Indonesia
NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Segel yang Terlupakan

Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika kesadaran Arlen kembali. Tidak ada rasa sakit yang tersisa. Yang dirasakan hanyalah perubahan besar di dalam tubuh, seolah setiap sel sedang disusun ulang menjadi bentuk yang jauh lebih sempurna.

Arlen membuka matanya, menatap telapak tangan kanan. Di bawah sinar matahari pagi yang menembus celah dedaunan, kulit tubuhnya memancarkan kilau samar keperakan. Itu bukan ilusi, melainkan tanda nyata keberhasilan mencapai Aura Perak Tingkat 3.

Lebih kuat, pikir Arlen dingin. Jauh lebih kuat daripada kehidupanku sebelumnya di tingkat yang sama.

Dulu, mencapai tahap ini membutuhkan waktu bertahun-tahun. Kini, proses tersebut terjadi secara alami. Arlen menduga, perpaduan antara jiwa reinkarnasinya yang matang dan energi dingin purba dari bukit ini telah menciptakan evolusi kekuatan baru yang masif.

Arlen bangkit berdiri dengan gerakan tegap yang presisi. Arlen melangkah menuju pusat cekungan bukit, tempat denyut bumi selalu terasa paling jelas. Dengan indera barunya, getaran dari kedalaman tanah terdengar begitu nyata, seolah ada sesuatu yang besar sedang tertidur tepat di bawah kakinya.

Arlen berjongkok, menekan kedua telapak tangannya ke tanah hitam yang subur. Aura peraknya mengalir turun menembus bebatuan yang dalam. Kesadaran batin Arlen merambah jauh ke bawah, menyusuri ruang kosong luas yang menyimpan sebuah objek bercahaya redup. Di sekeliling objek itu, terdapat sisa-sisa energi kuno yang menunjukkan bahwa seseorang pernah memanipulasi tempat ini ribuan tahun lalu.

"Tempat ini tidak terbentuk secara alami," gumam Arlen pelan. "Ini mungkin sebuah penjara, atau mungkin sebuah brankas rahasia."

Rasa ingin tahu membakar batinnya, namun Arlen menahan diri demi menjaga keseimbangan energi yang baru saja dikuasai.

 Sore harinya, Arlen masuk ke ruang kerja Elena. Langkahnya terus-menerus menelusuri setiap sudut ruangan dan rak-rak buku yang berjejer padat. Setelah berputar-putar beberapa kali, perhatian Arlen mendadak tertuju pada area sudut yang paling gelap.

Di sana, berdiri sebuah lemari tua yang diselimuti debu yang sangat tebal, seolah-olah tidak pernah disentuh atau dibersihkan selama bertahun-tahun. Keberadaan lemari itu memancarkan atmosfer dingin yang janggal. Meski debu menutupinya, material lemari tersebut sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan atau lapuk dimakan usia. 

Struktur kayunya yang berwarna hitam legam justru tampak sangat kokoh, tidak wajar untuk perabotan di rumah biasa seperti ini. Terlebih lagi, seluruh permukaannya dipenuhi ukiran simbol-simbol kuno yang rumit, meliuk-liuk di sepanjang pintu lemari layaknya sulur tanaman mati.

Didorong rasa penasaran yang kuat, Arlen melangkah mendekat. Keanehan pertama langsung menyengat batinnya; tidak ada lubang kunci, engsel, ataupun celah sekecil apa pun pada permukaan pintu lemari yang rata tersebut.

Arlen mencengkeram tepian pintu kayu itu, berniat memaksanya terbuka menggunakan kekuatan fisik murninya. Tidak ada pergerakan. Arlen menyipitkan mata, lalu memicu otot-otot tubuhnya yang telah diperkuat oleh latihan fisik ekstrem selama bertahun-tahun. 

Tekanan tenaga fisik yang besar disalurkan ke ujung jemarinya hingga lantai batu di bawah kakinya sedikit berderit, namun pintu lemari itu tetap tidak bergeming. Benda Kuno tersebut sangat kokoh, seolah-olah telah menyatu secara absolut dengan dinding dan fondasi bumi di bawahnya.

Arlen mundur selangkah sambil mengembuskan napas pendek, menatap ukiran rumit di hadapannya dengan dahi berkerut. Otak ksatria agungnya mulai memutar berbagai cara—mencari tuas tersembunyi, meraba sela-sela ukiran, hingga mengetuk titik-titik tertentu yang biasanya menjadi kelemahan kotak rahasia di masa lalu.

 Namun, semua usaha fisik itu gagal total. Lemari misterius ini menolak untuk tunduk pada kekuatan biasa.

Karena terlalu fokus mengerahkan tenaga hingga batas maksimal, kestabilan emosi Arlen sedikit goyah. Akibatnya, pengendalian energi di dalam tubuhnya mengendur tanpa sengaja. Sisa ketegangan dari ototnya memicu riakan energi internal yang mendadak bocor keluar dari pori-pori kulit.

Tanpa disengaja, sedikit Silver Aura tingkat ketiga yang suci dan tajam merembes dari telapak tangan Arlen yang masih menempel di permukaan kayu hitam tersebut.

Syuuuut...

Tepat saat energi perak murni itu menyentuh material lemari, reaksi sihir yang tidak terduga langsung tercipta. Silver Aura milik Arlen tidak memantul, melainkan tersedot masuk ke dalam serat kayu seolah-olah permukaan itu adalah spons yang haus.

 Energi perak tersebut mengalir cepat, merayap menyusuri jalur ukiran simbol-simbol kuno yang pudar di seluruh pintu lemari.

Satu per satu, simbol kuno yang dilewati aliran perak itu mulai menyala terang, memancarkan cahaya keperakan yang membelah kegelapan ruangan. Suara mekanisme internal yang berat dan berderit pelan terdengar dari balik dinding kayu, disusul oleh hembusan uap dingin samar yang beraroma seperti kertas tua. Pintu lemari yang semula sekeras baja itu akhirnya bergerak, perlahan terbuka dengan sendirinya ke arah luar.

Di dalam kompartemen gelap yang baru saja terbuka itu, aura misterius terasa semakin pekat. Arlen melayangkan pandangannya ke dalam, dan di sanalah, sebuah buku tua bersampul kulit retak tergeletak sunyi: Catatan Wilayah Tanah Perbatasan.

Halaman-halaman buku itu sangat rapuh. Saat membalik lembaran terakhir, mata Arlen tertuju pada sketsa tangan kasar yang menggambarkan struktur bukit ini. 

Namun, tidak ada nama yang tertulis jelas. Yang ada hanyalah deretan simbol kuno yang pudar dan rusak, menyerupai teka-teki tak berujung.

Arlen menyentuh permukaan kertas tersebut, membiarkan Silver Aura tipis mengalir dari ujung jarinya untuk merangsang sisa tinta magis yang tersisa. Perlahan, ingatan dari kehidupan pertamanya ribuan tahun lalu beresonansi, menerjemahkan aksara samar itu satu demi satu di dalam kepala secara misterius.

...Bukit Jangkar... Titik temu... langit dan bumi... Dijaga agar tetap tertidur...

Suku kata itu muncul secara terputus dan samar di batin Arlen, menyisakan teka-teki besar tentang apa sebenarnya yang ditahan oleh jangkar bumi ini. Arlen menutup buku tersebut dengan ketukan pelan. 

Misterinya belum terpecahkan sepenuhnya, namun satu hal yang pasti: kini, dialah penjaga tempat itu.

"Aku belum pernah melihatmu membaca buku itu," suara Elena memecah keheningan ruangan. Sang ibu masuk membawa segelas air, namun wajahnya mendadak pucat saat menyadari objek yang sedang dipelajari sang anak.

"Kakek buyut kita ditugaskan menjaga sesuatu di sini," kata Elena pelan, mengambil posisi berjongkok di samping Arlen. "Rahasianya terkubur waktu. Orang-orang mengira tanah ini tandus karena kutukan, padahal itu adalah segel rahasia." Elena menatap Arlen lekat-lekat.

 "Kau merasakannya, bukan? Perubahan itu."

Arlen mengangguk, menyiaratkan ketegaran yang mendominasi. "Tanah ini hidup, Ibu. Tugas kita adalah memastikan apa yang tertidur di dalamnya tidak bangkit untuk alasan yang salah."

Elena mengusap rambut hitam putranya dengan pandangan haru. "Kami akan selalu bersamamu, Arlen."

Namun, ketenangan tidak pernah bertahan lama di dunia yang penuh keserakahan. Kesuburan ajaib lahan keluarga Ashford yang mendadak makmur dalam tiga tahun terakhir akhirnya memicu desas-desus sihir gelap hingga sampai ke telinga penguasa pusat.

Kini, Arlen telah genap berusia sepuluh tahun. Di balik pakaian latihan yang sederhana, tubuh tegapnya memancarkan ketenangan dingin. Saat duduk di beranda mengamati ladang gandum, debu beterbangan dari arah jalan utama. Sekelompok penunggang kuda berseragam resmi kerajaan datang mengepung halaman rumah.

Di tengah barisan pengawal, Tuan Karis turun dari pelana dengan wajah masam, didampingi pria tua berjubah biru tua dengan lambang pohon emas—Penasihat Wilayah Vane.

Vane tidak basa-basi. Tatapan matanya menyapu ladang subur, lalu tertuju pada bukit di kejauhan.

"Hukum Kerajaan sudah jelas," suara Vane terdengar berat dan menindas. "Tanah yang berubah drastis akibat anomali energi alam bukanlah milik pribadi. Itu aset negara. Kami menerima laporan adanya penggunaan sihir terlarang di sini."

Cedric maju dengan wajah tegang namun tetap berusaha sopan. "Yang Mulia, kami hanya merawat tanah ini dengan baik. Tidak ada sihir apa pun yang digunakan."

Tuan Karis tertawa sinis. "Merawat? Dalam tiga tahun, tanah gersang berubah menjadi surga dalam sekejap? Jangan berbohong."

Vane mengangkat tangan, membungkam ucapan Karis. Pandangan tajam sang penasihat menatap Arlen yang berdiri diam di samping rumah tanpa riak ketakutan sedikit pun.

"Aku tidak butuh pengakuan verbal. Besok pagi, Ahli Geomansi Kerajaan akan tiba untuk memeriksa setiap jengkal tanah di bukit itu. Jika ditemukan sumber energi atau situs kuno, wilayah ini akan diambil alih kerajaan secara mutlak. Kalian hanya boleh tinggal sebagai pengurus tanpa hak milik."

Ancaman itu menggantung berat di udara sebelum rombongan kerajaan tersebut berbalik pergi.

Di beranda, Cedric terduduk lesu di tangga rumah. "Mereka akan mengambil semuanya, Arlen. Penyihir menara kerajaan tidak bisa dibohongi dengan penyamaran biasa."

Arlen tidak langsung menjawab. Sepasang mata kelabu gelapnya menatap bukit dengan pandangan sedingin es. "Bukit itu bukan milik mereka. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya."

Arlen berbalik menatap kedua orang tuanya dengan tatapan mendominasi yang menenangkan. "Malam ini, aku akan menyiapkan perlindungan. Besok, penyihir itu tidak akan menemukan apa-apa selain tanah biasa."

Malamnya, di bawah siraman cahaya bulan, Arlen berdiri sendirian di puncak Bukit Jangkar bersama Penjaga. Kedua tangannya terangkat ke atas, melepaskan gelombang Silver Aura tingkat ke-3 yang murni. 

Aliran energi perak memancar membentuk lapisan kubah tipis yang menyelimuti seluruh bukit. Arlen memutarbalikkan persepsi energi di tempat itu, menyamarkan aura kuat dari inti bumi agar terlihat polos, kosong, dan mati bagi siapa pun yang mencoba mendeteksinya.

Tepat saat penyamaran tingkat tinggi tersebut selesai, sebuah hentakan kaki terdengar dari balik bayangan pohon besar. Tuan Valian muncul, mengetukkan tongkat kayunya ke atas tanah dengan ritme lambat.

"Kau bergerak cepat, Arlen," ucap Tuan Valian, suaranya terbawa angin malam. "Dan tindakanmu telah menarik perhatian orang-orang yang salah."

Arlen menurunkan kedua tangannya dengan wajah tenang. "Apakah kau datang untuk melaporkanku, atau untuk memperingatkan?"

Tuan Valian tersenyum samar. "Aku datang karena tahu apa yang akan terjadi jika penguasa pusat mengeksploitasi tempat ini hingga hancur. Ahli Geomansi yang datang besok bernama Kaelen. Mata sihirnya sangat cerdik, penyamaran biasa tidak akan cukup untuk menipunya. Jika kau mengizinkan... aku bisa membantu menambahkan kunci kuno pada perlindunganmu ini."

Arlen menatap Tuan Valian lekat-lekat, memancarkan intimidasi batin yang tajam untuk menimbang kesetiaan pria tua misterius tersebut sebelum mengambil keputusan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!