Lin Chen adalah pewaris sah dari Keluarga Lin di Ibukota Jingcheng. Namun, karena intrik ibu tirinya dan adik tirinya (Lin Tian), meridiannya dihancurkan, dia dijebak atas kejahatan penggelapan, dan dibuang ke kota kecil Donghai sebagai orang cacat. Tunangannya yang kejam, Ye Mei, akhirnya membunuhnya di gang gelap.
Namun, takdir berkata lain. Lin Chen terbangun 5 tahun di masa lalu, tepat di hari ia dibuang ke Donghai. Kali ini, ia tidak hanya membawa ingatan masa depannya, tetapi jiwanya telah terikat dengan [Sistem Penguasa Urban Tertinggi]. Mulai dari menyembuhkan tubuhnya, membangun kerajaan bisnis, hingga menguasai seni bela diri kuno, Lin Chen bersumpah akan menginjak-injak mereka yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Jaring Laba-laba Ibukota
Hari ketiga dari ultimatum tujuh hari.
Paviliun Sembilan Harta telah berubah total. Di bawah instruksi Lin Chen dan pendanaan tak terbatas dari Grup Su serta Keluarga Shen, bangunan kuno itu direnovasi kilat menjadi benteng yang memadukan keanggunan klasik dan keamanan kelas militer.
Di ruang VIP lantai tiga, Lin Chen duduk di kursi bersandaran tinggi, menyesap teh melati. Wajahnya sudah tidak sepucat kemarin. Giok Penelan Surga terus bekerja tanpa lelah memperbaiki keretakan mikro di Dantian-nya.
"Tuan Lin," Fang Meng masuk dengan membawa setumpuk dokumen. Gadis muda itu kini mengenakan setelan jas manajer wanita yang rapi, memancarkan aura profesionalisme yang jauh lebih matang. "Berita tentang pengambilalihan Paviliun dan penemuan Piringan Formasi Pengumpul Jiwa telah menyebar ke seluruh lingkaran elit Ibukota. Ribuan kolektor meminta jadwal pameran."
Lin Chen meletakkan cangkir tehnya. "Kita tidak akan mengadakan pameran. Kita akan mengadakan lelang tertutup. Waktunya adalah tiga hari dari sekarang."
"Tiga hari?" Fang Meng terkejut. "Itu terlalu mendadak! Kita belum menyebar undangan fisik, dan apa barang utama yang akan kita lelang selain piringan giok itu?"
Lin Chen menggeleng pelan. "Piringan giok itu tidak akan dijual. Itu akan menjadi pusaka pelindung Paviliun. Untuk barang lelang..."
Lin Chen membalikkan tangannya, dan dari Cincin Giok Dimensi (yang ia sembunyikan di balik lengan bajunya), ia mengeluarkan tiga botol porselen kecil dan sebuah pedang pendek berkarat.
"Ini adalah Pil Pemanjang Umur tingkat rendah. Tidak bisa menyembuhkan penyakit fatal, tapi cukup untuk memperpanjang usia pria tua yang sekarat selama lima hingga sepuluh tahun," jelas Lin Chen. "Dan pedang pendek ini adalah artefak spiritual yang bisa memotong baja layaknya memotong kertas."
Fang Meng menahan napas. Pil pemanjang umur?! Di Ibukota yang dipenuhi oleh para taipan tua dan jenderal pensiunan yang takut mati, benda seperti ini akan memicu perang harga berdarah!
"Kirimkan undangan hanya kepada lima puluh keluarga teratas di Ibukota. Abaikan sisanya," perintah Lin Chen. "Aku ingin melihat, siapa saja yang bersedia datang dan menundukkan kepala mereka kepadaku, dan siapa yang memilih berpihak pada Keluarga Lin."
Fang Meng mengangguk mantap. "Saya mengerti, Tuan. Ini bukan sekadar lelang, ini adalah ajang unjuk kekuatan (Show of Force)!"
Setelah Fang Meng keluar, Lin Chen menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata.
Tiga hari lagi, kultivasiku akan pulih 100%. Dan saat itu terjadi, Keluarga Lin tidak akan punya tempat lagi untuk bersembunyi.
Sementara itu, di Kediaman Utama Keluarga Lin.
Suasana duka dan amarah menyelimuti aula pertemuan. Kehilangan Tetua Huang, ditambah anjloknya saham perusahaan akibat serangan dari Donghai dan Jinling, membuat posisi Keluarga Lin sebagai keluarga kelas satu Ibukota mulai goyah.
Lin Zheng, sang Kepala Keluarga, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. "Bank-bank menolak memberikan pinjaman likuiditas. Mereka semua wait and see. Takut pada pemuda bertopeng yang membunuh Tetua Huang, yang mereka yakini sebagai pelindung Lin Chen."
Di seberang meja, Zhao Yuhua—ibu tiri Lin Chen—menyesap tehnya dengan sangat anggun. Ia sama sekali tidak terlihat panik, meskipun kerajaan suaminya sedang diguncang badai.
"Suamiku, kau terlalu memikirkan hal ini dari sudut pandang dunia bela diri," ucap Zhao Yuhua dengan nada meremehkan yang halus. "Lin Chen mungkin telah menemukan ahli bela diri yang kuat di luar sana. Tapi di Ibukota, hukum yang berlaku bukan hanya kepalan tangan."
Lin Tian yang duduk di sudut ruangan dengan perban di bahunya menatap ibunya dengan penuh harap. "Ibu, apa kau punya rencana? Kita tidak bisa diam saja! Anak haram itu akan mengadakan lelang besar-besaran tiga hari lagi di Paviliun Sembilan Harta!"
Zhao Yuhua tersenyum sinis. "Lelang? Hebat sekali. Dia mencoba membangun koneksi dengan para elit Ibukota menggunakan barang antik dan pil kesehatan. Sayang sekali, pestanya tidak akan pernah dimulai."
Zhao Yuhua meletakkan cangkir tehnya dan menatap Lin Zheng. "Aku sudah menghubungi kakak tertuaku pagi ini. Jenderal Zhao Kuang."
Mendengar nama itu, mata Lin Zheng dan Lin Tian langsung berbinar.
Jenderal Zhao Kuang! Komandan Divisi Keamanan Khusus Ibukota! Dia adalah tokoh militer yang memiliki wewenang untuk menyegel area manapun dengan dalih keamanan nasional. Keluarga Zhao mungkin tidak memiliki ahli bela diri sekuat Tetua Huang, tapi mereka memiliki puluhan ribu tentara dan senjata api modern!
"Kakak Zhao bersedia membantu?!" tanya Lin Zheng antusias.
"Tentu saja. Lin Tian adalah keponakannya. Dia tidak akan membiarkan anak dari wanita murahan masa lalumu itu menginjak-injak darah daging Keluarga Zhao," desis Zhao Yuhua tajam. "Kakakku akan mengeluarkan surat perintah investigasi militer terhadap Paviliun Sembilan Harta tepat di malam lelang."
Zhao Yuhua menyeringai kejam. "Mereka akan menuduh paviliun itu sebagai tempat transaksi barang selundupan dan pencucian uang teroris. Militer akan mengepung tempat itu dengan tank dan helikopter. Mari kita lihat, apakah 'ahli bela diri rahasia' Lin Chen berani melawan peluru artileri dan dicap sebagai pengkhianat negara!"
Lin Tian tertawa terbahak-bahak, rasa sakit di bahunya seolah hilang seketika. "Luar biasa! Lin Chen si idiot itu lupa bahwa Ibukota adalah tempat di mana kekuasaan negara adalah raja absolut! Aku ingin melihat wajah putus asanya saat dia diseret ke penjara militer!"
Malam Hari, Markas Rahasia Paviliun Naga.
Di gudang bawah tanah yang disewa secara rahasia oleh Ah Fei, delapan belas Pengawal Naga Hitam sedang berlatih dengan formasi tempur yang diajarkan oleh Paman Bai. Udara dipenuhi oleh suara benturan daging dan teriakan penuh semangat.
Lin Chen berjalan masuk, diikuti oleh Paman Bai.
Melihat Lin Chen, kedelapan belas pemuda itu langsung menghentikan latihan dan berbaris rapi. "Salam, Tuan Muda!"
Lin Chen mengangguk. Matanya menyapu satu per satu dari mereka. Berkat sumber daya yang melimpah, fondasi Kelas Bumi mereka mulai stabil. Namun, untuk menghadapi perang yang sesungguhnya di Ibukota, mereka butuh pengalaman darah.
"Paman Bai," panggil Lin Chen. "Kudengar Asosiasi Assassin Ibukota sedang mengadakan perburuan besar-besaran untuk mencari siapa yang membunuh Tujuh Pembunuh Bayangan?"
"Benar, Tuan Muda," jawab Paman Bai. "Mereka merasa harga diri mereka diinjak-injak. Ratusan pembunuh bayaran sedang menyisir dunia bawah untuk mencari informasi tentang kita."
Lin Chen tersenyum tipis. "Sempurna. Daripada menunggu mereka menemukan kita, mari kita beri mereka sedikit kejutan."
Lin Chen menatap delapan belas pengawalnya. "Malam ini, aku akan memberikan kalian misi pertama di Ibukota. Asosiasi Assassin memiliki tiga markas cabang di pinggiran kota. Aku ingin kalian membagi diri menjadi tiga kelompok. Hancurkan ketiga markas itu sebelum matahari terbit."
Ah Fei mengepalkan tinjunya dengan antusias. "Membantai sarang pembunuh bayaran? Ini baru tugas yang pantas untuk Naga Hitam!"
"Ingat," suara Lin Chen menjadi sangat dingin. "Jangan tinggalkan jejak identitas, dan gunakan formasi Tiga Titik Penghancur yang kalian pelajari. Aku ingin dunia bawah Ibukota tahu bahwa ada kekuatan baru yang tidak boleh disentuh. Bergerak!"
"Siap, Tuan Muda!"
Kedelapan belas bayangan hitam itu melesat menghilang ke dalam kegelapan malam, bagaikan sekawanan serigala lapar yang akhirnya dilepas dari rantainya.
Malam itu, dunia bawah Ibukota Jingcheng dilanda banjir darah. Tiga markas cabang Asosiasi Assassin yang ditakuti rata dengan tanah hanya dalam waktu beberapa jam. Tidak ada satupun yang selamat, dan tidak ada saksi mata yang melihat wajah para penyerangnya. Rumor tentang eksistensi "Dewa Kematian Bayangan" mulai menyebar seperti wabah.
Taktik Lin Chen sangat jelas: Saat ia secara fisik sedang dalam masa pemulihan dan tidak bisa bertarung frontal, ia menggunakan Paviliun Sembilan Harta untuk mengacaukan elit atas (Putih), dan menggunakan Paviliun Naga untuk menghancurkan musuh di dunia bawah (Hitam).
Keesokan paginya, Lin Chen berdiri di balkon paviliunnya, menatap hiruk pikuk jalanan Ibukota. Sisa waktunya untuk pulih tinggal 48 jam.
[Status Pemulihan Qi: 65%]
"Keluarga Lin pasti merencanakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pembunuh bayaran," gumam Lin Chen pada dirinya sendiri. "Jika mereka tidak menggunakan pedang, mereka pasti menggunakan stempel kekuasaan."
Sebuah senyum miring terlukis di bibirnya. "Jika mereka ingin bermain politik dan militer... kurasa sudah saatnya aku menghubungi teman lama ibuku di Ibukota."