Roxanna Rasmussen menyerahkan segalanya demi seorang pria yang tak pernah benar-benar mencintainya. Selama tiga tahun ia memainkan peran istri yang setia bagi Alessandro Selenko—konglomerat media dingin yang menikahinya karena keterpaksaan keluarga—sambil menelan setiap penghinaan dengan senyum. Lalu, tepat saat ia mengetahui dirinya mengandung, cinta pertama sang suami kembali... dan Alessandro menyodorkan surat cerai bagai hadiah.
Kali ini, Roxanna tak sudi lagi menjadi perempuan bodoh.
Ia melepas cincin kawinnya, menghilang tanpa jejak, dan memulai hidup baru dari titik nol—hamil, sebatang kara, terdampar di jalanan sebuah kota asing. Di sanalah Chris, pemilik restoran berhati hangat, menemukannya dan menawarkan tempat berlindung yang tak pernah ia dapatkan dalam pernikahannya.
Tapi Roxanna menyimpan satu rahasia yang bahkan tak diketahui pria yang paling ingin menghancurkannya: perempuan yang mereka campakkan ini adalah pewaris sebuah kerajaan bayangan. Dan ketika Sang Imperatrix bangkit dari keterpurukan, semua orang yang pernah meremehkannya akan belajar satu hal—bahwa perempuan yang tak lagi punya apa pun untuk dilindungi adalah lawan yang paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna Brenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Ia Berani Bermimpi Setinggi Itu?
Violet turun dari panggung dengan binar di matanya, energi penampilan itu masih berdenyut di tubuhnya. Lagu tadi adalah sebuah perayaan, dan sewaktu mendekati Alessandro, ia tampak berseri-seri, seakan dunia di sekelilingnya telah lenyap.
Dengan gerakan lembut, ia membungkuk dan mengecup pipi Alessandro, sebuah ciuman yang meluapkan kehangatan dan kasih sayang.
Tapi, bagi Alessandro, gestur itu terasa getir.
Ciuman itu mengingatkannya pada Roxanna, yang selalu menyambutnya dengan cara yang sama tiap kali ia pulang, meski ia jarang melakukannya.
Itu adalah kenangan yang lebih ingin ia hindari, tapi ikatan di antara mereka tak terbantahkan dan menyakitkan. Ia benci memikirkan Roxanna sementara ia bersama Violet; seolah masa lalu memaksa untuk menyusup ke masa kininya.
Rafael, yang selalu jeli, memperhatikan raut masam di wajah sahabatnya dan tak ragu bertanya,
"Ada apa, Alessandro? Kau kelihatan masam. Ulah apa lagi yang diperbuat si Roxy kali ini?"
Sebutan Roxanna membuat tatapan Alessandro semakin menggelap.
"Aku tak peduli sedikit pun." Ia menjawab dingin, "Dia menghilang dan mengundurkan diri setelah aku memintanya bercerai."
Kata "cerai" menggantung di udara bagai beban, dan Violet tak mampu menahan kegembiraan yang terpancar di matanya.
Rafael terkejut mendengar pengakuan itu.
"Dia mengundurkan diri? Dia kan selalu begitu rendah hati dan penurut. Selalu mengekorimu ke mana pun! Kalau aku jadi kau, aku bahkan akan malu dengan hal-hal yang dia lakukan cuma demi menarik perhatianmu." Rafael melontarkan itu dengan cemooh yang kentara di suaranya.
Ia tak pernah menaruh simpati pada Roxanna; baginya, Violet-lah perempuan ideal untuk Alessandro.
Alessandro menyadari permusuhan sahabatnya terhadap sang istri dan merenungkannya.
Jika ia sendiri saja tak menghargai Roxanna sebagai suami, mudah dipahami mengapa Roxanna murka setiap kali ia mengajaknya keluar.
Pikiran itu mengusiknya.
Violet, menangkap ketegangan di udara, memutuskan untuk memancing lebih jauh,
"Apa dia bertemu seseorang?" Pertanyaan itu membuat wajah Alessandro seketika menggelap, "Apa katamu?" Ia tak mampu menyembunyikan kebencian dalam suaranya.
Violet berpura-pura polos.
"Ya, kalau dia menghilang, pasti ada orang berkuasa yang membantunya, kau tak setuju?" Kata-katanya provokatif dan membuka celah untuk tafsir-tafsir yang meresahkan.
Gagasan bahwa istrinya mungkin bersama pria lain menyulut api kebencian di dalam dirinya, kemungkinan yang tak ingin ia pertimbangkan.
"Kau terlalu banyak bicara, Violet. Roxanna bisa jadi apa saja, tapi dia takkan pernah menaruh pria lain di hatinya selain aku." Alessandro berkata dengan penuh percaya diri.
Violet terdiam, bertanya-tanya apakah Alessandro telah menumbuhkan perasaan pada istri hasil perjodohannya itu.
* * *
Alessandro terbangun di ranjang mewahnya, cahaya lembut pagi hari menyaring masuk lewat celah tirai.
Ia menggeliat, merasakan lembutnya seprai sutra yang membungkusnya. Tapi, begitu membuka mata dan menyadari ketiadaan Roxanna, gelombang frustrasi menerpanya.
"Mana kopiku?" Ia berseru, suaranya menggema di kamar yang kosong.
Roxanna selalu siap mengantarkan kopi ke tempat tidurnya, dan ketiadaannya pagi itu adalah pukulan yang tak terduga.
Ia meraih ponselnya dan menelepon Roxanna, tapi panggilan itu jatuh pada nada tak aktif.
Tiap tanda bahwa Roxanna tak lagi berada di dekatnya membuat rasa kesalnya kian membesar.
Carlo, asistennya, masuk ke kamar dengan raut cemas.
"Tuan, saya belum berhasil menemukan di mana dia berada." Ia berkata, berusaha menenangkan Alessandro.
Amarah mulai mendidih di dalam dirinya. "Kalau perutnya sudah lapar, dia bakal balik juga, jalang itu," gumamnya pada diri sendiri sambil berjalan menuju kamar mandi.
Di depan cermin, Alessandro menatap dirinya dengan penuh tekad. Ia harus bersiap-siap dan melupakan perempuan tak tahu diri yang telah mencampakkannya itu.
Setelah mandi kilat dan mengenakan pakaiannya yang elegan, ia dihadapkan pada satu tantangan kecil: memasang dasi. Ia mencoba berkali-kali tanpa berhasil, hingga akhirnya meledak frustrasi.
"Pasangkan dasiku, Roxy!" Keheningan yang menyusul terasa menyesakkan dan membuatnya semakin kesal.
Sebelum ia sempat melanjutkan keluh kesah dalam hatinya, sebuah ketukan pelan di pintu memotong pikirannya. Pelayan rumah masuk dengan malu-malu dan berkata,
"Tuan, ada juru sita di depan pintu."
Alessandro mengernyit mendengarnya.
"Baik." Ia menjawab dengan kasar, melemparkan dasinya ke atas tempat tidur.
Saat menuruni tangga, kehadirannya yang berwibawa seakan menyihir segala di sekelilingnya. Dengan tubuh atletis yang tegas dan garis wajah yang tegas pula, ia bergerak bagai raja yang agung. Sang pelayan tak bisa tak memperhatikan pesonanya yang tak terbantahkan; mustahil mengalihkan pandangan darinya.
Ketika tiba di pintu, ia mendapati sang juru sita yang mengantarkan surat perceraian — sebuah momen yang terasa surealis bagi kedua pria yang hadir di sana.
Sang juru sita terpukau oleh penampilan sang pengusaha dan berpikir dalam hati, "Bagaimana bisa seorang perempuan meninggalkan pria seperti ini?"
Ketampanan Alessandro nyaris menyilaukan; garis wajahnya begitu sempurna hingga seakan keluar dari lukisan zaman Renaisans. Tapi saat itu, Alessandro lebih terfokus pada amarahnya ketimbang penampilannya yang memukau — sebuah badai emosi tengah terbentuk di dalam dirinya sementara ia menanti kelanjutan situasi tak terduga itu.
Ketika sang juru sita memperkenalkan diri di depan pintu, ada sesuatu yang berubah di udara. Ketegangan begitu nyata, dan Alessandro merasakan jantungnya berpacu saat menyadari apa yang akan terjadi.
Pria itu, dengan tatapan serius dan sebuah amplop di tangan, menyerahkan berkas perceraian dengan formalitas yang hanya menambah kekesalan Alessandro. Saat menerima dokumen itu, tatapannya menggelap, seakan awan berat telah menaungi dirinya.
Alessandro selalu menjadi pria yang memiliki segalanya: kuasa, uang, dan pesona tak terbantahkan yang memikat para perempuan bagai ngengat menuju cahaya.
Ia terbiasa mengakhiri hubungan kapan pun ia mau, selalu mengendalikan keadaan.
Tapi kini, saat melihat nama Roxanna tercetak di kertas itu, sebuah luka menganga di egonya.
Pengkhianatan itu tak hanya datang dari perpisahannya; melainkan dari kenyataan bahwa Roxanna-lah yang mengambil inisiatif untuk meninggalkannya.
Dengan gerakan kasar, ia merobek-robek berkas itu, kertas-kertasnya jatuh berserakan ke lantai bagai dedaunan kering.
"Jadi dia berani bermimpi setinggi itu?!" Suaranya menggema di lobi kediaman, sarat kemarahan dan cemooh.
Sang juru sita, menyadari kegawatan situasi, memperingatkan,
"Tuan, yang Anda lakukan itu tindak pidana." Tapi kata-katanya justru diterima bagai tantangan.
Alessandro berbalik ke arah sang juru sita dengan tatapan menusuk yang sarat penghinaan.
"Kalau kau mau mempertahankan pekerjaanmu yang menyedihkan itu..." Ia berkata dengan suara dingin dan mengancam, "sebaiknya kau tutup mulut."
Ia melangkah maju ke arah pria itu, kehadirannya yang berwibawa nyaris membuat sang juru sita mundur.
"Kau tahu seberapa besar kekuasaanku di kota ini?" Pertanyaan itu bersifat retoris; semua orang tahu siapa Alessandro Selenko dan kendali yang ia genggam atas Redshore.
Sang juru sita tahu bahwa ia tengah berhadapan dengan salah satu pria paling berpengaruh di kawasan itu dan, menyadari kegawatan momen tersebut, mengangguk cepat sebelum bergegas undur diri.
Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi "klik" pelan, tapi Alessandro sudah tenggelam dalam pikiran-pikirannya yang murka.
Ia berbalik ke arah Carlo, asistennya, yang telah menuruni tangga. Tatapan di wajah Alessandro adalah campuran amarah dan tekad.
"Temukan perempuan terkutuk itu, dan cepat!" Ia memerintah dengan intensitas yang membuat Carlo sedikit bergidik.
Nada mendesak dalam kata-kata Alessandro tak menyisakan ruang untuk pertanyaan; ia harus mendapatkan Roxanna kembali dan memulihkan kendalinya atas situasi — setidaknya begitulah menurut anggapannya.
Suasana di kediaman itu sarat ketegangan sementara Alessandro bergerak bagai pemangsa yang mengintai mangsanya.
Frustrasi berdenyut di dalam dirinya bagai genderang yang memekakkan; ia takkan membiarkan Roxanna tertawa paling akhir.