Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Tak Butuh Duitmu, Mas!

Aku Tak Butuh Duitmu, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:16.7k
Nilai: 5
Nama Author: eli_wi

Tit... Tit... Tit...

"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.

Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.

Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ponsel

Tring... Tring...

Eh...

Aruna yang sedang memilah sayur pun langsung menghentikan kegiatannya saat mendengar bunyi suara ponsel. Suaranya tampak asing karena Aruna sangat hafal dengan nada dering yang dipasang pada ponsel miliknya dan Kafka. Aruna segera mencari sumber suara ponsel itu kemudian berhenti di depan kursi panjang yang tertutup selimut Kafka. Aruna membuka selimut itu dan melihat ada sebuah ponsel mewah berharga puluhan juta.

"Ponsel siapa ini? Harganya puluhan juta begini, tidak mungkin punya Mas Kafka kan?" gumam Aruna yang langsung mengambilnya dan mengangkat panggilan masuk. Pasalnya Aruna pikir, mungkin itu adalah ponsel orang yang hilang kemudian menghubungi.

"Mas Kafka sayang... Kenapa transferannya belum masuk? Aku keburu mau beli sarapan ini. Aku udah di restorant langganan kita," seru seseorang dari balik panggilan itu tanpa menunggu sapaan dari orang yang mengangkat ponsel.

Deg...

Klik...

Tanpa basa-basi, Aruna langsung mematikan panggilan itu. Transferan? Sayang? Restorant? Aruna hanya bisa terkekeh miris mendengar suara seorang perempuan di balik ponsel itu. Aruna memeriksa ponsel itu yang ternyata adalah milik Kafka. Terlihat dari wallpaper pada ponsel itu.

Beruntung ponsel itu tidak dikunci sama sekali. Kafka memeriksa aplikasi pesan milik suaminya. Terlihat chat dari nomor yang tadi menghubungi Kafka berada di posisi paling atas. Aruna membuka dan membaca semua pesan itu sambil menahan sesak dalam dadanya. Emoticon love dan foto seksi yang dikirimkan perempuan itu.

"Anak dan istrinya di rumah gelap-gelapan juga kelaparan. Dia di luaran sana malah main gelap sama perempuan lain. Transferannya juga luar biasa," Aruna menggelengkan matanya tak percaya melihat banyak sekali bukti transfer kepada perempuan itu. Bahkan dia yang istrinya saja, belum pernah diberi uang segitu banyaknya. Kelakuan Kafka yang baru saja terbongkar itu membuat Aruna sadar diri bahwa dia bukan lah perempuan satu-satunya.

"Dua, lima, sepuluh juta setiap beberapa hari sekali. Luar biasa..."

"Bahkan aku minta untuk beli token listrik 20 ribu saja, dia sampai emosi dan melempar uang ke wajahku. Sedangkan sama perempuan lain malah sangat royal," gumamnya dengan mata berkaca-kaca.

Brumm... Brumm...

Mendengar suara mobil masuk halaman rumah, Aruna segera mengembalikan ponsel itu pada tempatnya. Bahkan menutupnya dengan selimut, seperti semula. Dia mengusap kedua pipinya yang tanpa sadar basah karena air mata. Dia juga segera duduk kemudian memilah sayuran yang akan dijualnya. Walaupun dia duduk diam dengan sayuran di depannya, tapi hati dan pikirannya seperti tengah bertengkar. Kafka masuk dengan langkah buru-buru dan mencari ponselnya.

"Syukur lah," gumam Kafka setelah mengetahui ponselnya aman karena selimut masih berada di tempatnya.

"Ponsel baru, Mas?" tanya Aruna dengan melirik sekilas.

"Enggak. Ini dikasih second sama kantor karena ponsel yang kemarin rusak. Mereka kasih biar mudah menghubungi Mas," ucap Kafka memberikan alasan. Aruna hanya menganggukkan kepalanya walaupun tak percaya dengan ucapan Kafka.

Ibu... Ibu...

"Lho... Nasya," seru Aruna saat melihat Nasya masuk ke dalam rumah sambil memanggilnya. Bahkan wajahnya sudah basah dengan air mata.

Huaaaa...

"Kenapa, Nak?" tanyanya yang kemudian menggendong Nasya.

Nasya menggelengkan kepalanya sambil menangis histeris. Aruna mencoba menenangkannya karena percuma juga bertanya pada anaknya yang masih menangis. Sedangkan Kafka tampak diam dan sibuk dengan ponselnya. Beberapa kali dahinya berkerut karena heran sekaligus bingung saat melihat ponselnya. Dia tidak peduli dengan suara tangisan Nasya yang menggelegar di rumah itu.

"Mas, kenapa Nasya menangis?" tanya Aruna pada Kafka yang sibuk sendiri. Bahkan dia tidak berniat menjelaskan apapun pada Aruna.

"Nggak tahu, tantrum kali. Biasa anak perempuan kan manja. Sekalinya ketemu sama Ayahnya, manja." ucap Kafka memberikan alasan yang tidak masuk akal.

"Nasya bukan anak yang seperti itu. Sama Ayahnya aja kalau lihat, udah kaya melihat setan." ucap Aruna dengan sindirannya.

"Apa kamu bilang? Setan? Oh... Nasya manja dan kurang ajar begini karena ajaranmu kan? Kamu yang menjelekkanku di depan dia," seru Kafka yang langsung berdiri dengan wajah emosi.

"Tanpa perlu aku jelekkan, kamu itu sudah jelek." ucap Aruna dengan ketus.

"Apa kamu..."

Plakk...

Ibu...

Saat Kafka hendak mengayunkan tangannya ke arah wajah Aruna, tiba-tiba saja Ibu Salma datang. Bahkan saat ini bukan Aruna yang terkena pukulan dan tamparan, melainkan Kafka. Ibu kandung Kafka itu menampar anaknya sendiri demi membela menantu dan cucunya. Bahkan saat ini Ibu Salma sudah berdiri di depan Kafka, menghalangi anaknya agar tidak macam-macam dengan Aruna dan Nasya. Tatapannya penuh emosi melihat anak kandungnya begitu tega pada menantu dan cucunya.

"Ibu tega memukul anak kandung sendiri? Ingat, Bu. Kafka ini anak kandung Ibu, bukan Aruna. Kok malah belain dia sih," teriak Kafka sambil menatap tak percaya pada Ibunya.

"Ingat juga akan tanggungjawabmu pada Aruna dan Nasya, Kafka. Soal tega dan tidak, semua tergantung dengan adab dari orang itu sendiri. Memang benar apa yang dikatakan Aruna, kamu itu suami tidak punya hati. Baru semalam pulang, rumah ini isinya kok cuma keributan." seru Ibu Salma sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah Kafka.

"Nasya itu sedang menangis, seharusnya bantu Aruna untuk menenangkannya. Bukan malah mainan ponsel. Ada apa sih sama ponsel mahalmu itu, ha? Buat gengsi saja bisa, tapi belikan token listrik tidak sampai lima puluh ribu tak mampu." lanjutnya dengan ucapan pedasnya.

Kafka terdiam mendengar ucapan menohok dari Ibu Salma. Sebelum pergi, dia hanya meninggalkan uang dua puluh ribu untuk Aruna dan Nasya. Jaman sekarang, uang dua puluh ribu untuk tiga hari itu bisa apa? Kafka yang aibnya diungkit oleh Ibu Salma pun memilih pergi ke kamarnya. Dia kalah telak karena Aruna dibela oleh Ibu Salma. Wanita paruh baya itu membalikkan badannya kemudian memeluk Aruna dan Nasya.

Hiks... Hiks...

"Maafkan anak Ibu yang dzalim sama kamu dan Nasya, Aruna. Ibu gagal mendidiknya," ucap Ibu Salma yang merasa bersalah pada menantu dan cucunya.

"Ibu tidak salah. Mas Kafka saja yang tidak tahu diri," ucap Aruna yang juga ikut menangis. Aruna begitu terharu melihat pembelaan dari mertuanya.

"Ini tetap salah Ibu," Aruna hanya tersenyum mendengar ungkapan rasa bersalah Ibu Salma. Aruna melepaskan pelukannya kemudian membawa Ibu Salma duduk di kursi ruang tamu.

"Sebenarnya tadi ada masalah apa? Kok sampai Kafka mau memukulmu," tanya Ibu Salma ingin memastikan sesuatu.

"Nasya tadi diantar Mas Kafka berangkat sekolah, tapi tidak tahu mengapa kok malah balik lagi." ucap Aruna yang juga kebingungan penyebab Nasya kembali pulang.

"Ayah buru-buru pulang karena ponselnya ketinggalan, Bu. Ayah nggak jadi antar karena lebih penting ponselnya," ucap Nasya mengadu sambil menangis sesenggukan.

Ponsel?

1
E F
lanjuttt thor💪🙏😍
sunaryati jarum
Lha Cerai saja baru proses kok sudah mau dijodohkan
Penulis Eli: Hanya bercanda itu, kak 🙈
total 1 replies
E F
lanjutt thor💪😍
aku
bu salma dan bu lala ini kyk e mudanya bar2 sekali ya 🤣🤣 ceplas ceplos jg 🤣🤣
sunaryati jarum: Kalau sudah ketemu teman sekolah,lupa umur.Termasuk emak dan teman - sekolah .
total 1 replies
aku
dua duanya aja. gongin sama anak. 😁
Suwastika
wah...bener² ad udang d balik bakwan BS pas bgt🥰🥰
Muft Smoker
waaaah duo bestie pda garcep niih ,, tp yg pling garcep yx bu Salma 🤭🤭🤣🤣
aku
mamer dorong mantunya kenceng bgt yakk 🤣🤣 keburu amat 🤣🤣 ketok palu ja blm itu mantu 🤣🤣
E F
lanjutt thor💪😄😍
Muft Smoker
bu Salma semangat banget mau jodohin menantu ny ,,
😁😁😁😁
sunaryati jarum
Nah gitu tegas, segera visum untuk bukti.Dsn bukti perselingkuhannya sekalian
sunaryati jarum
Langsung lapor yang berwenang itu sudah penganiayaan berat mengarah pembunuhan
Puspa Sella
benci cara pikiran Aruna ini
Muft Smoker
penjara kan saja si Kafka. bu ,,
Kafka mungkin ank kandung mu,,
tp jiwa ny bukan ,, dy cuma laki2 pengecut jelmaan Dari kodok sawah ,, 😒😒😒😒
uphet
aduuuhhh Bu Salma d sangka mabok abis makan kecubung🤣🤣🤣
E F
tq thor🙏😍
smangat sehat sll up byk2🤭😄💪
aku
kayak mana gk mlongo wong kalimatnya gitu 🤣🤣🤣 aduh nenek ini 🤣🤣
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
makin seruu cerita ny
E F
😄😄
tq thor🙏😍
smangatttt up byk2🤭💪
E F
lanjuttt thor💪😍
smangattt hempasssss cpttttt😄💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!