Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Angkatku Bukan Manusia

Adik Angkatku Bukan Manusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eidolon

Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.

Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.

Lalu, siapa Elara sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Keesokan paginya, suasana kediaman Halvar kembali seperti biasanya.

Elara berdiri berdiam diri di balkon kamarnya sambil menatap halaman belakang rumah yang dipenuhi tanaman hias. Tatapannya lalu beralih pada beberapa burung kecil yang hinggap di pagar balkon.

Salah satu burung itu mendekat tanpa takut sedikit pun.

Elara mengangkat tangannya perlahan burung kecil itu langsung hinggap di ujung jarinya.

“Kalian hidup nyaman di sini,” gumamnya pelan.

Tak lama kemudian suara ketukan pintu membuat burung-burung itu langsung beterbangan menjauh.

“Elara, kamu sudah bangun?” Suara Lionel terdengar dari balik pintu.

Elara membuka pintu perlahan. Di depannya Lionel berdiri dengan hoodie hitam dan rambut yang masih sedikit berantakan, sedangkan Leonard berdiri tak jauh di belakangnya sambil memasukkan tangan ke saku celana.

“Mama menyuruh kami memanggilmu untuk sarapan,” ujar Lionel tenang.

Setelah kejadian kemarin, si kembar mulai membuka diri pada Elara. Ekspresi keduanya sudah sedikit melunak saat berhadapan dengan gadis itu.

Elara mengangguk lalu menutup pintunya.

“Leon, kamu tadi juga melihatnya kan? Banyak burung di balkon kamar Elara. Padahal kamar kita bersebelahan, tapi aku tidak pernah melihat burung sebanyak itu di balkon kamarku," bisik Lionel.

Leonard mengangguk singkat. “Mungkin karena ada tanaman di kamar Elara.”

Lionel mengangguk kecil meski sebenarnya penjelasan Leonard terdengar tidak masuk akal. Lalu pemuda itu berjalan sedikit cepat mendahului Elara.

“Elara, cepat. Kalau telat nanti makanan favoritku habis duluan,” gerutunya.

“Apa makanan favoritmu sepenting itu?” tanya Elara polos.

“Tentu saja,” jawab Lionel dengan serius. “Di rumah ini perang besar terjadi saat lauk kesukaan kita habis.”

Leonard langsung mendengus kecil. “Yang perang cuma kamu, Lio.”

Lionel melotot kesal.

Sedangkan Elara hanya memperhatikan interaksi si kembar cukup lama sampai sudut bibirnya perlahan terangkat tipis.

Aneh. Baru beberapa hari berada di rumah ini, tapi suasana yang sebelumnya terasa asing perlahan mulai berubah hangat.

Mereka mulai menuruni tangga bersama, namun tiba-tiba tubuh Lionel kehilangan keseimbangan sambil meringis menahan nyeri di kepala bagian belakangnya.

Leonard dengan sigap menahan tubuh kembarannya. “Gapapa, kan?”

Lionel memegangi kepalanya. “Aman. Masih terasa sedikit sakit karena dipukul kemarin.”

“Makanya jangan sok kuat,” gerutu Leonard.

“Aku memang kuat. Ini mungkin cuma efek samping dari ketampananku,” balasnya.

Leonard mendecih malas, sambil merotasikan bola matanya.

Elara yang berdiri di belakangnya perlahan mengangkat tangan, seolah reflek ingin menyentuh kepala Lionel.

Namun pergerakan itu terhenti ketika Lucas tiba-tiba muncul dari bawah tangga.

Tatapan Lucas langsung jatuh pada tangan Elara. Dan entah kenapa, ia kembali merasakan hawa dingin aneh setiap gadis itu berada di dekatnya.

“Elara?” panggil Lucas.

Mata hijau itu perlahan beralih menatap Lucas dengan datar.

“Kamu mau melakukan sesuatu?” tanya pria penuh curiga.

Suasana mendadak hening, Leonard dan Lionel perlahan juga ikut menatap Elara yang perlahan menurunkan tangannya.

“Aku hanya ingin melihat kondisinya saja.”

Lucas tidak langsung menjawab. Tatapannya masih memperhatikan Elara cukup lama, seolah mencoba membaca sesuatu dari ekspresi tenang gadis itu.

“Kak, sudahlah. Masih pagi jangan pasang wajah introgasi seperti itu,” sahut Leonard dengan malas.

Lucas menghela nafasnya. “Cepat ke meja makan, nanti kalian terlambat sekolah.”

Leonard, Lionel dan Elara pun mengangguk dan mengikuti Lucas dari belakang.

Suasana meja makan pagi itu terlihat lebih ramai dari biasanya.

Lionel yang terus mengeluh soal kepalanya yang masih sakit, dan Leonard beberapa kali memukul lengannya karena terlalu berisik.

Di tengah suasana hangat itu, pergerakan Elara tiba-tiba terhenti, kepalanya terangkat lalu menatap ke arah pintu utama.

“Ada tamu,” gumamnya pelan.

Lionel mengernyit bingung. “Hah? Tapi bel rumah aja belum bunyi.”

Belum sempat siapapun menanggapi, tiba-tiba—

Ting Tong…

Suara bel rumah benar-benar berbunyi.

Dan untuk pertama kalinya Leonard merasakan bulu kuduknya meremang bukan karena takut. Melainkan karena Elara kembali mengetahui sesuatu lebih dulu sebelum terjadi.

Lionel menelan ludahnya pelan lalu melirik ke arah Faresta.

“Kak…”

Faresta sendiri juga mulai merasa tidak nyaman.

Dan Lucas yang perlahan menatap Elara dengan tatapan rumit.

Dari arah depan salah satu pelayan mendekati meja makan dengan langkah tergesa.

“Tuan, di depan ada pihak kepolisian yang ingin bertemu Tuan Faresta,” ujarnya dengan wajah panik.

Atmosfer diruangan itu seketika mendadak tegang. Semua mata kini tertuju pada Faresta yang berdiri dari duduknya.

"Polisi?”

Tak lama kemudian, tiga pria berseragam itu memasuki ruang makan bersama.

Lionel menatap mereka dengan raut kesal. “Tidak tau sopan santun, memangnya kita sudah menyuruh mereka masuk.”

Leonard yang ada di sebelahnya segera menyenggol lengannya. “Diam, Lio!”

“Tuan Faresta Halvar.”

“Iya, saya sendiri. Ada apa?” Faresta membalas dengan kesan yang cukup dingin. Wibawanya masih melekat meski di hadapan polisi yang mungkin siap menjatuhkan harga dirinya.

Salah satu polisi itu mengeluarkan sebuah map coklat lalu menyerahkannya.

“Kami datang terkait laporan dugaan plagiarisme dan pencurian ide proyek dari pihak perusahaan Virel Group.”

Danendra, Livia, serta Lucas langsung berdiri dan mengernyit. Mereka tentu tau jika ide itu murni berasal dari Faresta sendiri.

“Apa ini masalah yang kamu hadapi beberapa hari ini, Faresta?”

Faresta menatap sang Ayah lalu mengangguk. Ia memang belum menceritakan detail masalah ini pada orang tuanya. Termasuk pengkhianatan yang ia alami.

“Kami harap anda bisa bekerja sama untuk proses penyelidikan,” lanjut polisi itu.

Tatapan Faresta berubah dingin menatap map itu, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal. Dalam hatinya ia bertekad tidak akan melepaskan dua pengkhianat itu.

Di tengah suasana canggung yang mulai memanas, Elara perlahan melangkah mendekati Faresta.

“Apa aku boleh ikut mendampingi?” tanya Elara tenang pada polisi itu.

Polisi itu menatap Elara sejenak, sebelum mengangguk. “Boleh. Tapi hanya dua orang pendamping.”

Elara mengangguk pelan. Namun, Faresta justru langsung membantah.

“Tidak.” Tatapannya tajam menatap Elara. “Kantor polisi bukan tempat untuk bermain, Elara. Kalau ada yang mendampingi, jelas itu bukan kamu,” tegasnya.

“Benarkah?” Elara mendekat perlahan.

Karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup jauh, gadis itu sampai harus berjinjit untuk berbisik di dekat telinga Faresta. “Tapi aku rasa… kakak sudah tidak punya pilihan lain selain menerima bantuanku.”

Tubuh Faresta seketika menegang. Ia memang tengah menemui jalan buntu dalam masalah ini. Bukti yang sebelumnya diberikan Arga tiba-tiba menghilang dan sulit untuk dipulihkan.

Ia menduga jika Dio dan Liya sudah mengetahui tindakan Arga yang membocorkan kejahatan mereka. Terlebih lagi, Arga juga menghilang setelah kejadian itu.

“Biarkan dia ikut, Kak. Aku juga akan ikut denganmu,” sahut Lucas.

Faresta terdiam sesaat sebelum akhirnya menghela nafas panjang.

Ia sebenarnya masih sulit mempercayai hal aneh tentang Elara. Namun, setelah berbagai kejadian di luar logika yang terus terjadi, perlahan keyakinannya mulai goyah.

Faresta mulai mencoba percaya bahwa Elara memang bukan gadis biasa yang tiba-tiba hadir di tengah keluarganya.

1
Nonik Anda Swl
next please Thor, seru dan keren, semangat💪💪
Queen AL
👍
Yani
lanjut Thorrr 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!