Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ramyeon, Kenangan, dan Omelan dari Seoul
Uap panas membumbung tinggi dari dua mangkuk ramyeon yang baru saja diangkat dari kompor. Di tengah hawa dingin Paris yang menyusup lewat celah jendela, aroma gurih kuah pedas khas Korea itu seketika mengubah suasana apartemen modern milik Jungkook menjadi begitu hangat dan akrab.
"Taehyung-ah, makanlah selagi panas," ujar Jungkook seraya menyodorkan sepasang sumpit pada Taehyung.
Taehyung menyeruput kuah ramyeon itu dengan penuh penghayatan. Wajah lelahnya seketika mencair.
"Wah... jjinja! Bagaimana bisa ramyeon di Paris rasanya sama persis dengan yang dijual di kedai depan sekolah kita dulu?"
Jungkook tertawa kecil, ikut menyantap bagiannya. "Tentu saja sama, aku sengaja membelinya di supermarket Asia tadi sore. Rasanya tidak lengkap kalau tidak merayakan kedatanganmu tanpa makan ini."
Hening sejenak menyelimuti mereka, hanya terdengar dentingan sumpit dan seruputan kuah panas. Kenangan masa lalu seolah ikut mengalir bersama uap ramyeon.
"Masih ingat tidak?" tanya Jungkook tiba-tiba, matanya menerawang dengan senyum jahil di bibirnya. "Dulu saat SMA, kita hampir dikeluarkan dari ruang komputer sekolah karena ketahuan menyusup malam-malam cuma buat bikin draf game pertama kita."
Taehyung terkekeh pelan. "Aigoo... Jangan ingatkan hal itu. Wajah Pak Guru Lee waktu menangkap kita masih bikin aku merinding sampai sekarang," balas Taehyung seraya menggelengkan kepala. "Tapi siapa yang akal-akalan bilang kalau kita sedang 'latihan ekstra untuk olimpiade'? Kau, kan?"
"Tapi ide itu berhasil, kan?" Jungkook menepuk dadanya bangga. Namun, riak tawa di wajahnya perlahan berangsur lembut saat teringat kenangan lain. "Ah... bicara soal masa lalu, aku tiba-tiba ingat Mira."
Taehyung menghentikan suapannya, menatap sahabatnya.
"Terakhir kali aku main ke rumahmu, dia masih SD, kan?" kenang Jungkook seraya memperagakan tinggi anak kecil dengan tangannya. "Bocah kecil berkuncir dua yang selalu mengekor di belakang kita. Tiap kali kau jahili atau kau rebut es krimnya, dia pasti langsung menangis sesenggukan dan bersembunyi di belakang punggungku."
"Dia memang cengeng sekali waktu kecil," senyum hangat terukir di wajah Taehyung saat membayangkan wajah adiknya.
"Tapi lucu," sela Jungkook seraya terkekeh. "Dia selalu bilang, 'Jungkook Oppa lebih baik dari Taehyung Oppa!' tiap kali aku membantunya merebut kembali mainannya darimu. Sekarang dia sudah SMA saja... waktu cepat sekali berlalu."
BZZZZ... BZZZZ...
Dering nyaring dari ponsel Taehyung di atas meja mendadak memotong nostalgia hangat mereka. Layar ponsel menyala terang memperlihatkan panggilan video masuk dengan nama kontak: "Adik Kecil (Mira)".
Taehyung tersentak. "Omo!"
"Kenapa tidak diangkat, Taehyung-ah?" tanya Jungkook.
"Taehyung-ah?" Taehyung melotot bercanda, memotong ucapan Jungkook. "Yaa! Meskipun kau lahir beberapa bulan setelahku, kita ini seangkatan sejak SMA! Jangan pura-pura mau memanggilku Hyung atau sok canggung begitu, panggil santai seperti biasa saja, eoh?"
Jungkook terkekeh puas seraya mengangkat kedua tangannya. "Arasseo, arasseo! Cepat angkat teleponnya, nanti adiknya keburu marah."
Taehyung menatap jam di dinding apartemen yang menunjukkan pukul sembilan malam waktu Paris—yang artinya di Seoul saat ini sudah pukul empat pagi. Dengan tangan sedikit gemetaran, Taehyung menggeser tombol hijau.
Belum sempat Taehyung mengucap kata hallo, suara melengking khas omelan drama Korea sudah membahana dari speaker ponsel.
"YAA! KIM TAEHYUNG!"
Wajah Mira memenuhi layar dengan rambut yang agak acak-acakan, mata sembap, dan bibir yang mengerucut tajam.
"Apakah Oppa sudah lupa punya adik di Seoul, eoh?! Kau bilang akan memberi kabar begitu mendarat! Ini sudah jam berapa?! Aku tidak bisa tidur seharian karena menunggu kabarmu! Aku sampai berpikir pesawatmu hilang arah atau kau diculik!" omel Mira bertubi-tubi tanpa memberi jeda.
Taehyung buru-buru mendekatkan ponsel ke wajahnya dengan raut bersalah. "M-Mira-ya, tenang dulu... dengarkan Oppa—"
"Gimana bisa tenang?!" potong Mira cepat. "Aku buka aplikasi melacak penerbangan, pesawatmu sudah mendarat berjam-jam yang lalu! Kenapa tidak ada pesan satu pun?!"
Taehyung mengusap tengkuknya yang mendadak terasa dingin. "Mianhe, Mira-ya... Selisih waktu Paris dan Seoul kan tujuh jam. Oppa pikir di sana sudah larut malam dan kau sudah tidur nyenyak. Oppa takut mengganggu jam istirahatmu untuk sekolah besok..."
"Alasan!" tembak Mira sengit, walau raut panik di wajahnya perlahan mencair gantian dengan rasa lega yang emosional. "Mau beda waktu seratus jam pun, kalau sudah sampai itu harus kasih kabar!"
Jungkook yang duduk di samping Taehyung hanya terkekeh pelan tanpa bersuara. Ia sengaja menahan diri untuk tidak menyapa atau menyela, memilih menikmati ramyeon-nya kembali seraya menyaksikan interaksi menggemaskan antara kakak dan adik tersebut dari sudut matanya.
"Iya, iya, Oppa mengaku salah," balas Taehyung lembut, menatap wajah adiknya di layar ponsel. "Oppa sudah sampai di apartemen Jungkook dengan selamat. Jadi kau tidak perlu khawatir lagi, eoh?"
Mira mengerucutkan bibirnya pelan, menghela napas panjang seraya menyapu sisa rasa cemas di raut wajahnya. "Awas ya kalau Oppa sampai lupa makan dan tidak memberi kabar lagi besok. Aku akan terus meneleponmu sampai Oppa kapok!"
"Iya, janji. Sekarang kau harus tidur, ini sudah hampir jam empat pagi di Seoul. Nanti kau terlambat sekolah," bujuk Taehyung.
"Arasseo..." bisik Mira pelan. Wajahnya yang semula galak kini menatap layar dengan binar kerinduan. "Jaga dirimu baik-baik di sana. Selamat malam, Oppa."
"Selamat tidur, Mira-ya," balas Taehyung tulus sebelum panggilan video itu akhirnya terputus.
Taehyung menghela napas panjang seraya menyandarkan punggungnya ke kursi, sementara Jungkook tertawa kecil seraya menggelengkan kepala di sampingnya. Omelan dari Seoul itu mendadak menjadi pengingat paling manis, bahwa sejauh apa pun mereka terbang ke Paris, ada janji dan ketulusan yang selalu menunggu mereka di rumah.