Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruangan yang Tidak Pernah Ada
Siang itu, udara di luar terasa hangat dan cerah, namun di dalam ruangan penginapan itu suasananya terasa sejuk dan hening. Raka kembali membuka buku harian Ardita. Tulisannya kini semakin sering bergetar, beberapa kata tergores dalam-dalam, seakan pena itu ditekan dengan tangan yang gemetar ketakutan.
"Rumah itu mulai tumbuh," bisik Raka pelan sebelum mulai membaca. "Menjadi lebih besar dari yang mereka bangun."
Halaman 18 — 17 September 1996
Semalam aku tersesat di rumah sendiri.
Aku bangun tengah malam untuk mengambil air minum di dapur. Aku berjalan pelan menyusuri lorong lantai bawah lorong yang sudah aku hafal setiap inci-nya sejak kami pindah ke sini. Tiga langkah dari pintu kamarku ada jendela kecil, lalu pintu kamar mandi, lalu dapur. Tapi semalam... setelah melewati jendela itu, aku tidak sampai di dapur.
Di tempat yang seharusnya menjadi dapur, terdapat pintu kayu cokelat tua yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Pintu itu tertutup rapat, tidak ada gagang, tidak ada kunci, dan di sekelilingnya ukiran-ukiran bunga yang tidak aku kenal. Aku berdiri terpaku, menatap pintu itu. Pasti aku salah jalan. Aku berbalik, berjalan kembali ke arah kamarku tapi lorong itu ternyata lebih panjang dari biasanya. Jauh lebih panjang. Lampu di langit-langit berjarak lebih jauh satu sama lain, dan cahayanya terasa semakin redup seiring aku berjalan.
"Ayah?" panggilku pelan. Suaraku hilang di udara, seakan ditelan oleh lorong itu sendiri. Tidak ada jawaban. Tidak ada suara apa pun. Bahkan suara jangkrik dari luar pun tidak terdengar. Hanya keheningan yang tebal, menekan, seakan rumah itu sendiri sedang menahan napas.
Aku berbalik lagi ke arah pintu kayu itu. Perlahan aku mendekat. Tanganku gemetar saat menyentuh permukaannya dingin, halus, terasa seperti sudah ada di sana selama puluhan tahun, bukan beberapa bulan. Aku mengetuknya pelan. Suara ketukan itu terdengar berat, dalam, seakan di balik pintu itu ada ruangan yang luas dan kosong.
"Siapa di sana?" bisikku.
Dan saat itu... pintu itu terbuka perlahan. Tanpa aku dorong. Tanpa suara engsel. Terbuka sendiri, seakan seseorang di dalam sana menariknya dari dalam.
Cahaya remang keluar dari dalam ruangan itu cahaya yang bukan dari lampu listrik, melainkan cahaya pucat keperakan yang tidak tahu dari mana asalnya. Ruangan itu luas, lebih besar dari dapur seharusnya. Di dinding-dindingnya tergantung lukisan-lukisan orang yang tidak aku kenal wajah-wajah tua, dengan tatapan mata yang tajam dan hidup, seakan mereka sedang menatapku saat itu juga. Di sudut ruangan berdiri lemari kayu tinggi yang sudah gelap warnanya, dan di tengah ruangan... ada sebuah meja panjang kosong.
Aku tidak berani melangkah masuk. Tapi saat aku berdiri di ambang pintu itu, aku mendengar suara bisikan-bisikan lembut. Bukan satu suara. Banyak suara. Berbicara pelan, berdesis, seakan sedang berdiskusi tentang kehadiranku. Aku mundur perlahan, kaki gemetar hebat. Aku tidak berani menutup pintu itu aku hanya berlari, secepat mungkin, menyusuri lorong yang entah bagaimana kini kembali menjadi lorong yang aku kenal. Aku sampai di kamarku, menutup pintu, mengunci rapat, dan bersembunyi di bawah selimut sampai pagi.
Pagi harinya, aku segera berlari ke dapur. Dapur itu ada di sana. Seperti biasa. Tidak ada pintu kayu. Tidak ada lorong yang panjang. Semuanya seperti biasanya.
Tapi... bekas jari-jariku masih ada di pintu dapur itu. Bekas tangan yang kulekatkan semalam saat berlari. Dan itu bukan mimpi.
Ardita
Halaman 20 — 22 September 1996
Aku mencoba bertanya pada Ayah pagi ini. Saat kami sarapan pertama kali dalam berminggu-minggu kami berkumpul di meja makan aku bertanya pelan:
"Ayah... apakah ada ruangan lain di rumah ini? Ruangan yang Ayah bangun tapi tidak pernah beri tahu kami?"
Ayah berhenti mengunyah. Menatapku dengan tatapan yang dingin dan asing. "Tidak ada. Rumah ini hanya seperti yang kau lihat. Tidak ada ruangan lain."
"Tapi semalam... aku melihat pintu. Di tempat dapur. Pintu kayu tua dengan ukiran bunga. Dan di baliknya ada ruangan besar..."
Ayah meletakkan sendoknya perlahan di atas piring. Bunyi denting itu terdengar begitu jelas di ruangan yang tiba-tiba hening. "Kau bermimpi, Dita. Rumah ini belum tua. Tidak ada pintu tua. Tidak ada ukiran. Jangan pernah bicara hal seperti itu lagi. Rumah ini milikku. Aku yang membangunnya. Aku tahu setiap jengkalnya."
Tapi saat Ayah berkata begitu, matanya melirik sekilas ke arah lorong dapur. Sekilas saja, tapi aku melihatnya. Beliau tahu. Beliau tahu apa yang aku maksud. Dan beliau takut.
Siang itu, aku berusaha mencari pintu itu lagi. Aku berjalan bolak-balik di lorong lantai bawah, berkali-kali. Tidak ada. Dapur tetap dapur. Dindingnya rata, bersih, tidak ada bekas pintu yang pernah ada di sana. Tapi saat aku menyentuh dinding di sudut yang kemarin menjadi pintu itu... dinding itu terasa lebih dingin dari bagian lain. Dan di baliknya... aku merasakan sesuatu bergerak pelan. Seakan ada sesuatu yang berjalan di balik dinding itu.
Kak Arlan menemukan aku berdiri terpaku di sana. Dia mendekat, berbisik pelan:
"Aku juga melihatnya, Dita. Tiga malam yang lalu. Pintu di lantai atas. Di tempat yang seharusnya menjadi gudang. Aku mendengar suara orang menangis di balik pintu itu. Saat aku mendekat... pintu itu hilang. Menjadi dinding biasa."
Kami berdua saling menatap. Ketakutan yang sama ada di mata kami. Rumah ini tidak hanya tempat tinggal kami. Rumah ini... hidup. Dan ia terus bertumbuh. Menambah ruangan, menambah lorong, menambah pintu yang tidak pernah ada di dalam rencana bangunan mana pun.
"Kita harus pergi, Dita," bisik Kak Arlan. "Sebelum rumah ini menutup pintu-pintunya selamanya."
Ardita
Halaman 22 — 25 September 1996
Kami mencoba pergi kemarin.
Kak Arlan dan aku sepakat pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit, kami akan berjalan kaki turun ke bawah. Kami akan menemui Pak Tua Suryo. Kami akan minta tolong. Kami akan bilang pada Ayah dan Ibu untuk ikut kami. Kami akan pergi dari sini, tidak peduli apa pun kata Ayah.
Tapi pagi itu... pintu depan terkunci. Bukan dikunci dari luar kuncinya ada di dalam, tapi tidak bisa diputar. Kak Arlan mencoba dengan segala cara kunci itu seakan menyatu dengan gagang pintu. Tidak bergerak sedikit pun. Kami mencoba pintu belakang sama. Jendela-jendela semuanya tertutup rapat, dan bingkai jendelanya terasa tebal dan berat, seperti besi yang telah berkarat puluhan tahun. Padahal baru beberapa bulan lalu kami membelinya baru.
Ayah berdiri di lorong, menonton kami berusaha membuka pintu tanpa bergerak sedikit pun. Wajahnya datar, tanpa ekspresi.
"Tidak bisa," kata beliau pelan. "Belum waktunya. Rumah ini belum selesai menerima kalian."
"Ayah, buka pintunya! Kita harus pergi!" teriakku, air mata mulai jatuh.
Ayah tersenyum, senyum yang bukan Ayahku. "Pergi ke mana, Dita? Ini rumah kita. Di mana lagi kita bisa pergi? Di luar sana... tidak ada tempat untuk kita. Di sini saja. Di sini aman."
Saat itu aku sadar. Ayah tidak lagi menahan kami. Rumah itu sendiri yang menahan kami. Dan Ayah... beliau sudah menjadi bagian dari rumah itu.
Kami terjebak. Empat orang di dalam rumah yang terus tumbuh, yang terus menambah ruangan, yang terus menutup jalan keluar satu per satu. Dan setiap malam... semakin banyak pintu yang muncul. Semakin banyak lorong yang memanjang. Semakin banyak suara yang berbisik di balik dinding.
Dan aku tahu... suatu malam nanti, salah satu dari kami akan masuk ke salah satu pintu itu. Dan tidak akan pernah kembali.
Ardita
Raka menutup buku itu perlahan, napasnya berat. Ruangan itu sunyi senyap. Tidak ada yang berani bersuara.
"Rumah itu hidup," bisik Laras pelan, suaranya bergetar. "Ia tumbuh. Ia menciptakan ruangan baru, pintu baru jalan yang tidak ada di peta mana pun. Dan perlahan-lahan... ia menutup semua jalan keluar."
"Dan yang paling mengerikan," tambah Dimas pelan, "Ayah mereka sudah menjadi bagian dari rumah itu sendiri. Dia tidak lagi menahan mereka rumah itu yang menahan mereka, dan Ayah justru menjadi saksi bisu atas segalanya."
"Mereka tidak bisa pergi," kata Raka lembut. "Bukan karena tidak mau tapi karena tidak bisa. Pintu-pintu itu sudah bukan lagi sekadar pintu kayu dan besi. Itu sudah menjadi batas antara dunia mereka dan dunia lain."
"Masih ada berapa halaman lagi?" tanya salah satu kru, suaranya nyaris tak terdengar.
"Masih banyak," jawab Raka. "Dan semakin lama mereka terjebak... semakin dalam mereka tersesat. Bukan hanya di rumah itu tapi juga di antara dua dunia."