Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.
Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:
> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*
Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.
Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.
Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.
Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.
> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Bekas Luka di Balik Sayap
Keesokan siang, Laras bangun lebih awal dan menemukan Bram duduk di meja dengan pena di tangan.
Di depannya ada mawar merah yang kemarin dikirim Radit. Sebuah kartu baru masih basah tintanya.
Ras, maafkan semua kesalahanku. Setiap hari tanpamu seperti hukuman.
Tanda tangannya berbunyi Radit.
"Apa yang kamu lakukan?"
Bram menyelipkan kartu ke dalam bunga. "Membantu abangku menulis lebih baik."
Laras mengambil tiga kartu lain dari bawah buku. Semua berisi rayuan berlebihan atas nama Radit.
"Jadi surat cinta Radit setiap hari ini buatanmu?"
"Dia sibuk. Aku adik yang baik."
Laras mencoba marah, tetapi bayangan Bram duduk serius menulis puisi buruk membuatnya tertawa. Bram memandangnya puas, seolah tawa itu tujuan sebenarnya.
Beberapa hari berikutnya, ia mengajari Laras berenang di kolam pribadi belakang rumah. Pelajaran pertama lebih banyak dihabiskan Laras mencengkeram leher Bram.
"Kakimu masih menyentuh lantai," katanya.
"Diam."
"Kalau peluk terus, aku minta bayaran."
"Saya bisa ganti instruktur."
"Nggak boleh."
Bram memulai dari latihan bernapas dan mengapung. Satu tangannya menopang punggung Laras, satu lagi berada di bawah lutut. Setiap kali ia sedikit melepas, Laras langsung meraih bahunya.
"Aku nggak akan membiarkan kamu tenggelam."
"Semua orang yang mengajari berenang mengatakan begitu."
"Tapi cuma aku yang kamu peluk seperti ini."
Laras memercikkan air ke wajahnya. Pada hari ketiga, ia mampu mengapung beberapa detik tanpa mencengkeram. Bram merayakannya seperti kemenangan besar, lalu menagih satu ciuman. Laras memberikannya karena tidak ada orang lain di halaman, bukan karena bangga. Setidaknya itulah alasan yang ia ucapkan.
Malamnya, Laras melihat tato sayap biru di sisi pinggang Bram masih basah setelah mandi. Ia duduk di pangkuannya dan menyentuh garis bulu tersebut.
"Katanya mau memeriksa?" tanya Bram.
"Jangan bergerak."
Di bawah warna gelap, ujung jarinya menemukan bekas luka kecil berbentuk bulat, sedikit cekung. Bram menegang.
"Ini apa?"
"Bekas rokok."
"Bentuknya terlalu bulat."
"Aku nggak ingat. Tatonya baru dibuat satu setengah tahun lalu supaya bagian itu tertutup."
Ia menangkap tangan Laras dan mengalihkan perhatian dengan ciuman. Pertanyaan tidak terjawab.
Namun Laras tidak melupakan perubahan tubuhnya. Bram tidak takut saat melompat ke laut atau berdiri di tempat tinggi. Ia juga tidak bereaksi ketika terkena panas rokok. Bekas luka itu terasa seperti sesuatu yang datang dari benturan lebih keras, sesuatu yang sengaja disembunyikan di bawah bulu sayap.
"Satu setengah tahun lalu," ulang Laras.
"Hm."
"Kenapa baru ditutup setelah lama?"
Bram menyentuh bibirnya lagi. "Karena baru ketemu gambar yang cocok."
Ia tidak memberi ruang untuk pertanyaan berikutnya.
Pada hari mereka mengikuti perjalanan mengejar lumba-lumba, staf dermaga bertanya apakah mereka keberatan berbagi kapal dengan dua tamu lain.
"Lihat istri saya saja," kata Bram.
Laras menginjak kakinya, lalu mengangguk kepada staf.
Salah satu tamu yang mendekat membuat Laras terpaku. Ia pernah melihat wajah hasil prosedur estetika itu di studio Kirana. Angela Lily, kreator konten mode, datang bersama kekasihnya, Om Hartono.
"Nama saya Lala," kata Laras dengan suara diturunkan.
"Bagas," tambah Bram. "Pacar gelapnya."
Angela tertawa, menganggapnya lelucon.
Di tengah laut, Angela berdiri untuk mengambil foto tanpa mengenakan jaket pelampung. Kapal bergoyang. Ia kehilangan keseimbangan dan jatuh.
Tubuhnya sempat muncul sekali lalu tenggelam. Kru meneriakkan agar semua penumpang duduk dan melempar pelampung, tetapi arus mendorong Angela menjauh dari sisi kapal. Om Hartono tidak bergerak selain berteriak memanggil namanya.
Om Hartono hanya berteriak. Bram menyerahkan ponsel kepada Laras, mengenakan jaket pelampung, lalu melompat. Ia mendekati Angela dari belakang dan menopang dagunya sampai kru melempar tali.
Laras berdiri mencengkeram pagar. Ia seharusnya takut melihat Bram di air terbuka, tetapi gerakannya tenang dan terukur. Ia tidak mendekati Angela dari depan agar tidak ditarik panik, tidak melepaskan jaket, dan menunggu kru mengangkat mereka satu per satu.
Begitu Bram naik, Laras memeriksa wajah serta tangannya sebelum menyadari apa yang dilakukan. "Ada yang sakit?"
"Cuma hati. Kamu belum bilang hebat."
"Hebat. Sekarang duduk."
Setelah keduanya kembali ke kapal, Laras membuka kancing kemeja basah Bram agar bisa mengeringkan tubuhnya. Tatapan semua orang membuat wajahnya panas. Ia melempar handuk ke dada Bram.
"Lanjutkan sendiri."
Malam itu, Angela sudah putus dari Om Hartono.
Ia mendatangi Bram di restoran. "Bagas, boleh duduk?"
"Tidak."
"Aku cuma mau terima kasih."
"Sudah diterima. Pergi."
Angela menatap Laras, lalu tersenyum. "Pacarmu galak."
Bram menarik Laras ke depannya. "Istriku secantik ini. Kamu percaya diri sekali."
"Aku suka pacarmu," kata Angela kepada Laras. "Kita saingan sehat, ya."
Ia pergi sebelum Laras menjawab.
Om Hartono meninggalkan resor malam itu dengan kapal cepat. Angela memutuskan pindah ke vila temannya sampai jadwal penerbangannya dua hari lagi. Seluruh drama mereka hanya berlangsung beberapa jam, tetapi cukup membuat nama Bagas dikenal sebagai penyelamat tampan di antara tamu.
Laras tidak menyukai betapa mudah orang lain menatap Bram setelah itu. Ia juga tidak menyukai rasa lega ketika lelaki tersebut menolak Angela tanpa memberi ruang sedikit pun.
"Kenapa diam?" tanya Bram. "Cemburu?"
"Saya sedang kasihan pada seleranya."
Bram bersandar lebih dekat. "Kalau ada orang yang pernah menyelamatkan nyawamu, kamu bisa suka sama dia?"
Pertanyaan itu membuat detak Laras terlewat satu kali.
Ingatan tanpa gambar bergerak di dasar pikirannya. Sebuah tangan mendorongnya ke bawah. Tubuh seseorang berdiri di depan. Lalu bunyi pecah yang membuat telinga berdenging. Laras tidak pernah berhasil melihat wajah orang itu dalam ingatannya.
"Kalau dia menyelamatkan saya lalu pergi tanpa nama," katanya pelan, "bagaimana saya bisa tahu orang seperti apa dia?"
Tatapan Bram berubah, hanya sesaat. "Mungkin dia nggak butuh kamu tahu."
"Tidak tahu."
"Jawaban aman."
"Kenapa bertanya?"
"Penasaran."
Hari berikutnya, Angela terus muncul di sarapan, spa, dan ruang istirahat. Bram selalu berlindung di belakang Laras dengan wajah seolah sedang dikejar penggemar berbahaya.
"Jaga aku," katanya.
"Kamu yang menyelamatkan dia."
"Kesalahan besar."
Laras akhirnya kehilangan kesabaran. "Kenapa kamu tidak pulang saja?"
Bram mengetuk dahinya. "Aku suruh kamu menjaga, bukan mengusir."
"Kalau begitu kita pulang bersama."
Keputusan itu membuat Angela kehilangan kesempatan berikutnya. Bram memesan penerbangan dengan rute terpisah untuk menjaga kerahasiaan, dan mereka mulai mengepak barang malam itu.
Saat Laras duduk di tepi koper, Bram mengangkatnya ke pangkuan. Dagu lelaki itu bertumpu di atas kepalanya.
"Nanti setelah pulang," katanya, "di depan orang lain, kamu masih berani pura-pura nggak kenal aku?"
Pertanyaan itu bertumpuk dengan kalimat tentang penyelamat nyawa dan luka bulat di balik sayap.
Laras mencengkeram ujung kemeja Bram, lalu memalingkan wajah.
Ia tidak mampu menjawab keduanya.