Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jantung Yang Berdegup Lebih Kencang
Rencana besar itu akhirnya dimulai. Sesuai kesepakatan, Evan dan Auren memutuskan untuk mengambil sudut paling tenang di perpustakaan sekolah setelah bel pulang berbunyi. Sebagai ketua kelas dan sekretaris yang dikenal sangat kompak sejak semester pertama lalu, ambisi mereka tidak pernah luntur. Evan ingin mempertahankan gelar juara 1, dan Auren pun bertekad tetap mengekor ketat sebagai juara 2 di semester ini.
"Grafik fungsi yang ini sebenarnya punya pola tetap, Ren. Kamu tinggal cari titik potongnya dulu," ujar Evan sambil menggeser buku catatan bergaris rapi miliknya ke tengah meja.
Auren memperhatikan penuturan Evan dengan serius. Rambut depannya sedikit turun, membuat Evan sempat tertegun sesaat sebelum kembali berdeham kecil.
"Oh, jadi kalau nilai x nilainya nol, kita langsung dapat titik y-nya?" tanya Auren, matanya berbinar begitu paham.
"Tepat. Jenius," puji Evan sambil tersenyum tipis.
Kehangatan di meja sudut itu mendadak terusik oleh suara geseran kursi yang sengaja dikencangkan. Dari balik rak buku fiksi, Fathur muncul dengan menenteng sebuah kamus tebal yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Wajah cowok itu tampak ditekuk, matanya menatap tajam ke arah dua pucuk kepala yang saling mendekat sejak satu jam lalu.
Fathur berjalan menghampiri meja mereka, lalu menjatuhkan kamus itu dengan bunyi dentuman yang cukup keras untuk ukuran sebuah perpustakaan..
"Serius amat. Belajar bareng atau lagi rapat OSIS nih?" sindir Fathur langsung, melipat tangan di dada dan bersandar pada meja mereka.
Auren mendongak, sedikit terkejut dengan kedatangan Fathur yang tiba-tiba. "Kita lagi bahas materi ujian matematika minggu depan, Thur. Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Cuma heran aja, sebagai ketua kelas dan sekretaris, harusnya kalian kan ngurusin jadwal piket kelas yang berantakan di mading, bukan malah berduaan di pojokan perpustakaan kayak gini," kata Fathur. Nada suaranya ketara sekali menyimpan rasa cemburu yang berusaha ditutupi dengan alasan tanggung jawab kelas.
Evan menutup pulpennya perlahan. Ia menatap Fathur dengan tenang, pembawaan khasnya sebagai ketua kelas yang selalu berkepala dingin. "Urusan mading sudah selesai saya cek tadi siang bersama Auren, Fathur. Sekarang ini waktu bebas, dan kami memilih mempersiapkan ujian. Kalau kamu mau gabung belajar, silakan ambil kursi."
Tawaran Evan yang kelewat tenang justru membuat Fathur makin meradang. Ditambah lagi, posisi Evan dan Auren yang duduk bersebelahan membuat dadanya terasa kian sesak. Fathur tahu betul seberapa kompaknya mereka sejak semester satu, dan melihat kedekatan mereka yang makin menjadi-jadi menjelang ujian ini membuatnya merasa tersisih.
"Gak, makasih. Gue gak butuh tutor dari juara satu," ketus Fathur. Ia langsung berbalik badan dan melangkah lebar-lebar meninggalkan perpustakaan dengan kekesalan yang kentara.
Auren menghela napas panjang melihat punggung Fathur yang menghilang di balik pintu kaca. "Dia kenapa sih akhir-akhir ini? Sensitif banget."
Evan kembali membuka pulpennya, mengarahkan pandangan matanya langsung ke manik mata Auren. "Mungkin dia cuma khawatir... posisinya tergeser."
Auren mengernyit bingung. "Posisinya di kelas?"
Evan hanya tersenyum tipis tanpa menjawab lebih lanjut. Ia tahu persis, kekhawatiran Fathur sama sekali bukan soal peringkat kelas.
Setelah kepergian Fathur, suasana di pojok perpustakaan mendadak terasa jauh lebih sunyi. Bunyi detak jam dinding besar di dekat meja penjaga terdengar samar-samar. Auren masih memandangi pintu kaca, mencoba mencerna sikap Fathur, sebelum akhirnya hembusan napas kecil Evan mengalihkan perhatiannya.
"Sudah, jangan dipikirkan. Kita lanjut nomor berikutnya," kata Evan lembut.
Auren mengangguk lalu menarik kembali buku latihannya. Namun, fokusnya buyar. Tangannya tanpa sengaja menyenggol kotak pensil plastik miliknya hingga terjatuh ke lantai. Beberapa pulpen dan pensil menggelinding ke bawah meja kayu yang cukup rendah.
"Ah, maaf... biar aku ambil," ucap Auren refleks.
Ia langsung merunduk untuk memungut pulpen-pulpen yang berserakan. Di saat yang bersamaan, Evan juga ikut merunduk ke bawah meja untuk membantu.
Deg.
Di bawah temaram kolong meja, jarak wajah mereka mendadak hanya tersisa beberapa sentimeter. Evan membeku dengan sebuah pulpen gel hitam di tangannya, sementara Auren terpaku menatap manik mata Evan yang kecokelatan. Untuk pertama kalinya, Auren bisa melihat dengan sangat jelas betapa lentiknya bulu mata sang ketua kelas. Napas Evan yang teratur terasa hangat di kulit wajah Auren, membuat pipi gadis itu perlahan merona merah.
Selama beberapa detik, waktu rasanya berhenti berputar. Evan tidak bergerak, pandangannya terkunci pada mata bulat Auren yang tampak gugup.
"Evan..." bisik Auren pelan, hampir tidak terdengar.
Evan tersadar dari lamunannya. Alih-alih langsung menjauh, cowok itu tersenyum sangat tipis—jenis senyuman langka yang hanya ia perlihatkan pada Auren. Ia mengambil sisa pulpen di dekat kaki Auren, lalu menegakkan tubuhnya kembali diikuti oleh Auren yang langsung duduk dengan salah tingkah.
"Ini," Evan menyerahkan pulpen-pulpen itu. Jarinya sempat bersentuhan sengaja dengan jemari Auren saat menyerahkannya, mengirimkan sengatan halus yang membuat jantung Auren makin berdegup kencang.
Untuk mencairkan suasana yang mendadak canggung dan manis itu, Evan menggeser kursinya sedikit lebih dekat ke arah Auren. Ia mengambil buku catatan Auren, lalu menuliskan sesuatu di pojok halaman kosong dengan tulisan tangannya yang sangat rapi.
Auren mengintip tulisan itu.
Juara 2 tidak boleh melamun kalau mau tetap di sebelah Juara 1.
Auren menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang hampir meledak. Ia menoleh ke arah Evan yang kini sudah kembali memasang wajah seriusnya menatap soal matematika, seolah-olah tidak baru saja membuat jantung sekretarisnya itu berantakan.
"Evan, kamu curang," bisik Auren sambil menyenggol lengan Evan dengan sikutnya.
Evan tidak menoleh, tapi sudut bibirnya terangkat tinggi. "Biar kamu fokus, Ren."