Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Hidup Kembali

Aku Hidup Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan Yang Mulai Mengganggu

Bab 34

Pagi itu, Karin tiba di kampus beberapa menit lebih awal. Ia baru saja memasuki halaman fakultas ketika melihat Kai berdiri di dekat mesin minuman otomatis.

Pria itu tampak sedang memperhatikan layar ponselnya tanpa menyadari kehadirannya.

"Kai."

Kai mengangkat wajah.

"Karin."

Karin berjalan mendekat.

"Kamu sudah lama?"

"Baru."

"Sudah sarapan?" Tanya Karin.

Kai hanya diam. Karin langsung menghela napas.

"Pasti belum. Kamu juga ternyata."

"Aku buru-buru." Jawab Kai.

Karin membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah roti.

"Nih."

Kai menatap roti itu.

"Untuk aku?"

"Iya."

"Kamu beli dua?"

Karin tersenyum.

"Belajar dari kamu."

Kai tertawa kecil.

"Jadi sekarang gantian?"

"Anggap saja begitu."

Kai menerima roti tersebut.

"Terima kasih."

Karin mengangguk.

Mereka kemudian berjalan menuju gedung fakultas. Percakapan mereka sederhana. Tidak ada hal istimewa.

Namun bagi Karin, kebiasaan kecil seperti itu mulai terasa penting. Ia tidak lagi hanya menjalankan hubungan pura-pura. Ia mulai menikmati keberadaan Kai.

Di ujung koridor, Maureen melihat mereka. Langkahnya terhenti. Ia memperhatikan roti yang ada di tangan Kai. Lalu melihat senyum Karin.

Rasa tidak nyaman langsung muncul di dadanya. Ia tidak suka melihat Karin memberikan perhatian kepada Kai. Padahal sebelumnya ia tahu bahwa mereka memang dekat. Namun sekarang rasanya berbeda.

Maureen menggenggam map di tangannya lebih erat.

"Kenapa aku harus merasa seperti ini?"

Ia menarik napas panjang. Kemudian berjalan mendekati mereka.

"Kai."

Kai menoleh.

"Oh, Maureen."

Maureen tersenyum.

"Pagi."

"Pagi."

Tatapannya kemudian beralih kepada Karin.

"Hai, Karin."

"Hai."

Maureen kembali menatap Kai.

"Kamu nanti ada waktu?"

"Untuk apa?"

"Aku mau minta bantuan sebentar."

Kai terlihat berpikir.

"Soal tugas?"

"Bukan."

Maureen tersenyum.

"Hal lain."

Kai mengerutkan kening.

"Kalau tidak penting, mungkin lain kali."

Maureen terlihat sedikit kecewa.

"Sebentar saja." Bujuk Maureen.

Karin yang berdiri di samping Kai memilih diam.

Kai akhirnya mengangguk.

"Setelah kelas?" Tanya Kai.

Maureen tersenyum lega.

"Boleh. Jam berapa?"

"Selesai kelas." Ulang Kai.

"Baik."

Maureen mengangguk sebelum pergi.

Karin memperhatikan punggungnya. Begitu menjauh, Karin memberanikan diri untuk bertanya.

"Dia mau minta bantuan apa?"

Kai mengangkat bahu.

"Nggak tahu."

"Kamu tetap mau membantu?"

"Kalau memang bisa."

Karin tersenyum, tapi hatinya tidak merasa begitu.

"Iya."

Namun setelah itu, ia lebih banyak diam. Entah mengapa, ada rasa tidak nyaman yang kembali muncul.

-

-

-

Siang hari, setelah kelas selesai, Karin dan Nia keluar lebih dulu.

"Karin."

"Hm?"

Nia menunjuk ke arah halaman.

"Kamu lihat?"

Karin mengikuti arah pandangannya. Disana, Maureen sedang berdiri di dekat taman bersama Kai. Mereka berbicara cukup lama.

Karin berhenti. Nia langsung menoleh kepadanya.

"Kamu mau nunggu?"

Karin menggeleng.

"Nggak."

"Yakin?"

"Iya."

Nia menatap wajah sahabatnya.

"Kamu kelihatan nggak suka."

Karin terdiam.

"Aku cuma..."

Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Namun tingkahnya membuat Nia tersenyum kecil.

"Kamu cemburu?"

Karin langsung menoleh.

"Nggak."

"Yakin?"

"Yakin."

Nia terkekeh.

"Ya sudah kalau kamu bilang begitu."

Mereka kemudian berjalan meninggalkan tempat itu. Namun beberapa langkah kemudian, Karin menoleh lagi.

Tanpa sadar, matanya mencari Kai. Dan ketika melihat Maureen masih berdiri di dekatnya, dadanya kembali terasa tidak nyaman.

Sementara itu, di taman kampus, dimana Maureen dan Kai berada, gadis itu menyerahkan sebuah buku kepada Kai.

"Aku sebenarnya ingin minta bantuanmu soal ini."

Kai membuka beberapa halaman.

"Bagian mana?"

"Yang ini."

Maureen duduk di bangku. Kai berdiri di sampingnya sambil membaca.

"Ini sebenarnya cukup sederhana."

Kai lalu duduk tidak jauh dari Maureen. Ia menjelaskan beberapa bagian dengan tenang.

Maureen sendiri menggeser duduknya, mendekat. Memperhatikan wajah Kai lebih daripada isi buku.

"Kamu kalau menjelaskan sesuatu memang selalu seperti ini?"

"Seperti apa?"

"Sabar."

Kai menutup buku.

"Karena kamu bertanya."

Maureen tersenyum.

"Kalau aku sering bertanya?"

"Kalau aku punya waktu."

"Berarti aku boleh sering minta bantuan?"

Kai menatapnya.

"Jangan terlalu sering."

Senyum Maureen sedikit memudar.

"Kamu masih menjaga jarak?"

Kai tidak langsung menjawab.

"Aku cuma nggak ingin ada salah paham."

Maureen menunduk.

"Salah paham tentang apa?"

"Kamu tahu sendiri."

Beberapa detik hening.

Maureen kemudian tersenyum tipis.

"Kalau aku bilang aku memang ingin dekat denganmu?"

Kai menatapnya serius.

"Maureen."

"Apa?"

"Aku sudah punya Karin."

Kalimat itu membuat Maureen terdiam.

Meskipun Kai mengatakannya dengan tenang, jawabannya terasa seperti penolakan.

"Kalian benar-benar pacaran?"

Kai terdiam sesaat. Ia tahu hubungan mereka bermula dari kesepakatan.

Namun sekarang, setiap kali seseorang mempertanyakan Karin, jawabannya terasa semakin sulit.

"Iya."

Maureen tersenyum tipis.

"Tapi aku dengar kalian awalnya cuma pura-pura."

Kai langsung menatapnya.

"Kamu dengar dari siapa?"

Maureen sedikit terkejut. Ia sadar telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia ketahui.

"Aku cuma..."

Kalimat Maureen menggantung membuat Kai menunggu. Namun akhirnya tersenyum. "Orang-orang kampus banyak bicara." Kilah Maureen.

Kai tidak menjawab. Namun kali ini tatapannya berubah. Ia semakin yakin bahwa Maureen mengetahui lebih banyak tentang dirinya dan Karin daripada yang seharusnya.

"Aku harus pergi."

Kai mengembalikan bukunya.

Maureen pun segera berdiri.

"Kai."

"Hm?"

"Kalau hubungan kalian cuma dimulai dari pura-pura..." Ia menatap Kai lekat-lekat. "Kenapa kamu masih mempertahankannya?"

Kai tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu membuatnya berpikir. Karena ia sendiri mulai tidak yakin apakah hubungan mereka masih sekadar pura-pura.

Namun sebelum sempat mengatakan sesuatu, ia memilih pergi.

"Aku ada urusan."

Maureen hanya berdiri diam. Tatapannya mengikuti Kai. Kali ini ia tidak merasa kalah. Justru ia semakin yakin, kalau hubungan Kai dan Karin memang dimulai dari kebohongan, berarti masih ada celah. Dan ia akan masuk melalui celah itu.

-

-

-

Sore menjelang.

Karin sedang duduk di halte menunggu bus datang. Kai yang melihatnya ingin menghampiri, sebelum ia pergi ke bengkel. Motor yang Kai kendarai pun berhenti tak jauh dari halte.

"Sedang menunggu bus?"

Karin menoleh.

"Kai."

"Mau aku antar?"

"Nggak apa-apa. Biar aku menunggu bus saja."

Akhir-akhir ini Gio tak pernah lagi mengganggu untuk mengantar pulang. Karin jadi bisa tenang menunggu bus datang. Ia tak ingin merepotkan Kai. Karena ia tahu, jika Kai mengantar dirinya, Kai akan terlambat ke bengkel karena arah tujuan mereka berbeda.

Kai lalu duduk di sampingnya. Beberapa detik mereka hanya diam.

"Kamu tadi sama Maureen?"

Pertanyaan itu akhirnya keluar juga.

"Iya."

"Ada urusan?"

"Tugas."

Karin mengangguk.

"Oh."

Kai memperhatikan wajah Karin.

"Kamu kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa."

"Kamu kelihatan beda."

Karin tersenyum tipis.

"Mungkin capek."

Kai tidak memaksa. Namun setelah beberapa detik, ia berkata,

"Kalau ada sesuatu, bilang saja."

Karin menatapnya.

"Aku boleh jujur?"

"Boleh."

Karin menarik napas sebelum bicara. Lalu mengembuskannya perlahan. Ia berusaha mengatur detak jantungnya yang mulai berdetak tak seperti biasa.

"Aku sebenarnya nggak suka melihat kamu terlalu dekat sama Maureen."

Kai terdiam. Ia memperhatikan Karin. Dan gadis itu langsung merasa malu.

"Tapi bukan berarti aku melarang kamu berteman." Lanjut Karin.

"Aku tahu."

"Aku cuma..." Karin menunduk. "Aku nggak tahu kenapa."

Kai menatapnya cukup lama. Kemudian ia berkata pelan,

"Aku juga nggak ingin kamu merasa seperti itu."

Karin mengangkat wajah.

"Maksudnya?"

"Aku akan menjaga jarak."

Karin terkejut.

"Kamu nggak perlu..."

"Aku mau." Jawaban itu membuat Karin terdiam. Kai melanjutkan, "Aku nggak ingin membuat kamu nggak nyaman."

Untuk beberapa detik, Karin tidak mampu berkata apa-apa. Ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya.

"Terima kasih."

Kai mengangguk.

Mereka kembali duduk dalam diam. Namun kali ini, diam itu terasa berbeda. Lebih dekat, lebih nyaman. Dan mungkin, sedikit lebih jujur daripada sebelumnya.

-

-

-

Bersambung...

1
happy mom's
Alurnya lambat, unfavorit
happy mom's
Terlalu mbulet 🤣
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
kali ini jalanmu tak kan mulus gi
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
mungkin jalanmu akan berubah mulai sekarang gi..
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
weehh gercep juga si gio ya, udah sampai ke bengkel
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
kita liat
Author.N.
Untunglah ada saksi
Author.N.
pasti ini orang suruhan Gio
Author.N.
Dasar licik Gio 😏
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
semoga bisa merubah semua yg lalu
Author.N.
alhamdulillahnya tuh ayah ibunya menyambut baik
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
mau apa? bikin gentar kai?
Author.N.
lahhh dianya beneran 😅
Author.N.
pikirkan cara lagi buat menghancurkan Gio, Rin. Cari tau kehidupan dia
Author.N.
huwaaa misteri lagi. Gio dari awal licik sih ya,
Author.N.
cieee belum2 udah perhatian nih 😍
Author.N.
hati2 abang Kai ada yg lagi mengawasimu
Author.N.
Kasian 🤣
Author.N.
thoorr kasih visualnya cepetaaann 😍
Author.N.
mau es teh jumbo yang 4rebuan apa 5rebuan nih bang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!