Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.
Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.
Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.
"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.
Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Mangsa yang Baru
Lampu strobo merah-biru dari dua mobil patroli kepolisian memantulkan cahaya menyala di atas permukaan genangan air hujan di lapangan Zona Empat.
Suara sirine yang tadinya meraung kini berganti menjadi deru halus mesin mobil yang bersiaga.
Intan Saputri melangkah keluar dari ruko sepi, mendampingi Maya dan Rendra menyusuri jalan berkerikil menuju kontainer direksi.
Di sekeliling area, puluhan pekerja shift malam terkumpul dalam kerumunan kecil, membisikkan rasa tak percaya saat menyaksikan petugas kepolisian mengawal seorang pria keluar dari pintu kontainer.
Ardiansyah Putra berjalan dengan kedua tangan terikat borgol baja di depan tubuhnya.
Kemejanya berantakan, dan wajah tampan yang dulu selalu dipoles dengan senyuman percaya diri kini pucat bagai mayat.
Saat melintasi barisan mobil patroli, mata Ardiansyah tertuju pada Intan yang berdiri tenang di samping Maya. Langkah pria itu terhenti sejenak.
"Kamu..."
Suara Ardiansyah serak, sarat akan keputusasaan dan rasa tak percaya.
"Gadis dari Desa Lao-Lao itu... kamu yang mengatur semua ini?"
Intan menatap pria di hadapannya tanpa binar amarah maupun kebencian yang meluap-luap.
Yang tersisa di dalam dadanya hanyalah kedamaian dingin seorang wanita yang berhasil merebut kembali kehormatannya.
"Aku tidak mengatur apa pun, Ardiansyah."
Jawab Intan, suaranya jernih dan berwibawa di tengah kesunyian malam.
"Kamu sendiri yang menjerat lehermu dengan setiap kebohongan yang kamu buat."
"Aku hanya memastikan hukum menemukan jalan kepadamu."
Rendra melangkah maju menyodorkan dokumen audit forensik kepada penyidik kepolisian.
"Pak Perwira, seluruh bukti aliran dana fiktif dan pemalsuan dokumen atas nama PT Pandawa Perkasa sudah kami unggah ke server polres. Rekeningnya sudah dibekukan."
"Terima kasih atas bantuannya, Pak Rendra, Mbak Intan"
Sahut petugas perwira seraya menepuk bahu Ardiansyah dan memaksanya masuk ke dalam pintu belakang mobil patroli.
"Tersangka akan langsung kami amankan ke markas polres untuk pemeriksaan lebih lanjut."
Pintu mobil polisi ditutup dengan dentuman keras. Sirine kembali menyala meluncur membelah gerbang Zona Empat, membawa pergi sosok penipu yang selama bertahun-tahun merenggut kebahagiaan banyak orang.
Siti, yang berdiri tak jauh di samping mobil van katering, meneteskan air mata lega.
Uang almarhum ayahnya memang mungkin tak sepenuhnya kembali utuh, namun keadilan yang selama ini diperjuangkannya akhirnya terbayar tuntas.
Siti menghampiri Intan dan memeluknya erat, menyuarakan rasa terima kasih yang mendalam.
Tiga minggu berlalu sejak malam penangkapan di Zona Empat.
Suasana ruko Katering Barokah kini terasa jauh lebih hidup.
Nama baik katering pulih sepenuhnya, bahkan mendapat dorongan reputasi besar setelah pengelola kawasan industri Zona Empat secara resmi menunjuk Katering Barokah sebagai penyedia konsumsi utama untuk proyek-proyek pemerintah di wilayah tersebut.
Intan duduk di meja kerjanya yang rapi. Di hadapannya, buku catatan hitam kecil yang dulu penuh dengan coretan ketakutan dan nama rekening palsu Ardiansyah, kini telah berganti fungsi menjadi buku agenda manajemen usaha.
Pintu ruko berdentang halus. Maya melangkah masuk membawa dua cangkir teh hangat, meletakkannya di atas meja Intan.
"Bagaimana perasaanmu hari ini, Pengusaha Muda?"
Goda Maya dengan senyuman hangat.
Intan tersenyum tipis, menyesap teh hangatnya.
"Rasanya tenang, Mbak Maya."
"Seperti baru saja menyelesaikan maraton yang sangat panjang."
"Kamu sudah melampaui ekspektasiku, Intan"
Puji Maya tulus.
"Kamu bukan lagi gadis polos yang meratapi nasib di stasiun bus."
"Kamu sudah punya mata seorang pemburu dan hati seorang pemimpin."
Namun, di tengah kedamaian sore itu, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berkilat berhenti di depan ruko Katering Barokah.
Pintu mobil terbuka, dan sesosok pria berusia empat puluhan berpakaian setelan jas rapi melangkah keluar dengan gaya yang sangat elegan.
Pria itu menyunggingkan senyum ramah saat melangkah masuk ke dalam ruko.
Wajahnya bersih, tutur katanya sangat halus, dan di jarinya melingkar sebuah cincin batu mulia bernilai tinggi.
"Selamat sore."
Puji pria itu dengan suara berat yang menenangkan.
"Apakah ini benar kantor Katering Barokah milik Mbak Intan Saputri?"
Intan dan Maya saling berpandangan sejenak sebelum Intan berdiri dengan profesional.
"Betul, Pak."
"Saya Intan."
"Ada yang bisa saya bantu?"
Pria itu mengeluarkan kartu nama bersepuh emas dari dompet kulitnya dan meletakkannya anggun di atas meja.
"Nama saya Baskora Wijaya"
Ujar pria itu lembut, matanya memancarkan keramahan yang teramat hangat.
"Saya adalah direktur utama dari Nusantara Development Group."
"Saya mendengar reputasi luar biasa Mbak Intan dalam mengelola suplai skala besar di Zona Empat."
"Perusahaan kami sedang membuka tender pengadaan konsumsi untuk proyek resort mewah di lintas selatan senilai tiga miliar rupiah."
Baskora tersenyum, menyodorkan sebuah proposal tebal bermerek emas.
"Kami membutuhkan mitra lokal yang tangguh seperti Mbak Intan."
"Tanpa jaminan rumit, kami bisa mencairkan uang muka lima puluh persen besok pagi jika Mbak Intan bersedia menandatangani kesepakatan awal sore ini."
Tiga miliar rupiah. Uang muka lima puluh persen tanpa jaminan rumit.
Bagi pengusaha awam, penawaran itu adalah impian luar biasa yang datang bagai ketiban bulan.
Namun, saat Intan menatap wajah Baskora yang teramat ramah, matanya menangkap sesuatu di balik kehangatan itu.
Pola bicara yang terlalu manis, penawaran yang terlalu mudah, dan kilatan kecemasan halus saat jari pria itu mengetuk-ngetuk meja seraya mendesak penandatanganan sore itu juga.
Sensasi dingin di tengkuk Intan kembali berdesir.
Ia tidak lagi melihat seorang investor kaya yang dermawan. Di balik jas mahal dan kartu nama bersepuh emas itu, Intan melihat pola yang sama—sebuah jerat halus yang sedang dipasang oleh mangsa yang baru yang mengira Intan adalah target empuk yang mudah tergiur oleh kilauan uang cepat.
Intan tidak menolak secara kasar. Ia menyunggingkan senyuman profesional—senyuman dingin penuh kendali yang kini menjadi ciri khas barunya.
"Penawaran yang sangat menarik, Pak Baskora"
Jawab Intan tenang seraya menyentuh tepi dokumen proposal itu tanpa berniat membukanya saat ini.
"Namun di Katering Barokah, kami punya prosedur tetap."
"Setiap berkas kerja sama wajib melalui verifikasi auditor forensik kami terlebih dahulu selama tiga hari kerja."
Raut wajah Baskora sempat membeku selintas—sebuah patahan tipis pada topeng ramahnya—sebelum ia dengan cepat memaksakan senyumannya kembali.
"Ah... tentu."
"Kehati-hatian adalah ciri pebisnis sukses."
Saat Baskora pamit melangkah keluar ruko, Maya berdiri di samping Intan, menatap mobil sedan mewah itu melaju pergi.
"Serigala tua yang satu ini punya gaya yang lebih rapi dari Ardiansyah."
Komentar Maya dengan senyum tipis.
Intan meraih buku catatan barunya, membukanya di halaman kosong, lalu mencoretkan nama Baskora Wijaya di baris paling atas.
"Dulu aku adalah korban yang diburu"
Ujar Intan Saputri seraya menatap lurus ke arah jalan raya di luar ruko.
"Tapi di kota ini, jika ada serigala baru yang datang menawarinya kebohongan... merekalah yang akan menjadi mangsa."
*
*
*
Jangan lupa like, komen dan subscribe🤗
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya