Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Bayangan Dibalik Kaca
Kabar tumbangnya Ethan di lokasi syuting menyebar bagaikan api menyambar jerami kering. Meskipun rilis resmi agensi telah dikeluarkan untuk meredam rumor, kejaran wartawan dan jepretan kamera paparazzi tetap mengepung area luar rumah sakit. Di lantai VIP, barisan penjaga keamanan disiagakan ketat demi menjaga privasi sang aktor.
Di dalam kamar yang hening, aroma obat yang tajam menyelimuti ruangan. Ethan perlahan membuka matanya.
Kesadarannya terkumpul perlahan, disambut oleh langit-langit putih dan denyut samar di tangannya tempat jarum infus terpasang.
“Sudah bangun?” suara Marcus terdengar dari sudut ruangan. Pria itu berdiri di dekat jendela, menyilangkan tangan di dada dengan raut wajah yang masih menyisakan kelelahan.
Ethan mencoba duduk, tetapi rasa pening langsung menghantam kepalanya.
“Berapa lama aku pingsan?” suaranya terdengar parau dan berat.
“Hampir dua belas jam,” jawab Marcus seraya berjalan mendekat dan menuangkan segelas air hangat.
“Jadwal syuting hari ini resmi ditunda. Tim humas sedang bekerja ekstra keras menahan gempuran media yang curiga ada hal lain di balik pingsanmu,” imbuhnya seraya menyodorkan gelas.
Ethan menerima gelas itu tanpa bersuara, mengabaikan teguran tersirat dari sahabatnya. Matanya menatap lurus ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur.
“Ada pesan masuk?” tanya Ethan.
Marcus menghela napas panjang. Ia tahu persis siapa satu-satunya orang yang dicari Ethan.
“Tidak ada, Ethan. Mia tidak menghubungi,” jawab Marcus jujur, tanpa berniat memberi harapan palsu.
“Dan sebelum kamu berpikir untuk meneleponnya, ingat kondisi fisikmu sekarang. Pikirkan juga dampak kekacauan ini pada seluruh kru yang harus menunda pekerjaannya.”
Pernyataan Marcus membentur dada Ethan dengan telak. Pria itu mengepalkan tangannya di atas selimut. Rasa sakit akibat penolakan Mia terasa jauh lebih menyiksa daripada demam yang masih membakar tubuhnya.
Layar ponsel yang tetap gelap itu seolah menegaskan jarak yang terentang di antara mereka. Ethan menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur, memejamkan mata rapat-rapat demi menahan kepedihan yang menyusup ke dadanya.
“Dia benar-benar berpaling, Marcus,” bisik Ethan parau, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada sang manajer.
“Bukan berpaling, Ethan. Dia hanya mengambil jarak,” potong Marcus tegas, namun nada suaranya melunak. Ia melangkah ke ujung tempat tidur, memandangi bintang utamanya yang kini terlihat begitu rapuh.
“Kamu lupa siapa kamu sekarang? Setiap langkahmu diawasi. Kemarin malam saat kamu pingsan, Sarah Parker yang pertama kali menahan tubuhmu sebelum kamu jatuh ke set. Foto-foto itu sudah beredar, Ethan. Menurutmu bagaimana perasaan Mia melihatnya?”
Pernyataan Marcus membuat Ethan mendadak membuka mata. “Sarah?”
“Media mulai merangkai narasi percintaan lokasi syuting di antara kalian berdua,” lanjut Marcus seraya merogoh saku jasnya dan menunjukkan layar ponsel.
“Dan jangan lupa, rumor soal tunanganmu, Jane, juga kembali diungkit oleh media hiburan sejak pagi tadi. Situasinya rumit. Jika Mia mendekat sekarang, media akan menghancurkannya.”
Ethan mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa bersalah menghantamnya lebih keras daripada rasa sakit di kepalanya.
Di balik gemerlap statusnya sebagai aktor papan atas, ia justru merasa sepenuhnya tak berdaya melindungi orang yang paling ia pedulikan.
Tiba-tiba, ketukan pelan terdengar dari balik pintu kamar VIP. Mengalihkan perhatian mereka segera.
Pintunya terdorong sedikit terbuka. Jane melangkah masuk dengan langkah teratur. Ia menatap Ethan dengan pandangan sulit diartikan.
“Sepertinya kedatanganku mengganggu obrolan serius kalian,” ujar Jane dingin, sembari melepas kacamata hitamnya dan berjalan mendekati ranjang Ethan.
Jane berdiri tegak di samping ranjang, melipat tangannya di dada. Matanya menatap Ethan tajam, menembus wajah pucat yang tampak kian rapuh di bawah sorotan lampu ruangan VIP.
Tidak ada nada cemas atau bela sungkawa dalam suaranya, hanya keheningan menekan yang menuntut jawaban pasti.
Marcus yang menyadari ketegangan di antara keduanya segera berdeham pelan.
“Aku tunggu di luar, Ethan. Kurasi media belum selesai,” pamit Marcus singkat sebelum melangkah keluar, menyisakan keheningan dingin di antara dua orang yang terikat status tunangan tersebut.
“Bagaimana kondisimu?” tanya Jane datar, membuka pembicaraan tanpa berniat membuang waktu.
“Aku sudah lebih baik,” jawab Ethan parau. Tangannya masih mengepal di balik selimut, menahan pening yang sesekali kembali menghantam kepalanya. “Terima kasih sudah datang, Jane.”
Jane tersenyum tipis, sebuah senyuman tanpa kehangatan. Ia menarik kursi di sisi tempat tidur lalu duduk dengan anggun, memiringkan kepalanya sedikit.
“Aku tidak datang untuk formalitas rumah sakit, Ethan. Berita soal kamu pingsan di lokasi, rumor percintaanmu dengan Sarah Parker, sampai kejaran wartawan yang mulai meneror keluargaku... semua ini sudah melampaui batas.” Jane menghela napas panjang, menatap Ethan lurus ke dalam matanya.
“Aku butuh kepastian sekarang. Setelah seluruh rangkaian syuting film ini rampung, bagaimana dengan rencana pernikahan kita? Apa kamu masih serius untuk melanjutkannya, atau semua ini hanya tontonan publik yang sedang menunggu tanggal kadaluarsa?”
Pertanyaan itu melayang di udara, begitu berat dan lugas. Ethan tertegun, menatap Jane yang menunggu tanggapannya tanpa berkedip. Di balik kepalanya yang masih terbayang sosok Mia, desakan realitas dan kewajiban menuntut jawaban yang tak lagi bisa ia hindari.
Suasana di dalam kamar VIP terasa makin mencekam, seolah-olah oksigen di ruangan itu menguap perlahan.
Ethan menghela napas berat, merasakan beban tak kasat mata yang menghimpit dadanya. Bayangan Mia, senyumnya, tatapan matanya, dan jarak yang kini terbentang di antara mereka terlintas sekilas di benaknya.
Namun, kenyataan di depannya terlalu nyata untuk diabaikan. Tanggung jawab keluarga, rumor media yang siap menghancurkan segalanya, dan kontrak kehidupan yang sudah terikat sejak awal seakan mengunci jalan keluarnya.
“Pernikahan kita akan tetap berjalan sesuai rencana, Jane,” jawab Ethan akhirnya. Suaranya terdengar datar, kehilangan seluruh pijar kehidupan, namun cukup tegas untuk menghentikan segala keraguan.
“Setelah syuting ini selesai, kita selesaikan apa yang sudah dimulai,” tambahnya.
Jane mengangguk pelan, kepuasannya tersirat dari keheningan yang menyusul. Ia tidak menyunggingkan senyum kemenangan, hanya menegakkan posisi duduknya seolah kepastian itu memang sudah seharusnya ia dapatkan.
Tanpa mereka berdua sadari, pintu kamar VIP yang sedikit renggang menyisakan celah tipis. Di luar, Mia berdiri membeku di balik dinding kaca.
Maksud hatinya datang diam-diam demi memastikan kondisi Ethan secara langsung runtuh seketika. Setiap kata yang diucapkan Ethan terdengar begitu jelas, merambat dingin hingga menembus ulu hatinya.
Mia melangkah mundur perlahan, jemarinya yang gemetar melepaskan genggaman pada kantong bekal hangat yang sempat ia bawa.
Dengan dada remuk dan pandangan yang kabur oleh air mata, ia berbalik melangkah pergi, meninggalkan bayangan pria yang kini benar-benar terasa jauh dari jangkauannya.
–tbc–