Indonesia
NovelToon NovelToon
Where Your Heart Stays

Where Your Heart Stays

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Kiara L

Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.

Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Sinar matahari pagi menyelusup tipis melalui celah tirai apartemen, membiaskan cahaya kehangatan di atas lantai kayu yang bersih. Pagi setelah menghabiskan malam bersama menjadi sebuah awal yang benar-benar baru bagi Tae-jun dan Ji-eun. Tidak ada kecanggungan besar yang menggetarkan dada seperti awal mula mereka dekat. Sebaliknya, yang menyapa mereka adalah sebuah rasa nyaman yang mengalir tenang, sesuatu yang sebelumnya belum pernah mereka miliki dalam hidup masing-masing.

Ji-eun terbangun lebih dulu. Udara pagi yang sejuk menyapa kulitnya saat ia melangkah pelan keluar dari kamar menuju dapur. Dengan gerakan yang cekatan namun lembut, ia mulai menyiapkan sarapan sederhana, memanggang dua tangkup roti, meracik kopi untuk Tae-jun dan dirinya.

Di sudut ruangan, Tae-jun berdiri bersandar pada bingkai pintu, memperhatikannya dari belakang dalam diam. Pria itu masih mengenakan pakaian santainya dengan rambut yang sedikit acak-acakan. Matanya tak lepas dari sosok Ji-eun yang sibuk bergerak di dapur mewahnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup Tae-jun, pemandangan sederhana seperti seorang perempuan membuat sarapan di dapurnya terasa begitu menggetarkan, sebuah pemandangan hangat yang tanpa ia sadari ingin ia lihat setiap hari di sisa hidupnya.

"Pagi, Direktur Seo," goda Ji-eun tanpa menoleh, seolah bisa merasakan keberadaan Tae-jun di belakangnya dari aroma parfum dan langkah kakinya.

Tae-jun terkekeh pelan, melangkah mendekat lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ji-eun dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu perempuan itu. "Kau sadar aku ada di sini?"

"Aroma tubuhmu terlalu jelas," balas Ji-eun seraya tersenyum, membiarkan Tae-jun mengecup pipinya lembut sebelum mereka menikmati sarapan bersama di meja makan.

Setelah sarapan usai, kenyataan dan profesionalisme kembali memanggil. Seperti kesepakatan awal, mereka berangkat bekerja secara terpisah. Tae-jun pergi lebih awal dengan kendaraan pribadinya, sementara Ji-eun menyusul setengah jam kemudian dengan taksi.

Di dalam area hotel bintang lima yang megah itu, tembok tinggi itu kembali berdiri. Mereka melipat rapat kebersamaan pagi tadi dan sepenuhnya menjadi Direktur Seo yang dingin dan Manajer Han yang sigap. Namun, ada fondasi baru di antara mereka. Keduanya kini tahu pasti bahwa betapa pun beratnya tekanan kerja, tuntutan atasan, atau melelahkannya keluhan para tamu hotel, setelah pekerjaan selesai, mereka memiliki satu tempat yang sama untuk kembali.

Sepanjang hari yang sibuk itu, Ji-eun beberapa kali mendapati layar ponselnya menyala di sela-sela inspeksi area. Pesan-pesan singkat dari Tae-jun masuk secara berkala:

Sudah makan siang?

Jangan terlalu banyak minum kopi, Manajer Han.

Aku akan menunggumu malam ini di tempat biasa.

Perhatian-perhatian kecil yang konsisten itu seperti pilar yang terus memperkuat hatinya. Setiap kali membaca pesan-pesan tersebut, Ji-eun semakin sulit menyangkal betapa dalam perasaannya telah tumbuh untuk pria itu.

Malam harinya, setelah jam operasional hotel tak lagi sesibuk siang hari, mereka kembali bertemu di apartemen Tae-jun. Begitu pintu tertutup rapat dan menyisakan mereka berdua, Ji-eun tidak menunggu. Tanpa ragu, ia melangkah maju dan lebih dulu memeluk pinggang Tae-jun rapat-rapat.

Tae-jun sempat terdiam sejenak, terkejut oleh inisiatif Ji-eun yang biasanya malu-malu. Namun detik berikutnya, binar kehangatan terpancar di matanya. Tae-jun membalas pelukan itu dengan erat, melingkarkan lengannya yang kokoh di punggung Ji-eun dan menyembunyikan wajahnya di leher perempuan itu, menghirup aroma menenangkan yang selalu berhasil meluruhkan lelahnya.

"Hari ini sangat melelahkan, ya?" bisik Ji-eun pelan dalam pelukan.

"Sekarang sudah tidak lagi," jawab Tae-jun tulus.

Malam ini, mereka duduk berhadapan di atas karpet ruang tengah dengan cangkir teh hangat di tangan setelah makan malam bersama.

"Aku selalu takut dinilai tidak cukup baik," ujar Ji-eun, menatap uap teh yang membumbung. "Latar belakang keluargaku yang biasa saja membuatku merasa harus selalu bekerja dua kali lebih keras daripada orang lain. Dan saat bersamamu... aku takut orang-orang akan menganggap aku memanfaatkan posisimu."

Tae-jun mendengarkan tanpa memotong sedikit pun. Ia menjangkau tangan Ji-eun, menggenggamnya erat. "Tidak ada seorang pun di hotel ini yang bekerja sekeras dirimu, Ji-eun-a. Kau berdiri di posisimu sekarang karena kemampuanmu sendiri. Dan di hadapanku, Kau tidak perlu membuktikan apa pun."

Melihat ketulusan Ji-eun, Tae-jun pun mulai membuka pintu masa lalunya yang paling gelap luka lama yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat bahkan dari keluarganya sendiri.

"Ayahku tidak pernah benar-benar menganggapku sebagai seorang anak," cerita Tae-jun dengan suara rendah yang emosional. "Baginya, aku hanyalah aset dan investasi untuk penerus Seo Group. Setiap kali aku gagal atau menunjukkan kelemahan, dia akan mengisolasiku. Sejak kecil, aku diajarkan bahwa mempercayai orang lain adalah sebuah kelemahan yang fatal."

Tae-jun menatap Ji-eun, matanya memperlihatkan jiwa yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di dunia ini. "Tapi bersamamu, aku tidak takut menjadi lemah. Aku bisa menjadi diriku seutuhnya."

Ji-eun merangkul wajah Tae-jun dengan kedua telapak tangannya, mengusap pipi pria itu dengan penuh kasih sayang. Tidak semua masalah atau luka masa lalu itu selesai begitu saja dalam satu malam. Namun, malam itu mereka mulai belajar sebuah kebenaran penting, bahwa mencintai seseorang berarti memberi ruang yang aman bagi satu sama lain untuk memperlihatkan sisi dirinya yang paling rapuh, tanpa takut dihakimi atau ditinggalkan.

...****************...

1
Bintang star_nurul22
Semangat author
Kiara L: terimakasih☺️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!