Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Ranti menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang kusam karena lelah.
"Baiklah, aku beri kesempatan sekali lagi," kata Ranti akhirnya, suaranya terdengar dingin meski membawa sedikit kepasrahan.
Mendengar keputusan itu, raut lega seketika terpancar di wajah Linda dan Andi. Seulas senyum tipis terukir di bibir pucat Andi.
"Terima kasih, Ranti... Terima kasih, Sayang. Aku janji nggak akan mengecewakan kamu lagi," bisik Andi dengan nada penuh syukur dari ranjangnya.
"Tapi ada syaratnya!" potong Ranti cepat dengan tatapan mata menajam.
Ia menunjuk Andi dan Linda bergantian. "Aku bertahan bukan karena aku masih kasihan sama kamu, Andi. Aku bertahan cuma karena aku nggak mau hidup melarat! Begitu kamu sembuh, kamu harus cari cara buat balikin semua harta kita!"
"Iya, Nak, pasti! Andi pasti bakal kerja keras!" sahut Linda cepat, merangkul bahu Ranti dengan penuh perhatian palsu. "Ibu yang bakal pastikan Andi nggak malas-malasan."
Ranti melipat kedua tangannya di dada. "Satu hal lagi. Dan cari cara agar bisa melaporkan Alya ke polisi, kalau kalian tidak tahu caranya, aku nggak akan ragu buat ninggalin kalian berdua!"
Andi menelan ludah dengan susah payah, lalu mengangguk cepat. "Iya, Sayang. Aku janji akan mencari caranya."
"Bagus kalau sadar," sahut Ranti datar. Ia menyambar tasnya kembali. "Sekarang aku mau pulang dulu ke rumah buat menyelamatkan barang-barang berharga dan perhiasanku sebelum disita resmi besok pagi. Ibu jaga Andi di sini."
"Iya, Ranti. Hati-hati di jalan ya, Nak," ujar Linda manis, sangat berbeda dengan sikap angkuhnya di masa lalu.
Ranti membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruang perawatan. Koridor rumah sakit yang lengang menyambut langkah kakinya yang berat.
Di dalam hatinya, Ranti masih menyimpan kecemasan luar biasa, ia tahu, bangkit dari kemiskinan di bawah bayang-bayang kekuasaan Alya bukanlah hal yang mudah.
...******...
Matahari pagi bersinar cerah di atas sebuah rumah berdesain minimalis namun tampak sangat elegan dan asri.
Rumah itu berada di kawasan perumahan elit yang tenang dan dijaga ketat oleh sistem keamanan tingkat tinggi.
Sementara kontrakan yang baru di beli waktu itu sedang di renovasi dan akan di jadikan Yayasan atas nama Alisya.
Di halaman belakang yang hijau, Alisya sedang berlarian gembira mengejar seekor anak kucing putih yang baru dibelikan ibunya kemarin sore.
Gelak tawa mungilnya memecah keheningan pagi, karena hari ini libur, Alisya bisa main sepuasnya.
Alya berdiri di teras rumah, menikmati udara pagi sambil memegang secangkir teh hangat.
Dari kejauhan, ia memperhatikan putri kecilnya dengan tatapan mata yang dipenuhi kehangatan dan rasa syukur.
Langkah kaki teratur terdengar mendekat.
Leon melangkah mendekat dengan setelan jas hitamnya yang rapi, berdiri beberapa langkah di belakang Alya dengan sikap penuh hormat.
"Madam," sapa Leon pelan.
Alya tidak menoleh, matanya tetap tertuju pada Alisya. "Bagaimana perkembangan di rumah sakit, Leon?"
"Tuan Andi sudah selesai menjalani operasi, Madam. Kondisinya stabil," jawab Leon sistematis. "Nyonya Ranti dan ibunya memutuskan untuk tetap bersama Tuan Andi. Tampaknya mereka sedang merencanakan untuk memulai bisnis kecil-kecilan dari sisa koneksi lama Nyonya Ranti."
Alya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan makna, senyuman anggun seorang Ratu yang memegang kendali penuh atas segalanya.
"Biarkan saja," kata Alya santai seraya menyesap tehnya. "Berikan mereka sedikit harapan. Orang yang berada di puncak kesombongan harus merasakan bagaimana rasanya berjuang dari bawah."
"Apakah perlu disiapkan pengawasan melekat pada mereka, Madam?" tanya Leon.
"Cukup pantau dari jauh. Selama mereka tidak memicu masalah atau menyebut nama Alisya lagi, biarkan mereka hidup dalam ilusi mereka sendiri," tegas Alya. "Tapi jika mereka berani menyentuh selembar benang pun milik anakku..."
Alya membalikkan badan, menatap Leon dengan mata tajam yang dingin.
"...kau tahu apa yang harus kau lakukan."
"Dimengerti, Madam," jawab Leon membungkuk dalam-dalam. "Seluruh aset dan kawasan perumahan ini juga sudah dipastikan bersih dan aman untuk Putri Alisya."
"Bagus. Terima kasih, Leon. Kamu bisa pergi."
Leon menunduk sekali lagi lalu melangkah mundur secara perlahan dan menghilang di balik gerbang.
Alya meletakkan cangkir tehnya di meja, lalu berjalan mendekati Alisya yang sedang duduk di atas rumput sambil memangku anak kucingnya.
"Mama! Lihat, kucingnya lucu banget!" seru Alisya berbinar-binar saat melihat ibunya menghampiri.
Alya berjongkok, mengelus kepala Alisya dan merapikan poni rambutnya yang berantakan.
"Alisya suka rumah baru ini?" tanya Alya lembut.
"Suka banget, Ma! Ada tamannya, ada kucingnya, terus nggak ada orang-orang jahat yang suka marah-marah lagi!" jawab Alisya polos dengan senyuman paling tulus.
Alya merengkuh tubuh kecil itu ke dalam pelukannya, mengecup kening Alisya dengan penuh kasih sayang.