kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.
yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Esok harinya, Nina berpura-pura menjadi anak tiri yang penurut dan ingin berbakti. Saat Anggun sedang bersiap-siap pergi ke salon mewahnya, Nina mendekat membawa segelas teh hangat dengan wajah polosnya.
"Tante... Nina dengar dari Ayah, salon milik Tante sangat sukses," ujar Nina penuh kekaguman buatan. " mumpung hari ini Nina masuk siang , Bolehkah Nina ikut ke salon untuk bantu-bantu bersih-bersih atau rapikan berkas?"
Anggun menatap Nina dari atas ke bawah, tertawa meremehkan. "Kamu? Mau bantu di salon mewah saya? Ya sudah, ikut! Daripada kamu melamun di rumah, mending kamu bantu angkat-angkat dus di gudang belakang!"
"iya Tante, tidak masalah".
Anggun berpikir ia sedang memperlakukan Nina seperti pembantu. Ia tidak tahu bahwa ia sendiri yang sedang membukakan pintu menuju kehancurannya.
Sesampainya di Anggun Beauty, Nina ditugaskan merapikan gudang penyimpanan stok kosmetik di lantai bawah. Begitu situasi sepi dan para karyawan sibuk melayani pelanggan kelas atas, Nina bergerak cepat dengan keahlian yang diajarkan Paman Juan.
Nina memasang flashdisk peretas milik Tania ke komputer utama salon. Seluruh data keuangan rahasia, bukti pencucian uang, dan transaksi pembelian bahan kosmetik berbahayadan mengandung bahan merkuri yang sangat tinggi, langsung terkirim ke server dinas perpajakan dan BPOM secara otomatis.
Saat siang, Nina meminta izin untuk ke kampus karena ia sudah terlambat.
Sore harinya, saat salon sedang ramai oleh para wanita bangsawan dan sosialita kota, bencana yang dirancang Nina meledak sempurna.
Tiba-tiba, lima mobil petugas gabungan dari BPOM, Kepolisian, dan Dinas Perpajakan datang mengepung Anggun Beauty dengan sirine meraung-raung. Para pelanggan panik dan berhamburan keluar. Beberapa sosialita berteriak histeris karena wajah mereka mendadak merah, bengkak, dan gatal luar biasa akibat produk yang dioleskan mengandung bahan merkuri tinggi dan bahan kimia lainnya yang tidak sesuai takaran.
"Apa-apaan ini?! Siapa yang berani mengacau di salon saya?!" jerit Anggun histeris, mencoba membusungkan dada.
Seorang petugas kepolisian melangkah maju dan menunjukkan surat penangkapan serta penyitaan.
"Nyonya Anggun, salon Anda resmi kami segel atas tuduhan penggunaan bahan berbahaya tak berizin, penipuan konsumen, serta penggelapan pajak bernilai puluhan miliar. Seluruh aset dan rekening atas nama usaha ini, termasuk rekening penyimpanan 5 miliar milik Anda, resmi DIBEKUKAN oleh negara."
"A-APA?! DIBEKUKAN?!" Anggun menjerit, dadanya naik turun, wajahnya pucat pasi bagai mayat.
Uang 5 miliar yang baru saja dirayakannya bersama Hazel dan Faris semalam, kini lenyap tak bersisa dalam sekejap mata. Posisinya sebagai sosialita terpandang hancur berantakan di depan kamera wartawan yang tiba-tiba meliput kejadian tersebut.
Di dalam rumah , kebetulan Nina baru saja sampai dari kampus, ia melihat para pelayan berkerumun di dekat dapur sambil melihat televisi. Nina menghentikan langkahnya saat akan mengambil air minum , ia menyaksikan Anggun yang menangis histeris di lantai sembari dituntun petugas.
Nina memiringkan kepalanya sedikit, menatap Anggun di dalam televisi dengan mata dingin tanpa penderitaan. Di dalam hatinya, ia berbisik...
“Ini baru awal, Anggun. Kamu mencuri harta Ibuku untuk merasa jadi ratu. Sekarang, rasakan bagaimana rasanya menjadi pengemis yang dihina semua orang.”
Di dalam kamarnya yang hening, Nina berdiri menatap bayangan dirinya di balik cermin.di balik kemenangan kecil itu, dada Nina bergejolak oleh kilasan masa lalu yang mendadak muncul menghantam ingatannya, sebuah kilas balik berdarah tentang bagaimana kejahatan Faris dan Anggun bermula.
Belasan tahun lalu, Anggun adalah seorang wanita bangsawan kaya raya yang hidup bergelimang harta bersama suami pertamanya, pemilik sebuah perusahaan besar di ibu kota. Dari pernikahan itu, lahirlah Hadin dan Hazel yang saat itu masih kecil-kecil. Sementara di perusahaan milik suami Anggun tersebut, Faris bekerja sebagai manajer yang sangat cerdas, ambisius, dan tangkas dalam mengelola bisnis.
Di saat yang sama, jauh di sebuah desa terpencil, ibu Nina, seorang wanita lembut, tulus, dan penuh kepasrahan, hidup menanti dengan setia. Faris selalu mengirimkan surat berjanji manis “Sabar ya, Bu. Kalau uangnya sudah cukup dan Ayah sudah beli rumah di Jakarta, Ayah akan bawa Ibu dan Nina tinggal bersama.”
Namun, nasib berputar kejam. Suami Anggun mendadak meninggal dunia, meninggalkan perusahaan yang goyah serta dua anak yang masih kecil. Karena sering bertemu dan berinteraksi untuk menyelamatkan bisnis tersebut, benih-benih kecurangan mulai tumbuh. Faris yang haus akan status dan Anggun yang butuh sosok pria penopang, perlahan semakin dekat melebihi batas profesional.
Saat perusahaan suami Anggun mengalami krisis keuangan yang parah, otak licik Faris bekerja. Ia melihat peluang emas untuk menguasai perusahaan itu sepenuhnya dan menjadikan Anggun miliknya. Faris memutuskan pulang ke desa.
Di rumah kayu yang sederhana itu, Faris bersimpuh di depan ibu Nina, memasang raut wajah penuh derita dan air mata buatan. Ia berbohong bahwa perusahaan tempatnya bekerja akan dijual oleh ahli waris pemiliknya yang telah meninggal, dan ia butuh modal besar untuk membelinya agar bisa mendirikan perusahaannya sendiri.
Ibu Nina, yang cintanya begitu buta dan tulus pada sang suami, tanpa ragu berniat menjual seluruh warisan orang tuanya, beberapa hektar sawah yang menjadi satu-satunya aset berharga keluarga mereka.
"Kamu gila?!" pangkas Juan, paman Nina, yang kala itu menolak keras rencana tersebut. Pertengkaran hebat pecah di dalam rumah kayu itu. "Pria itu cuma memanfaatkanmu! Jangan jual sawah warisan Orang Tua kita hanya demi janji manismu di kota!"
Namun, ibu Nina menutup mata dan telinga dari peringatan sang kakak. Sawah bagian miliknya dijual habis tanpa sisa. Seluruh uangnya diserahkan bulat-bulat kepada Faris dengan harapan sang suami akan segera memboyong dirinya dan Nina kecil ke kota.
Setelah menerima uang itu, Faris menghilang. Bertahun-tahun ia tak pernah pulang, tak memberi kabar, dan tak pernah mengirim sepeser pun uang untuk menafkahi putri kandungnya.
Hingga suatu hari, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan halaman rumah mereka di desa. Ibu Nina berlari keluar dengan senyum membuncah, mengira suaminya akhirnya datang untuk menjemput mereka.
Namun, yang keluar dari mobil itu bukan hanya Faris. Laki-laki itu melangkah turun bersama Anggun yang tampil elegan bergelimang perhiasan, serta Hadin dan Hazel kecil yang bergandengan tangan.
Tanpa penyesalan sedikit pun, Faris melempar selembar surat cerai ke hadapan ibu Nina.
"Aku sudah menikah dengan Anggun," ucap Faris dingin tanpa beban. "Kalau kamu mau ikut ke Jakarta, kamu harus mau dimadu dan tinggal di paviliun belakang sebagai pengurus rumah."
Dunia ibu Nina runtuh seketika. Hatinya hancur berkeping-keping. Dengan sisa harga diri yang ia miliki, wanita lembut itu menolak tegas untuk dimadu. Faris pergi begitu saja tanpa berpaling, membawa serta harta warisan desa yang telah diubahnya menjadi saham perusahaan di Jakarta.
Sejak hari kelam itu, kesehatan ibu Nina merosot tajam. Ia sakit-sakitan, mengurung diri dalam kesedihan, hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir di pangkuan Nina yang masih sangat kecil. Paman Juan, yang sangat menyayangi adiknya, mengambil alih membesarkan Nina. Di bawah gemblengan Juan yang keras dan penuh rasa dendam atas kematian adiknya, Nina dibentuk menjadi sosok yang anggun di luar, namun berhati baja dan sangat terlatih di dalam.
Nina menarik napas panjang, menghentikan kilasan memori pahit yang menyayat dadanya. Jemarinya mencengkeram tepi meja rias hingga buku-buku jarinya memutih, namun tak ada satu tetes pun air mata yang tumpah dari matanya. Emosinya tertahan dengan sangat sempurna.
Ia melirik foto almarhumah ibunya yang terselip di balik cermin.
"Ibu..." bisik Nina dengan suara pelan yang amat dingin, bergetar oleh amarah yang terendam belasan tahun. "Ibu lihat, kan? Hari ini wanita yang menikmati hasil curian harta Ibu sudah mulai kehilangan segalanya. Dan Faris... pria yang menghancurkan hidup Ibu... akan Nina pastikan merangkak memohon ampun di atas pusara Ibu."
sungguh terlalu kamu Faris
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰