Indonesia
NovelToon NovelToon
Trauma Ranjang

Trauma Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemurkaan yang Memuncak

Jessica membelalakkan matanya ngeri, menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "Ya ampun, Viola! Kamu gila, hah?! Itu pembakaran berencana! Kalau ketahuan polisi, kamu bisa dipenjara bertahun-tahun! Bagaimana kalau ada orang di dalam rumah itu?!"

​Mendengar reaksi kaget temannya, Viola justru mendengus meremehkan, melambaikan tangannya seolah hal itu tidak penting.

​"Aduh, Jessica sayang... Jangan berlebihan begitu deh," ucap Viola dengan nada manja yang menyebalkan. "Tadi ada ibunya di dalam, tapi wanita tua itu sempat lari keluar pas aku mau lempar korek. Lagian, itu salah mereka sendiri karena punya anak perempuan yang kurang ajar dan sok berani cari masalah sama aku!"

Viola menyandarkan punggungnya di sofa, kembali tertawa kecil penuh kemenangan. Ia merasa dirinya adalah wanita paling berkuasa di dunia saat ini. Ia berpikir bahwa dengan menghancurkan rumah orang tuanya, Evita akan jatuh miskin, stres berat, kehilangan pegangan hidup, dan pada akhirnya berlutut memohon ampun padanya.

​"Biarkan saja mereka menderita, menangis di atas abu reruntuhan rumah mereka," lanjut Viola dengan seringai sadis menghiasi bibir merahnya. "Bagi aku, kejadian tadi siang itu seperti menonton pertunjukan sirkus paling lucu di dunia. Dosen sok terhormat itu sekarang pasti sedang meraung-raung meratapi nasib keluarganya. Dan besok... besok aku akan pastikan Xander menceraikannya secara resmi, lalu hidup bahagia selamanya denganku."

Jessica hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak percaya mendengar jalan pikiran temannya yang sudah benar-benar terobsesi dan diluar batas kewarasan. Di balik gemerlap lampu kelab malam dan alunan musik yang memekakkan telinga, Viola terus meneguk gelas demi gelas minumannya, menikmati euforia kejahatan yang ia yakini tidak akan pernah bisa disentuh oleh hukum.

​Namun, Viola lupa satu hal penting: Api kecil yang ia nyalakan siang tadi kini telah menyulut amarah seorang wanita yang siap membakar balik dunianya tanpa sisa.

****

Malam telah sepenuhnya menelan langit Jakarta ketika taksi online yang ditumpangi Evita Desniati berhenti tepat di depan reruntuhan rumah orang tuanya di kawasan perumahan pinggiran kota. Begitu pintu mobil terbuka dan kakinya menapak di atas aspal jalanan, aroma jelaga dan sisa-sisa arang langsung menusuk tajam indra penciumannya.

​Evita terpaku di tempatnya berdiri. Matanya membelalak lebar, menatap nanar bangunan rumah masa kecilnya yang kini tinggal menyisakan kerangka dinding gosong berwarna hitam legam. Bagian depan rumah, tempat di mana ruang tamu dan teras berada, telah rata dengan tanah akibat amukan api yang luar biasa ganas siang tadi. Garis polisi tampak terbentang melintang di depan halaman yang porak-poranda.

"Ibu... Bapak..." bisik Evita tertahan, suaranya bergetar hebat di tenggorokan.

​Di bawah naungan lampu penerangan jalan yang temaram, ia melihat ibunya, Bu Yekti, duduk lemah di atas sebuah kursi plastik di teras rumah tetangga. Wajah wanita paruh baya itu tampak kusam, matanya bengkak dan sembab akibat menangis tiada henti, dikelilingi oleh beberapa ibu-ibu tetangga yang sabar menenangkannya sambil mengusap-usap punggungnya.

​Tanpa membuang waktu, Evita berlari menghampiri ibunya dengan air mata yang kembali tumpah membasahi pipinya.

​"Ibu!" panggil Evita isak, langsung berlutut di hadapan ibunya dan memeluk tubuh wanita tua itu erat-erat.

"Evita... Nak..." tangis Bu Yekti pecah kembali saat merasakan dekapan hangat anak perempuannya. "Rumah kita... semua kenangan masa kecilmu, foto-foto keluarga, semuanya habis, Nak... Tinggal abu..."

​"Ibu sabar ya... Yang penting Ibu dan Bapak selamat. Itu yang paling utama bagi Evita," ucap Evita berusaha tegar, meskipun dadanya sendiri terasa hancur berkeping-keping melihat penderitaan kedua orang tuanya.

​Tidak lama kemudian, sebuah mobil sedan sederhana memasuki area perumahan dan berhenti di dekat kerumunan. Seorang pria paruh baya berambut beruban tipis keluar dari balik kemudi. Itu adalah ayah Evita, Pak Santoso. Beliau baru saja pulang dari kegiatan rutinnya menghadiri perkumpulan sesama pensiunan guru di balai warga, sama sekali tidak menduga musibah besar ini akan menyambutnya sepulang ke rumah.

****

Begitu melihat puing-puing rumahnya yang hangus, langkah Pak Santoso terhenti seketika. Kunci mobil di tangannya hampir terjatuh ke tanah. Wajahnya yang tenang mendadak pucat pasi menatap nanar hasil jerih payah keringat seumur hidupnya kini musnah dalam sekejap.

​Evita segera bangkit, menghampiri ayahnya, lalu merangkul pundak pria renta itu dengan penuh kelembutan. "Bapak..." panggil Evita lirih.

​Pak Santoso menarik napas panjang, mencoba menegarkan hatinya di usia senjanya. Ia menatap putrinya, lalu beralih menatap rumah mereka yang hancur. Dengan suara serak, sang ayah berkata, "Yang sudah pergi biarlah pergi, Evita... Yang penting nyawa kita masih diselamatkan Tuhan. Tapi... siapa yang tega berbuat sekeji ini pada keluarga kita, Nak?"

****

​Mendengar pertanyaan itu, rahang Evita mengeras seketika. Kilatan amarah yang pekat membara di balik bola matanya yang basah. Ia tahu persis siapa dalang di balik bencana ini. Wanita iblis bernama Viola Sanustika itu tidak hanya merusak rumah tangganya, tapi kini telah mencoba merenggut nyawa orang tuanya dan menghancurkan tempat berlindung mereka.

​"Bapak, Ibu, tenanglah," ucap Evita dengan suara tegas, dingin, dan penuh keyakinan mutlak. "Kita tidak akan tinggal di sini malam ini. Kalian ikut Evita ke apartemen saya. Dan untuk pelakunya... Evita bersumpah di atas abu rumah ini, wanita biadab itu akan membayar setiap tetes air mata dan penderitaan kita di pengadilan. Aku akan mengadili Viola Sanustika dengan tanganku sendiri!"

Keesokan paginya, di apartemen pribadi Evita yang berada di lantai 14 kawasan Jakarta Pusat, suasana terasa begitu sunyi. Pak Santoso dan Bu Yekti sudah tertidur pulas di kamar tidur tamu setelah melalui malam yang melelahkan dan penuh air mata.

​Evita memutuskan untuk keluar sebentar menuju minimarket di lantai dasar gedung apartemen untuk membelikan sarapan dan keperluan secukupnya bagi kedua orang tuanya. Ia mengenakan mantel rajut panjang berwarna krem menutupi pakaian rumahnya, rambutnya diikat longgar ke belakang.

​Saat ia keluar dari lift lobi gedung dan berjalan menuju pintu keluar kaca utama...

​Ceklek.

​Seseorang bertubuh tinggi tegap berjas rapi tapi tampak sedikit kusut mencegat langkahnya. Bau parfum maskulin yang sangat ia kenali langsung menyergap penciumannya.

​Xander Wiryawan.

​Pria berusia 36 tahun itu berdiri tepat di hadapannya dengan napas sedikit memburu. Wajah sang CEO tampan itu tampak kuyu, matanya merah kurang tidur, mencerminkan kepanikan dan stres luar biasa yang menderanya sejak kemarin malam. Begitu melihat Evita, Xander langsung mengulurkan tangan hendak meraih pergelangan tangan istrinya.

​"Evita! Tunggu... kumohon, dengarkan aku sebentar saja," ucap Xander dengan suara memohon yang parau.

​Evita dengan gerakan cepat menepis tangan Xander, melangkah mundur satu langkah dengan tatapan mata jijik dan penuh kebencian yang teramat sangat.

​"Jangan sentuh aku, Xander!" desis Evita tajam. "Mau apa lagi kamu ke sini? Belum cukup kehancuran yang ditimbulkan oleh wanita simpananmu itu keluargaku?!"

Xander tertegun sejenak, namun ia langsung menggelengkan kepalanya panik. "Aku tahu... aku baru saja dengar berita tentang kebakaran rumah orang tuamu tadi malam. Evita, sumpah demi Tuhan, aku tidak tahu apa-apa soal itu! Aku tidak menyangka Viola bisa berbuat sebegitu gila dan nekat membakar rumah mertuaku sendiri!"

​"Oh, ya?" Evita tertawa hambar, sebuah tawa penuh sarkasme yang menyayat hati. "Kamu pikir aku akan percaya begitu saja pada pembelaan murahanmu? Wanita psikopat itu adalah kekasih gelapmu, wanita yang kamu gagahi di ranjang kita! Apa yang dia perbuat adalah cerminan dari restu dan kelakuan busuk kalian berdua!"

1
Ma Em
Evita balas perbuatan Xander dan jalang nya buat mereka menyesal karena sdh berani bawa selingkuhan ke rumah tempat Evita tinggal .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!