"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap di Dermaga Tua
"Sektor Satu tidak berhak mencampuri operasi eksekusi Zero!" gertak pimpinan prajurit elit Tinta Mati seraya mensejajarkan moncong senapannya.
Pejabat Tinggi berjas hitam itu menyunggingkan senyum tipis, mengangkat satu jarinya ke udara dengan keangkuhan mutlak.
"Zero hanyalah anjing pelacak kami, dan Pakar Data ini milik otoritas pusat," pangkas Pejabat Tinggi itu dingin.
Memanfaatkan friksi dua kubu di tengah asap merah, Nio menekan tombol peledak gelombang EMP rakitan di pergelangan tangannya.
BOOOM!
Bunga api menyambar lampu penerang dan sistem penglihatan optik para prajurit, memicu kegelapan mendadak di gubuk tua.
"NORA! BAWA ELIAS DAN MILO LEWAT PALKA BAWAH!!" teriak Nio seraya melemparkan tiga bom asap tambahan ke lantai.
"A-apa yang terjadi?! Aku tidak bisa melihat!!" jerit Elias panik seraya meraba-raba lantai kayu.
"Jangan banyak bicara! Ikuti jalurnya!!" seru Nora merenggut kerah baju Elias dan memapah tubuh adiknya turun ke lorong tanah.
Nio melompati meja kayu, menembakkan dua putaran peluru pelumpuh ke arah kaki prajurit elit sebelum menghambur keluar.
Dua puluh menit kemudian, badai hujan deras mengguyur area dermaga tua Sektor Terluar yang sepi dan terasing.
Bau garam bercampur karat besi mengejawantah pekat di antara tumpukan kontainer tua yang terbengkalai.
"Harddisk fisik itu... ada di kontainer nomor 409," bisik Elias seraya menyandarkan tubuhnya yang terengah-engah di dinding kontainer.
Nora menyeka air hujan dari wajahnya, menatap Nio yang sedang memindai area sekitar menggunakan sensor tablet.
"Nio... apakah Pejabat Sektor Satu itu benar-benar mengincar memori di kepalamu?" tanya Nora dengan nada cemas.
"Mereka ingin Kunci Tabula Rasa untuk mengontrol seluruh data publik, Nora," jawab Nio seraya membuka pintu kontainer 409.
Di dalam kontainer yang senyap, pendar lampu indikator dari sebuah slot penyimpanan tersembunyi tampak berkedip pelan.
Nio menarik sebuah drive harddisk fisik berlapis baja tebal—satu-satunya bukti otentik yang tidak bisa diretas dari jarak jauh.
'Residu data pemulihan identitas Milo ada di dalam drive ini,' batin Nio mengamati kode enkripsi pada permukaan drive.
KLAK!
Tiba-tiba, lampu sorot raksasa berdaya tinggi menyala bersamaan dari empat penjuru atas kontainer, menyapu kegelapan dermaga.
Tawa melengking yang sangat familiar menggema dari atas tumpukan besi, memutus keheningan malam.
"Rupanya tikus tanah ini lari ke perangkap terbuka!" seru Vane dari atas kontainer dengan perban menempel di lehernya.
"Vane... kamu masih belum kapok juga?!" cibir Nora seraya memosisikan tubuhnya di depan Milo.
Delapan anggota peretas lapangan kelompok Vane melompat turun, mengepung pintu kontainer dengan pemukul setrum dan pisau.
Vane meludah ke samping, menatap Nio dengan pandangan penuh dendam yang membara.
"Gara-gara kamu, sirkuit lenganku terbakar!" raung Vane murka dengan vokal meninggi.
"Tapi malam ini tidak ada perang sirkuit lambat! Kami akan mencincang tubuhmu sampai jadi daging tak beridentitas!!" teriak Vane.
Nio menatap delapan eksekutor di depannya tanpa sedikit pun riak ketakutan di wajahnya.
Jemarinya masuk ke dalam saku, meraba tekstur lembaran kertas kosong sebagai bentuk penyangkalan atas rasa cemas.
"Kertas kosong ini tidak bicara, tetapi dialah satu-satunya hal yang tidak pernah berbohong padaku," bisik Nio dalam batin.
"Nora, masuk ke dalam kontainer dan kunci pintunya dari dalam," perintah Nio datar dengan nada tidak bisa dibantah.
"T-tapi Nio! Mereka terlalu banyak!! Kamu tidak bisa melawan mereka sendirian!!" cerceh Nora panik.
"Lakukan sekarang kalau kamu mau adikmu selamat!" pangkas Nio seraya mendorong tubuh Nora masuk dan membanting pintu besi.
BAMMM!
Nio memutar tuas luar kontainer, menguncinya rapat-rapat sebelum berbalik menghadap delapan orang lawan.
Vane tertawa terbahak-bahak melihat tindakan Nio yang dianggapnya sebagai aksi bunuh diri konyol.
"Sok pahlawan! HABISI DIAAA!!" perintah Vane seraya mengayunkan tangannya ke bawah.
Dua anak buah Vane menerjang maju bersamaan, mengayunkan pemukul setrum bermuatan tinggi ke arah kepala Nio.
Nio tidak bergerak mundur; dia justru melangkah maju satu tindak dengan kelincahan yang mengejutkan.
TAK! BUKKK!
Nio menangkap pergelangan tangan lawan pertama, memutarnya hingga terdengar bunyi patahan tulang yang nyaring.
Seraya merebut pemukul setrum tersebut, Nio menghantamkan ujung berlistriknya tepat ke leher lawan kedua hingga pingsan seketika.
"A-apa-apaan refleks itu?!" cetus salah satu peretas di barisan belakang dengan gagap.
"Dua down. Siapa berikutnya?" tantang Nio dengan suara dingin yang amat menekan.
Tiga orang sisanya melompat bersamaan dengan pisau terhunus, mencoba memanfaatkan keunggulan jumlah.
Nio mematikan pemancar lampu sorot dengan tembakan pistol presisinya, melempar area dermaga kembali ke dalam kegelapan pekat.
CRASH!
"AAAGHH! MATA KUUU!" jerit salah seorang musuh saat Nio menyergap dari bayangan hitam.
Nio bergerak bagai anomali tanpa bentuk di antara celah-celah kontainer yang sempit dan terasing.
Setiap pukulan dan kuncian yang dilancarkan Nio bergerak sangat presisi, melumpuhkan titik saraf lawan tanpa membuang tenaga.
Suara erangan kesakitan dan dentang senjata jatuh berkali-kali memecah senyapnya hujan dermaga.
Kurang dari tiga menit, lima eksekutor tambahan sudah terkapar kaku di atas lantai beton yang basah.
Vane berdiri gemetar di tempatnya, memegang pisau taktis dengan jemari yang mendadak hilang kendali.
"K-kamu... kamu bukan cuma pakar data..." bisik Vane dengan vokal terputus-putus dan terengah-engah.
Nio keluar dari kegelapan, melangkah perlahan dengan pendar cahaya bulan yang memantul di mata pistolnya.
"Gue adalah sosok nirnama yang diciptakan untuk menghapus sampah seperti lu," pangkas Nio dengan dominasi mutlak.
"J-JANGANN MENDEKAT! JANGAAAN!!" jerit Vane histeris seraya mengayunkan pisaunya secara liar ke udara.
Nio menangkap pisau Vane dengan telapak tangan bersarung kulitnya, merampas senjata itu lalu menghentakkan lututnya ke dada Vane.
BUKKK!
Vane tersungkur di atas genangan air hujan, terbatuk-batuk menahan rasa sakit yang membakar seluruh rusuknya.
Nio menginjak pergelangan tangan Vane, menatap sang peretas dari atas dengan tatapan dingin tanpa ampun.
"Eksistensi lu malam ini resmi tereliminasi dari kasus ini, Vane," pangkas Nio tanpa emosi.
BLEAGHH!
Nio menghantamkan gagang pistolnya ke pelipis Vane, membuat sang peretas pingsan seketika di atas beton.
Nio menghela napas panjang, mengusap darah tipis di dahinya seraya mendekati pintu kontainer nomor 409.
KLAK!
Nio membuka tuas pengunci, mendapati Nora dan Elias terperangah menatapnya dari dalam ruangan besi.
"Nio... kamu tidak apa-apa?!" panggil Nora melompat keluar, matanya memeriksa setiap sudut tubuh Nio.
"Gue baik-baik saja. Area ini sudah bersih," jawab Nio seraya menyerahkan harddisk fisik saksi kepada Nora.
"Rekonstruksi data identitas Milo ada di dalam drive ini. Simpan baik-baik," pangkas Nio.
Nora memeluk drive baja itu di dadanya, air mata keharuan menetes bercampur dengan bulir air hujan.
"Terima kasih... terima kasih banyak, Nio," bisik Nora pilu.
"Kita harus segera meninggalkan dermaga ini sebelum Pejabat Sektor Satu menyusul," peringat Elias dari belakang.
Nio mengangguk, namun langkahnya mendadak terhenti ketika sinyal panggilan darurat masuk ke earpiece-nya.
Suara Kael—pemilik kedai tua—terdengar sangat merintih dan megap-megap dari seberang sambungan.
"N-Nio... jangan kembali ke kedai..." rintih Kael dengan nada suara yang memelan dan lemas.
"Kael?! Apa yang terjadi di kedai?!" cecar Nio dengan batin yang mendadak terguncang keras.
"Zero... Zero ada di sini... dia menunggumu..." pangkas Kael sebelum suara ledakan dahsyat memutus komunikasi secara total.