Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Dengan Bos Mafia

Cinta Terlarang Dengan Bos Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.

​Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.

​DOR!

​Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEPUTUSAN DI BALIK KETENANGAN MALAM

​Mobil SUV hitam itu membelah malam dengan kecepatan tinggi, merayap masuk melewati gerbang besi menjulang tinggi yang dijaga ketat oleh para pria berjas hitam. Mansion milik Haidar berdiri megah di atas bukit, terisolasi dari hiruk-pikuk kota dan dikelilingi tembok beton yang tak tertembus. Ketika mesin mobil akhirnya mati di pelataran utama, Haidar tidak membuang waktu. Ia membuka pintu belakang, meraih tubuh Elara yang terus gelisah, lalu menggendongnya dalam papahan rapat menuju pintu masuk utama.

​Para pelayan dan pengawal di dalam mansion langsung menundukkan kepala penuh hormat, tak berani menatap atau mempertanyakan siapa wanita muda yang berada dalam dekapan bos mereka. Haidar melangkah lebar menaiki tangga melingkar berbahan marmer hitam menuju lantai atas—wilayah privat yang hanya boleh dimasuki oleh dirinya sendiri.

​Di dalam dekapannya, kondisi Elara kian tidak terkendali. Efek zat kimia keras yang bersarang di aliran darahnya telah menghancurkan seluruh benteng kesadaran dan rasa malunya. Rasa panas yang membakar dari dalam membuat kulitnya meremang, dan ia merasa seolah tenggelam dalam lautan hawa panas yang tak tertahankan. Tubuh mungilnya terus meliuk gelisah dalam garapan lengan kekar Haidar.

​"Tolong... tolong saya... panas..." bisik Elara dengan suara parau yang hampir tenggelam dalam rintihan kecil.

​Jari-jemari Elara yang gemetar bergerak liar. Tanpa sadar, jemarinya meraba kemeja yang ia kenakan sendiri dan menanggalkan beberapa kancing bagian atas dengan terburu-buru, berusaha mencari celah udara dingin untuk meredakan rasa terbakar di dadanya. Namun rasa dingin yang diterimanya tak jua cukup. Kontak fisik dengan tubuh Haidar yang kokoh justru menjadi satu-satunya titik tumpu yang dicari oleh insting dasarnya.

​Ketika Haidar mendorong pintu kamar utamanya dan melangkah masuk, Elara mendongakkan wajahnya. Mata sayunya yang setengah tertutup menatap garis rahang tegas pria itu di bawah remang lampu kamar. Dipicu oleh halusinasi dan dorongan kuat akibat obat, Elara memberanikan diri mendekatkan wajahnya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Haidar, lalu menyapukan bibirnya di lekuk leher pria itu, memberikan kecupan-kecupan halus yang putus-putus sambil terus bergumam meminta tolong.

​Haidar menghentikan langkahnya seketika di tengah ruangan. Rahangnya mengeras, dan urat-urat di leher serta tangannya menegang. Sentuhan dingin dan napas memburu dari gadis di dekapannya mengirimkan desiran aneh yang jarang ia rasakan, namun sebagai seorang pemimpinan mafia yang terbiasa mengendalikan situasi paling berbahaya sekalipun, kontrol dirinya sangat kuat. Ia tahu betul gadis ini sama sekali tidak berada dalam kesadaran penuh, melainkan korban dari niat jahat orang lain.

​Dengan gerakan tegas namun tidak kasar, Haidar merebahkan tubuh Elara di atas tempat tidur berukuran king-size bernuansa gelap di tengah kamar. Elara mencoba meraih lengan Haidar kembali, tidak ingin ditinggalkan dalam kehampaan panas yang menyiksanya, namun Haidar menahan kedua pergelangan tangan gadis itu dengan satu genggaman tangannya yang besar.

​Haidar menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Elara yang kabur dan penuh keputusasaan.

​"Tenangkan dirimu," suara Haidar terdengar berat, dalam, dan dingin, memotong kesunyian kamar bagai bilah pisau. "Kau berada di tempat yang aman. Tapi jika kau terus bertindak seperti ini, kau tidak akan menyukai konsekuensinya."

​Haidar menekan bel panggil di samping tempat tidur untuk memanggil dokter pribadi mansion agar segera menetralkan obat dalam tubuh Elara, sementara ia tetap berdiri mematungi gadis itu dalam kegelapan malam, menjaga agar Elara tidak menyakiti dirinya sendiri.

​Jari-jemari Haidar baru saja menyentuh permukaan layar ponselnya ketika sebuah tarikan kuat di sudut kemejanya menggagalkan niat pria itu. Elara, dengan sisa tenaga yang didorong oleh efek obat yang kian memuncak, bangkit terduduk secara impulsif. Matanya berair, menatap Haidar dengan pandangan penuh keputusasaan dan ketidakberdayaan yang teramat sangat. Rasa panas yang membakar seluruh aliran darahnya telah merobohkan seluruh pertahanan rasional yang ia miliki.

​"Tolong... jangan pergi... tolong saya, Tolong hilangkan rasa sakit ini..." bisik Elara terengah-engah, suaranya terdengar pecah dan memohon di tengah heningnya kamar berukuran luas tersebut.

​Elara mencengkeram lengan Haidar, menarik pria itu mendekat seolah-olah hanya pria di hadapannya inilah satu-satunya penawar atas siksaan aneh yang menggerogoti tubuhnya. Sentuhan itu tidak lagi sekadar refleks bertahan hidup, melainkan kepasrahan total dari seorang wanita yang tak tahu lagi harus berbuat apa.

​Haidar berdiri mematung seketika. Tatapan matanya yang tajam dan dingin menusuk tepat ke manik mata Elara yang penuh kabut. Selama bertahun-tahun memimpin dunia bawah tanah, Haidar adalah pria yang selalu memegang kendali penuh atas segala situasi dan emosinya. Namun, rintihan dan tatapan pasrah dari gadis yang asing ini perlahan meretakkan dinding kendali dirinya.

​Keheningan malam di kamar itu terasa makin menekan. Haidar menurunkan tangan yang memegang ponsel, menatap benda pipih itu sejenak sebelum akhirnya melemparkannya kembali ke atas meja samping tempat tidur dengan gerakan pelan namun mantap.

​Ia memiringkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Hawa panas dari napas Elara menerpa permukaan kulitnya. Dengan suara rendah, berat, dan dipenuhi penekanan yang dalam, Haidar berbisik tepat di samping telinga Elara:

​"Jangan pernah menyesali apa yang kau minta malam ini."

​Bisikan itu menjadi garis batas terakhir yang melintasi malam mereka. Tanpa ragu lagi, Haidar menyambut kepasrahan Elara, membiarkan malam mengambil alih seluruh kendali dan menuntaskan apa yang bergejolak di antara mereka di balik pintu mansion yang terkunci rapat.

1
Ira safitri
sangat bagus 🥰🥰
Waaaaaa_: Terimakasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!