Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 : Ke Butik
Beberapa menit kemudian...
Setelah berhasil keluar dari kejaran mobil hitam, Adrian tidak langsung mengurangi kecepatannya. Dua SUV milik Gunawan masih berada di sekitar mereka, memastikan tidak ada kendaraan lain yang kembali mendekat.
Namun dari kejauhan, sebuah mobil hitam masih terlihat mengikuti dari jarak cukup jauh.
Adrian melirik kaca spion. “Mereka masih mengikuti kita,” katanya.
Nadira langsung menoleh ke belakang. Wajahnya kembali tegang. “Mereka masih belum menyerah?”
“Sepertinya begitu.”
Tiba-tiba salah satu SUV di depan mereka mengurangi kecepatan dan memberi ruang. Dari sisi jalan, sebuah mobil berwarna gelap muncul dan bergerak mendekati mobil Adrian.
Beberapa detik kemudian, mobil itu berhenti sejajar.
Adrian mengerutkan kening. “Siapa itu?”
“Sepertinya Om Gunawan,” jawab Nadira.
Benar saja, kaca mobil tersebut turun. Gunawan terlihat berada di kursi belakang. “Adrian, berhenti sebentar!” serunya.
Adrian segera menepi di tempat yang cukup aman. Salah satu pengawal turun dan membuka pintu mobil.
Gunawan langsung keluar. “Cepat,” ujar Gunawan. “Kalian pindah ke mobil Om."
Adrian mengangguk. Ia segera turun, lalu membantu Nadira berpindah ke mobil Gunawan.
“Om datang sendiri?” tanya Nadira.
Gunawan mengangguk. "Om tidak mau mengambil risiko.”
Adrian kembali melihat ke arah jalan. Mobil hitam yang tadi mengejar mereka masih tampak dari kejauhan.
“Kita harus membuat mereka kehilangan jejak,” ujar Adrian.
Gunawan tersenyum tipis. “Itu sudah Om pikirkan.”
Ia memberi isyarat kepada para pengawal. “Kalian bawa mobil Adrian. Gunakan rute berbeda dan pastikan mobil itu tetap terlihat seperti Adrian yang membawanya."
Salah satu pengawal mengangguk. “Baik, Tuan.”
Adrian memahami rencana itu. “Jadi mereka akan mengira aku dan Nadira masih berada di mobil itu?”
“Ya,” jawab Gunawan. “Sementara kita pergi dengan mobil yang berbeda.”
Nadira mengangguk pelan. “Jadi kita mengelabui mereka.”
“Benar.”
Adrian segera masuk ke mobil Gunawan bersama Nadira. Sementara itu, salah seorang pengawal masuk ke mobil Adrian dan duduk di kursi pengemudi.
Beberapa detik kemudian, mobil Adrian kembali bergerak. Dua SUV mengikuti dari belakang, sengaja menjaga jarak agar terlihat seperti rombongan yang sama.
Mobil Gunawan mengambil jalan lain. Dari kaca spion, Adrian masih dapat melihat mobilnya yang kini dikendarai pengawal semakin menjauh.
“Mereka pasti akan mengejar mobil itu,” ujar Gunawan.
Belum beberapa menit berlalu, mobil hitam yang sejak tadi membuntuti mereka ternyata benar-benar mempercepat lajunya.
Nadira menahan napas. “Benar, mereka mengikuti mobil Adrian.”
Gunawan tersenyum tipis. “Bagus.”
Adrian mengangguk. “Berarti rencananya berhasil, Om.”
Mobil Gunawan terus melaju ke arah berbeda, memasuki kawasan yang lebih ramai. Sementara itu, mobil Adrian sengaja diarahkan oleh pengawal menuju jalan yang berlawanan.
Dari kejauhan, mobil hitam mengikuti tanpa menyadari bahwa Adrian dan Nadira sudah tidak berada di dalamnya.
Nadira mengembuskan napas lega. “Untuk sementara kita aman.”
Adrian menatap ke luar jendela. Namun wajahnya tetap serius. “Sepertinya begitu. ”
Gunawan menoleh kepadanya. “Sekarang kita perlu tahu siapa mereka.”
Adrian mengangguk pelan. “Dan kenapa mereka sampai mengikuti Nadira sejak keluar dari rumah sakit.”
Nadira hanya terdiam, kali ini ia mulai menyadari bahwa kejadian ini bukan sekadar kebetulan. Seseorang memang sedang mengincarnya. Dan orang itu sepertinya sudah menyiapkan semuanya dengan sangat matang.
Beberapa saat kemudian...
Mobil Gunawan terus melaju meninggalkan kawasan tersebut. Setelah memastikan tidak ada lagi kendaraan mencurigakan yang mengikuti mereka, suasana di dalam mobil perlahan mulai tenang.
Nadira masih sesekali melihat ke kaca belakang. “Sepertinya mereka sudah kehilangan jejak kita,” ucapnya.
Gunawan mengangguk. “Iya.”
Adrian yang duduk di samping Nadira menatap Gunawan dengan bingung. “Om, kita mau ke mana?”
Gunawan tidak langsung menjawab. Ia justru tersenyum tipis. “Kita akan ke butik.”
Nadira langsung mengerutkan kening. “Butik?”
“Iya.”
Adrian menatap Gunawan heran. “Untuk apa, Om?”
Gunawan tertawa kecil. “Kalian tidak mungkin datang ke acara gathering dengan penampilan seperti ini.”
Nadira spontan melihat pakaiannya sendiri. Ia masih mengenakan kaos polos dan celana jeans, sementara rambutnya hanya diikat sederhana.
“Acara gathering?” tanya Nadira.
Gunawan mengangguk. “Iya. Memangnya kalian lupa?”
Adrian langsung menepuk keningnya. “Astaga... hampir saja aku lupa.”
Nadira tiba-tiba melirik ke arah Adrian. Tatapannya kemudian turun memperhatikan pakaian yang dikenakan pria itu.
“Adrian masih harus mengenakan pakaian pengawal Om?”
Gunawan mengangguk sambil tersenyum. “Iya, dong.”
Nadira langsung tertawa kecil.
Adrian hanya menatapnya dengan wajah datar. “Apanya yang lucu?”
Nadira masih menahan tawanya. “Tidak apa-apa. Aku hanya membayangkan kamu memakai pakaian pengawal.”
Adrian menghela napas. “Daripada menertawakan orang, lebih baik kamu pikirkan pakaianmu sendiri.”
Nadira kembali tertawa. “Tenang saja. Aku juga akan berganti pakaian yang cocok denganku.”
Gunawan yang melihat keduanya hanya tersenyum.
Namun beberapa saat kemudian, ekspresi Gunawan berubah serius. “Nadira.”
Nadira menoleh. “Iya, Om?”
“Nanti di acara gathering, kamu berpura-pura sebagai calon istri Om.”
Nadira yang sedang meminum air langsung tersedak. “Uhuk! Uhuk!”
Adrian hampir menahan tawa, sedangkan Gunawan spontan menoleh. “Kamu tidak apa-apa?”
Nadira buru-buru menutup mulutnya sambil mengambil tisu. “Tidak apa-apa, Om... tapi kenapa aku harus berpura-pura menjadi calon istri Om?”
Gunawan tersenyum santai. “Karena Om tidak ingin ada orang yang mengenali kalian.”
Nadira masih terlihat bingung. “Tapi kenapa harus calon istri?”
“Kalau kamu datang sebagai perawat yang menemani Adrian, kemungkinan orang akan memperhatikanmu. Apalagi setelah kejadian tadi.” Gunawan berhenti sejenak. “Namun kalau kamu datang sebagai calon istri Om, orang-orang akan menganggap kamu hanya pasangan Om yang sedang menemani ke acara.”
Nadira mengangguk pelan. “Oh... begitu.”
Adrian yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata, “masuk akal sih.”
Nadira langsung meliriknya. “Kamu jangan ikut-ikutan.”
Adrian mengangkat kedua tangannya. “Aku hanya mengatakan rencananya masuk akal.”
Gunawan tertawa kecil. “Lagipula, Nadira hanya perlu berpura-pura selama acara berlangsung.”
Nadira menghela napas. “Baiklah, Om. Aku akan mencoba.”
Gunawan mengangguk puas. “Bagus.”
Adrian kemudian bertanya, “lalu aku?”
Gunawan menatapnya sebentar. “Kamu tetap menjadi pengawal Om.”
Adrian mengangguk. “Baik.”
Nadira kembali melirik Adrian, lalu tersenyum geli. “Wah, cocok sekali menjadi pengawalku juga, kan.”
Adrian menatapnya datar. “Terserah kamu saja.”
Nadira tertawa kecil. Untuk beberapa saat, suasana di dalam mobil menjadi lebih ringan. Mereka bahkan sempat melupakan ketegangan yang baru saja terjadi.
Namun Gunawan kembali berbicara dengan nada serius. “Ingat, tujuan kita bukan hanya menghadiri gathering.”
Adrian menatap Gunawan melalui kaca spion. “Kita juga ingin melihat apakah orang-orang yang mengikuti aku dan Nadira, apakah akan muncul lagi.”
Gunawan mengangguk. “Benar. Kalau mereka masih mengawasi Nadira, kemungkinan besar mereka akan mencari tahu ke mana kalian pergi.”
Nadira hanya terdiam. “Jadi acara itu juga untuk mengelabui mereka?”
“Ya,” jawab Gunawan. “Kita akan membuat mereka percaya bahwa kalian tidak sedang melarikan diri.”
Adrian mengangguk. “Kalau begitu, kita harus menjalankan peran masing-masing dengan baik.”
Gunawan tersenyum. “Itu yang Om harapkan.”
Tak lama kemudian, mobil mulai memasuki kawasan pusat kota. Di depan mereka, sebuah butik mewah sudah terlihat.
Gunawan menunjuk ke arah bangunan tersebut. “Kita sudah sampai.”
Nadira menarik napas panjang. “Semoga aku tidak salah tingkah nanti.”
Adrian menoleh kepadanya. “Tenang saja. Tinggal berpura-pura.”
Nadira mengangguk, lalu ia kembali melirik Adrian. “Dan kamu jangan pasang wajah terlalu galak sebagai pengawal.”
Adrian mengangkat alis. “Memangnya wajahku seperti apa?”
Nadira tersenyum. “Seperti orang yang siap mengusir semua tamu.”
Gunawan langsung tertawa. "Hahaha..."
Adrian hanya menghela napas panjang. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang cukup panjang bagi mereka.