"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."
Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.
Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.
Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih Dari Kegelapan
Lampu indikator pada dinding koridor berkedip ritmis, memancarkan cahaya kebiruan yang dingin di sepanjang lorong bawah tanah Markas Utama Red Crows. Bau mesiu dari sisa-sisa pertempuran di luar perkebunan masih tercium tipis, bercampur dengan bau minyak senjata dan antiseptik medis.
Mike melangkah lebar meninggalkan ruang perawatan intensif tempat Daren terbaring tak sadarkan diri. Sepatu kulitnya yang dipoles mengilap mengetuk lantai beton bertulang dengan irama yang konstan dan tanpa ragu. Wajahnya tetap datar, rapat tanpa ekspresi, seperti topeng baja yang tak pernah melonggarkan lipatannya. Namun di balik tatapan mata kelabunya yang tenang, sebuah kalkulasi rumit sedang berjalan.
Ia mengeluarkan sebuah gawai terenkripsi dari balik mantel jasnya, menekan beberapa pintasan tombol sebelum menempelkan perangkat itu ke telinganya.
"Joe," panggil Mike tanpa basa-basi begitu sambungan terhubung. Suaranya serak dan tegas, tidak meninggalkan ruang untuk bantahan.
"Ada apa, Kapten? Aku sedang sibuk membersihkan jejak digital dari bentrokan di sektor empat," sahut sebuah suara santai dari ujung telepon. Suara itu diiringi ketukan papan ketik bernada cepat yang konstan.
"Hentikan dulu pekerjaan sekundermu. Aku butuh identitas seseorang secara instan," potong Mike dingin. "Aku baru saja membawa seorang remaja dari pinggiran perkebunan. Tanpa tanda pengenal, tanpa tato organisasi, dan tanpa nomor registrasi biometrik di basis data dasar kita. Ambil data wajahnya dari kamera ruang medis sekarang. Aku ingin riwayat hidupnya, keluarganya, dan lokasi tempat dia tinggal sebelum malam ini."
Keheningan sejenak terjadi di saluran telepon, hanya menyisakan derak sinyal radio yang samar.
"Bukan anggota kita? Dan kau membawanya masuk ke Sector Zero?" Suara Joe berubah agak serius, meski nada sinis khasnya masih tersisa. "Mike, kalau Argus tahu kau membawa warga sipil tanpa izin—"
"Argus sudah tahu," sela Mike singkat. "Dia baru saja melihatnya sendiri di ruang medis. Sekarang jalankan pemindaian tingkat lanjut. Temukan siapa anak itu sebelum aku dipanggil ke ruangan utama."
"Sialan. Kau selalu membuat pekerjaanku makin menantang. Beri aku sepuluh menit," jawab Joe sebelum menutup sambungan secara sepihak.
Mike memasukkan kembali gawainya ke dalam saku. Dia menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah pintu ganda berbahan baja tebal bernomor A-01. Dua orang pengawal bertubuh tegap dengan seragam taktis hitam dan senapan serbu terkokoh berdiri di sisi pintu. Mereka langsung menundukkan kepala begitu melihat kehadiran Mike.
Sensor biometrik di samping pintu memindai pupil mata Mike. Bunyi desis pneumatik terdengar nyaring saat kait baja otomatis terbuka, membiarkan pintu bergeser ke samping secara perlahan.
Di balik pintu itu terletak Ruang Eksekutif Utama—sebuah ruangan luas bermarkas kedap suara dengan arsitektur modern yang didominasi warna gelap dan dinding kaca setinggi plafon yang menampilkan pemandangan ruang kontrol utama di lantai bawah. Di tengah ruangan, membelakangi pintu masuk, berdiri sebuah kursi kerja berukir kulit hitam yang megah.
Seorang pria tinggi besar berdiri di dekat jendela kaca besar, mengamati lusinan layar pemantau yang menampilkan seluruh aktivitas pergerakan pasukan di luar Kota Atlas. Pria itu mengapit sebatang cerutu tebal di antara jari-jarinya, membiarkan asap putih tipis membumbung membasahi udara ruangan.
Argus—Pemimpin Tertinggi Red Crows.
Aura ketegangan di ruangan itu sepuluh kali lebih pekat dibanding di ruang medis. Argus tidak sekadar memimpin sebuah organisasi bawah tanah; dia adalah penguasa mutlak yang mengendalikan seluruh transaksi hitam, jaringan logistik rahasia, serta ribuan nyawa prajurit di Kota Atlas. Kekejamannya terkenal tanpa ampun, dan ketajamannya dalam menilai manusia adalah alasan mengapa Red Crows berdiri kokoh di puncak hirarki kejahatan selama dua dekade.
"Kau membawanya ke dalam, Mike," suara Argus memecah kesunyian. Suara itu rendah, berat, dan bergema seperti dentuman drum di dalam ruangan yang hening. Dia tidak membalikkan badan, tetap menatap layar pemantau di depannya.
Mike berjalan mendekat, lalu berhenti tepat lima langkah di belakang kursi Argus. Dia menegakkan posisinya, meletakkan tangan kirinya di belakang punggung.
"Benar, Tuan," jawab Mike tanpa celat. Suaranya tenang, menunjukkan posisi sejatinya sebagai tangan kanan tepercaya sekaligus Pemimpin Eksekutif tertinggi dalam jajaran komando Argus. Di antara ratusan pejabat organisasi, hanya Mike yang memiliki keberanian untuk berbicara secara langsung tanpa gemetar di hadapan Argus.
"Berikan aku alasan yang logis," kata Argus pelan. Pria itu memutar tubuhnya perlahan. Matanya yang berwarna hitam pekat menatap lurus ke arah Mike. "Aturan organisasi kita ditulis dengan darah, dan kau adalah orang pertama yang menghafalnya luar kepala. Orang luar yang menginjakkan kaki di ruang medis Markas Utama tanpa status rekrutmen hanya memiliki satu takdir: eliminasi instant. Mengapa budak tak dikenal itu masih bernapas di ranjang rumah sakitku?"
Mike tidak mengedipkan mata. "Kondisi malam ini sangat gelap dan berbadai, Tuan. Saat penyisiran area perimeter pasca-bentrokan, saya menemukan anak itu tergeletak di bawah pohon dekat perbatasan perkebunan. Pakaian hitam yang dikenakannya bercampur lumpur membuat penampilannya menyerupai seragam rekrut muda kita yang terpisah dari regu."
"Itu menjelaskan kesalahan awalmu di lapangan," balas Argus seraya menghembuskan asap cerutunya ke udara. "Tapi setelah kau tahu di ruang medis bahwa dia bukan anggota kita... kau justru memerintahkan Dr. Anthony untuk menstabilkan kondisinya dengan obat-obatan mahal kita. Mengapa tidak langsung membuang bangkai itu ke insinerator?"
"Karena ketahanan fisiknya tidak masuk akal, Tuan Argus," jawab Mike tegas. "Dr. Anthony memeriksa organ dalamnya. Punggungnya dipenuhi luka penyiksaan berulang bertahun-tahun, iganya retak, hatinya mengalami trauma berat, dan dia menderita demam tinggi serta malnutrisi akut. Dalam kondisi medis seperti itu, manusia biasa seharusnya sudah mati dua jam sebelum saya menemukannya."
Mike maju satu langkah, menatap mata sang Pemimpin secara langsung. "Tapi anak itu berlari sejauh belasan kilometer dari pusat kota menuju perkebunan di tengah badai hujan. Jantungnya menolak untuk berhenti berdetak. Saya melihat potensi laten dari dorongan bertahan hidup yang tidak wajar. Orang dengan ketahanan psikologis seperti itu jarang ditemukan, bahkan di antara rekrutan terbaik kita."
Argus mendengarkan penjelasan itu dalam diam. Wajah bergaris tegas milik penguasa bawah tanah itu tetap dingin tanpa riak emosi. Sebagai tangan kanannya, Mike terkenal sangat cuek, dingin, dan berdarah dingin. Mike tidak pernah menyia-nyiakan waktu atau belas kasihan pada hal-hal yang tidak berguna. Jika seorang Mike—yang terkenal tak berhati—sampai menaruh perhatian pada seorang remaja asing, artinya ada sesuatu yang benar-benar tidak biasa pada anak tersebut.
Argus mengetuk-ngetukkan jari-jarinya yang kekar pada lengan kursi kayu mahogany. "Kemauan untuk bertahan hidup adalah hal yang murah di dunia bawah tanah, Mike. Banyak anjing jalanan yang memiliki hal itu sebelum akhirnya mati tertembak di gang sempit. Jika anak ini ternyata adalah spionase dari organisasi rival yang memanfaatkan kelalaianmu... aku sendiri yang akan menguliti kepalamu."
"Saya siap menerima konsekuensinya jika dugaan saya salah," balas Mike tanpa ragu sedikit pun.
Argus terdiam. Dia mengangkat cerutunya kembali ke bibir, mempertimbangkan dua pilihan cepat dalam kepalanya: menyuruh pengawal mengeksekusi remaja itu sekarang juga untuk menjaga kerahasiaan markas, atau membiarkannya hidup jika ada nilai guna yang bisa diperah dari penderitaannya.
BEEP! BEEP!
Pintu ruang eksekutif kembali bergeser terbuka secara mendadak. Sesosok pria muda berkacamata dengan rambut sedikit berantakan melangkah masuk dengan terburu-buru. Di tangannya, dia memegang sebuah tablet taktis tembus pandang yang menampilkan grafik data serta foto-foto beresolusi tinggi.
Joe—Eksekutif Divisi Informasi dan Teknologi Red Crows.
"Tuan Argus, Mike," panggil Joe sembari membetulkan posisi kacamatanya yang meluncur turun di batangnya. Dia mengatur napasnya sejenak sebelum berdiri sejajar di samping Mike. "Aku mendapatkan data pemuda itu. Sistem pengenalan wajah biometrik kita berhasil menembus dokumen sipil Kota Atlas setelah aku meretas peladen kependudukan lokal."
Argus mengibaskan tangannya, memberi sinyal agar Joe langsung menyampaikan inti informasi tanpa bertele-tele.
Joe menggeser layar tabletnya, memproyeksikan tampilan holografik tiga dimensi ke tengah ruangan. Gambar foto wajah Daren yang lebam bercampur noda darah muncul melayang di udara, berdampingan dengan berkas sipil resminya.
"Nama budak ini adalah Daren," ujar Joe dengan nada bicara cepat khas analisis data. "Usia lima belas tahun. Status hukum: Yatim piatu sejak usia lima tahun setelah kedua orang tua kandungnya tewas dalam kecelakaan lalu lintas."
Joe menekan tombol di layar tablet, mengalihkan dokumen ke berkas adopsi. "Sepuluh tahun lalu, dia diadopsi secara resmi oleh pasangan pengusaha kelas menengah atas di Kota Atlas. Pria bernama Deni dan istrinya, Tia. Mereka memiliki satu anak kandung bernama Dion."
"Lalu?" tanya Argus dingin, matanya menatap foto Daren yang terpampang di udara.
"Data sipil mencatat bahwa Daren terdaftar sebagai anak angkat resmi, namun seluruh rekam medis sekolah dan asuransinya terhenti total sejak usia enam tahun," lanjut Joe dengan raut wajah yang berubah agak jijik saat membaca detail laporan. "Aku mengambil alih kamera pengawas lalu lintas dan kamera keamanan swasta di sekitar kediaman keluarga Deni dari dua jam yang lalu."
Joe menampilkan rekaman video yang dipercepat. "Lihat ini. Dua jam lalu, di tengah badai hujan, anak ini melompati pagar belakang kediaman mewah Deni. Dia kabur dengan kondisi terluka parah. Menurut analisis pola luka dari foto medis Dr. Anthony dan data lingkungan rumah tersebut, Daren bukan dipelihara sebagai anak angkat. Keluarga Deni memanfaatkannya sebagai pekerja paksa tanpa upah—atau simpelnya, babu perbudakan domestik."
Joe mengetuk dokumen terkait kejadian malam ini. "Satu jam sebelum dia kabur, anak kandung mereka, Dion, memecahkan sebuah vas antik mahal di ruang tengah. Untuk menghindari hukuman, Dion menuduh Daren sebagai pelakunya. Deni dan Tia menyiksa Daren secara brutal menggunakan gesper kulit berujung besi di saat Daren sedang menderita demam tinggi parah. Anak ini disiksa hingga pingsan, lalu diperintahkan membersihkan darahnya sendiri sebelum akhirnya dia memutuskan kabur menembus badai."
Ruangan eksekutif itu kembali diselimuti keheningan yang berat. Joe mematikan proyeksi holografiknya, melipat tangan di dada.
"Dia tidak memiliki hubungan dengan organisasi rival, tidak memiliki latar belakang militer, dan sama sekali bukan mata-mata," pungkas Joe. "Dia hanya seekor anjing jalanan yang baru saja melarikan diri dari pembantaian di dalam rumah majikannya."
Mike melirik ke arah Argus. "Penjelasan Joe membuktikan bahwa keberadaannya di perkebunan murni karena kebetulan dan keputusasaan untuk melarikan diri."
Argus tidak langsung menjawab. Dia berdiri dari kursi mewahnya. Pria berbadan tegap itu berjalan perlahan mendekati dinding kaca, menatap kegelapan lorong di bawahnya. Cerutu di tangannya dimatikan pada asbak kristal di meja.
"Seorang anak usia lima belas tahun... disiksa selama sepuluh tahun, tidak diberi makan, diinjak-injak, lalu berlari belasan kilometer dalam kondisi paru-paru dan hatinya rusak..." gumam Argus pelan. Ada sesuatu yang bergeser dalam tatapan matanya yang semula dingin tak tersentuh.
Sebagai pemimpin Red Crows, Argus telah melihat ribuan orang mati di depannya. Dia telah membunuh ratusan musuh dan melatih ratusan prajurit berdarah dingin. Kebanyakan orang yang mengalami penyiksaan seperti Daren akan menyerah, menjadi gila, atau memohon untuk dibunuh. Namun remaja ini tidak memilih untuk mati. Dia memilih untuk merangkak keluar dari nerakanya sendiri.
"Ikut aku," perintah Argus singkat.
Tanpa menunggu balasan, Argus melangkah lebar keluar dari ruang eksekutif. Mike dan Joe saling berpandangan sejenak sebelum berjalan mengiringi langkah Pemimpin Tertinggi mereka dari belakang.
Ketiga pria berkuasa itu menyusuri koridor beton menuju Ruang Perawatan Intensif Sektor Medis. Para penjaga dan tim medis yang berpapasan di sepanjang jalan serta-merta menepi, membungkukkan badan penuh rasa hormat dan takut.
Pintu geser otomatis ruang medis terbuka. Dr. Anthony yang sedang memeriksa monitor tanda-tanda vital Daren terkejut dan segera berdiri tegap, memberikan penghormatan militernya.
Argus mengibaskan tangan, memberi isyarat agar dokter senior itu tidak perlu bersuara. Pria besar itu melangkah mendekati ranjang tempat Daren terbaring.
Di atas ranjang berbahan besi dingin, Daren terlihat begitu kecil dan rapuh. Tubuhnya dipenuhi selang infus dan kabel pemantau jantung. Masker oksigen menutupi separuh wajahnya yang pucat pasi dan penuh luka lebam. Suara bip teratur dari monitor jantung menjadi satu-satunya bunyi yang memecah kesunyian di dalam ruangan.
Argus berdiri tepat di samping ranjang. Dia menundukkan kepalanya, menatap wajah remaja lima belas tahun itu dari dekat. Mata Argus yang tajam menyisir setiap inci luka di tubuh Daren—bekas cambukan di lehernya, jari-jari tangannya yang kasar dan penuh kapalan bekas kerja paksa, serta bekas luka bakar lama yang tampak menyatu di kulit tangannya.
Namun yang paling menarik perhatian Argus bukanlah luka-luka itu.
Meski Daren berada dalam koma medis yang dalam akibat pengaruh obat bius berat, kedua rahang remaja itu terkatup sangat rapat. Tangan kanannya yang terbebas dari selang infus terkepal erat—meremas kain sprei rumah sakit dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Bahkan dalam ketidaksadarannya, dalam mimpi terburuknya sekalipun, naluri Daren menolak untuk melepaskan genggamannya pada kehidupan.
Argus mengulurkan tangannya yang besar dan penuh bekas luka tembak, lalu menyentuh jemari Daren yang mengepal erat tersebut. Dia merasakan getaran halus dari otot-otot Daren yang masih tegang—sebuah penolakan mutlak terhadap kematian.
Sudut bibir Argus terangkat sangat tipis. Sebuah senyuman dingin namun penuh makna muncul di wajah sang Pemimpin Tertinggi—sesuatu yang sangat jarang disaksikan oleh siapa pun di organisasi ini.
"Mata yang penuh dengan kebencian dan jemari yang menolak melepaskan nyawanya sendiri..." bisik Argus dengan suara beratnya.
Argus menegakkan kembali tubuhnya, berpaling menatap Mike dan Joe yang berdiri siap di belakangnya.
"Pria biasa yang dilatih menjadi prajurit hanya akan bertarung demi uang atau rasa takut," kata Argus dengan nada bersuara mantap. "Tapi seseorang yang merangkak keluar dari neraka dengan tangannya sendiri... jika diberikan pedang, dia akan memotong dunia yang telah menyiksanya."
"Tuan?" panggil Mike, mengonfirmasi arah pikiran pimpinannya.
"Obati anak ini hingga benar-benar pulih," perintah Argus, suaranya kini bergema penuh otoritas mutlak. "Gunakan seluruh fasilitas dan stimulan medis terbaik yang kita miliki. Jangan biarkan ada cacat fisik yang tersisa di tubuhnya."
Argus menatap Daren sekali lagi sebelum berbalik menuju pintu keluar.
"Begitu dia sadar dan fisiknya sanggup berdiri," lanjut Argus tanpa menoleh lagi, "masukkan dia ke dalam program pelatihan rahasia CROW-0. Dia tidak akan menjadi budak siapa pun lagi. Aku sendiri yang akan membentuknya menjadi senjata paling mematikan yang pernah dimiliki Red Crows."
Mike menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Diterima, Tuan Argus."
Joe tersenyum tipis di belakang kacamatanya, menyadari bahwa takdir dari pemuda bernama Daren baru saja berbalik seratus delapan puluh derajat malam ini. Anak yang dulu diinjak-injak sebagai sampah oleh keluarga Deni, kini telah diambil oleh penguasa tertinggi dunia bawah tanah untuk dijadikan sesosok monster yang akan menuntut balas.