Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.
Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.
Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.
Sialan emang.
Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.
Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Akhir dari Masa Percobaan
"Apa?" desis Kian, suaranya berat dan tertahan di tenggorokan.
Suasana di meja makan mendadak hening seketika. Makanan di piring masing-masing seolah kehilangan daya tariknya. Papa, Mama, Om Heru, dan Tante Maya mendadak mematung. Tatapan Kian yang tadinya tengil dan santai kini meredup. Pria di hadapan gue itu menatap gue dengan raut murung yang sangat jelas, seolah dunia baru saja runtuh di kepalanya. Dia pasti mengira gue benar-benar mau mengakhiri semuanya di sini.
Gue menelan ludah, menatap lurus ke dalam matanya yang mulai meredup itu.
"Elora mau udahin masa percobaan tiga bulan ini," ulang gue dengan suara yang lebih mantap, lalu tersenyum tipis. "Soalnya Elora enggak mau cuma terjebak di status PDKT atau pacaran main-main lagi sama Kian."
Kian berkedip beberapa kali, masih membeku.
"Dalam tiga bulan ini, Kian berhasil ngebuktiin kalau semua keraguan Elora selama ini salah. Dia enggak pernah memperlakukan Elora atas dasar rasa terpaksa, kasihan, apalagi sekadar formalitas perjodohan orang tua," sambung gue, menatap Om Heru dan Tante Maya bergantian. "Jadi... Elora enggak butuh waktu sampai enam bulan buat yakin. Jawaban Elora malam ini... kalau Kian mau, Elora siap bawa hubungan ini langsung ke jenjang pernikahan."
Detik berikutnya, keheningan itu pecah total.
"SERIUSAN, RA?!" pekik Tante Maya heboh, sampai menggebrak meja pelan dan berdiri dari kursinya.
Mama langsung menutup mulutnya yang menganga, sementara Papa dan Om Heru tertawa lebar sambil menepuk-nepuk bahu satu sama lain. Suasana ruang makan keluarga yang tadinya tegang bagai ruang sidang mendadak riuh seperti pasar kaget.
Di tengah keriuhan itu, Kian masih terdiam. Matanya berkaca-kaca, menatap gue tanpa berkedip. Manik matanya yang biasa dipenuhi kilat jahil kini memantulkan rasa kaget dan haru yang tidak bisa dia sembunyikan. Dia benar-benar tidak menyangka ucapan itu akan keluar dari mulut gue.
Tante Maya yang masih heboh memegang dada, menatap gue dengan mata berbinar. "Elora, yakin, Ya? Kamu enggak bakal berubah pikiran lagi, kan? Ini beneran mau langsung diseriusin?"
"Yakin banget, Tante," jawab gue mantap.
Kian akhirnya menghela napas panjang, sebuah napas lega yang sangat dalam. Senyum lebarnya yang khas dan sedikit tengil slowly bersemi di wajahnya. Tanpa memedulikan empat orang tua yang masih sibuk bersorak di sekitar kami, Kian mendadak bangkit dari kursinya, melangkah cepat menghampiri gue, lalu memegang kedua sisi wajah gue.
Dia mendekatkan wajahnya dengan cepat, memejamkan mata, dan berniat mendaratkan ciuman tepat di bibir gue.
"Eeeehhh! Mau ngapain kalian?!"
Suara bentakan gabungan dari Papa dan Om Heru menggelegar di udara. Tangan Papa dengan cepat menarik kerah belakang kemeja Kian, membuat cowok itu terdorong mundur dengan muka cengo.
"Belum sah, ya! Enak aja main sosor di depan orang tua!" omel Om Heru sambil menunjuk Kian pakai sendok makan.
"Batalin nih perizinannya kalau kamu macam-macam sebelum akad!" ancam Papa setengah bercanda.
Gue cuma bisa tertawa geli melihat Kian yang langsung mengusap tengkuknya sambil nyengir kuda, memamerkan deretan giginya yang rapi tanpa rasa dosa.
Satu jam kemudian, keriuhan di dalam rumah mulai mereda. Para orang tua sudah sibuk di ruang keluarga, menyusun rencana tanggal lamaran dan akad dengan kalender besar di atas meja. Gue dan Kian memilih kabur sejenak ke area teras samping, duduk berdua di bangku kayu favorit kami sejak kecil.
Angin malam berembus pelan, membawa aroma tanah basah sisa hujan sore tadi.
Kian menyandarkan punggungnya, menatap langit malam sebentar sebelum memalingkan kepala ke arah gue. Sifat tengilnya sudah kembali, tapi ada pendar hangat di matanya yang tak pernah hilang.
"Ra," panggilnya pelan.
"Apa?"
"Gue masih merasa kayak mimpi, deh," Kian terkekeh kecil, lalu meraih tangan kanan gue dan menggenggamnya erat-erat. "Lu beneran mau nikah sama gue kan? Bukan karena kasihan atau kepaksa?"
Gue memutar bola mata, sengaja mendesah pelan. "Kian Bagaskara... kalau gue kepaksa, dari tadi gue udah kabur naik taksi online, bukannya meladeni kehebohan mamamu di dalam."
Kian tertawa renyah, suara tawa yang selalu berhasil mencairkan suasana paling kaku sekalipun. Dia membawa punggung tangan gue ke bibirnya, mengecupnya lama dan lembut.
"Makasih ya, Ra," bisik Kian, menatap gue lurus. "Makasih udah mau kasih gue kesempatan. Makasih udah mau percaya sama gue."
Gue tersenyum, membalas genggaman tangannya tak kalah erat. Semua perjalanan panjang dari masa kecil, rasa suka yang terpendam, penolakan, hingga perjodohan konyol ini akhirnya bermuara di titik yang tepat. Gue enggak perlu lari lagi, karena rumah yang gue cari ternyata ada di sebelah gue selama ini.
"Gue yang makasih, Ki," ujar gue pelan namun penuh penekanan. "I love you, Kian Bagaskara."
Kian tersenyum lebar, senyuman paling tulus dan tampan yang pernah gue lihat seumur hidup gue. Dia mengacak rambut gue gemas, lalu merengkuh bahu gue untuk mendekat ke pelukannya.
"I love you more, Elora Zevanya Sofyan. Sampai kapan pun."
Tamat
AUTHOR'S NOTE
Season 1 resmi tamat! Yeay! 🎉
Siap buat cerita yang makin seru? Yuk, langsung lanjut ke Season 2!
Di Season 2, kita bakal menyaksikan seberapa random-nya kehidupan Kian & Elora setelah resmi pacaran hingga melangkah ke jenjang pernikahan. Dijamin makin seru dan bikin senyum-senyum sendiri!
Jangan lupa like, subscribe, dan kasih komentar terbaik kalian!
Cusss, klik bab berikutnya sekarang! 👇