Indonesia
NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI YANG DIBUAT BUTA

DENDAM ISTRI YANG DIBUAT BUTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Orang Disabilitas
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.

Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.

Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.

Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.

"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."

Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.

"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB — 20

"Bukan sedang mencari benda ini, Sayang?" bisik Arga dengan nada yang sangat rendah, tangannya perlahan mengangkat ponsel milik Kirana yang tergeletak di atas meja rias.

"Benda apa yang sedang kau pegang, Sayang? Aku sama sekali tidak tahu apa yang ada di tanganmu!" jerit Kirana dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. "Tolonglah, tanganku sangat perih! Serpihan kaca ini menusuk kulitku, Sayang!"

"Ini adalah ponsel milikmu, Kirana. Posisinya berada tepat di hadapan tanganmu yang terulur tadi. Sungguh sebuah kebetulan yang sangat luar biasa, bukan?"

"Ponsel?! Untuk apa aku mencari ponsel di tengah malam buta seperti ini, Arga?! Apakah kau sudah kehilangan akal sehatmu?!" teriak Kirana penuh dengan rasa frustrasi dan keputusasaan. "Bahkan untuk menekan layar kacanya saja aku tidak mampu karena mataku cacat! Apakah kini kau menuduhku yang tidak-tidak di saat aku sedang berdarah dan kesakitan?!"

"Lalu, mengapa kau bisa tersesat hingga ke sudut ruangan ini, Sayang? Nakas tempat biasa aku meletakkan air minum berada di sisi kiri ranjang kita, bukan di meja rias ini." Arga terus mendesak, suaranya sedingin es.

"Karena aku kehilangan arah, Sayang! Saat aku turun dari ranjang, kepalaku terasa sangat berputar. Aku melangkah tertatih-tatih sambil berpegangan pada dinding. Aku meraba-raba benda di atasku, mengira itu adalah botol air minum... ternyata itu adalah botol parfum! Aku hanya merasa sangat haus, Arga. Aku hanya ingin seteguk air," isak Kirana semakin keras, tubuhnya bergetar hebat bersimpuh di atas lantai yang dipenuhi pecahan kaca.

Melihat istrinya menangis tersedu-sedu dengan jari yang terus meneteskan darah segar, raut wajah kaku Arga perlahan mulai mengendur. Keyakinan arogannya kembali menguasai pikirannya. Ia merasa tidak mungkin wanita buta ini bisa merencanakan sesuatu.

"Jika kau memang membutuhkan air minum, mengapa kau tidak memanggil namaku, Sayang?" tanya Arga, nada suaranya kini sedikit melembut.

"Karena kau mengatakan kepadaku bahwa kau akan turun ke dapur! Aku mengira kau sudah pergi. Aku tidak ingin terus-menerus merepotkanmu, Sayang. Aku lelah menjadi beban yang menyusahkan untukmu!" rajuk Kirana, menyandarkan kepalanya pada lutut Arga yang berdiri di hadapannya.

"Sst... Sudahlah, Sayang. Maafkan aku atas kecurigaanku. Aku hanya merasa terkejut melihatmu berada di sini." Arga berjongkok, menarik lengan Kirana perlahan. "Mari, berdirilah dengan hati-hati. Jangan sampai kakimu menginjak pecahan kaca yang lain."

"Kau sungguh kejam, Sayang. Kau meninggalkanku sendirian dalam kegelapan, dan ketika aku terluka, kau justru melontarkan tuduhan yang sangat menyakitkan hati."

"Aku sungguh meminta maaf, Istriku. Tadi aku menghentikan langkahku di balik pintu karena aku teringat ada berkas pekerjaan yang belum kuselesaikan. Janganlah menangis lagi. Mari kita duduk di tepi ranjang. Aku akan mengambil kotak obat untuk membersihkan lukamu."

"Lalu... bagaimana dengan ponselku, Sayang? Aku takut benda itu akan terjatuh dan layarnya ikut hancur terkena pecahan kaca."

"Kau tidak perlu memikirkan ponsel ini, Sayang. Layarnya sudah terkena goresan kaca. Biarlah aku yang menyimpannya untuk sementara waktu. Lagipula, benda ini sudah tidak memiliki kegunaan apa pun untukmu saat ini."

"Simpan sajalah, Sayang. Benda itu memang sudah tidak ada gunanya lagi bagi wanita buta sepertiku."

Sambil menahan rasa perih saat lukanya dibersihkan dengan cairan antiseptik, Kirana tersenyum sinis di dalam hatinya.

'Simpanlah ponsel itu, Arga. Kau pikir hal kecil seperti itu mampu menghentikan langkahku untuk menghancurkanmu?'

Keesokan paginya, suasana di ruang makan terasa sangat kaku dan dipenuhi ketegangan yang tersembunyi. Kirana duduk di kursinya, dengan sengaja mengaduk-aduk bubur di mangkuknya dengan tatapan yang kosong, sementara Arga sibuk menyesap kopi hitamnya.

"Kau tampak sangat pendiam pagi ini, Sayang. Apakah luka di jarimu masih terasa sangat menyakitkan?" tegur Arga, memecah keheningan di antara mereka.

"Masih terasa sedikit perih, Sayang. Namun bukan luka ini yang membuatku terdiam. Kepalaku terasa sangat berat akibat mimpi buruk yang menghampiriku semalam," jawab Kirana dengan nada bicara yang terdengar sangat lemah.

"Mimpi buruk apa yang kau maksudkan, Sayang? Bukankah aku sudah berulang kali mengatakan agar kau tidak terlalu memikirkan bunga tidur?"

"Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya, Sayang? Mimpi itu terasa begitu nyata. Aku bermimpi terkurung di dalam sebuah ruangan yang sangat gelap dan pengap. Di luar ruangan itu, aku mendengar suara orang-orang yang merencanakan kematianku."

Arga meletakkan cangkir kopinya secara perlahan. Wajahnya menegang sejenak sebelum ia kembali memaksakan sebuah senyuman.

"Itu hanyalah efek dari kelelahan mentalmu, Sayang. Kau terlalu banyak berdiam diri di dalam rumah. Pikiranmu menciptakan ilusi ketakutan yang tidak berdasar."

"Apakah kau benar-benar yakin bahwa itu hanyalah sebuah ilusi, Sayang? Di dalam mimpiku, suara-suara itu terdengar sangat familier. Seperti suara orang-orang terdekat yang sangat aku percayai."

"Hentikan omong kosong ini, Kirana. Kau membuat suasana sarapan kita menjadi tidak nyaman," potong Arga dengan nada yang sedikit meninggi. "Aku harus berangkat ke kantor lebih awal hari ini. Ada rapat direksi penting yang harus aku persiapkan bersama Rena."

"Apakah kau akan pulang larut malam lagi hari ini, Sayang?"

"Kemungkinan besar demikian, Sayang. Perusahaan sedang membutuhkan perhatian penuh dariku." Arga berdiri dari kursinya dan merapikan setelan jasnya. "Dan, demi keamanan dan keselamatanmu sendiri, aku telah menginstruksikan para penjaga untuk mengunci gerbang utama. Aku juga akan mengunci pintu rumah ini dari luar."

"Mengunci pintu rumah dari luar? Apa maksudmu, Sayang? Kau hendak mengurungku di dalam rumahku sendiri?"

"Ini bukan mengurungmu, Sayang. Ini adalah bentuk perlindunganku terhadapmu. Semenjak Bi Titin tidak ada, tidak ada pelayan yang mengawasimu di dalam rumah. Aku khawatir jika ada orang asing yang masuk dan mencelakaimu. Berdiam dirilah di dalam kamar hingga aku kembali."

"Tetapi, Sayang—"

"Tidak ada bantahan, Kirana. Ini semua kulakukan demi kebaikanmu. Aku berangkat sekarang."

Arga mengecup kening Kirana dengan singkat, lalu melangkah pergi. Suara pintu utama yang ditutup dan dikunci dari luar terdengar menggema di seluruh penjuru rumah. Diikuti oleh suara deru mesin mobil yang perlahan menjauh meninggalkan pekarangan.

Begitu memastikan suaminya telah benar-benar pergi, Kirana seketika menghentikan aktingnya.

Wajahnya yang semula tampak memelas dan lemah, kini berubah menjadi sangat tajam dan dipenuhi amarah yang membara. Ia meletakkan sendoknya dengan kasar ke atas meja.

'Kau pikir kau bisa mengurungku layaknya burung di dalam sangkar, Arga? Kau telah salah memilih lawan.'

Kirana segera beranjak dari kursi makannya. Langkah kakinya kini tidak lagi meraba-raba dengan lambat. Ia berjalan dengan sangat cepat dan tegap menaiki tangga menuju lantai dua. Tujuannya hanya satu: Ruang kerja pribadi suaminya.

Setibanya di sana, Kirana memutar gagang pintu. Tidak dikunci. Arga terlalu percaya diri bahwa istrinya yang buta tidak akan mungkin berani berkeliaran hingga ke ruangan ini.

Kirana melangkah masuk dan langsung menuju meja kerja berbahan kayu jati tersebut. Matanya dengan cepat mencari keberadaan telepon rumah. Ia segera mengangkat gagang telepon tersebut.

Jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Waktu yang ia miliki mungkin tidak banyak sebelum Arga atau anak buahnya menyadari ada yang tidak beres.

Bukan nomor Pak Darmawan yang ia tuju kali ini, melainkan satu-satunya orang di luar sana yang pernah mencoba menghubunginya namun selalu dihalangi oleh Arga. Tasya, sahabat karibnya sejak masa kuliah.

Dengan jari yang sedikit gemetar, Kirana menekan deretan nomor ponsel sahabatnya itu.

Nada sambung berbunyi berulang kali. Suasana rumah yang terlampau sunyi membuat suara dari gagang telepon itu terdengar begitu nyaring di telinga Kirana.

"Ayo, Tasya... Angkatlah telepon ini. Kumohon," bisik Kirana dengan napas yang tertahan.

Klik.

"Halo? Kediaman siapa ini?" sapa suara seorang wanita dari seberang sambungan.

"Tasya... Ini aku. Kirana."

Hening sejenak di ujung telepon, sebelum akhirnya suara Tasya meledak penuh dengan kepanikan dan kelegaan.

"Kirana?! Astaga, Tuhan! Ke mana saja kau selama ini?! Aku telah mencoba menghubungimu puluhan kali, tetapi suamimu selalu menolak panggilanku! Dia mengatakan bahwa kau sedang dalam masa pemulihan yang sangat kritis dan tidak boleh diganggu sama sekali!"

"Dengarkan aku baik-baik, Tasya. Waktuku tidak banyak. Kau tidak boleh menceritakan percakapan ini kepada siapa pun."

"Ada apa dengan suaramu, Kirana? Mengapa kau terdengar sangat ketakutan? Apa yang sebenarnya telah terjadi padamu?!"

"Semua yang dikatakan oleh Arga adalah sebuah kebohongan besar, Tasya. Mataku sudah bisa melihat kembali. Aku tidak lagi buta."

"Syukurlah! Itu adalah sebuah keajaiban! Tetapi... jika kau sudah bisa melihat, mengapa kau harus meneleponku secara sembunyi-sembunyi seperti ini?"

"Karena nyawaku saat ini sedang berada dalam ancaman yang sangat besar, Tasya. Suamiku... Arga... dia adalah seorang pembunuh. Dia telah menghabisi nyawa Bi Titin dan putranya di rumah ini semalam."

"Apa?! Kirana, kau pasti sedang bercanda! Arga tidak mungkin melakukan hal sekeji itu!"

"Aku melihat genangan darah mereka dengan mata kepalaku sendiri, Tasya! Dia bersekongkol dengan Rena untuk merebut seluruh perusahaan dan hartaku. Dan sekarang, dia mengunciku di dalam rumah ini. Ponselku telah disita olehnya."

"Ya Tuhan... Kirana, aku akan segera menghubungi polisi sekarang juga! Aku akan datang ke rumahmu membawa bantuan!"

"Jangan, Tasya! Jangan pernah melibatkan polisi—"

Belum sempat Kirana menyelesaikan kalimat peringatannya, telinganya yang sangat peka tiba-tiba menangkap sebuah suara dari arah luar ruang kerja.

Tak... Tak... Tak...

Suara langkah kaki yang sangat pelan dan berhati-hati, menaiki anak tangga menuju ke lantai dua.

Kirana membeku. Darahnya seakan berhenti mengalir. Arga sudah berangkat ke kantor, dan rumah ini seharusnya kosong karena dikunci dari luar.

Lalu langkah kaki siapa yang sedang berjalan menuju ruang kerja ini?

"Kirana? Halo? Kirana, apakah kau masih di sana? Mengapa kau terdiam?!" seru Tasya dari gagang telepon.

Mata Kirana membelalak ngeri saat ia melihat gagang pintu ruang kerja tersebut perlahan-lahan berputar ke arah bawah.

Seseorang tengah bersiap membuka pintu itu dari luar.

1
Ma Em
Masa orang banyak kalah hanya dgn Arga seorang seberapa pintarnya Arga masa tdk ada yg bisa melawan Arga .
Muft Smoker
skraaang si agar2 yg ketakutan sendriii
Muft Smoker
awas nnti malah jd km yg gilaaa arga
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
wah ternyata rencana kirana ,,
Muft Smoker
ayoo kirana gerak cepat sebelum semua aset mu berpindah tangan,, ni gx da bantuan buat kirana apa kak???
Muft Smoker
aaaaa deg2an ,, semoga bukan arga
Muft Smoker
aduuuh kirana jgn ceroboh doonk ,,
Ma Em
Kirana terlalu ceroboh hrs nya pelan2 saja jgn sampai menimbulkan kecurigaan Arga kalau Kirana sdh bisa melihat , semoga tdk terjadi hal yg tdk di inginkan pada Kirana .
Muft Smoker
aduuuuh semoga kirana gx knp2 ,,
Ma Em
Kirana kamu jgn ceroboh si Arga ini licik ada perubahan sedikit saja dari Kirana Arga langsung curiga , makanya jgn melakukan yg akan membahayakan , Kirana .
Muft Smoker
akhirny kirana pura2 pingsan ,,
🤭🤭
Ma Em
Kirana hati hati jgn ceroboh dan hrs pintar berpura pura msh buta jgn sampai Arga tau bahwa Kirana sdh bisa melihat , Kirana hrs cari akal agar bisa bebas dari Arga mokondo .
Muft Smoker
duuh jgn sampai deeh si arga tau kalo kirana udh bisa lihat ,,
Muft Smoker
duuuh aq yg deg2an iikh ,,
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,
Ma Em
Kirana hrs hati2 jgn sampai Arga tau bahwa Kirana sdh bisa melihat lagi , jgn gegabah dlm bertindak Kirana hrs cerdik balas semua perbuatan Arga dan gundiknya .
Muft Smoker
perlahan ,, perlahan ,, akhirny penglihatan kirana kembali ,,
Sishrye
astaga nggragas🤣
한스 |HANSEN| Is Back: 😭🔥wwk
total 1 replies
Ma Em
Si Arga karena ambisi ingin menguasai harta orang cara apapun akan harga lakukan , semoga ada keajaiban untuk Kirana secepat nya bisa melihat lagi .
Muft Smoker
waah siapa lgii itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!