Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.

Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Pagi hari ditempat Kinanti mengajar selalu dipenuhi murid yang hendak belajar dan suara suara kendaraan yang berlalulang , serta para pedagang yang bertengger didepan sekolah.

Kinanti berdiri didepan gerbang sedang menyapa beberapa sisiwa yang melintas seraya merapikan dokumen ditangannya.

Dari jarak sekitar lima puluh meter di sebrang jalan, sebuah gerobak kayu berdiri tenang.

Arka sedang sibuk memotong tahu, dengan pisau ditangannya ia memotong tahu itu seolah chef legendaris,legannya bergerak dengan sangat cepat memotong tahu itu menjadi beberapa bagian.

Didepan gerobaknya seorang anak kecil sedang sedang berdiri menunggu pesanannya.

crak crak crak crak

"Beres" Gumam Arka singkat.

"Gilasih Cepet benget bang" Gumam anak itu kepada Arka.

Arka sedikit Tertawa kecil.

"Hehe"

Arka memasukkan tahu dan beberapa cilok kedalam pelastik, lalu ia mengambil botol yang berisi sambal kacang, mengangkat botol itu lalu menepuk nepuk bagian ujung botol agar sambal itu keluarga dari lubang botol.

setelah membungkus cilok kemudian Arka memberikan cilok itu kepada pembeli yang berdiri di depan gerobaknya. "Nih Dek cilok nya"

Anak kecil itu merogoh saku Celananya untuk mengambil uang.

"Berapa bang" tanya anak kecil itu.

"Lima rebu aja, dek" Gumam Arka.

beberapa detik kemudian Arka menolak ke arah sepion yang ada di gerobaknya,dicermin itu ia melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam yang melaju pelan ke arah blok sekolah, pengemudi nya berambut seperti anak punk dengan cat berwarna merah khas anak jalanan, kaca mobil di sebelah kirinya sedikit terbuka, memperhatikan sebuah kamera dengan lensa panjang yang terarah tepat ke arah Kinanti yang sedang berdiri menyapa beberapa murid yang masuk kedalam gerbang sekolah.

Mereka gak cuma ngelacaku, sepertinya mereka mau nyari tau latar belakang ku yang sekarang ..gumam Arka dalam hati.

Arka mengelap tangannya dengan kain lusuh, menyingsingkan senyum ramah pada anak kecil yang berdiri didepan gerobaknya yang baru saja membeli cilok.

anak kecil itu meberikan uang kepada Arka.

"Makasih Ya dek, Hati-Hati dijalan, banyak kendaraan"ucap Arka setelah itu tersenyum.

Setelah anak kecil itu pergi, Arka mengambil satu kantong pelastik berisi cilok hangat, dengan langkah santai dan lugu khas pedang kecil, Ia menyebrangi jalan menghampiri Kinanti yang sedang berdiri didepan gerbang.

"Kin" Pangil Arka lembut ketika sampai didepan gerbang sekolah.

Kinanti Menoleh, ia tersenyum manis kepada kepada suaminya. "Mas Arka? Kok malah kesini? gak mangkat di SMA? "

"Iya tadi ada pesenan lewat deket sini, sekalian mas bawain cilok hangat buat kamu, sama buat guru guru"Kata Arka seraya menyodorkan kantong pelastik.

Tangannya sengaja mengusap lembut jemari Kinanti, sekaligus memanfaatkan posisinya untuk menghalangi sudut pandang kamera dadi mobil sedan hitam yang masih terparkir disebrang jalan.

"Aduh Mas report repot banget, Makasih ya mas. Suamiku memang paling perhatian"Ujar Kinanti dengan mata berbinar.

"Sama sama sayang, Kamu masuk ya, Sebentar lagi bel"bisik Arka mengecup dahi Kinanti dengan hangat.

Saat Kinanti berbalik dan melangkah masuk, Kedalam area sekolah, Arka tetap berdiri di tepi jalan, begitu Kinanti menghilang dari balik pintu gedung, wajah hangat Arka luntur seketika.

Arka memutar badannya perlahan, menatap lurus ke arah mobil sedan hitam dipinggir jalan. Matanya menusuk tajam ke arah mobil itu.

Pria berambut pink itu tersentak menyadari tatapan Arka, tatapan tajam seorang pembunuh berdarah dingin seolah itu adalah elang yang akan menerka mangsanya.

Arka memang tidak memegang senjata saat ini, Namun gerakan tangannya yang santai merogoh saku celana, Ia mengeluarkan sebuah kelereng besi kecil yang biasa ia pakai untuk sedikit menghibur dirinya sendiri, itu sudah cukup untuk menjadikannya simbol bahaya.

Arka memutar kelereng itu di jemarinya dengan sangat halus, Dengan posisi tubuh yang seolah-olah sedang merenggangkan otot lengan yang pegal padahal tidak pegal, Arka menjentikkan kelereng itu menggunakan jari telunjuk dan jempolnya.

Wuss!!

kelereng besi itu melesat cepat diudara seperti peluru, menghantam tepat pada lensa kamera yang mungkin berharga puluhan juta,kamera itu menonjol di jendela mobil sedan hitam itu.

Krakk!!

Kaca lensa kamera itu hancur seketika, kacanya hancur berkeping-keping berjatuhan kebawah.Pengemudi berambut punk itu tersentak kaget, dibelakangnya orang yang memegangi kamera menyerapah keras sambil memegangi wajanya yang terkena serpihan kaca dari lensa kamera.

"muka gua.. aaa, breng*k siapa yang nyerang"teriakan histeris dari orang yang duduk di belakang kemudi.

"saha ieu nu nyerang anj*ng"ucap pengemudi berambut punk itu menggunakan bahasa khas orang Sunda,lalu menutup kaca jendela.(siap ini yang nyeranng anj*g)

Arka tidak berhenti disitu, dengan langkah tenang tapi pasti, ia berjalan menyebrangi jalan kembali ke gerobak kayunya, Ia mengambil sebuah botol semprotan berisi cairan pembersih dan kain lap kusam lalu melangkah santai mendekati pintu kemudian mobil sedan hitam itu.

TOK.. TOK.. TOK..

Arka mengetuk kaca yang tadi sempat ditutup oleh pengemudi itu dengan wajah polos tanpa berdosa.orang dibelakang kursi kemudi yang panik dan sedang sibuk mencabut serpihan kaca lensa diwajahnya dengan tatapan sengit dan bersiap merogoh sejata dibalik jasnya.

pengemudi berambut punk itu membuka kaca jendelanya dan menyodorkan tubuhnya agak keluar disisi jendela.

"Aya naon? Tukang Cilok? "Bentak pengemudi berambut punk itu dengan menggunakan bahasa khas orang Sunda (Ada apa ?tukang Cilok)

Arka tersenyum ramah sambil memegang botol semprotnya. "Maaf, mas tadi saya liat ada burung lewat dimobil mas terus buang kotoran , mau saya bantu lapin? kasihan mobil mahal gini kalo kotor"

pria dibelakang tempat duduk itu tiba tiba merasakan aura yang berbeda dari Arka.wajahnya berubah panik.

"ka-kayaknya dia bukan tukang tukang cilok biasa" gumam pria itu menahan napasnya.

kemudian pengemudi berambut punk itu menolak ke belakang.

"Erek tukang cilok bisa kek, erek tukang cilok sepesial kek, dina harepen aing mah lain saha-saha" ucap pria berambut punk. (Mau tukang cilok biasa kek, mau tukang cilok sempurna kek, didepan gua dia bukan siapa siapa)

sembari berbicara dengan suara lugunya, Arka memiringkan badannya sedikit. Tangan kirinya yang berada di luar jangkauan, menekan titik syarat dileher pria itu dengan kekuatan yang terukur presisi.

Pria berambut punk itu mendelik napasnya berhenti seketika, dan tubuhnya langsung terkulai lemas diatas kemudi tampa sempat mengeluarkan senjatanya.

Sementara pria dibelakangnya sontak langsung kaget dengan apa yang dilakukan Arka.

"Hii.. apa yang lu lakuin" ucap pria itu, wajahnya panik.

tampa aba aba dengan cepat Arka langsung menyerah titik saraf dari pria yang tadi sempat terkena serpihan kaca diwajahnnya, ia menekan bagian leher, pria itu langsung terkapar tak berdaya, matanya membelalak.

Arkan melihat lihat sekeliling dengan kilatan mata cepat :kayaknya gak ada orang yang liat, batinya bergumam.

Dengan tenang Arka mengambil kartu Identitas dan ponsel milik salah satu pengintai itu, dari saku jasnya, lalu memasukkannya kedalam saku celananya sendiri.

"Udah tidur ya,ganggu orang lagi jualan aja," gumam Arka pelan.

Arka menarik kacamata hitam pria itu yang tercantol di jasnya agar menutup matanya yang terbuka,melambaikan tangan berpura-pura ramah, lalu kembali ke gerobak ciloknya.

​Dua menit kemudian, Arka mendorong gerobaknya meninggalkan area sekolah Kinanti, meninggalkan sedan hitam yang terparkir diam di tepi pinggir jalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!