Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.
Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.
Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.
Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: LELAKI DALAM MIMPI
Angin dingin yang bertiup di antara tiga makam tanpa nama meredam jeritan batin Lian Yue dan Shen Rui. Keputusasaan yang diungkapkan oleh Qing Luo menggantung tebal di udara, membasahi tanah tempat mereka bertiga berdiri dalam keheningan yang panjang dan menyiksa.
Setelah pengakuan yang mengguncang jiwa itu, Qing Luo membimbing mereka keluar dari pelataran makam tersembunyi. Mereka berlindung di sebuah pondok berburu terpencil di lereng selatan Lembah Karang—sebuah tempat kayu tua yang lapuk, terlindung dari kejaran prajurit Paviliun Tianjian dan kejaran amarah warga Desa Wuxi.
Malam kembali merayap, membungkus lereng pegunungan dengan kehangatan perapian kecil yang disulut oleh Shen Rui di sudut ruangan.
Lian Yue terbaring di atas bale-bale kayu beralas jerami kering. Tubuhnya yang lemah akibat guncangan emosional dan desakan ingatan masa lalu akhirnya menuntut istirahat. Napasnya lambat dan beratur, namun dahinya berkerut ketakutan, menandakan bahwa jiwanya tidak benar-benar berada dalam kedamaian.
Di alam bawah sadarnya, sebuah bayangan mimpi mulai terbentuk.
Lian Yue berdiri di sebuah pelataran aula besar berdinding batu pualam bersulam ukiran emas perak. Di sekelilingnya, kelopak-kelopak bunga plum merah berjatuhan dengan amat anggun, diterbangkan oleh angin hangat yang terasa amat asing.
Ia mengenakan gaun pengantin sutra merah membara bersulam benang emas bertema naga dan burung feniks. Jepit rambut tiara sisik perak yang biasanya menghiasi rambutnya kini berganti dengan mahkota pengantin giok merah yang mewah.
Di depannya, berdiri seorang pria dalam balutan jubah pengantin merah bersulam benang perak yang senada. Wajah pria itu kabur, tertutup oleh pendar cahaya emas yang terlalu menyilaukan untuk ditatap oleh mata telanjang Lian Yue.
Pria itu mengulurkan tangannya yang tegap, menggenggam erat jemari halus Lian Yue. Sentuhan kulit pria itu terasa amat hangat—sebuah kehangatan yang mengikis seluruh rasa dingin di dalam jiwa Lian Yue.
"Hari ini," suara pria itu terdengar rendah, merdu, dan sarat akan pengabdian yang tak tergoyahkan. Suaranya bergema ganda, seolah-olah dituntun oleh resonansi jiwa yang telah hidup selamanya. "Di bawah saksi bumi dan langit, jiwaku adalah milikmu, Lian Yue. Tak akan ada hukum manusia, tak ada amarah langit, dan tak ada kutukan yang sanggup memisahkan ikrar ini."
Lian Yue mendongak, berusaha keras melihat wajah pria itu di balik pendar cahaya perak yang tebal.
"Siapa kau...?" bisik Lian Yue dalam mimpinya, air mata haru menetes membasahi pipinya.
Pria itu tersenyum samar di balik pendar cahaya, membelus pipi Lian Yue dengan kelembutan yang teramat dalam.
"Kau sudah tahu siapa aku, Ning'er..." sahut pria itu pelan. "Aku adalah pedangmu, dan kau adalah jiwaku."
Meskipun wajah pria itu terhalang oleh ilusi cahaya ghaib, suara rendahnya, irama napasnya, hingga kehangatan telapak tangannya persis sama dengan Shen Rui.
Lian Yue terbangun dengan napas memburu dan terengah-engah.
Ia mendudukkan tubuhnya secara mendadak di atas bale-bale kayu. Peluh dingin membasahi dahi pucat dan lehernya. Matanya yang berwarna perak bening terbuka lebar di tengah keremangan gubuk kayu.
Di sudut ruangan dekat jendela yang terbuka sedikit, Shen Rui duduk terjaga. Pria itu sibuk mengasah mata bilah Pedang Zhaoyang menggunakan batu asah hitam. Suara gemeresik gesekan baja perunggu dan batu asah itu terdengar teratur di tengah keheningan malam.
Mendengar gerakan mendadak dari tempat tidur, Shen Rui meletakkan batu asahnya. Ia menoleh, matanya yang tajam menatap Lian Yue dengan raut cemas yang tertahan.
"Kau bermimpi buruk?" tanya Shen Rui dengan suara rendah—suara yang persis sama dengan pria dalam gaun pengantin merah di alam mimpinya.
Lian Yue menatap Shen Rui tanpa berkedip. Jantungnya berdetak liar di balik dada kirinya. Kilasan pernikahan berdarah, janji di aula pualam, dan suara manis pria itu terus berputar-putar di kepalanya.
"Aku... aku bermimpi menikahi seseorang," bisik Lian Yue, suaranya gemetar menahan getaran emosi yang meletup-letup.
Shen Rui menghentikan tangannya yang sedang memegang gagang pedang. Ia menatap Lian Yue tajam. "Menikahi seseorang?"
Lian Yue mengangguk pelan. Ia menyelimuti tubuhnya dengan kain linen kusam, menatap lurus ke dalam mata elang Shen Rui.
"Aku tidak bisa melihat wajahnya di dalam mimpi itu," lanjut Lian Yue dengan mata berkaca-kaca. "Wajahnya tertutup pendar cahaya ghaib. Tapi sentuhan tangannya... caranya memanggil namaku... dan suaranya..."
Lian Yue jeda sejenak, menelan ludah seraya menyuarakan kebenaran yang menggetarkan jiwanya:
"Suara pria di dalam mimpiku itu... sama persis dengan suaramu, Shen Rui."
Shen Rui mematung. Keheningan yang sangat pekat kembali melingkupi gubuk kayu tua itu. Gesekan pedang dan batu asah telah terhenti sepenuhnya, menyisakan derak kayu perapian dan getaran takdir yang kian merapat di antara mereka berdua.