Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 11

Langkah kaki Kenan menggema di sepanjang koridor utama lantai dua. Wajahnya kaku, matanya menatap lurus ke depan dengan aura dingin yang membuat murid-murid yang berpapasan dengannya refleks menepi. Di belakangnya, Maya bersusah payah menyamai langkah lebarnya sambil menatap cemas.

"Gue sumpahin si Clarissa kena batunya, Nan!" gerutu Maya penuh emosi. "Jelas-jelas dia yang nyenggol meja Kirana! Kirana mana pernah bawa kertas contek gituan pas ujian!"

Kenan tidak menyahut. Rahangnya mengetat keras. Di dalam benaknya, bayangan Kirana yang menangis ketakutan di depan Pak Bambang membakar habis sisa-sisa kesabarannya.

Brak!

Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Kenan menggeser pintu ruang Kepala Sekolah dengan agak kasar.

Suara benturan pintu membuat tiga orang di dalam ruangan terperanjat. Pak Suryo, Kepala Sekolah SMA Garuda yang sedang duduk di balik meja kerjanya langsung mendongak. Di depan meja, Pak Bambang berdiri dengan wajah merah padam memegang selembar kertas lipat kecil, sementara Kirana menunduk di kursi dengan bahu gemetar menahan tangis. Clarissa berdiri di sudut ruangan dengan dagu terangkat terlihat songong sekali.

"Kenan? Ada apa ini? Kenapa kamu main masuk tanpa permisi?" tegur Pak Suryo mengernyitkan dahi.

"Maaf, Pak," suara Kenan terdengar rendah namun pekat akan penekanan. Ia melangkah masuk, mengabaikan tatapan tajam Pak Bambang, lalu berdiri tepat di samping kursi Kirana. Secara reflek tanpa sadar, tangan kanan Kenan memegang sandaran kursi Kirana, seolah menegaskan posisinya sebagai pelindung cewek itu. "Saya mendapat laporan dari anggota kelas bahwa ada dugaan kecurangan ujian yang belum terbukti secara valid."

Pak Bambang mendengus keras, mengibaskan kertas kecil di tangannya. "Belum terbukti bagaimana, Kenan, Kertas catatan rumus Kimia ini ditemukan persis di bawah meja Kirana oleh Clarissa! Bukti fisik sudah ada di depan mata!"

"Saya tidak pernah membawa kertas itu, Pak!" potong Kirana dengan suara serak, mendongak menatap Pak Bambang. "Clarissa sengaja menyenggol tempat pensil saya sampai jatuh, lalu menendang kertas itu ke bawah meja saya!"

"Fitnah!" sahut Clarissa cepat dengan raut muka seolah tersakiti. "Pak Bambang, saya cuma berniat membantu merapikan alat tulisnya yang berhamburan. Saat itulah saya melihat kertas ini terlipat di dekat kaki mejanya. Untuk apa saya memfitnah Kirana?"

"Karena lo emang dendam sama gue!" tembak Kirana berani, berdiri dari kursinya.

"Cukup! Jangan saling tuduh!" bentak Pak Bambang menepuk meja tampak marah. Ia menatap Pak Suryo. "Pak Kepala Sekolah, sesuai aturan tata tertib ujian SMA Garuda, siswa yang terbukti membawa catatan di dalam ruang ujian harus diberi sanksi dikualifikasi seluruh mata pelajaran dan mendapat nilai nol!"

Mendengar kata 'nilai nol', Kirana merasa kakinya mendadak lemas. Jika nilainya nol, ia tidak akan lulus semester ini dan seluruh impian kuliahnya bisa hancur. Namun, sebelum rasa panik menguasai Kirana sepenuhnya, Kenan melangkah satu langkah ke depan, memotong pandangan Pak Bambang.

"Tunggu, Pak Bambang," ujar Kenan dingin, mengalihkan perhatian seluruh isi ruangan pada dirinya. "Sebagai Ketua OSIS sekaligus penanggung jawab kedisiplinan murid, saya berhak menuntut pembuktian yang adil sebelum sanksi dijatuhkan."

"Pembuktian apa lagi, Kenan?!" seru Pak Bambang gusar. "semuanya sudah jelas, kertas ini ada di mejanya, !"

"Bisa tolong periksa tulisan tangan di kertas itu, Pak?" pinta Kenan tenang.

Pak Bambang mengernyit, membalik kertas kecil berukuran lima senti tersebut. Deretan rumus kimia organik tertulis dengan tinta hitam dan gaya tulisan tegak bersambung yang sangat rapi.

Kenan melirik Kirana sekilas. "Tulisan tangan Kirana miring ke kanan dan cenderung tidak beraturan. Saya, sebagai tutor belajarnya dalam program pendampingan OSIS, tahu betul gaya tulisannya."

Maya yang mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit langsung manggut-manggut heboh. Nah kan! Si Ketos emang jeli banget! Gara-gara sering meriksa tugas Kirana pasti tuh! batin Maya polos. Sama sekali tidak mengetahui hubungan mereka sebenarnya, kalau dia tau mungkin akan semakin heboh.

Clarissa mulai tampak agak gelisah, jemarinya meremas tepi rok seragamnya. "Bisa saja dia meminta orang lain yang menuliskannya sebelum ujian, Kenan! Itu bukan alasan!"

Kenan menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin senyuman yang membuat bulu kuduk Clarissa berdiri seketika.

"Bagus kalau begitu," kata Kenan santai. "Pak Suryo, apakah ruangan XII IPA 2 termasuk salah satu kelas yang baru saja dipasangi kamera CCTV resolusi tinggi minggu lalu untuk persiapan akreditasi?"

Pak Suryo tersentak, lalu mengangguk lambat. "Ah... benar. Kamera sudut atas dekat papan tulis sudah aktif sejak hari Senin."

Wajah Clarissa seketika memucat bagaikan kertas putih. Tubuhnya membeku di tempat.

"Kalau begitu, masalah ini sangat mudah diselesaikan," lanjut Kenan, menatap Clarissa lurus-lurus tanpa belas kasihan. 

"Kita bisa memutar ulang rekaman CCTV lima belas menit yang lalu dalam mode lambat. Kita bisa melihat dengan jelas dari sudut mana kertas itu berasal, apakah jatuh dari kantong Kirana, atau diselipkan oleh orang lain saat menjatuhkan tempat pensil. Jangan hanya menuduh tanpa bukti yang jelas"

"T-tunggu, Kenan..." cicit Clarissa, suaranya bergetar hebat.

"Kenapa, Clarissa?" potong Kenan dengan nada menusuk. 

"Bukannya lo yang paling bersemangat menegakkan kebenaran? Kenapa sekarang kelihatan cemas?"

Pak Bambang terdiam, memandangi Clarissa dengan raut curiga yang mulai tumbuh. "sialan, kalau begini bisa ketahuan gue" batin Clarissa berteriak keras.

Sementara Pak Suryo langsung membetulkan kacamata tebalnya dan menekan tombol interkom di meja kerjanya.

"Pak Haris, tolong tarik rekaman CCTV kelas XII IPA 2 kurun waktu pukul 09.30 sampai 09.45 ke komputer ruang saya sekarang," perintah Pak Suryo tegas.

"Baik, Pak!" sahut suara teknisi dari interkom.

Tidak sampai dua menit, layar monitor besar di dinding ruang Kepala Sekolah menyala, menampilkan rekaman sudut atas kelas XII IPA 2. Pak Suryo memutar video dengan kecepatan 0.5x pada detik-detik Clarissa berjalan melewati meja Kirana.

Di layar yang sangat jernih itu, terlihat dengan amat jelas: Kirana sedang fokus menyalin jawaban di lembar ujiannya. Siku Clarissa sengaja menyenggol kotak pensil Kirana hingga jatuh. Saat Kirana menunduk, ujung sepatu kanan Clarissa menjatuhkan lipatan kertas kecil dari lipatan kaos kakinya sendiri dan menendangnya masuk ke bawah meja Kirana.

Suasana ruang Kepala Sekolah mendadak menjadi hening.

Pak Bambang membelalakkan mata tak percaya, mukanya kini memerah bukan karena marah pada Kirana, melainkan karena rasa malu yang membakar.

"Clarissa...!" geram Pak Bambang, menatap Wakil Ketua OSIS itu dengan tatapan murka. "kamu sengaja memfitnah teman kamu sendiri di tengah ujian nasional begini, sebenarnya apa yang ada diotakmu hingga tega melakukannya" Pak Bambang terlihat marah sekali.

Clarissa menundukkan kepalanya dalam-dalam, air mata penyesalan dan malu menetes ke lantai. "P-pak... saya... saya cuma..."

"Ini tindakan manipulatif yang sangat mencoreng nama baik pengurus OSIS dan sekolah!" pangkas Pak Suryo keras, memukul mejanya. "Clarissa, atas tindakan fitnah berat dan percobaan sabotase nilai siswa lain, posisi kamu sebagai Wakil Ketua OSIS dicabut mulai detik ini! Kamu juga mendapat nilai nol untuk mata pelajaran Kimia hari ini dan kamu di skors tiga hari!"

Clarissa terisak pelan, ia bahkan tak menyangka Kenan akan melakukan pembelaan begitu besar pada Kirana, ia bahkan tidak mampu membela diri lagi saat dua pengawas OSIS membawa cewek itu keluar dari ruangan.

Pak Bambang kemudian membalikkan badan, menatap Kirana dengan raut canggung yang amat sangat. "Kirana... Bapak minta maaf atas tuduhan tanpa bukti tadi. Silakan kembali ke kelas, waktu ujian kamu akan Bapak tambah dua puluh menit."

Kirana menghela napas lega yang teramat dalam. Beban seberat gunung yang menindih dadanya seketika terangkat. "Terima kasih, Pak Bambang."

Di luar ruang Kepala Sekolah, Maya langsung menghambur memeluk Kirana erat-erat.

"KIRANA! GUE TAHU LO GAK SALAH!" jerit Maya heboh sampai koridor bergema. "Gila si Clarissa jahat banget! Untung ada CCTV sama si Ketos!"

Kirana tertawa kecil, membalas pelukan sahabatnya. Namun matanya bergerak mencari sosok Kenan yang berjalan beberapa langkah di depan mereka, hendak kembali ke ruang OSIS.

"May, lo duluan ke kelas ya. Gue... gue mau ngucapin terima kasih dulu sama Pak Ketos," bisik Kirana.

Maya memiringkan kepala, menyunggingkan senyum goda tanpa curiga sedikitpun. "Asyik! Udah gak benci lagi nih sama si Es Batu? Ya udah, jangan lama-lama ya, waktu ujian lo masih ada!"

Setelah Maya pergi membawa tasnya, Kirana menyusul langkah lebar Kenan di lorong belakang yang sepi dekat tangga darurat.

"Kenan!" panggil Kirana pelan.

Kenan menghentikan langkahnya, memutar badan. Raut wajahnya yang tadi sangat menakutkan di dalam ruangan kini kembali melunak saat menatap Kirana.

Kirana berdiri di depan Kenan, meremas ujung roknya canggung. "Makasih ya... Kalau gak ada lo tadi, gue pasti udah dikeluarkan dari sekolah."

Kenan menatap Kirana lurus-lurus. Perlahan, tangan tegapnya terangkat, mengusap sisa air mata di sudut mata Kirana menggunakan ibu jarinya dengan sangat lembut.

"Udah tugas gue buat ngelindungi lo," bisik Kenan pelan, suaranya hangat membelai pendengaran Kirana. "Gue gak bakal membiarkan siapapun menyakiti lo di sekolah ini."

Dada Kirana bergetar menerima perlakuan lembut itu. Ia menatap wajah tampan Kenan dari dekat, menyadari betapa dalam rasa sayang yang tersembunyi di balik sikap kaku cowok itu selama ini.

"Btw..." Kenan mendekatkan bibirnya ke telinga Kirana, berbisik dengan nada jahil khasnya. "...soal tuduhan 'dendam' tadi... Clarissa emang dendam sama lo gara-gara apa?"

Kirana menyipitkan mata dengan raut kesal ia menjawab. "Ya... ya gara-gara lo lah! Dia kan suka sama lo!"

"Tapi guenya cuma suka sama lo," balas Kenan santai tanpa beban, lalu membalikkan badan dan berjalan pergi sambil melambaikan tangan. "Cepat kembali ke kelas. Kerjakan ujiannya sampai selesai."

Kirana membeku di tempatnya, memegangi kedua pipinya yang terasa seperti terbakar. “Sialan! Dasar Es Batu gila! Bisa-bisanya  dia gombal di lorong sekolah! batin Kirana berteriak antara malu dan senang.

Namun, tanpa disadari mereka di sudut lorong dekat lapangan basket, Rendy berdiri menyaksikan seluruh kejadian tadi dari jauh. Ia melihat bagaimana Kenan membela Kirana di ruang Kepala Sekolah, dan bagaimana cara Kenan mengusap air mata Kirana di tangga tadi.

Rendy meremas pagar besi lapangan hingga jarinya memutih.

"Bukan cuma sekadar kenalan orang tua..." gumam Rendy dengan suara berat yang penuh amarah. "Lo berdua benar-benar punya hubungan rahasia. Liat aja gue pasti bakalan bongkar semuanya"

Rendy merogoh ponselnya dari saku celana, memutar sebuah nomor kontak seseorang.

"Halo? Pak RT Kompleks Perumahan Asri?" ujar Rendy dingin ke dalam telepon. "Saya Rendy dari tim survey sekolah. Saya mau konfirmasi mengenai data tempat tinggal siswa kami bernama Kenan dan Kirana..." 

Rendy begitu nekad, dia sangat tidak tenang sebelum tau hubungan mereka sebenarnya.

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!