Indonesia
NovelToon NovelToon
KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sci-Fi / Sistem
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Pembawaan Baru Sang Pelindung

Sinar mentari pagi menembus celah-celah pepohonan di pelataran parkir gedung dekanat Fakultas Ilmu Komputer. Sedan hitam milik Dimas terparkir rapi di bawah naungan pohon angsana yang rindang. Pintu penumpang depan terbuka, dan seorang pemuda melangkah keluar dengan pijakan kaki yang mantap dan tenang.

"Sumpah, Bay," ujar Dimas seraya mematikan mesin mobil dan menyusul keluar, matanya memperhatikan Bayu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan raut terperangah. "Gue masih belum terbiasa melihat penampilan lu yang sekarang. Lu kelihatan beda banget!"

Bayu merapikan kerah kemeja katun eksklusif berwarna biru gelap yang terpotong pas di tubuhnya. Celana kain berpotongan rapi dan sepatu kulit kasual berwarna cokelat tua melengkapi penampilannya yang bersih. Kacamata tebal berbingkai plastik murah yang dulu sering melorot di hidungnya kini telah berganti dengan kacamata berbingkai titanium tipis yang elegan, menegaskan garis rahangnya yang tegas dan tatapan matanya yang jernih.

"Beda bagaimana maksudmu, Dim?" tanya Bayu santai seraya menyesuaikan tali ransel kulitnya. "Aku cuma memakai pakaian yang bersih dan pas di badan."

"Ya jelas beda jauh, Bay!" kekeh Dimas seraya menyenggol bahu Bayu. "Dulu kemeja lu selalu melar dan kebesaran, rambut lu agak berantakan, dan kacamata lu tebal seperti pantat botol. Sekarang? Lu kelihatan seperti eksekutif muda atau peneliti papan atas! Wangi lu saja harum aromaterapi begini."

Bayu tersenyum tipis, mengingat percakapannya dengan sang ibu kemarin sore di rumah baru mereka di Bukit Hijau. "Ibu yang memintaku untuk lebih memperhatikan diri sendiri, Dim. Kata Ibu, sekarang kehidupan kita sudah membaik, jadi tidak ada alasannya lagi untuk tampil serba kekurangan."

"Tante Suminah seratus persen benar!" tegas Dimas mantap. "Tapi bukan cuma baju atau kacamata baru lu, Bay. Aura lu itu lho... tenang, tegas, dan percaya diri banget. Orang-orang di sekitar sini dari tadi pada memperhatikan lu, lu sadar tidak?"

Bayu melirik sekilas ke arah lorong kampus. Beberapa mahasiswi yang berjalan melintas memang tampak berbisik-bisik seraya melirik ke arah mereka. Namun, Bayu tetap melangkah dengan ketenangan mutlak, tidak merasa jemawa sedikit pun.

"Analisis respons publik lokal," suara Jarvis terdengar halus melalui earphone mikro di telinga kiri Bayu. "Tingkat daya tarik visual Anda mengalami peningkatan signifikan sebesar tujuh puluh delapan persen dibandingkan rata-rata penampilan sebelumnya."

"Terima kasih atas datanya, Jarvis," bisik Bayu pelan seraya tersenyum tipis.

Saat mereka melangkah mendekati area koridor utama di depan perpustakaan, seorang mahasiswi berwajah anggun dengan balutan kemeja putih rapi sedang membawa setumpuk map dokumen. Melisa menghentikan langkahnya saat matanya berpapasan dengan Bayu yang berjalan dari arah berlawanan.

Melisa tertegun sejenak. Matanya membelalak pelan, memperhatikan Bayu dari atas ke bawah sebelum akhirnya memiringkan kepala dengan raut heran bercampur kagum.

"Bayu...?" panggil Melisa ragu-ragu, menghentikan langkahnya tepat tiga langkah di depan mereka.

"Selamat pagi, Melisa," sapa Bayu dengan suara lembut dan nada teratur yang sangat menyenangkan untuk didengar.

Melisa membetulkan letak map di pelukannya, matanya berbinar-binar menatap wajah Bayu yang kini terpancar sangat jernih. "Wah... maaf ya, Bayu. Aku tadi hampir saja tidak mengenali kamu dari kejauhan."

Dimas langsung mencondongkan badan dengan wajah jahilnya. "Kenapa, Mel? Sahabat gue ini kelihatan makin keren kan hari ini?"

Pipi Melisa merona tipis karena kepergok sedang memperhatikan Bayu secara mendetail, namun ia tersenyum jujur tanpa canggung. "Bukan cuma keren, Dimas... tapi beda banget. Kemeja biru ini cocok sekali di badan kamu, Bayu. Kacamata barumu juga membuat wajahmu kelihatan jauh lebih tegas dan rapi."

"Terima kasih, Melisa," jawab Bayu tulus, menatap mata Melisa dengan ketenangan yang menghanyutkan. "Aku hanya mencoba tampil lebih terawat atas saran ibuku."

"Ibumu pasti punya selera yang sangat bagus," puji Melisa hangat, matanya tidak bergemerlap lepas dari binar mata Bayu. "Tapi jujur ya, Bayu... bukan cuma soal pakaian atau kacamata baru. Belakangan ini pembawaanmu terasa sangat beda."

Bayu membetulkan letak kacamata titaniumnya pelan. "Beda bagaimana maksudmu?"

Melisa menggeser mapnya sedikit, melangkah setengah tindak lebih dekat. "Ada aura ketenangan yang sangat kuat dari kamu. Cara kamu berdiri, cara kamu menatap mata orang saat bicara... terasa sangat matang, bijaksana, dan membuat orang di sekitarmu merasa aman. Kamu kelihatan jauh lebih berwibawa dari biasanya."

Dimas tersenyum lebar seraya bersedekap dada, menikmati momen tersebut. "Dengar tuh, Bay! Penilaian dari mahasiswi terbaik Fakultas Komputer tidak pernah salah."

Ponsel Bayu di saku bergetar sangat halus. Jarvis menyalurkan analisis biologisnya ke earphone.

"Pemindaian respons emosional Melisa," bisik Jarvis jernih. "Pupil mata Melisa mengalami dilatasi sebesar lima belas persen. Frekuensi detak jantungnya meningkat pada angka delapan puluh dua detak per menit. Terdeteksi adanya akumulasi ketertarikan interpersonal yang kuat terhadap Anda, Bayu."

Bayu mengabaikan seloroh Jarvis dalam pikirannya dan tetap fokus pada Melisa di depannya.

"Aku menghargai penilaianmu, Melisa," kata Bayu lembut. "Bagiku, perubahan penampilan atau pembawaan hanyalah bentuk cermin dari rasa syukur atas hidup yang makin membaik."

"Itu pemikiran yang sangat indah, Bayu," puji Melisa dengan senyuman terpesona yang mengembang sempurna di wajahnya. "Oh ya, soal draf riset komputasi cloud yang kita bahas kemarin... apakah nanti sore kamu ada waktu kosong di laboratorium? Aku ingin mendiskusikan beberapa poin algoritma bersamamu."

"Tentu saja, Melisa," sahut Bayu tanpa ragu. "Nanti sore setelah jadwal praktikum selesai, aku dan Dimas akan ada di laboratorium utama."

"Bagus deh!" jawab Melisa bersemangat, melangkah mundur perlahan seraya melambaikan tangan. "Kalau begitu sampai ketemu nanti sore ya, Bayu, Dimas! Jangan lupa makan siang dulu!"

"Siap, Mel!" balas Dimas ceria.

Melisa berjalan berlalu menuju ruang dekanat, namun ia sempat memutar kepalanya sekali lagi dari jauh, melemparkan senyuman hangat ke arah Bayu sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kaca gedung.

Dimas merangkul bahu Bayu seraya tertawa lepas. "Bay! Sumpah! Lu lihat kan tatapan Melisa tadi?! Cewek secantik dan sepinter Melisa sampai terpesona begitu melihat transformasi lu!"

Bayu menghembuskan napas pelan seraya tersenyum tenang, merapikan tali ranselnya. "Dia hanya memuji penampilan yang lebih terawat, Dim. Jangan berlebihan."

"Tidak ada yang berlebihan, Bay," tegas Dimas penuh rasa bangga. "Melisa itu kagum sama Ksatria Baja tanpa tahu siapa orangnya, dan sekarang dia mulai tertarik sama Bayu Anggara secara pribadi. Lu bener-bener memenangkan hati cewek itu dari dua sisi sekaligus!"

Bayu melangkah santai menyusuri koridor kampus yang sejuk. Di balik pakaian barunya yang rapi dan penampilan yang terawat, jiwa Bayu tetaplah pribadi yang rendah hati. Ketertarikan Melisa menjadi warna baru yang hangat dalam perjalannya, mengukuhkan kenyataan bahwa perubahan sejati yang memancar dari dalam diri akan selalu menemukan jalannya untuk dihargai oleh orang-orang yang tepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!