Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Tap. Tap. Tap.

Langkah kaki Reyhan terasa sangat ringan saat ia berjalan keluar dari gedung Yayasan Pelita Hati.

Matahari siang Jakarta terasa sangat terik, namun ia tidak memedulikannya.

Ia berhasil keluar dari sarang penjahat itu tanpa dicurigai lebih jauh.

Reyhan segera masuk ke dalam sebuah toilet umum di stasiun kereta terdekat.

Ia melepas kacamata tebal, rambut palsu, dan kemeja kedodorannya dengan cepat.

"Penyamaran ini membuat kulitku gatal," keluh Reyhan sambil mencuci wajahnya di wastafel.

Ia kembali mengenakan pakaian kasualnya, memakai topi baseball, dan segera memesan ojek daring.

Tiga puluh menit kemudian, Reyhan sudah tiba di apartemen persembunyiannya.

Ceklek.

Reyhan membuka pintu dan mendapati Alena sedang tertidur di sofa dengan laptop menyala di pangkuannya.

Wanita itu pasti sangat kelelahan karena terus berjaga semalaman.

"Detektif, bangun," panggil Reyhan pelan sambil menepuk bahu Alena.

Alena langsung terbangun dan refleks meraba pinggangnya untuk mencari pistol.

"Tenang, ini aku," ucap Reyhan menenangkan.

Alena mengusap wajahnya dan menghela napas panjang.

"Kau sudah kembali."

"Bagaimana hasilnya?" tanya Alena dengan suara serak.

Reyhan merogoh saku celananya dan melemparkan flashdisk hitam itu ke atas meja.

"Sesuai dugaan kita."

"Yayasan itu memang sarang pencucian uang kotor."

Mata Alena langsung berbinar melihat flashdisk tersebut.

Ia segera mencolokkannya ke laptop dan memasukkan kata sandi yang sudah dibobol oleh program temannya.

"Kau hebat, Reyhan."

"Aku tidak menyangka kau benar-benar bisa keluar dari sana hidup-hidup."

"Itu karena kemampuan aktingku sangat sempurna," puji Reyhan pada dirinya sendiri.

"Tapi kita harus berhati-hati, kepala keamanan di sana bernama Bram."

"Dia bukan satpam biasa, auranya sangat mirip dengan pembunuh bayaran profesional."

Alena mengangguk serius sambil menatap layar laptopnya.

"Aku akan memasukkan nama Bram ke dalam daftar pengawasan rahasiaku."

"Sekarang mari kita lihat siapa saja yang menerima dana kotor dari yayasan ini."

Alena membuka dokumen spreadsheet yang ada di dalam flashdisk itu.

Daftar nama dan nominal uang yang sangat fantastis terpampang di sana.

"Lihat baris ke sepuluh," tunjuk Reyhan ke layar.

"Hendra Setiawan, lima miliar rupiah."

"Lalu baris ke dua puluh lima."

"Hakim Sudarsono, sepuluh miliar rupiah."

Keduanya terdiam melihat bukti kuat tersebut.

Motif sang pembunuh bertopeng kini sudah seratus persen terkonfirmasi.

Pembunuh itu sedang menghabisi nama-nama yang ada di dalam daftar ini satu per satu.

"Tunggu dulu," ucap Alena tiba-tiba, wajahnya berubah menjadi sangat pucat.

"Ada apa, Alena?"

Jari Alena gemetar saat menunjuk ke arah baris paling bawah dari daftar tersebut.

Baris itu adalah transaksi terbaru yang dicairkan tiga hari yang lalu.

Reyhan menyipitkan matanya untuk membaca nama penerima dana tersebut.

"Kombes Polisi Darmawan."

"Dua puluh miliar rupiah," eja Reyhan pelan.

Reyhan menoleh ke arah Alena yang masih mematung di tempatnya.

"Kau kenal dia?"

Alena menelan ludahnya yang terasa sangat pahit.

"Dia adalah Kepala Satuan Reserse Kriminal di Mabes Polri."

"Dia adalah atasan langsungku, Reyhan."

Keheningan yang sangat mencekam menyelimuti ruangan apartemen itu.

"Atasanmu sendiri yang menerima uang suap terbesar dari yayasan amal ini?" tanya Reyhan tidak percaya.

"Ini menjelaskan semuanya," gumam Alena dengan suara bergetar.

"Pantas saja dia selalu mempersulit surat izin penggeledahan untuk kasus-kasus besar."

"Pantas saja dia memerintahkan seluruh anggota untuk segera menangkapmu agar kasus ini cepat ditutup."

"Dia sengaja melindungi yayasan itu dari dalam."

Reyhan mengusap dagunya perlahan.

"Dan itu artinya, Kombes Darmawan adalah target ketiga dari sang pembunuh bertopeng."

"Jika mengikuti pola waktunya, target selanjutnya akan dihabisi dalam waktu kurang dari 24 jam."

Alena menyandarkan kepalanya ke sofa dengan tatapan kosong.

Dilema besar sedang menghantam prinsipnya sebagai seorang polisi.

"Apa yang harus kulakukan, Reyhan?"

"Kalau aku melaporkan temuan ini ke komite etik kepolisian, Kombes Darmawan pasti punya cara untuk memanipulasi buktinya."

"Dia punya kekuasaan yang terlalu besar."

"Malah kita berdua yang akan ditangkap atas tuduhan pencurian data rahasia."

"Tapi kalau aku diam saja..."

"Maka atasanmu itu akan mati dibunuh besok malam," potong Reyhan dengan tenang.

"Dan kau akan gagal menjalankan tugasmu sebagai penegak hukum."

Alena mengacak-acak rambutnya frustrasi.

"Ini sangat tidak adil."

"Kenapa aku harus melindungi polisi kotor yang menjebakmu?"

Reyhan tersenyum tipis, sebuah ide gila tiba-tiba muncul di kepalanya.

Ide yang akan memanfaatkan hadiah terbarunya dari sistem.

"Kita tidak akan diam saja, dan kita juga tidak akan melaporkannya secara resmi."

Alena menoleh menatap Reyhan dengan bingung.

"Lalu apa rencanamu, Tuan Aktor?"

"Kita akan memancing Kombes Darmawan keluar, dan membuatnya mengakui kejahatannya sendiri dari mulutnya."

"Setelah dia mengaku dan kita rekam, kita akan menyerahkannya ke media, bukan ke kepolisian."

"Dengan begitu, publik yang akan menghukumnya, dan pembunuh bertopeng itu tidak punya alasan lagi untuk membunuhnya."

Alena mengerutkan keningnya.

"Itu rencana yang bagus secara teori."

"Tapi Darmawan itu rubah tua yang sangat licik."

"Dia tidak akan pernah mau mengakui kejahatannya meskipun kau todong dengan pistol di kepalanya."

Reyhan menyeringai lebar, matanya memancarkan kilat kepercayaan diri yang aneh.

"Serahkan bagian itu padaku, Detektif."

"Aku punya cara khusus untuk membuka mulut orang paling keras kepala sekalipun."

Wenggg.

Suara sistem berdengung pelan di dalam pikiran Reyhan saat ia secara sadar memanggil informasinya.

[Skill Manipulasi Pikiran (Tingkat Dasar) siap digunakan.]

[Fungsi: Memperkuat rasa takut, rasa bersalah, atau kepanikan target melalui kontak mata dan sugesti suara.]

[Batas waktu: Tiga menit.]

"Hubungi atasanmu itu sekarang," perintah Reyhan.

"Katakan padanya bahwa kau punya bukti video pembunuh asli yang menaruh racun di gelas Hakim Sudarsono."

"Dan ajak dia bertemu malam ini juga di tempat yang sepi."

Alena menimbang-nimbang rencana itu sejenak.

Ini adalah tindakan insubordinasi tingkat tinggi.

Tapi ia sudah tidak punya pilihan lain.

"Baiklah, aku akan menghubungi beliau sekarang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!