Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpikat Suami Sahabatku

Terpikat Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**

Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.

Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.

Satu malam nekat mengubah segalanya.

Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.

*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*

Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.

Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 022

Di Tangga Itu

“Kamu siapa, sih?” Laras mendongak dengan mata setengah tertutup.

Kedua lengannya naik dan melingkari leher laki-laki di depannya. Bram menahan pinggangnya agar tidak melorot.

“Suamimu,” bisiknya di dekat telinga Laras. “Bram.”

Laras tersenyum mabuk. “Bukan. Aku nggak punya suami.”

“Kalau begitu calon.”

Ia membungkuk dan mengangkat Laras. Perempuan itu menyandarkan wajah ke lehernya tanpa protes.

Bram baru melangkah masuk ketika melihat Tiara duduk di lantai. Kaleng-kaleng bir berserakan, sofa basah, seprai menumpuk, dan cairan sabun mengilap di dekat kamar mandi.

Tatapan Tiara jatuh pada tangan Bram yang menyangga Laras.

“Cepat banget datang,” katanya. “Takut gue bunuh perempuan lo?”

“Kamu kirim alamat ini ke aku dua jam lalu.”

“Biar lo lihat hasilnya.”

Bram tidak menjawab. Ia membawa Laras ke kasur, menyelimutinya, lalu melepas kacamata dari wajahnya. Laras masih memegang kerah kemeja Bram.

“Jangan pergi.”

“Aku di sini.”

“Tiara bilang kamu bakal campakkan aku.”

Tiara tertawa dari lantai. “Nah, jawab. Bakal atau nggak?”

Bram melepaskan jari Laras satu per satu dan menyentuh rambutnya. “Tidur dulu.”

Ia kembali ke ruang utama. “Kamu minum berapa?”

“Peduli?”

“Aku antar pulang.”

“Nggak mau.”

Bram mengambil kantong sampah dan mulai mengumpulkan kaleng. Ia menegakkan meja, memindahkan laptop dari rak tinggi ke tempat aman, lalu menutup botol sabun yang masih tersisa.

Ibu pengelola muncul di pintu yang masih terbuka. Tatapannya langsung tajam melihat seorang laki-laki berada di kamar penghuni perempuan pada malam hari.

“Saya datang karena mereka berdua mabuk dan ada yang hampir jatuh,” Bram menjelaskan. “Saya akan keluar setelah aman.”

“Tidak boleh menginap.”

“Saya paham.”

Bram menunjuk sofa, meja, dan cairan di lantai. “Semua kerusakan saya ganti. Besok orang akan datang membersihkan.”

“Mbak Laras yang menyewa. Saya bicara dengan dia besok.”

“Tetap saya yang tanggung.”

Ibu itu memandang Laras yang terbaring dan Tiara yang duduk di lantai. “Pintunya tetap terbuka. Kalau ribut lagi, saya telepon keamanan.”

Setelah perempuan itu pergi, Tiara mencibir. “Hebat. Sekarang lo datang jadi pahlawan dan bayar semuanya.”

“Aku bayar karena sofa itu rusak dalam masalah yang juga kubuat.”

“Gue yang menuang airnya.”

“Dan aku alasan kamu datang.”

Tiara tampak ingin membantah, tetapi Laras tiba-tiba batuk dari kamar mandi.

“Sok rajin,” kata Tiara. “Di rumah nggak pernah nyentuh pel.”

“Di rumah nggak pernah ada orang menghancurkan satu kamar.”

“Gue yang hancurin. Marahin gue.”

“Besok saat kamu sadar.”

Tiara berdiri dengan susah payah. “Gue pulang sendiri.”

“Kamu nggak boleh nyetir.”

“Bukan urusan lo.”

Ia meraih sepatu hak tinggi dan keluar tanpa memakainya. Bram hendak mengejar, tetapi Laras muntah di kamar mandi. Ia berbalik, menahan rambut Laras, membilas wajahnya, lalu memberinya air.

Kemeja Bram terkena campuran air, bir, dan sabun. Setelah memastikan Laras tertidur lagi, ia mandi cepat di kamar mandi kecil dan mengenakan kaus bersih yang dibawa di mobil.

Saat keluar, Tiara sudah tidak ada di ruangan.

Obat maag yang dibeli Laras masih tergeletak di meja. Bram mengambilnya dan turun.

Tiara duduk di tangga antara lantai satu dan dua. Sepatu hak tinggi tergantung di satu tangan. Tangan lainnya menekan perut.

“Minum ini.” Bram menyodorkan obat dan botol air.

Tiara melihat kemasan tersebut. “Laras yang beli?”

“Iya.”

“Dia ingat maag gue.”

“Minum.”

Tiara mengambil obat, menatapnya beberapa detik, lalu melemparkannya ke anak tangga bawah.

“Nggak butuh.”

Bram turun dua anak tangga, memungut obat, dan meletakkannya di samping Tiara. “Terserah. Aku pesan mobil.”

“Peduli sama gue?”

“Kamu mabuk dan sakit.”

“Atau lo takut gue bikin masalah buat Laras?”

Bram bersandar pada dinding, memberi jarak. “Aku takut kamu jatuh di tangga.”

Tiara tertawa, lalu meringis karena perutnya. “Selama nikah, kapan terakhir lo takut gue jatuh?”

“Kamu nggak pernah membiarkan aku cukup dekat untuk tahu.”

“Waktu gue demam dua tahun lalu, lo pergi latihan.”

“Kamu bilang perawat rumah sakit bisa jaga.”

“Waktu Mama gue masuk rumah sakit, lo transfer uang tapi nggak datang.”

“Kamu bilang keluarga lebih suka aku nggak muncul karena mereka belum tahu kita sedang berantem.”

“Lo selalu punya jawaban.”

“Karena kita selalu memberi alasan supaya nggak perlu saling mendekat.”

Tiara mengusap hidung dengan punggung tangan. “Tapi sama Laras lo nggak butuh alasan. Dia muntah sedikit, lo langsung pegang rambutnya. Dia jatuh, lo angkat. Dia nangis, lo datang tujuh jam.”

Bram tidak menyangkal.

“Apa gue seburuk itu sampai nggak pernah layak diperlakukan begitu?”

“Bukan soal layak.”

“Terus apa?”

“Kita nggak pernah menginginkan satu sama lain.”

Tiara menunduk. “Mungkin gue pernah menunggu lo mulai.”

“Aku juga pernah menunggu kamu.”

“Terus kita sama-sama terlalu gengsi.”

“Mungkin.”

Pengakuan itu menenangkan lorong selama beberapa detik. Mereka akhirnya mengakui bahwa kegagalan itu bukan lahir dalam satu malam dan bukan hanya karena satu perempuan.

“Jangan salahin gue sekarang.”

“Aku nggak menyalahkan.”

“Lo selalu begitu.” Mata Tiara memerah. “Tenang, masuk akal, seolah gue satu-satunya yang gila.”

Bram diam.

Tiara menunjuk pintu kamar Laras di lantai atas. “Tadi sengaja, kan? Gendong dia, bisik-bisik, bilang calon istri. Sengaja mesra di depan gue biar gue jijik. Biar gue muak dan akhirnya mau cerai.”

“Laras hampir jatuh.”

“Lo bisa bantu tanpa menyebut diri suaminya!”

“Dia mabuk.”

“Gue juga mabuk, tapi lo nggak gendong gue.”

Kalimat itu keluar seperti luka lama. Bram menatap kaki Tiara yang telanjang di lantai dingin, sepatu tergantung, riasan hancur.

“Kalau kamu nggak bisa jalan, aku gendong.”

“Nggak usah.”

“Tadi kamu bilang aku nggak mau.”

“Karena gue mau lo memilih sendiri, bukan setelah gue minta!”

Suara Tiara menggema di lorong. Ia menekan perut lebih keras dan menangis tanpa menghapus air mata.

“Lo bikin gue jijik sama semua ini supaya gue menyerah,” katanya. “Padahal dari awal lo yang selingkuh. Lo yang bohong. Sekarang lo berdiri seolah paling benar.”

Bram tidak membantah kesalahannya.

Ia memang datang karena menerima alamat dari Tiara dan takut dua perempuan itu saling melukai. Namun saat Laras jatuh ke pelukannya, Bram lupa bahwa setiap sentuhan akan menjadi pisau bagi Tiara. Ia tidak merencanakan pertunjukan, tetapi juga tidak berusaha menyembunyikan perasaannya.

“Aku salah karena selingkuh,” katanya. “Aku salah karena baru jujur setelah ada Laras. Tapi aku nggak sengaja membuatmu melihat semua itu untuk memaksa kamu.”

“Hasilnya sama.”

“Mungkin. Dan aku tetap minta maaf.”

Tiara tertawa pendek. “Maaf dari lo selalu datang setelah semua keputusan dibuat.”

Tiara menatapnya dengan mata merah menyala.

“Munafik banget kamu, Bram!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!