"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16 - dia bukan milik mu
Hana menatap Rizki dengan curiga, suaranya terdengar sedikit cemburu. "Kamu memperhatikan pasangan itu terus... apakah kamu kenal sama mereka?"
Rizki buru-buru mengalihkan pandangan, berusaha terlihat biasa saja. "Enggak kok."
"Oh... kirain kamu mengenalnya," gumam Hana, tapi rasa curiganya tak hilang begitu saja. Dari tadi dia menyadari mata Rizki tak lepas dari wanita itu — ada sesuatu di sana yang Rizki sembunyikan.
Rizki berdeham pelan, mengubah topik pembicaraan. "Oh iya, aku sudah selesai. Nanti kamu ikut aku ngecek rumah baru itu ya?"
"Oke, nanti kita ke sana," jawab Hana langsung ceria lagi, lupa sejenak dengan kecurigaannya.
Mereka berdua pun berdiri dan berjalan keluar dari restoran. Rizki tanpa sadar menggandeng tangan Hana — bukan karena cinta, tapi karena ingin menutupi kegelisahannya sendiri.
Indah yang melihat itu dari kejauhan, hatinya seakan terhenti. Dadanya terasa sesak, napasnya tertahan di tenggorokan. "Jadi... Rizki sudah punya kekasih. Aku pikir belum ternyata sudah ada wanita di sisinya." Matanya berkaca-kaca menatap Rizki yang sedang berjalan beriringan dengan wanita itu. "Selama ini aku diam-diam menyukainya, tapi tidak pernah sempat mengatakannya. Dan sekarang... dia sudah punya pujaan hatinya sendiri."
Indah menunduk dalam, menahan agar air matanya tidak jatuh. Rasanya baru saja ia menyadari perasaannya, dan saat itu juga ia harus kehilangan kesempatannya.
Indah duduk diam di hadapan Daffa, mendengarkan tanpa benar-benar menyimak. Pikirannya masih tertinggal pada sosok Rizki yang baru saja pergi bersama wanita lain. Hatinya terasa berat, seakan ada batu besar yang menumpuk di dada.
Daffa menyadari kekosongan tatapan Indah. Perlahan, tangannya meraih tangan Indah, menggenggamnya lembut — berusaha menarik perhatian gadis itu kembali ke dirinya.
"Dah... abis ini kita mau ke mana lagi?" tanyanya pelan, berusaha mencairkan suasana.
Indah tersentak sedikit, lalu tersenyum tipis yang tak sampai ke mata. "Kayaknya pulang aja deh, Daff."
"Ya sudah, kalau gitu..." Daffa mengangguk pelan, namun di dalam hatinya ia sedang bergumul hebat. "Sebenarnya aku ingin bilang semuanya sekarang... tapi rasanya belum pas hari ini. Takutnya Indah masih kepikiran soal tadi. Apakah ini terlalu buru-buru? Atau justru aku harus bilang sekarang juga?"
Ia menatap wajah Indah lekat-lekat. Sudah 8 tahun ia menyimpan perasaan ini — sejak masa sekolah, sejak pertama kali melihat Indah tersenyum. Selama itu pula ia selalu ada untuknya, menemani, melindungi, tanpa pernah berani mengungkapkan. Dan sekarang, melihat Rizki hadir kembali di hidup Indah, ketakutan itu semakin menjadi-jadi.
"Aku takut... takut kalau aku diam saja, nanti Indah dimiliki oleh pria lain. Dan aku akan menyesal seumur hidupku."
Tapi melihat tatapan seduh Indah, ia menelan kembali kata-kata itu. Mungkin memang belum saatnya. Bukan saat hati Indah sedang terluka dan bingung seperti ini.
"Ya sudah... ayo aku antar pulang," ucapnya pelan, menggenggam tangan Indah sedikit lebih erat — seakan takut kehilangan sosok yang paling berharga di hidupnya.
Sepanjang perjalanan pulang, Indah hanya diam. Tubuhnya terasa lemas, seakan seluruh tenaganya habis begitu saja. Bayangan Rizki yang berjalan beriringan dengan wanita itu terus menghantui pikirannya, membuat dadanya sesak setiap kali ia mencoba menarik napas. Ia tahu, ia tidak punya hak untuk cemburu — tapi hatinya tetap terasa perih seolah baru saja kehilangan sesuatu yang paling berharga.
Sesampainya di depan rumah, Daffa menghentikan motornya. Indah turun dengan langkah berat, senyumnya pucat dan tak bersemangat. Kebetulan, di teras rumah sudah ada ibunya yang sedang menunggu sambil menyapu halaman.
"Terima kasih ya, Daff..." ucap Indah pelan, suaranya hampir tak terdengar.
"Sama-sama, Indah. Istirahat yang cukup ya, jangan lupa makan," pesan Daffa lembut, matanya tak lepas dari wajah Indah yang tampak begitu murung. Ia ingin sekali memeluknya dan mengatakan bahwa dia ada di sini, tapi ia menahannya. Takut malah membuat Indah makin tidak nyaman.
Ibu Indah yang melihat itu segera menyambut putrinya. "Eh, sudah pulang, Nak? Terima kasih ya, Daffa, sudah diantar sampai rumah," sapa Ibu dengan ramah.
"Sama-sama, Tante. Kalau begitu Daffa pamit pulang dulu ya," jawab Daffa sopan, lalu melambaikan tangan sebelum akhirnya melajukan motornya pergi.
Indah berdiri mematung di depan pintu, menatap punggung Daffa yang menjauh, lalu berbalik masuk ke rumah dengan langkah yang masih terasa berat. Hatinya masih belum bisa menerima kenyataan — Rizki sudah milik orang lain.
"Indah... kamu diantar Daffa lagi ya?" tanya Mama sambil menatap putrinya yang tampak murung.
Lalu Mama melanjutkan dengan tatapan bingung sekaligus ingin tahu. "Mama jadi bingung nih... kamu sebenarnya suka sama Rizki atau sama Daffa?"
Indah langsung mengerucutkan bibirnya, berusaha mengalihkan pembicaraan. "Mama ini ngomong aneh-aneh lagi deh! Daffa itu cuma sahabat Indah, nggak lebih. Nggak mungkin Indah suka sama Daffa, Mah."
Mama tersenyum tipis, tidak menyerah. "Terus kalau sama Rizki... kamu kan pasti suka, kan?"
Pertanyaan itu seakan menembus jantungnya. Indah tak menjawab, langsung melangkah masuk ke rumah dan menuju kamarnya dengan langkah cepat.
"Kok nggak jawab sih, Indah? Anak ini..." gumam Mama sendiri di teras.
Di dalam kamar, Indah menutup pintu dan bersandar di baliknya. Matanya mulai berkaca-kaca. "Karena aku tahu... Rizki sudah punya pasangan. Aku menyukainya dalam diam, tapi Rizki pasti tidak menyukaiku, kan? Dia sudah bahagia dengan wanita itu. Perasaanku ini hanya akan jadi luka untuk diriku sendiri..."
Ia berjalan pelan ke arah tempat tidur, menjatuhkan dirinya di atas kasur, dan membiarkan air matanya jatuh perlahan. Cinta yang tak sempat diungkapkan, harus berakhir sebelum sempat dimulai.
Terdengar ketukan lembut di pintu kamar.
"Nak... kamu mau makan nggak?" panggil Mama dari luar, suaranya terdengar penuh perhatian.
Indah mengusap sisa air matanya dengan cepat, berusaha terdengar tenang. "Nggak usah, Ma. Tadi aku sudah makan di luar kok."
"Ya sudah kalau gitu... ya sudah istirahatlah ya, jangan begadang," pesan Mama lembut, tak ingin memaksa.
"Iya, Mama..." jawab Indah pelan, lalu terdengar langkah kaki Mama yang perlahan menjauh.
Indah menarik selimut hingga dada, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Dadanya masih terasa sesak, bayangan Rizki dan wanita itu terus berputar di kepalanya. "Sudahlah, Indah... lupakan saja. Dia bukan milikmu, dan mungkin tidak akan pernah jadi milikmu. Istirahatlah, biar luka ini sembuh pelan-pelan..." batinnya berbisik, lalu memejamkan mata berharap esok hari akan lebih baik.