Indonesia
NovelToon NovelToon
Jenderal Milliarder

Jenderal Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.

Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.

Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Mahkota Berdarah

Ruang komando markas medis rahasia Phantom Vanguard terasa sangat hening. Deru badai di luar nyaris tak terdengar, tergantikan oleh ketegangan yang pekat. Grafik merah yang menunjukkan injeksi dana satu triliun dolar dari Kekaisaran Utara masih berkedip di layar utama, menjadi bukti nyata bahwa ibu kota kini telah dibeli secara tunai oleh musuh.

Silas Mercer dan Maya Lin menatap Arthur, menunggu instruksi. Menghadapi kekuatan militer adalah satu hal, tetapi menghadapi perbendaharaan sebuah negara yang digunakan untuk menyuap seluruh sistem penegakan hukum dan politik ibu kota adalah hal yang sama sekali berbeda.

Arthur berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung.

"Satu triliun dolar," gumam Arthur, suaranya sedingin es. "Kekaisaran Utara rupanya sangat menghargaiku hingga mereka bersedia menguras brankas negara mereka hanya untuk menjadikan Reginald Zimmer sebagai boneka. Mereka berpikir uang bisa membeli segalanya."

"Jenderal, dengan dana sebesar itu, Reginald saat ini mengendalikan seluruh kepolisian, media, dan dewan direksi ibu kota," lapor Silas dengan nada khawatir. "Jika kita menyerang kediaman Zimmer pagi ini sesuai rencana Langkah Ketiga, kita tidak hanya akan melawan Black Vipers, tetapi kita akan dicap sebagai teroris oleh negara kita sendiri."

"Hukum dikendalikan oleh mereka yang memiliki kuasa, Silas," jawab Arthur mutlak. Sang Jenderal memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah para bawahannya.

Arthur menekan sebuah tombol pada konsol utama, membuka saluran komunikasi satelit terenkripsi tingkat Omega saluran yang hanya digunakan pada saat perang dunia berskala penuh.

"Jika Kekaisaran Utara ingin bermain dengan kekayaan, maka kita akan menunjukkan kepada mereka apa arti kekayaan yang sesungguhnya," titah Arthur. "Silas, hubungi Clifford dan keempat pemimpin lainnya. Bangunkan seluruh struktur utama kita. Aku ingin mereka bergerak sekarang juga."

Mendengar perintah itu, mata Silas membelalak lebar, sementara Maya menahan napasnya.

"Bekukan seluruh aset luar negeri dari bank-bank yang menerima aliran dana Kekaisaran Utara malam ini. Beli setiap hutang nasional yang menjerat para politisi ibu kota sebelum fajar," lanjut Arthur, matanya berkilat mematikan. "Reginald Zimmer berpikir ia telah menjadi raja ibu kota. Pagi ini, aku akan mencabut mahkotanya di depan semua orang."

Fajar menyingsing dengan warna kelabu. Badai semalam telah menyisakan genangan air dan udara dingin yang menusuk tulang.

Di ruang perawatan medis, Mia Zimmer sedang duduk di samping ranjang ayahnya yang masih tertidur akibat pengaruh obat bius. Gadis itu mengenakan kemeja putih sederhana milik staf medis. Walaupun wajahnya terlihat lelah, sorot matanya jauh lebih tegar daripada sebelumnya.

Terdengar suara pintu berderit pelan. Arthur melangkah masuk, mengenakan setelan jas hitam bespoke baru yang disiapkan Silas, tanpa cela dan tanpa kerutan. Lengan kirinya masih dibalut perban di balik jasnya, sebuah pengingat akan darah yang ia korbankan untuk melindungi Maya dan Formula Somatik.

Mia segera berdiri saat melihat Arthur. "Kau akan pergi ke kediaman utama keluargaku pagi ini?"

"Ya," jawab Arthur lembut, menghentikan langkahnya tepat di depan gadis itu. "Pesta penobatan pamanmu sebagai Patriark akan dimulai dalam satu jam. Aku akan ke sana untuk memastikan dia tidak pernah duduk di kursi kakekmu."

Mia menundukkan kepalanya, tangannya meremas ujung kemejanya. "Arthur... Paman Reginald sekarang didukung oleh kekuatan yang sangat menakutkan. Aku mendengar percakapan kalian semalam tentang dana satu triliun dolar. Kau tidak perlu mempertaruhkan nyawamu dan menjadikan dirimu musuh negara hanya demi keluargaku."

Arthur mengangkat tangannya perlahan, menyentuh pipi Mia dengan ibu jarinya, menghapus keraguan dari wajah gadis itu. Sentuhan itu hangat, sangat kontras dengan tangan sang Jenderal yang biasanya hanya tahu cara mencabut nyawa.

"Kau meremehkanku, Mia," bisik Arthur dengan senyum yang menenangkan jiwa. "Tidak ada negara di dunia ini yang berani menjadikanku musuh mereka. Tetaplah di sini bersama ayahmu. Saat aku kembali, aku akan membawa keadilan yang pantas kalian dapatkan."

Mia menatap mata Arthur, terhanyut dalam lautan keyakinan yang dipancarkan pria itu. Ia berjinjit pelan, lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat dan lembut di rahang Arthur yang tegas.

"Berjanjilah padaku kau akan kembali tanpa luka baru," bisik Mia, wajahnya merona merah.

Arthur tertegun sejenak, namun senyumnya semakin tulus. "Aku berjanji."

Pukul 08:00 pagi. Kediaman Utama Zimmer, sebuah mansion raksasa bergaya era Victoria yang terletak di puncak bukit elit ibu kota.

Pagi itu, kediaman tersebut lebih menyerupai sebuah benteng militer daripada rumah seorang pebisnis. Puluhan mobil patroli kepolisian menjaga gerbang luar, sementara ratusan tentara bayaran berpakaian hitam berpatroli di setiap sudut taman dengan senapan serbu di tangan.

Di dalam aula utama yang berlapis emas, ratusan elit ibu kota mulai dari wali kota, kepala kepolisian, hingga para taipan bisnis berkumpul dengan gelas sampanye di tangan. Mereka semua hadir untuk menjilat penguasa baru yang kini didukung oleh dana tanpa batas.

Di atas mimbar utama, Reginald Zimmer berdiri dengan angkuh. Ia mengenakan jas putih gading yang mewah. Di belakangnya, berdiri dua orang pengawal bayangan dengan tato kalajengking di leher mereka sisa-sisa dari The 7 Assassins.

"Hadirin sekalian," suara Reginald bergema melalui mikrofon, dipenuhi kesombongan yang meluap-luap. "Hari ini, Keluarga Zimmer memasuki era baru. Era di mana kita tidak hanya akan menguasai bisnis ibu kota, tetapi juga mendikte masa depan negara ini!"

Tepuk tangan riuh bergema di seluruh ruangan. Para politisi korup bersorak mendukungnya.

"Beberapa tikus pengganggu mencoba menghancurkan kita semalam," lanjut Reginald, menyeringai kejam. "Saudaraku yang pengkhianat, Thomas, dan bajingan jalanan yang melindunginya. Tapi jangan khawatir, dengan dukungan sekutu baru kita, mereka akan segera..."

DUAAARRR!

Sebelum kalimat Reginald selesai, pintu utama aula yang terbuat dari kayu jati padat setebal sepuluh sentimeter itu hancur berkeping-keping akibat tendangan yang mengandung kekuatan destruktif tingkat dewa. Pecahan kayu beterbangan ke udara, membuat para elit ibu kota menjerit histeris dan berhamburan mencari perlindungan.

Ratusan laras senapan dari polisi dan tentara bayaran seketika tertuju ke arah pintu yang hancur tersebut.

Dari balik debu reruntuhan pintu, Arthur Summers melangkah masuk dengan sangat perlahan. Di sisi kirinya berjalan Zain sang Jenderal Hantu, dan di sisi kanannya melangkah Clark sang Jenderal Penghancur. Ketiganya memancarkan aura membunuh yang sangat pekat, seolah-olah suhu di dalam ruangan itu anjlok puluhan derajat dalam sekejap.

"A-Arthur Summers!" pekik Reginald, wajahnya memucat, namun ia segera mendapatkan kembali keberaniannya saat menyadari ada ratusan senjata yang melindunginya. "Beraninya kau masuk ke sini! Kepala Kepolisian, tangkap teroris ini sekarang juga! Tembak dia di tempat!"

Kepala Kepolisian ibu kota yang telah disuap, segera mengangkat pistolnya dengan tangan gemetar. "S-semuanya, bidik!"

Namun, Arthur tidak berhenti melangkah. Ia menatap Kepala Kepolisian itu dengan tatapan sedingin dasar samudra Arktik.

"Sebelum kau menarik pelatuk itu, Komisaris," ucap Arthur dengan bariton yang menggema, menggetarkan lantai marmer di bawah kaki mereka. "Periksa ponselmu. Dan periksa ponsel semua orang di ruangan ini."

Tepat saat Arthur menyelesaikan kalimatnya, ratusan ponsel di saku para tamu undangan, politisi, dan perwira polisi berdering secara serentak. Nada dering massal itu menciptakan simfoni kepanikan yang sangat janggal.

Kepala Kepolisian ibu kota menelan ludah dan melihat layar ponselnya. Wajahnya seketika kehilangan seluruh warna darah. Pesan dari bank sentral internasional menyatakan bahwa seluruh dana suap yang ia terima baru saja dibekukan, dan surat perintah penangkapannya atas tuduhan makar tingkat tinggi telah dikeluarkan oleh Jenderal Tertinggi Militer Negara.

Hal yang sama terjadi pada wali kota dan para anggota dewan. Kekuatan lima raja Istana Phantom telah bergerak memotong urat nadi mereka dalam satu malam.

"A-apa yang terjadi?!" jerit Reginald panik saat melihat para polisi perlahan menurunkan senjata mereka dan justru melangkah mundur ketakutan. "Aku punya satu triliun dolar! Kalian bekerja untukku!"

"Uang pinjaman dari musuh asing tidak ada nilainya di wilayahku," sahut Arthur, kini berdiri hanya lima meter dari mimbar Reginald. Dua Assassin di belakang Reginald bersiap menyerang, namun pandangan membunuh dari Zain dan Clark membuat mereka tertahan di tempat.

Arthur menatap Reginald dengan seringai meremehkan. "Kau sudah selesai, Reginald. Turun dari mimbar itu, atau aku yang akan menyeret mayatmu turun."

Reginald gemetar hebat. Ia menoleh ke sekeliling, mencari pertolongan, namun semua elit yang tadi menyanjungnya kini menatapnya seperti menatap penyakit menular. Dalam keputusasaan, Reginald tiba-tiba tertawa sumbang dan gila.

"Kau pikir kau menang?!" raung Reginald, matanya terbelalak liar. "Kau pikir aku hanyalah boneka bodoh? Orang yang memberiku kekuatan ini sudah memprediksi kedatanganmu! Dia ada di sini!"

Tiba-tiba, dari arah balkon lantai dua di atas mimbar, terdengar suara tepuk tangan pelan. Prok... prok... prok.

"Pertunjukan dominasi yang sangat mengesankan, Ghost of Karakum," sebuah suara pria yang tenang, elegan, dan sangat familiar menggema di ruangan itu.

Arthur mengangkat wajahnya, menatap ke arah balkon. Wajah sang Jenderal seketika membeku.

Di atas balkon, berdiri seorang pria muda berambut pirang dengan setelan jas abu-abu. Pria itu menyilangkan lengannya di pagar balkon, menatap Arthur dengan senyum sinis. Di jari telunjuk kanannya, melingkar sebuah cincin platinum besar dengan ukiran lambang matahari yang terbit dari balik pedang bersilang lambang resmi Keluarga Utama Summers dari Utara.

"Kau meratakan setengah kota hanya demi membalas dendam pada boneka murahan ini?" pria itu terkekeh pelan. "Lama tidak berjumpa, Kakak. Ayah mengirimkan salamnya dari Summer Manor."

1
nanonano
bener2 kalah start arthur
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
nanonano
mantap
nanonano
ternyata lawannya ayahnya sendiri
nanonano
ternyata lawannya keluarga sendiri
nanonano
bukannya arthur lagi gelut sama 7 asasin?
Glastor Roy
update ya torku yang baik hati
nanonano
lawannya kok langsung bisa tahu butuh sumsumnya keluarga zimer padahal belum lihat formulanya
nanonano
byuh kalah sang jendral
Sang_Imajinasi
pialanya sekalian 😄
REY ASMODEUS
aku mampir othor
nanonano
kalah cepat nampaknya si arthur
nanonano
mantap ini
nanonano
perang strategi lebih ngeri
nanonano
mantap
nanonano
tembak aja tadi
Budi Wahyono
ini kalau di wuxiakan
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bikin Arthur bantai keluarga volkov
Budi Wahyono
apakah nanti pengkhianatan terbesar justru datang dari silas ?
nanonano
yah kalah transaksi sama pion kecil
REY ASMODEUS: rahasianya di hack dan kelemahannya ada pada informasi dan kepercayaan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!