Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.
Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.
Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UMPAN MANIS DI BALIK DUKA
Malam berlanjut dalam keheningan yang mencekam.
Bayangan kemesraan Raymond dan Ibu di ruang kerja tadi terus berputar-putar di dalam kepalaku bagaikan kaset rusak.
Rasa panas di dadaku tak kunjung padam, bahkan ketika aku sudah berbaring di atas tempat tidur empuk berukuran king size di kamarku.
Pagi harinya, sinar matahari menerobos masuk dari balik tirai tipis balkon.
Aku terbangun dengan mata sedikit sembap, tetapi pikiranku jernih dan jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.
Kemesraan semalam tidak membuatku mundur itu justru memperlihatkan titik lemah dalam permainan ini.
Ibu sangat bergantung pada validasi dan rasa dicintai oleh pria muda yang kaya raya itu.
Jika fondasi itu kurogoh dan kuruntuhkan, Ibu akan hancur hingga ke dasar.
Aku berdandan lebih rapi dari biasanya untuk pergi ke kampus.
Sebuah terusan kasual berwarna putih gading membalut indah tubuhku yang tinggi semampai bagai gitar Spanyol.
Rambut hitam bergelombangku kubiarkan jatuh bebas menutupi bahu, mempertegas leher jenjang dan kulit putihku yang mulus.
Saat melangkah turun ke area ruang makan di lantai satu, aku mendapati Raymond sudah duduk di kursi utama.
Pria 35 tahun itu mengenakan setelan jas kemeja biru gelap tanpa dasi, tampak sangat segar dan memesona dengan aura kepemimpinan yang mutlak.
Di sampingnya, kursi Ibu kosong.
"Ibumu masih tidur," ujar Raymond datar tanpa mendongak dari tablet digital di tangannya saat mendengar langkah kakiku.
Suara bass-nya yang berat memecah keheningan pagi.
"Dia mengeluh lelah usai acara semalam."
Aku menyunggingkan senyuman tipis yang sarat makna, melangkah anggun menuju meja makan.
"Ibu memang selalu cepat lelah kalau urusan melayani, tetapi sangat energik kalau urusan membelanjakan uang."
Raymond menghentikan ketukan jarinya di layar tablet.
Mata hazel-nya yang dingin mendongak, mengunci pandanganku yang berdiri di seberang meja.
Tidak ada amarah di matanya atas sindiran tajamku pada istrinya.
"Pilihan kata-katamu selalu sangat tajam untuk ukuran seorang mahasiswi," sahut Raymond halus, menyesap teh hangat di cangkir porselennya.
"Aku hanya menyampaikan kebenaran, Raymond," balasku lembut sambil mengambil sepotong roti panggang.
Aku sengaja membungkukkan badan sedikit saat menjangkau selai, membuat garis leher gaun putihku bergeser perlahan, memperlihatkan garis tulang selangkaku yang indah di bawah pendar lampu gantung.
Raymond tidak mengalihkan pandangannya.
Ia memperhatikan setiap pergerakanku dengan tatapan intens yang sulit diartikan dingin, namun menyimpan ketegangan yang tertahan di balik ketenangannya yang bagai benteng batu.
"Aku berangkat ke kampus dulu," pamitku dengan nada manis yang terkesan manja, memutar tubuhku dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan ayunan pinggul yang gemulai.
Di kampus, pikiran dan konsentrasiku sama sekali tidak tertuju pada materi perkuliahan.
Saat jam istirahat siang di area taman Universitas Nusantara, Karin menghampiriku sambil membawa dua porsi minuman dingin.
"Muka lu kelihatan kayak habis memenangkan pertempuran tapi juga kayak mau membunuh orang, Ris," celetuk Karin sambil mendudukkan dirinya di sampingku di bangku taman.
"Ada perkembangan apa semalam di mansion super mewah itu?"
Aku mendesah pelan, menceritakan secara detail apa yang terjadi semalam mulai dari percakapan di ruang kerja, kopi kayu manis, hingga drama kemesraan yang ditunjukkan Raymond pada Ibu di depan mataku sendiri.
Karin mendengarkan dengan mata membelalak, hampir menumpahkan minuman dinginnya.
"Gila!
Ibu lu sengaja pamer kemesraan buat menegaskan wilayah!
Dan si Raymond... gila sih, dia pinter banget mainin emosi lu berdua!"
"Maksudmu?" tanyaku sambil menoleh pada Karin.
"Lu sadar gak sih?" Karin memajukan tubuhnya, berbisik serius.
"Raymond itu pria 35 tahun yang menguasai industri tambang dunia.
Dia bukan tipe pria yang gampang dipengaruhi.
Saat dia mencium ibu lu di depan lu, dia bukan cuma melayani kemanjaan ibu lu, tapi dia sengaja tes reaksi lu!
Dia mau lihat seberapa jauh lu bakal terbakar cemburu atau emosi!"
Ucapan Karin bagaikan menyalakan lampu terang di dalam kepalaku.
Sebuah tes.
Pria dingin dan cerdas seperti Raymond tidak melakukan sesuatu tanpa alasan.
Ia menyadari godaanku, tetapi ia memilih membalasnya dengan permainan psikologis.
"Kalau dia mau menguji ketahananku..." bisikku dengan tatapan mata yang menyipit tajam, "...maka aku akan berikan permainan yang lebih dari yang dia harapkan."
"Nah!
Itu baru sahabat gue!" sahut Karin antusias, menepuk bahuku keras hingga beberapa mahasiswa yang melintas menoleh.
"Strategi selanjutnya apa, Ris?
Lu gak bisa cuma modal pake baju seksi di dalam rumah.
Lu harus bikin dia ngerasa butuh dan nyariin lu saat lu gak ada!"
Aku mencerna masukan Karin.
Tarik ulur.
Menghilang sejenak untuk memancing rasa penasaran seorang pemburu.
"Hari ini ada seminar bisnis malam di kampus," ucapku perlahan, sebuah rencana baru terbentuk di benakku.
"Aku tidak akan pulang cepat.
Aku akan membiarkan mansion itu sepi tanpa kehadiranku, dan biarkan Ibu mengeluh bosan di depannya."
Sore berganti malam.
Hujan gerimis mulai membasahi jalanan Jakarta ketika acara seminar di kampus usai sekitar pukul delapan malam.
Aku menolak tumpangan dari Aris yang seperti biasa menungguku di parkiran gedung fakultas, lalu memilih memesan taksi online.
Namun, di tengah perjalanan menuju rumah, ponsel di dalam tas tanganku bergetar nyaring.
Nama 'Raymond' tertera di layar.
Jantungku berdesir heboh ini pertama kalinya pria itu meneleponku secara pribadi.
Aku membiarkan ponsel itu berdering tiga kali sebelum menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga dengan tenang.
"Halo?" suaraku keluar sangat halus dan datar.
"Kamu di mana?" suara bass Raymond yang berat dan dalam bergema langsung di telingaku, mengandung nada perintah yang tak terbantahkan namun terselip rasa ingin tahu yang pekat.
"Siska bilang kamu belum pulang dari jam kuliah siang tadi."
Aku menyunggingkan senyuman tipis di balik kegelapan bagian belakang taksi.
Umpan pertamaku berhasil dimakan.
"Aku baru saja selesai dari seminar bisnis di kampus, Raymond," jawabku santai.
"Kenapa?
Apa Ibu mencariku?"
Terjadi jeda keheningan di seberang telepon.
Aku bisa mendengar hembusan napas halus Raymond yang beraroma tembakau melalui sambungan suara.
"Bukan ibumu," sahut Raymond lambat, suaranya mendadak berubah menjadi lebih rendah dan parau di tengah deru hujan yang terekam di latar belakangnya.
"Aku yang menanyakan keberadaanmu.
Jam berapa kamu sampai rumah?"
Garis bibirku semakin terangkat memajukan kemenangan kecil ini.
Rasa percaya diriku membumbung tinggi.
"Mungkin setengah jam lagi," balasku lirih dengan nada menggoda yang sangat tipis.
"Kenapa, Raymond?
Kamu rindu minum kopi buatanku lagi?"
Di seberang telepon, Raymond tidak tertawa atau membalas godaanku dengan amarah.
Keheningan dingin khas dirinya kembali menyelimuti sebelum suara beratnya kembali terdengar.
"Jalanan licin karena hujan.
Minta pengemudimu membawa mobil dengan benar," ujar Raymond datar sebelum memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Aku menurunkan ponsel dari telingaku, menatap layarnya yang kembali gelap.
Kata-kata perhatian yang dibungkus oleh nada dingin itu sudah cukup untuk membuktikan satu hal: benteng es sang taipan tambang emas mulai retak perlahan, dan aku siap untuk menghancurkannya hingga tak tersisa.