Indonesia
NovelToon NovelToon
Kian & Elora (Sahabat, Tapi Dijodohin?)

Kian & Elora (Sahabat, Tapi Dijodohin?)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikahmuda / Idola sekolah
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mina

Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.

Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.

Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.

Sialan emang.

Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.

Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Keheningan Tanpa Suara

Dua hari setelah pertengkaran hebat di taman kampus, hidup gue rasanya kembali ke zaman purba. Gak ada lagi pesan singkat tengil di pagi hari, gak ada es kopi susu yang mendadak muncul di atas meja perpustakaan, dan yang paling parah, gak ada suara tawa Kian yang biasanya memenuhi ruang tamu rumah gue.

Kian beneran membuktikan ucapannya. Dia gak mengejar gue, gak menelpon, dan gak mencoba menjelaskan apa-apa lagi. Keheningan di antara kami terasa jauh lebih menyiksa daripada perdebatan sengit mana pun.

Pagi itu, koridor gedung dekanat FISIP kelihatan lumayan lengang. Gue berjalan cepat sambil memeluk folder laporan magang, bermaksud menyerahkan berkas ke ruang administrasi. Namun, langkah gue mendadak terhenti di dekat papan pengumuman besar jurusan.

Di sana, tertempel surat keputusan resmi mengenai ‘Tim Riset Lapangan Dosen dan Asisten Laboratorium Komputasi’.

Mata gue menyisir jajaran nama yang tertera di sana. Di urutan asisten peneliti utama, nama Kian Bagaskara tercetak tebal. Dan persis di bawah namanya, tertera nama Farra Anindita.

Proyek penelitian dua minggu ke depan di daerah pesisir Bogor resmi dimulai hari ini.

"Elora?"

Gue memutar tubuh cepat. Farra berdiri beberapa meter di belakang gue. Hari ini dia tampil rapi dengan kemeja putih dan celana bahan, memegang sebuah koper kecil dan tas laptop. Di sebelahnya, Kian sedang berdiri sambil memegang beberapa gulungan peta dan dokumen riset.

Mata gue dan Kian sempat beradu di udara selama satu detik. Tatapan Kian dingin, datar, dan asing, tipe tatapan yang dulu cuma dia berikan pada orang lain yang gak dia kenal baik. Dia gak tersenyum, gak menyapa, dan langsung mengalihkan pandangannya kembali ke lembaran peta di tangannya.

Dada gue rasanya seperti dihantam batu besar.

"Kamu lagi ada urusan di dekanat juga?" tanya Farra ramah, melangkah mendekat sementara Kian berjalan lebih dulu menuju mobil operasional kampus di pelataran parkir.

Gue berusaha menetralkan raut wajah gue, memasang ekspresi senormal mungkin. "Iya, mau antar berkas magang."

Farra mengangguk-angguk paham, lalu melirik ke arah Kian yang sedang menaruh koper-koper ke dalam bagasi mobil. "Kami berangkat pagi ini. Risetnya bakalan padat banget, kemungkinan bakal jarang dapat sinyal di sana."

Farra menatap gue dengan pendar mata yang sangat tenang, namun tersirat kepuasan tipis yang hanya bisa ditangkap oleh sesama cewek.

"Aku bakal titip Kian baik-baik ya, Ra," sambung Farra halus, nada suaranya terdengar sangat perhatian. "Kian kalau udah kerja suka lupa makan. Tapi tenang aja, aku udah biasa ngadepin kebiasaan buruknya itu dari dulu."

Jleb.

Kalimat itu terlempar begitu lembut, tapi efeknya bikin jemari tangan gue gemetar menahan amarah dan rasa penyesalan yang membuncah. Farra sengaja menegaskan posisi dan masa lalunya dengan Kian, seolah-olah menunjukkan bahwa dalam situasi kerja ini, dialah orang yang paling mengerti Kian.

"Gak perlu titip-titip, Farra," balas gue dengan nada suara sekaku mungkin. "Kian udah dewasa. Dia tahu caranya jaga diri sendiri."

Farra cuma tersenyum tipis, lalu memberikan anggukan sopan. "I see. Ya udah, aku duluan ya. Mobilnya udah mau berangkat."

Farra berbalik, melangkah anggun menuju mobil operasional kampus. Gue berdiri membeku di tepi koridor, memperhatikan Farra yang duduk di kursi depan, persis di sebelah Kian yang berada di balik kemudi.

Mobil MPV hitam itu perlahan bergerak meninggalkan pelataran parkir dekanat. Sebelum mobil melaju jauh, gue sempat melihat Kian melirik ke arah spion tengah, menatap sosok gue yang berdiri sendirian dari kejauhan, sebelum akhirnya mobil itu menghilang di balik gerbang kampus.

Gue menyandarkan punggung ke dinding koridor yang dingin. Penyesalan mendadak merayap dan memenuhi seluruh rongga dada gue. Kata-kata Farra kemarin memang racun, tapi reaksi gue yang meragukan ketulusan Kian-lah yang bener-bener merusak segalanya.

Dan sekarang, selama dua minggu ke depan, Kian bakal menghabiskan harinya bersama cewek yang pernah jadi masa lalunya... sementara gue cuma bisa terdiam di sini, terkurung dalam dinding keraguan yang gue ciptakan sendiri.

1
ms. S
lanjut... novelnya menarik buat dibaca hingga bisa inget jaman pdkt sama gebetan. bikin deg2an juga Krena serasa jatuh cinta
ms. S
up lagi kak. novelnya kocak abis . aku sng novel yg kyk gini, lucu, sedih tapi ga mewek2 bgt, dan masih sesuai realita lha . sgra nikah yuk mereka berdua penasaran
Mina: makasih kak, seneng deh baca komennya🫰
total 1 replies
paijo londo
asli fix nih yg bloon kyaknya elora Ter la lu polos g tau kalo si kian itu udah suka elora dari lama🤭🤭🤭
paijo londo
mampir' thor🤦🤦aduh kyaknya hidup elora bakal kiamat kena serangan mental menghadapi kelakuan si kian q yg baca kok ikut2an jadi stress ya🤔🤔🤔
ms. S
ya ampun aku jadi deg2an ini kayak akunsama kian🤭🤣
Nurwana
asik asik.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!