Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.
Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.
Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Sarif masih mengenakan seragam loreng lengkap, duduk di samping seorang prajurit yang sedang diperiksa. Wajahnya terlihat lelah, tetapi sorot matanya tetap tenang ketika berbicara kepada pasien. Tara memilih menunggu hingga pemeriksaan selesai.
Beberapa menit kemudian, Sarif menghampirinya.."Maaf, lama ya."
Tara menggeleng sambil menyerahkan rantang.."Nggak apa-apa.".Namun pandangannya masih tertuju kepada seorang prajurit yang duduk diam di dalam ruangan. "Bang..."
"Iya?"
"Bapak itu kenapa?"
Sarif ikut menoleh ke arah prajurit tersebut. "Waktu pengamanan, kepalanya terkena tembakan."
Tara sontak terdiam.
"Alhamdulillah nyawanya tertolong..Tapi sekarang dia masih perlu menjalani pendampingan trauma tempur."
Tara kembali melihat ke arah prajurit itu. Dari luar memang tidak tampak luka yang mengerikan, tetapi raut wajahnya menyimpan beban yang sulit dijelaskan..Saat itulah Tara menyadari bahwa tidak semua luka terlihat oleh mata..Ada luka yang telah dijahit. Ada yang sudah sembuh secara fisik. Namun ada pula luka yang menetap di dalam ingatan dan membutuhkan waktu, perhatian, serta pendampingan untuk benar-benar pulih. Tara menggenggam pelan tangan Sarif. "Berat ya, Bang..."
Sarif mengangguk. "Kadang mengobati tubuh lebih mudah. Yang sulit adalah membantu mereka berdamai dengan apa yang sudah mereka alami."
Tara menatap suaminya dengan rasa bangga yang semakin besar. Kini ia mengerti, tugas Sarif bukan sekadar menjadi dokter yang meresepkan obat. Ia juga menjadi tempat para prajurit mencari harapan untuk kembali bangkit setelah menghadapi situasi yang mengancam keselamatan mereka. Di balik seragam loreng yang dikenakan suaminya, ada tanggung jawab besar untuk menjaga kesehatan, memulihkan luka, dan mendampingi mereka yang membawa pulang beban yang tak selalu terlihat.
***
Sejak aktif mengikuti kegiatan Persit, Tara mulai menyadari bahwa hampir setiap ibu memiliki keahlian yang bisa dibanggakan. Ada yang sangat mahir memasak hingga sering diminta menjadi instruktur pelatihan, ada yang pandai merangkai bunga, ada yang ahli menjahit, membuat kerajinan tangan, menjadi pembawa acara, bahkan ada yang memiliki kemampuan mengelola usaha rumahan dengan sangat baik.
Melihat itu semua, Tara mendadak merasa dirinya biasa-biasa saja. Malam itu, setelah semua pekerjaan rumah selesai, ia duduk di ruang tamu sambil menopang dagu. Kepalanya dipenuhi pertanyaan. Selama sekolah dulu, ia bukan siswi yang menonjol. Nilainya cukup baik, tetapi tidak pernah menjadi juara kelas. Ia juga tidak memiliki bakat seni yang luar biasa. Rasanya, dibandingkan ibu-ibu lain, dirinya tidak memiliki sesuatu yang benar-benar istimewa.
Sarif yang melihat istrinya melamun menutup buku yang sedang dibacanya. "Ada apa?"
Tara mengembuskan napas pelan. "Aku lagi mikir. Aku kok nggak punya keahlian yang menonjol ya? Ibu-ibu di sini hebat semua. Ada yang bisa ini, bisa itu. Aku rasanya biasa banget."
Sarif tersenyum kecil. "Siapa bilang?"
Tara menunjuk dirinya sendiri. "Aku."
Sarif menggeleng. "Kamu lupa? Kamu bisa mengajar bahasa Inggris."
Tara terdiam beberapa detik. "Iya juga ya... Dulu kan cuma ngajar les. Menurutku itu biasa."
"Biasa menurutmu. Tapi belum tentu menurut orang lain." Sarif menatap istrinya dengan bangga. "Tidak semua orang bisa menjelaskan pelajaran sampai muridnya paham. Tidak semua orang punya kesabaran mengajar. Itu keahlian."
Mata Tara perlahan berbinar. "Berarti... Aku bisa berbagi ilmu bahasa Inggris?"
Sarif mengangguk. "Tentu. Kalau organisasi atau anak-anak di sekitar satuan membutuhkan, kamu bisa membantu. Apa yang kamu anggap biasa, bisa jadi sangat bermanfaat bagi orang lain."
Ucapan sederhana itu membuat Tara tersenyum lebar. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain, sampai lupa menghargai kemampuan yang telah dimilikinya. Mungkin ia bukan yang paling pandai memasak atau paling mahir memimpin acara. Namun, ia memiliki kemampuan mengajar yang lahir dari pengalaman dan kesabaran. Dan malam itu, berkat pengingat dari Sarif, Tara menemukan kembali rasa percaya dirinya. Ia pun bertekad suatu hari nanti membuka kelas bahasa Inggris bagi anak-anak di lingkungan satuan, agar ilmu yang dimilikinya dapat menjadi manfaat bagi lebih banyak orang.
***
Beberapa minggu kemudian, ruang tamu rumah dinas Tara berubah menjadi tempat yang jauh lebih ramai dari biasanya. Sebuah papan tulis kecil berdiri di depan ruangan, beberapa meja lipat tersusun rapi, dan huruf-huruf alfabet berwarna-warni menghiasi dinding.
Di depan pintu rumah, sebuah papan sederhana bertuliskan, "Les Bahasa Inggris Bu Sarif", berhasil menarik perhatian anak-anak di lingkungan asrama. Awalnya hanya lima orang yang mendaftar, sebagian besar anak prajurit yang penasaran karena mendengar kabar bahwa istri dokter batalyon pandai mengajar. Namun, dari mulut ke mulut, jumlah murid terus bertambah hingga ruang tamu yang semula terasa luas mulai dipenuhi suara tawa dan semangat belajar.
Tara mengajar dengan caranya sendiri. Tidak kaku seperti di sekolah. Ia mengajak anak-anak bernyanyi, bermain tebak kata, membuat permainan mencari benda di rumah menggunakan bahasa Inggris, hingga memberi hadiah kecil berupa permen bagi yang berani menjawab.
Tak heran, setiap sore rumah dinas mereka dipenuhi suara anak-anak yang berteriak riang, "Good afternoon, Bu Sarif!" dengan logat yang masih belepotan. Tara hanya tertawa sambil membalas salam mereka dengan penuh semangat.
Suatu sore, Sarif pulang lebih cepat dari biasanya. Baru saja turun dari mobil, ia sudah mendengar suara belasan anak mengeja kosakata bahasa Inggris dengan lantang dari dalam rumah. Ia berdiri beberapa saat di teras, mengamati istrinya yang begitu bersemangat menjelaskan pelajaran sambil sesekali membuat lelucon hingga seluruh murid tertawa. Pemandangan itu membuat Sarif ikut tersenyum. Dulu Tara merasa dirinya tidak memiliki kelebihan yang menonjol. Kini, kemampuan yang selama ini dianggap biasa justru menjadi sumber manfaat bagi banyak orang.
Ketika kelas selesai dan anak-anak satu per satu berpamitan, beberapa ibu datang menjemput sambil mengucapkan terima kasih. Mereka bercerita bahwa anak-anak mereka kini lebih percaya diri belajar bahasa Inggris di sekolah, bahkan ada yang mulai bercita-cita menjadi dokter militer seperti "Om Sarif". Mendengar itu, mata Tara berbinar. Ia tidak pernah menyangka kelas kecil di ruang tamunya mampu membawa kebahagiaan sebesar itu.
Malam harinya, Tara bersandar di bahu Sarif sambil tersenyum puas. "Bang, ternyata aku memang cocok jadi guru ya."
Sarif mengangguk pelan. "Aku sudah tahu itu sejak pertama kali bertemu denganmu."
Tara menoleh heran. "Serius?"
Sarif tersenyum hangat. "Iya. Orang yang mengajar dengan hati selalu punya cara membuat orang lain mencintai ilmu."
Mendengar pujian itu, Tara terkekeh malu. Ia lalu memandang ruang tamu yang kini kembali sepi. Besok sore, ruangan itu akan kembali dipenuhi tawa anak-anak. Dan untuk pertama kalinya sejak menjadi istri tentara, Tara merasa bahwa ia juga sedang mengabdi, bukan dengan mengenakan seragam, melainkan dengan membagikan ilmu yang dimilikinya kepada generasi kecil di lingkungan tempat suaminya mengabdi.