakan saat mandi hanyalah menggunakan sabun cair yang diisi ulang dengan air keran agar tidak cepat habis. Kini, ia berendam di air hangat yang suhunya diatur otomatis oleh komputer, menggunakan sabun cair beraroma chamomile yang harganya mungkin setara dengan UMR Jakarta.
Di tengah kenyamanan yang memabukkan itu, insting bertahan hidup Alea perlahan berbisik.
Arka Adiwangsa. Siapa sebenarnya pria itu? kenapa dia memberinya pekerjaan, bahkan membantunya memeras pamannya sendiri, dan kini menempatkannya di istana di atas awan. Alea tahu, di dunia ini tidak ada makan siang yang gratis. Namun, rasa lelah yang teramat sangat mengalahkan rasa curiganya.
Malam ini, ia hanya ingin tidur tanpa takut atap sengnya bocor saat hujan.
___________
Sementara itu, di ruang tengah yang luas dan temaram, Arka duduk di kursi bar dapur yang terbuat dari batu kuarsa. Ia tidak menyalakan lampu utama. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari pendar kota Jakarta dari balik kaca raksasa dan layar tablet terenkripsi di tangannya.
Layar itu menampilkan sistem matriks keamanan gedung. Titik-titik merah dan hijau berkedip di sekitar peta digital.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk di sudut layar dari intelijen klannya.
[KODE MERAH]
'Darmawan melaporkan kegagalan akuisisi kepada Tuan Besar, Hartawan. Tuan Besar sangat murka mengetahui denda 120 juta dan fakta bahwa Tuan Muda membawa target pergi. Divisi Pelacak sedang mengendus arah mobil Anda Tuan Muda.'
Rahang Arka mengeras. Sorot matanya yang tenang mendadak setajam silet. Ia mengetik balasan dengan satu tangan, gerakannya cepat dan tanpa keraguan.
'Sebarkan umpan palsu ke arah perbatasan kota. Biarkan anjing-anjing Papaku mengejar hantu. Jika ada satu saja dari mereka yang berani melacak sampai ke ring satu Menteng, potong kaki mereka.'
Arka mematikan layar tablet, lalu meraih gelas kristal berisi air es di depannya. Ia menenggak air itu perlahan, membiarkan rasa dinginnya menenangkan darahnya yang mulai mendidih.
Ia sadar satu hal jika ia kini sudah melanggar aturan yang ia buat sendiri yaitu jangan pernah menunjukkan kelemahan. Namun sekarang Hartawan Adiwangsa tahu seberapa besar arti gadis penjaga kafe itu baginya, dan hidup Alea tak akan pernah sama lagi. Tapi ia berjanji akan menjaga gadis itu dengan nyawanya.
Tak berapa lama terdengar suara klik pelan dari ujung koridor. Arka segara menoleh.
Alea melangkah mendekat, tampak tenggelam dalam jubah mandi putih yang terlihat kebesaran di tubuh mungilnya. Lengan jubah itu harus digulung berkali-kali agar tangannya bisa keluar, dan rambutnya yang setengah basah terbungkus handuk kecil, menandakan jika ia baru saja selesai mandi. Gadis itu menggosok matanya yang mengantuk, tampak seperti anak kucing yang tersesat di markas serigala.
"Bos..." panggil Alea dengan suara serak, melangkah gontai mendekati dapur.
"Gue haus. Di kulkas harga triliunan ini ada air putih biasa nggak? Atau airnya harus di-download dulu dari internet baru bisa minum?"
Ketegangan di bahu Arka langsung menguap. Sisi gelap yang baru saja menyelimutinya sirna seketika, digantikan oleh tatapan lembut yang bahkan Arka sendiri tidak sadar ia miliki.
Pria itu berdiri, membuka kulkas, dan menuangkan segelas air dingin ke dalam gelas kristal bersih untuknya.
"Minumlah," ucap Arka pelan, menyodorkan gelas di tangannya ke arah Alea.
"Airnya sudah include dalam kontrak kerja lo."
Alea menerima gelas itu, meneguknya rakus hingga tandas, lalu menatap Arka dengan mata setengah terpejam karena kantuk yang menyerang hebat.
"Lo aneh, Bos," gumamnya tulus, tanpa filter pelindung seperti biasanya.
"Tapi... makasih. Untuk malam ini."
Arka hanya diam, mengawasi gadis itu berbalik dan berjalan menyeret langkah kembali ke kamarnya hingga pintu tertutup rapat.
Arka, menatap gelas kosong yang baru saja dipakai Alea. "Lo aman di sini. Meskipun gue harus membakar seluruh kota ini untuk memastikannya." gumamnya pelan.
_______________
Keesokan Paginya...
Sinar matahari pagi menembus celah gorden otomatis penthouse, memaksa Alea membuka matanya. Selama beberapa detik, ia mengerjap bingung menatap langit-langit berukir mewah, sebelum ingatan semalam kembali menghantamnya.
Ia sekarang adalah "penjaga aset" resmi di penthouse miliaran rupiah!
Setengah jam kemudian, ia keluar dari kamar, sudah rapi dengan seragam putih abu-abu khas SMA Harapan Warga. Rok abu-abunya yang sedikit pudar terlihat sangat kontras dengan kemewahan ruangan itu.
Di ruang makan, Arka sudah duduk menunggunya. Pemandangan itu membuat langkah Alea terhenti sejenak. Pria yang semalam memancarkan aura membunuh pekat itu, kini mengenakan seragam sekolah yang sama dengan dirinya. Kemejanya rapi seperti biasanya dan jaket kulit hitam tersampir di bahunya.
"Lo semalam gak pulang ke mansion Adiwangsa?" tanya Alea bingung sambil menarik kursi di seberang Arka. Di atas meja marmer itu, sudah terhidang roti bakar dan segelas susu hangat.
"Enggak, gue tidur di kamar sebelah?"
Alea hanya mengangguk paham.
"Wah, fasilitas breakfast juga masuk kontrak, Bos?" seru Alea dengan mata berbinar cerah.
"Cepat makan. Kita akan berangkat sepuluh menit lagi," titah Arka singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
Alea menggigit roti bakarnya cepat-cepat.
"Eh, Bos. Ngomong-ngomong Paman kaca mata dan para bodyguardnya... mereka bakal nyariin gue ke sekolah gak sih? Kalau iya, tarif keamanan gue naik ya!"
Jari Arka yang sedang mengetik di layar ponsel seketika berhenti. Ia mengangkat wajahnya, menatap Alea dengan manik mata sehitam malam.
"Selama lo ada di dekat gue, tak akan ada yang berani yentuh lo!" jawab Arka mutlak, memberikan perintah yang tidak bisa dibantah.
"Mulai sekarang jangan pergi ke mana pun sendirian. Bokap gue orangnya nggak suka kalah, gue yakin dia sekarang akan memanfaatkan kelemahan gue."
Alea menelan rotinya kasar. "Kelemahan lo? Maksud lo... gue?" Alea menunjuk hidungnya sendiri lalu tertawa sumbang.
"Bos, gue ini pengawal lo, bukan kelemahan lo! Lo nggak liat kemaren gue nendang tujuh orang sampai pingsan!"
Arka berdiri, menyambar kunci motornya, lalu menatap gadis itu lekat.
"Terkadang, kelemahan terbesar seorang pria bukanlah karena dia tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Tapi karena dia terlalu takut dunia akan melukai satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup."
Alea terdiam kaku. Otak kapitalisnya mendadak nge-blank tidak bisa mencerna kata-kata itu menjadi nominal angka.
"Udahlah lupakan aja. Ayo kita berangkat," ucap Arka, memecah kecanggungan yang sempat tercipta.
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂